LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 16. Penyelamatan Laila


__ADS_3

Barraq berdiri menatap sebuah rumah. Sebagaimana penggambaran perempuan tua penghubung dunia arwah yaitu, rumah pantai, dua tiangnya bengkok dan ada burung berwarna hitam di depan rumah. Barraq berusaha mendamaikan degup jantung yang serasa berloncatan. Hal tersebut terjadi setelah kurang lebih lima belas menit Barraq memacu langkah sesuai prediksi perempuan tua tadi.


"Kau mencari siapa, tuan muda...?" ucap seorang laki-laki.


Suara itu bersumber tepat dari belakang Barraq. Mendengar suara parau itu, Barraq langsung memutar tubuh. Matanya menilik laki-laki paruh baya yang berdiri membelakangi lautan yang tengah sedikit bergelombang.


Sadar siapa yang berdiri, Barraq langsung memasang sikap kuda-kuda. Kilat matanya tajam bak singa mengintai mangsa. Barraq benar-benar waspada. Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Laila.


Barraq melangkah satu atau dua langkah. Kuda-kudanya benar-benar kokoh. Gerak tangannya pun seirama dengan langkah kuda-kudanya.


Melihat kesiapan Barraq, Darius tertawa. Tawanya begitu mengisi udara di antara debur ombak yang memecah karang.


"Kesatria berkuda putih. Apa kau sudah siap mati?! Aku tak peduli kau adik tuan Ethan sekali pun, jika kau menghalangi jalan ku maka aku akan dengan senang hati membinasakan mu. Dan lagi kau adik yang tak diinginkan tuan Ethan, bukan...?" ucap Darius panjang.


"Aku tak peduli apa yang akan kau lakukan terhadap ku. Tapi sebaiknya kau lepaskan Laila..."


"Laila....? Ow, hantu yang baru ku tangkap dua hari yang lalu. Haha..... Semestinya kau berterima kasih kepada ku. Kau tahu ia adalah hantu yang membalas dendam"


"Bukan. Dia bukan hantu pembalas dendam. Dia hanya mencari keadilan..." ucap Barraq.


"Terserah apa pendapat mu. Baiklah kita cukupkan basa-basinya. Dan lebih baik kita percepat adu kesaktian kita.."


"Haha...Kau jual pak tua, pasti aku beli. Karena aku tak takut sedikit pun kepada mu..."


Darius pun memasang sikap kuda-kudanya. Walau sudah renta tapi kuda-kudanya terlihat kokoh dan bergaya. Sejurus kemudian, olah jurus pun di mulai. Saat ini, Darius dalam posisi menyerang. Darius tidak ingin berlama-lama meladeni permainan jurus Barraq sepertinya. Begitu pun sebaliknya. kini Barraq mengambil alih permainan jurus. Dan Darius sedikit terpojok.


Kemudian di suatu kesempatan, Barraq berhasil menggedor dada Darius beberapa kali. Darius surut beberapa langkah. Wajahnya menyiratkan kesakitan. Tangannya pun mengusap dada yang baru di hadiahi pukulan oleh Barraq.


Dan begitu kesempatan lainnya datang, Barraq benar-benar tak menyia-nyiakannya. Jurus tendangan tanpa bayangan pun ia lancarkan. Tepat mengenai sasaran dengan telak. Darius pun tersungkur. Matanya nanar menatap Barraq yang sukses menjatuhkannya.


"Bangsat....!!' ucap Darius geram.


Barraq tersenyum. Ada kepuasan di ujung tatapannya. Bukan kesombongan, sekedar merayakan keberhasilan telah sukses menjatuhkan laki-laki paruh baya itu. Pun demikian, ternyata senyum itu tak berlangsung lama. Hal tersebut karena Darius sudah kembali berdiri dengan memasang kuda-kuda. Bersamaan dengan itu, senyum Barraq pun memudar. Barraq pun kembali bersiap meladeni permainan jurus Darius.


Barraq menatap Darius. Hatinya berdesir. Bagaimana tidak, jurus yang tengah dipertontonkan Darius adalah jurus yang langka. Jurus yang sudah dialiri kekuatan magic. Barraq menelan salivanya. Ia sedikit gamang dalam menghadapi Darius saat ini. Pun demikian, Barraq tetap berusaha memaksimalkan segala kemampuannya. Ia yakin akan kuasa Tuhan yang selalu ada di setiap upaya kebaikan yang dilakukan umat-Nya.


"Tuhan...berikan pertolongan Mu..." batin Barraq.


Sementara itu, bibir Darius terlihat komat-kamit. Rupanya Darius benar-benar kalap, sehingga mengharuskan ia memakai ilmu pamungkasnya dengan merapal mantra-mantra.


"Matilah kau, Barraq. Hiyaaaa.....!!"


Darius mengarahkan kedua telapak tangannya yang terbuka kepada Barraq. Bersamaan dengan itu, ada hawa panas yang tiba-tiba saja menerpa tubuh Barraq. Terpaan itu begitu kuat hingga tubuh Barraq terpental beberapa langkah.


