
Barraq begitu gusar. Tubuh Barraq Bermandi peluh. Dalam tidurnya, Barraq melihat Laila. Wajah pasi Laila tampak begitu murung. Serangkaian kata terucap begitu lancar. Bibir Barraq tampak komat-kamit. Bukan merapal mantra, namun ia tengah menyebut sebuah nama dalam tidurnya.
"Laila...tunggu! Jangan pergi. Bersabarlah, aku akan membantu mu. Laila....Laila....!!" ucap Barraq.
Barraq kian gusar saat melihat tubuh Laila kian lama kian memudar. Kemudian bak asap di halau angin, tubuh Laila berbaju putih itu pun perlahan menghilang.
"Laila...! Laila....!!"
Barraq terbangun. Ia langsung terduduk. Nafasnya memburu. Ingatannya terpaku pada mimpi yang baru saja ia alami. Mimpi yang membuat gusar hatinya.
"Laila...." gumamnya.
Barraq menghela nafas. Sementara sebelah tangannya menyeka peluh yang membasahi. Diteguknya segelas air yang sejak semalam tersedia di meja.
"Laila.... bagaimana kondisi mu saat ini? Apakah kau sudah dilenyapkan oleh laki-laki tua itu? Ah, kau hantu, tapi kau berbeda Sungguh aku simpati pada mu. Laila bagaimana aku menemukan mu? Tolong Kirimkanlah tanda agar aku bisa segera menemukan mu" gumam Barraq.
Barraq kembali rebah. Kedua tangannya menjadi penopang kepalanya. Sementara matanya menatap langit-langit. Fikirannya beterbangan sesaat, entah kemana. Lama ia berdiam diri. Bergelung dengan bermacam pemikiran tentang cara menemukan Laila. Rupanya Barraq lupa akan pesan yang telah disampaikan Laila.
Pukul enam tepat. Bertepatan dengan dentang dari jam dinding yang nangkring di sudut kamar. Barraq meregangkan tubuh beberapa saat. Kemudian ia keluar dari gelungan selimut penghangat tubuh dan bergegas untuk melakukan rutinitas paginya.
Kakinya cepat melangkah. Namun langkahnya yang cepat itu tertahan saat ia melewati sebuah cermin besar. Barraq memutar haluan. Kini langkahnya menuju cermin besar itu. Matanya menatap ke dalam cermin.
"Cermin. Laila mengatakan tentang cermin. Tapi apa?" batin Barraq.
Barraq menelengkan kepalanya. Juga memainkan beberapa ekspresi di wajahnya.
"Cermin...Ow, ya. Aku ingat. Untuk menemukan Laila aku harus meminta bantuan Berry. Dan melalui cermin ini aku bisa menghadirkan Berry. Ah, hai...benar" ucap Barraq sumringah.
Karena senangnya, hingga Barraq melonjak-lonjak. Bahkan ia menari berputar-putar. Semoga gaya ia keluarkan. Mulai dari gaya kupu-kupu, gaya uget-uget, gaya punggung sampai gaya bebas. Semua Barraq lakukan untuk merayakan keberhasilan ingatannya barusan.
"Wait...ada apa dengan ku? Hehe...Ok, baiklah. Aku akan memanggil Berry" ucap Barraq.
Barraq mengambil sikap kuda-kuda. Bak pendekar berilmu tinggi ia memulai aksinya. Barraq menatap lekat ke dalam cermin. Mantap ia menyebut sebuah nama.
"Berry...." gumam Barraq.
Melalui hembusan angin, proses pemanggilan pun di mulai. Bukan hanya sekali, namun tiga sampai empat kali Barraq berkonsentrasi penuh menyebut nama Berry dengan harapan sukses menghadirkan Berry.
Kemudian dalam hitungan detik, hawa dingin pun menyergap. Hawanya hingga menyentuh tulang. Beberapa saat kemudian, harapan pun terkabulkan.
Sebuah tangan menepuk bahu Barraq. Barraq terkesiap. Hal tersebut tentu saja mengembalikan kesadaran Barraq. Mata Barraq mengerjap. Dan sebelah tangannya mengusap mata berulangkali. Tanda bahwa ia tak percaya terhadap penglihatannya.
"Akhirnya kau memanggilku juga, Tuan..." ucap laki-laki itu yang kini berdiri di hadapannya.
"Kau...?" ucap Barraq ragu.
__ADS_1
"Berry..." ucap laki-laki itu singkat.
"Tapi seingat ku. Terakhir wajah mu...."
