
Sesampainya di luar rumah, Barraq terdiam. Hatinya bertanya kemana ia harus pergi mencari Laila.
"Ah, sial... Peduli setan. Aku sudah di luar, lebih baik aku sekalian berjalan-jalan sebentar mengitari kota. Penat juga seharian ini aku di rumah" ucap Barraq melajukan kembali mobilnya.
"Kak..." ucap Laila.
"Astaga....!" ucap Barraq.
Barraq terkesiap bukan main saat Laila muncul tiba-tiba.
"Dasar hantu..." ucap Barraq.
"Hehe..." tawa Laila.
"Apa kau memanggilku tadi, Laila? Suaranya begitu jelas..."
"Ya, Kak. Sebab aku tidak dapat mendatangi kakak di rumah itu"
"Kenapa? Apa ada yang menakuti mu?"
"Em, ada kekuatan hebat yang melindungi memagari rumah kakak. Sehingga aku tak dapat memasukinya"
"Kekuatan apa? Siapa yang melakukannya?"
Kemudian Laila menceritakan semua yang ia ketahui malam itu. Mulai dari obrolan dan perlakuan Ethan bersama Nurdin, kegagalan upayanya menembus kekuatan hebat yang memagari rumah, sampai kehadiran laki-laki bertubuh kerempeng yang tadi sudah unjuk kekuatan. Laila menceritakannya dengan hati-hati. Karena ia tahu orang tengah dibicarakannya adalah orang yang selama ini dianggap begitu sempurna baginya juga keluarganya.
Mata Barraq tajam menatap Laila. Jelas di kedalaman mata gelapnya ada sebuah ketidakpercayaan. Hatinya menolak apa yang sudah diungkapkan Laila.
"Mengapa aku harus percaya pada hantu?" ucap Barraq.
Mendengar kegamangan Barraq, aila tak berputus asa. Laila terus menjelaskan apa yang ia tahu berdasar fakta yang ada. Walau hati menolak, namun fikiran Barraq tak menampik. Hal tersebut terlihat dari reaksi yang ada pada diri Barraq. Sekali waktu tangan Barraq bergetar tanda tengah ada badai berkecamuk dalam dadanya.
"Aku tak berfikir sama sekali jika kakak ku seperti itu. Kau tidak sedang memfitnah kakak ku kan?" ucap Barraq.
Mendapat pertanyaan Barraq, Laila mengangguk mantap. Wajah pasinya menyiratkan kejujuran yang sebenar-benarnya.
Tangan Barraq memukul kemudi. Walau tak percaya jika Ethan sampai hati melakukannya, tapi Barraq pun tak mungkin tak mempercayai Laila. Dan satu kesimpulan Barraq saat ini adalah perlu ada pembuktian yang lebih lanjut.
"Oya, mang Nurdin memberikan ku ini?" ucap Barraq.
Tangannya kemudian merogoh kantung jaket nya. Ia menimang benda kecil berwarna biru itu. Melihat itu, Laila mata Laila membulat sempurna. Laila menilik benda yang ternyata sebuah flashdisk itu.
"Menurut mang Nurdin, Flashdisk ini dia amankan dari kantong jaket ku. Apakah flashdisk ini yang kau cari, Laila?"
"Jika melihat warna, kemungkinan ini adalah flashdisk ku. Tapi bukankah ada banyak flashdisk seperti itu. Dan untuk membuktikannya, lebih baik kita pastikan isinya"
"Cakep. Tumben pinter..."
"Eh, aku memang pinter kak..." ucap Laila sambil membulatkan matanya.
"Haha....Ok. Ok" ucap Barraq.
"Kak...." ucap Laila.
"Ehmm...." ucap Barraq tanpa melihat Laila.
Perhatian Barraq masih tertuju pada flashdisk yang ada di tangannya. Bahkan Barraq kini kembali menimang-nimang benda kecil itu. Rupanya Barraq tengah menebak-nebak sepenting apa isi flashdisk tersebut.
__ADS_1
"Kak, lihatlah...di depan ada laki-laki kerempeng yang mumpuni itu" ucap Laila.
