
Barraq menilik wajah Laila. Gadis berwajah pasi itu tampak terpejam. Entah tertidur atau bermeditasi tiada yang tahu. Yang pasti setelah energinya terkuras, Laila memerlukan waktu untuk memulihkan kembali kondisi tubuh dan kekuatannya.
Barraq duduk pada sebuah kursi tepat di sebelah tempat tidur dimana Laila berada. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Sementara sebelah kakinya menopang pada kaki lainnya. Barraq terdiam. Hanya sesekali saja terdengar ia menghela nafas panjang. Helaan yang mengandung kecemasan akan keadaan Laila saat ini.
Ada banyak kegusaran yang melanda jiwanya. Terlebih saat mengingat ucapannya siang tadi.
"Tuhan..apa yang telah aku katakan pada Laila? Pantaskah ucapan ku tersebut?" batin Barraq.
Sementara itu, matahari telah bergulir ke kaki langit. Cahayanya yang kemerahan memenuhi sebagian langit. Ketakjuban pun pasti tercurah bagi siapa saja yang menyaksikannya. Seiring dengan itu, semilir angin pun berhembus dan menggoyangkan dahan. Lambaiannya bak lagu pengantar tidur nan indah.
Laila yang dalam diamnya, tiba-tiba menggeliat. Mata yang semula terpejam, kini mengerjap dan mulai membuka perlahan. Kemudian Laila meregangkan tubuhnya. Membetulkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Manik mata Laila pun menilik sekitar dengan gagap. Laila bak baru tersadar ribuan tahun lamanya. Laila pun terkesiap saat mendapati sosok laki-laki tampan yang duduk tak jauh darinya. Laki-laki tampan pulas mengulas mimpi. Tubuhnya tak bergeming sedikitpun saat Laila menggugah lengannya.
"Kak...." ucap Laila.
Suara lembut Laila tak berpengaruh sedikitpun. Kemudian mata Laila tergoda untuk memperhatikan wajah tampan Barraq. Hidung bangir, alis tebal, mata sedikit sipit dan warna bibir yang merona bak buah tomat. Laila duduk di kursi tak jauh dari Barraq. Kedua tangannya menopang dagu, sementara matanya tak ingin lepas dari wajah Barraq. Laila terpesona.
"Sungguh sempurna Tuhan menciptakan..." gumam Laila.
Mata Laila kian lekat menatap Barraq. Menilik setiap inci ketampanan Barraq. Bahkan Laila menandainya di setiap ingatan tentang ketampanan Barraq tersebut.
Tengah asyik Laila menikmati pemandangan indah itu, tiba-tiba saja mata Barraq terbuka. Laila terkesiap. Ia bermaksud segera membetulkan posisi tubuhnya. Namun upaya itu gagal. Sebab Barraq sudah menarik lengan Laila hingga gadis itu kembali mendekati wajah Barraq.
Wajah keduanya begitu dekat hingga dengusan nafas Barraq dapat di rasakan Laila pada wajah Laila. Sementara Barraq sendiri tengah memiliki perasaan yang luar biasa. Jantungnya kembali berdegup hebat. Entah irama apa yang dimainkannya.
"K-kak..." ucap Laila lirih dan sedikit ragu.
"Aku akan mencari cara agar kau tidak menghilang. Dan kita akan tetap bersama" ucap Barraq sambil terus menilik manik mata Laila yang hampir berwarna biru itu.
"Cepatlah...Waktu ku tersisa dua belas hari lagi" ucap Laila yang juga menatap jauh ke dalam manik mata Barraq.
Dan tanpa keduanya sadari, ada sosok lain yang tengah memperhatikan keduanya. Ia adalah Berry. Laki-laki yang bak artis Korea itu, duduk dengan menopang dagu. Matanya aktif bergerak menilik Laila dan Barraq bergantian. Lama Berry melakukan itu. Pun demikian, kehadiran Berry hingga kini belum disadari keduanya.
"Kenapa kalian selalu melakukan ini di belakang ku...?" ucap Berry santai.
Dan kedua orang yang tengah ditatap Berry itu pun tak merespon. Ternyata mereka larut dalam perasaan yang membuncah. Berry tampak kesal.
"Woi....!!" teriak Berry sejadinya.
"Ash...berisik!!" ucap Barraq dan Laila bersamaan.
Itu pun diucapkan tanpa melihat ke arah sumber suara, Berry. Mendapati polah keduanya Berry tersenyum. Ia berdiri. Tangan ya mencencang daun telinga Laila dan Barraq.
"Kalau aku tidak berisik, bisa jadi kalian akan berciuman di hadapan ku. Dasar makhluk tak berperasaan....!!" ucap Berry dengan suara meninggi.