"Akh....!" keluh Barraq.


Sementara itu, di dalam rumah. Mendengar kegaduhan di luar, Laila penasaran. Hatinya beriak. Bak ads kekuatan yang memanggilnya. Laila mondar-mandir dalam.botol berbentuk unik itu. Sesekali ia berusaha menilik ke luar.


"Apa yang terjadi? Mengapa di luar gaduh sekali...?" gumam Laila.


Kemudian, mata Laila menatap sosok imut yang kini selalu berada di dekatnya sejak insiden kemarin. Rupanya keduanya telah berdamai dan memilih menjadi teman. Sosok itu duduk dengan tenang. Sesekali matanya menatap Laila dan mengeong seakan menyapa Laila.


"Cimol...ada apa ribut-ribut di luar? Beritahu aku donk" ucap Laila sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Bak sadar dengan apa yang dibicarakan Laila, cimol, kucing yang sempat menjadikan botol berbentuk unik berisi Laila sebagai mainannya itu langsung berlari ke luar. Sampai di ambang pintu kepalanya menoleh kesana-kemari seakan mengumpulkan informasi. Setelah di rasa cukup, cimol pun kembali mendekati Laila. Cimol mengeong hebat, bak menyampaikan informasi yang ia kumpulkan barusan.


"Meooowww....." begitu kata cimol.

__ADS_1


"Ow, jadi ada yang terjadi di luar. Apakah kak Barraq berhasil menemukan tempat ini? Jika ya, itu artinya aku akan segera bebas. Tapi... bagaimana kak Barraq menemukan tempat ini? Apakah Berry yang telah membantunya?" ucap Laila penuh tanya.


Laila terdiam. Hatinya beriak dipenuhi rasa penasaran.


"Sayang sekali aku tak dapat melihat situasi di luar. Pak tua itu memagari ku dengan kekuatan tingkat tinggi rupanya. Jangan kan aku, Berry saja belumlah tentu mampu menandingi kekuatan pak tua itu" gumam Laila sekali lagi.


Laili duduk lesu. Rasa penasarannya memudar seiring hadirnya kecemasan yang menduduki hatinya.


"Ah, semua salah ku. Mengapa aku kurang waspada saat pertama kali bertemu dengan pak tua itu" sesal Laila.


Wajah pasinya melukiskan penyesalan. Laila terisak. Terlebih saat teringat waktu yang diberikan tersisa tiga belas hari lagi. Dengan waktu sesingkat itu, mana bisa ia akan memperoleh keadilan.


BRAKK.....!!


Pintu didobrak. Pintu yang semula terbuka sedikit itu kini terbuka lebar. Seorang laki-laki tampan berdiri di sana, di ambang pintu. Dia adalah Barraq. Barraq berdiri tak sempurna. Sebelah tangannya menopang pada daun pintu. Sebelahnya lagi memegangi dadanya. Nafas Barraq pun memburu begitu cepat.


Melihat Barraq, Laila berdiri. Harapan yang hampir sirna itu kini tumbuh kembali. Laila pun langsung memanggil-manggil Barraq. Bahkan kedua tangannya mengedor kaca botol unik itu. Namun karena kekuatan yang memagari botol berbentuk unik itu, maka kekuatan Laila benar-benar tak mampu mematahkannya walaupun sekedar memberikan sinyal kepada Barraq.


"Kak Barraq...! Aku di sini...! Aku disini, Kak...!!" ucap Laila sambil terus menggedor.


Berulang kali Laila melakukan itu. Namun bak menjaring angin, semua adalah sia-sia. Laila lesu. Ia kembali terduduk dan menangis.


"Meooowww..." ucap Cimol


Bak mengerti apa yang dirasakan Laila, Cimol terus menerus mengeong. Dan hal tersebut tak disadari oleh Barraq.


"Laila, Laila...! Dimana kau..!" ucap Barraq.


Langkah Barraq tak sempurna. Luka yang ia derita menyebabkan rasa sakit. Dan hal tersebut begitu mengganggunya.


"Aku di sini, Kak. Aku di sini...!!" ucap Laila dari dalam botol.


"Laila, Laila...?! Ah, sial...!" ucap Barraq sambil terus mencari di setiap botol.


Tinggal beberapa botol lagi, Barraq lesu. Ia duduk. Tubuhnya menyandar pada kaki meja yang cukup besar.


"Kak, aku di sini. Lihatlah di meja yang kusam ini. Lihatlah, Kak..." ucap Laila di sela isaknya.


"Meooowww....! Meooowww...!" suara cimol terus menerus.


Kali ia berulah pada Barraq. Cimol menggesekkan tubuhnya pada kaki Barraq berulangkali.


"Ah, cing...cerewet sekali. Pasti kau belum makan? Andai kau tinggal di rumah ku, pasti kau tidak akan kelaparan..."


"Meooowww...." suara Cimol bernada manja.


"Cimol...! Cimol...! Tolong aku. Beritahu laki-laki itu bahwa aku di sini. Cimol....!" ucap Laila.


"Meooowww...."