Kata Laila kini sukses membuat perhatian Barraq beralih. Mata Barraq menilik laki-laki yang tengah berdiri tegak tepat di depan mobilnya. Dari posisi berdirinya, jelas jika niatnya adalah menghadang laju kendaraan mewah Barraq.
"Turunlah, Tuan...!!" ucap laki-laki itu.
Wajahnya tirusnya menyiratkan kegarangan. Dan tentu saja sedikit meninggalkan kesan seram. Mendapat permintaan yang bak perintah itu, Barraq pun keluar dari mobilnya.
"Kak..." ucap Laila.
Tangan gadis itu sempat mencegah Barraq dengan memegangnya erat. Laila tidak ingin Barraq menuruti kata laki-laki itu. Laila khawatir ada niat buruk dibalik kehadiran yang tiba-tiba dari laki-laki itu.
"Tenanglah. Jangan berlebihan..." ucap Barraq.
Tangannya melepaskan dekapan erat Laila untuk kemudian turun dari mobil. Tak lama, Barraq pun sudah berdiri di hadapan laki-laki itu. Mata Barraq menatap tajam, bak elang mengintai mangsa. Menyadari lawan tak suka dengan kehadirannya, laki-laki kerempeng yang tak lain adalah Darius terkekeh.
"Hehe... Tenanglah, Tuan Barraq. Jangan salah faham terhadap saya" ucap Darius.
"Aku tidak ada urusan dengan mu, tapi mengapa kau menghadang jalan ku?!!" ucap Barraq.
"Saya memang tak ada urusan mendetil dengan Tuan. Tapi dengan perempuan di sebelah tuan lah saya mempunyai urusan"
"Sebelah saya...?"
"Haha...Bukan hanya tuan Barraq yang dapat melihat nya, tapi saya juga bisa"
Barraq terkejut. Ia tak habis fikir. Bukankah yang bisa melihat Laila dirinya karena ia berkaitan dengan Laila sesaat sebelum Laila tewas. Tapi mengapa Darius bisa melihat Laila, apakah Darius pun memiliki kaitan dengan Laila. Begitu fikir Barraq.
"Saya tidak ada kaitan dengan semua itu. Kebetulan saya memiliki indera keenam, sehingga bisa melihat makhluk halus seperti perempuan itu"
"Apa mau mu, pak tua?" ucap Laila seiring hembusan angin lalu.
"Akhirnya bersuara juga. Sudah lelah bersembunyi di belakang tuan muda, Nona...?"
"Apa mau mu, pak tua...?" ucap Laila lagi.
"Ow, rupanya kau hantu yang tak sabaran. Baiklah. Dengarkan saya. Saya harap kau segera pergi. Niat mu itu tidak akan pernah terwujud. Terlebih selama masih ada saya..."
"Niat yang mana? ucap Laila.
"Haha...Tuan Barraq hantu wanita ini sudah hampir berubah jadi hantu pembalas dendam. Jadi dengan kata lain dia akan segera menjadi jahat dan tega melukai siapa saja, termasuk tuan sendiri"
"Aku tak peduli. Dia berubah jadi apa. Yang pasti urusannya belum selesai dan aku sudah berjanji membantunya"
"Tuan...kau sudah dipengaruhi olehnya. Bukan hanya itu, hantu ini pun tengah mengincar tuan Ethan. Ia memiliki dendam tersendiri dengan kakak anda itu"
Mata Barraq beralih pada Laila yang tengah berdiri dengan memasang wajah seramnya. Tatapan Barraq begitu tajam menilik Laila.
"Jangan terpengaruh dengan ucapannya, Kak..." ucap Laila.
"Baiklah saya rasa cukup untuk basa-basinya. Maaf tuan Barraq teman anda sepertinya membahayakan, jadi mau tidak mau saya harus melakukan ini..." ucap Darius.
Tangannya mengeluarkan benda dari tas yang sejak tadi ia bawa. Sebuah benda berkilau karena dibasuh cahaya bulan separuh.
"Botol....?" ucap Barraq kepada Laila.