"Hehe...aku meminjam wajah ini dari seorang artis Korea yang baru saja kehilangan nyawa. Bagaimana tampan, bukan?"
"O..." Barraq meng-o panjang sambil mengangguk.
Walau semula ada sedikit ragu tapi akhirnya ia berhasil mengikisnya. Barraq mencoba meyakini bahwa laki-laki tampan bak opa Korea itu adalah Berry, si hantu berwajah seram.
"Nah, tuan ada apa memanggil ku? Apa Laila dalam bahaya?" ucap Berry.
"Dari mana kau tahu?"
"Hehe...Aku adalah hantu yang sudah malang melintang di dunia perarwahan. Jadi aku tahu segalanya"
"Emmm, mulai sombong. Baru sekali dipanggil, sombongnya sudah selangit.."
"Haha...." tawa Berry mengudara.
"Ok. Tuan hantu yang tahu segalanya. Apa kau juga tahu jika Laila ditangkap pemburu hantu?"
"Apa?! Pemburu hantu...?!"
"Ow...jadi tuan hantu yang tahu segalanya kali ini tidak tahu apa-apa?"
"Dua hari..."
"Dua hari..?! Dan baru sekarang kau memanggil ku. Sial...!"
"Mana aku tahu jika harus memanggil mu" ucap Barraq.
Kako Barraq kembali melangkah cepat menuju kamar mandi. Hal tersebut tentu untuk meneruskan rutinitas paginya yang baru saja tertunda.
Sementara itu, mendapat informasi dari Barraq, Berry terlihat gusar. Ia tampak mondar-mandir dalam ruangan yang merupakan kamar tidur Barraq pada rumah kayu yang baru dua hari Barraq tinggali itu.
"Ah, apa yang harus aku lakukan? Sial...!" ucap Berry.
"Berfikir, Berry. Berfikir lah. Apa yang harus kau lakukan? Apa...? Come on, Berry...Come on!" ucap Berry lagi.
Isi kepala Berry serasa berputar mencari segala cara agar bisa membebaskan Laila. Berry masih terus berjalan mondar-mandir. Sekali waktu, tangannya mengacak rambut pada pucuk kepalanya. Ada sedikit kesal yang menduduki relung hati Berry saat cara terbaik penyelamatan Laila tak kunjung muncul.
Namun pada menit berikutnya, senyum Berry mengembang. Senyum yang begitu sumringah. Tanda bahwa ia telah menemukan cara terbaik dalam upaya penyelamatan Laila.
"Aah... perantara arwah. Benar. Aku akan meminta bantuan nya" ucap Berry.
__ADS_1
Berry menggila. Ia langsung memulai kesenangannya dengan melakukan tarian ala boy band Korea yang banyak digandrungi kaum hawa.
ZAP....!!
Berry menghilang. Tubuhnya lenyap bak disapu angin begitu saja.
ZAP...!!!
"Hei...kenapa aku kembali ke rumah ini lagi?" ucap Berry.
Kemudian Berry pun kembali menghilang. Namun tak begitu lama, ia sudah kembali ke rumah itu lagi. Hal tersebut membuat Berry frustasi dan menjadi sebuah tanda tanya besar.
"Tuan hantu yang tahu segalanya. Apa yang kau lakukan? Sebentar pergi, sebentar lagi kembali. Apa jalan mu sulit ditemukan?" ucap Barraq bernada nyinyir.
"Ah, sial. Kau menghinaku?"
"Kau mestinya mengajakku serta. Karena aku yang terkait dengan Laila"
"Aah, ucapan tuan ada benarnya juga? Tapi rasanya aneh. Aku tak dapat pergi meninggalkan rumah ini. Apa rumah ini ada kaitannya dengan ku?" ucap Berry.
Mata Berry menatap wajah Barraq sambil tersenyum. Dan Barraq justru terlihat acuh. Barraq terkesan tak menggubris ucapan Berry sedikit pun.
"Aish..sial!" ucap Berry bernada kesal.
Kemudian Barraq berdiri dari duduknya. Ia melangkah menuju pintu dengan cepat. Di belakangnya Berry mengiringi.
"So... kita kemana?" tanya Barraq.
"Ketempat penghubung atau perantara dunia arwah. Kita akan meminta bantuannya" ucap Berry.
"Dimana?"
"Jalan Melati 3"
"Jalan Melati no 3?" ucap Barraq.
"Hook oh..."
"Apakah desa Waringin?"
Wajahnya menyiratkan keterkejutan.
"Bagaimana kau tahu...?"
"Sebab itu adalah alamat rumah ini?"
__ADS_1
"Apa...?!"