Cimol berulah lagi. Cimol melonjak-lonjak lucu, bak penari profesional. Hal tersebut tentu saja menarik perhatian Barraq. Senyum Barraq pun mengembang. Tangan Barraq mengusap-usap kepala Cimol dengan perlahan.


Kemudian cimol berlarian mengitari sela kedua kaki Barraq. Itu pun dilakukannya berulangkali. Cimol tengah berusaha terus menarik perhatian Barraq. Dan kemudian, kali ini sukses. Lagi-lagi Barraq memberikan perhatiannya kepada polah Cimol tersebut dengan disertai pemahaman.


Barraq mengernyitkan dahinya. Manik matanya terus menilik polah Cimol yang bak memberikan informasi itu.


"Ada apa, cing? Mengapa polah mu seperti ini? Tapi, wait... Apakah kau ingin aku mengikuti mu? Begitu kah? Okey...mari kita buktikan bersama. Nah, cing kemana kau akan membawa ku?" ucap Barraq sambil berdiri walau susah payah.

__ADS_1


Bak sadar mendapat respon positif dari Barraq, cimol langsung berlarian sambil melonjak-lonjak. Mungkin ia senang karena berhasil membawa Barraq kepada Laila.


Barraq terus mengikuti cimol. Iya yakin, kucing itu akan memberinya informasi penting. Dan benar saja, begitu sampai pada sebuah meja kusam cimol berhenti. Bahkan ia langsung melompat ke atas meja tersebut. Cimol pun mengitari sebuah botol berbentuk unik yang ada.


"Meooowww..." begitu cimol bersuara bak memberitahu Barraq.


Melihat itu, Barraq penasaran. Ia menatap cimol dan botol berbentuk unik itu bergantian.


"Apakah di dalamnya ada Laila?" ucap Barraq.


"Meooowww..." suara cimol, bak mengiyakan atas pertanyaan Barraq.


"Ya, Kak. Ini aku. Aku cepat bebaskan aku. Keburu pak tua itu datang nanti..." ucap Laila yang tentu tak dapat di dengar Barraq.


Mata Barraq berbinar. Secepat kilat ia meraih botol berbentuk unik itu. Barraq menilik ke dalam botol.


"Kosong..." ucap Barraq sambil mengernyitkan dahi.


Tanahnya pun meletakkan lagi botol berbentuk unik itu.


"Heei...jangan diletakkan lagi. Ini aku, Kak. Laila...!" ucap Laila histeris.


Barraq memutar tubuhnya. Ia bermaksud meninggalkan meja itu. Namun langkahnya terasa begitu berat hingga ia mengurungkan niatnya itu. Mata Barraq menatap lagi botol berbentuk unik di atas meja itu. Ia menelengkan kepala seakan tengah menimbang rasa.


Kemudian Barraq meraih kembali botol berbentuk unik itu. Bibirnya komat-kamit dengan cepat. Rupanya ia tengah merapal sebuah mantra yang telah diajarkan perempuan tua yang di sebut emak tadi pagi.


Bersamaan dengan itu, mendadak botol itu berkabut. Kian lama kian tebal. Melihat itu Barraq kembali mengulangi rapalan mantra nya. Kali ini penuh keyakinan.


ZAP....!!


Mendadak kabut yang memenuhi botol tersedot dan menghilang begitu saja. Barraq terkesiap menyaksikan itu. Sesat kemudian, matanya langsung menangkap sosok cantik di dalamnya yang tengah berlonjakan kegirangan.


Ya, Laila begitu bahagia Barraq telah dapat melihatnya dengan sempurna. Bahkan kini Barraq tersenyum sambil menatapnya.


"Laila..." ucap Barraq lagi.


"Kak Barraq....! Yey.... akhirnya kakak menemukanku" ucap Laila.


"Ya, tentu saja. Aku sudah berjanji pada mu, kan?" ucap Barraq.


Tangannya bersegera untuk membuka tutup botol berbentuk unik itu. Namun secepat kilat Laila memberi isyarat agar Barraq tidak membukanya terlebih dahulu.


"Kenapa...?"


"Apa kakak ingin melihatku terbakar?"


"Maksud mu...?"


"Rumah ini dipagari kekuatan gaib oleh laki-laki tua itu. Jika aku keluar di dalamnya, maka aku akan terbakar..."


"Ow, berarti ini yang menjadi penyebab mengapa Berry tidak bersedia ke dalam rumah. Ia lebih memilih menghadapi laki-laki tua itu..."


"Berry? Dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk menghadapi laki-laki tua itu?"


"Em, perempuan tua penghubung dunia arwah. Emak...ya Emak yang menjadi sumber kekuatannya..."


Laila manggut-manggut. Senyumnya pun terurai.

__ADS_1


"Okey...Kita keluar. Sementara Laila bersembunyi dahulu di balik jaket ku ya..." ucap Barraq sambil memasukkan Laila ke dalam jaketnya.


Barraq melangkah cepat keluar rumah. Pun demikian, Barraq tetap waspada. Berjaga sekiranya ada serangan mendadak dari siapa pun itu. Terutama Darius.


__ADS_2