"Untuk apa...?" Laila balik tanya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Darius mulai berkonsentrasi. Mulutnya mulai komat-kamit merapal suatu mantra.
"Kak, pergilah. Dia bukan lawan mu." ucap Laila.
"Tidak...! Aku tidak akan membiarkan mu menghadapinya sendirian"
"Tapi Kak. Aku saja belum tentu mampu menandingi ilmunya..." ucap Laila terlihat lesu.
"Kalau begitu kita lari bersama..." ucap Barraq.
Tanpa ba-bi-bu lagi keduanya putar badan. Keduanya bermaksud pergi meninggalkan laki-laki sipit berilmu tinggi itu. Namun baru benar langkah, niat keduanya urung karena polah Darius. Darius terus merapal mantra, bibirnya komat-kamit. Bersamaan dengan itu tangannya membuka penutup botol sambil menyebut nama Laila.
"Laila....masuklah. Masuklah....!" ucap Darius.
Nada bicaranya penuh penekanan dan mengandung daya hipnotis.
"Tidak akan....!" ucap Laila yang belum terpengaruh sedikit pun.
Karena masih belum berhasil, maka kekuatan magis pun Darius ditingkatkan. Tubuh Darius makin bergetar saat merapal mantra tingkat tinggi. Peluh pun mulai mengembun di dahinya. Dan sekali lagi, ketika mantra telah mengalir seiring angin maka Darius pun kembali menyebut nama Laila. Dan....hoopla....! Tubuh Laila bergetar. Tangannya berusaha meraih lengan Barraq yang berdiri tak jauh dari nya. Sekuat tenaga Laila bertahan, namun gagal. Tubuh Laila mulai terpengaruh mantra.
Laila melayang tanpa kehendak sendiri. Kepanikan pun muncul. Bukan hanya milik Laila, namun juga milik Barraq. Sadar dengan situasi yang ada, Barraq pun berusaha membantu Laila yang mulai tertarik mantra.
"Bertahanlah, Laila....Bertahanlah!" ucap Barraq panik.
"Aku tak sanggup lagi, Kak. Maafkan aku. Carilah Berry, dia akan membantu mu...!
"Bagaimana aku menemukan, Berry...?!"
"Panggil ia di depan cermin, Kak....!"
"Masuklah, Laila. Masuklah...." ucap Darius terus menerus ditengah rapalan mantra.
"Laila.....!!!" teriak Barraq.
Hal tersebut saat tubuh Laila tak dapat di tahan lagi. Tubuhnya telah menjadi asap dan masuk ke dalam botol milik Darius.
ZAP....!
Suasana mendadak sunyi bersamaan dengan masuknya Laila ke dalam botol. Dan secepat kilat Darius menutup botol seraya terkekeh.
"Jaga flashdisk itu kak. Jangan sampai jatuh kepada siapa pun..." ucap Laila yang hanya di dengar Barraq.
"Haha...tugas ku sudah selesai. Terima kasih..." ucap Darius.
"Bangsat....! Lepaskan Laila!!" ucap Barraq.
Tatapannya begitu tajam, bak elang mengintai mangsa. Nafasnya begitu memburu tanda jika Barraq tengah diamuk amarah.
"Maaf tuan ini semua perintah tuan Ethan. Saya hanya menjalankan tugas. Tapi jika tuan benar-benar membutuhkannya silahkan Tuan ambil sendiri. Hehe..."
Dengan cepat Darius meninggalkan tempat tersebut menyisakan kemarahan dahsyat pada Barraq.
"Bangsat kau Darius....!!" ucap Barraq penuh amarah.
"Laila....!!!!" teriak Barraq.
"Tolonglah aku, kak. Cepat carilah Berry...! Ia akan memberitahumu apa harus kau lakukan" ucap Laila yang berdiri merapat pada dinding kaca botol. Tangannya mengepal, karena beberapa saat lalu, Laila tengah memukul dinding kaca itu berusaha melepaskan diri. Sebuah usaha yang sia-sia. Laila menatap Barraq. Hatinya beriak. Dan tak sadar Laila pun menangis.
__ADS_1