Sesaat hawa dingin pun menyergap saat Berry berucap demikian. Hawa yang selalu sukses membuat Barraq bergidik.
"Aw...Aw...Aw, Berry...!!" ucap Laila dan Barraq.
"Apa salah kami? Kami tidak melakukan apa-apa" ucap Laila cemberut.
"Sudah tahu waktu tersisa dua belas hari lagi, kalian malah sibuk bertatapan seperti itu. Sebel....!"
"Ya, maaf. Kami cuma bertatapan kok. Itu juga tidak sengaja. Jangan marah ya kak Berry" rayu Laila.
"Kak...? Kau memanggilku kak?"
"Ya. Kan hantu senior. Dan lagi cuma kak Berry yang ku punya di dunia perarwahan ini" ucap Laila sendu.
Ada pilu yang jelas terlukis di wajah pasi Laila. Pilu
"Dasar nakal. Setelah sekian lama, kau baru menyadarinya hari ini?" ucap Berry manyun.
__ADS_1
Pun demikian, Berry merengkuh Laila dalam dekapannya. Ucapan Laila barusan ternyata sukses membuatnya terenyuh. Di matanya ada bulir bening yang mengerubuti.
"Kakak...adik. Boleh juga" ucap Berry.
Sementara itu, Barraq yang buru-buru berlalu kini sudah duduk anteng di depan laptop yang menyala. Barraq sibuk mengotak-atik benda canggih itu. Ketika ia menilik layar, dadanya penuh sesak. Tak terbendung lagi amarah Barraq. Sebuah gelas berisi air mineral terlempar melalui tangannya.
CRANG.....!!
Gelas beradu pada dinding. Sesaat suasana menjadi gaduh. Suaranya mengisi segenap udara pada ruangan. Dan hal itu pun langsung menyita perhatian Laila dan Berry. Keduanya langsung mendekati Barraq yang tengah bersungut-sungut.
"Keparat kau, Ethan....!!!" teriak Barraq.
Wajahnya merah padam. Bak ada gemuruh dalam dadanya, Barraq kembali melempar benda. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah sebuah vas bunga. Rahang Barraq mengeras. Nafasnya naik-turun dengan cepat. Barraq benar-benar diamuk amarah.
"Apa ini yang membuat kau kehilangan nyawa mu?" ucap Barraq.
Matanya menyala bak api yang berkobar. Auranya sungguh tak menyenangkan.
"Katakan, Laila....!" ucap Barraq.
Laila terduduk lesu. Hatinya bimbang untuk menceritakan kebenaran. Bagaimana tidak, Ethan adalah kakak laki-laki dari Barraq sendiri.
"Katakan Laila...." ucap Barraq lagi.
Kali ini suaranya sedikit melunak. Terlebih saat melihat wajah pasi Laila yang terlihat tertekan.
Barraq menghela nafas. Ia duduk di hadapan Laila. Ia menatap lekat wajah Laila. Kemudian, Barraq meraih tangan Laila dan menggenggamnya erat. Sekali lagi Barraq menghela nafas sebelum kata-katanya meluncur kembali.
"Aku mengerti situasi mu?" ucap Barraq sambil tersenyum walau hati getir ia rasa.
Barraq hanya ingin menenangkan sekaligus memberi keyakinan pada Laila untuk segera menceritakan kebenaran yang ia simpan. Karena setelah Laila mengingat kejadian sebenarnya Laila tak bercerita banyak tentang pelaku sebenarnya kepada Barraq.
Laila diam. Hanya kepalanya saja yang mengangguk lemah.
"Ah, sial....!!"
"Kak...."
"Ah, ya. Maaf. Em, darimana Laila tahu jika Ethan telah melakukan kecurangan seperti itu?"
"Aku...Aku magang di perusahaan itu. Kebetulan saat itu aku ditugasi untuk menge-print beberapa kali file dari sebuah komputer di ruangan pak Ethan. Dan karena hal tersebut, aku mempunyai akses untuk masuk ruangan dan juga komputer satu-satunya di ruangan tersebut. Dan saat aku lembur aku menemukan file-file itu"
"Lalu mengapa kau mencurinya? Apa keuntungan mu?"
"Semula aku akan menjadikannya sebagai kartu As untuk segera menjadi karyawan tetap, tapi setelah bertemu dengan kakak tujuanku berubah"
"Kartu As, luar biasa...."
"Maafkan aku, Kak..."
"Aku mengerti. Dan kapan kita bertemu?"
"Em, mungkin kakak lupa. Sesaat setelah kakak dipermalukan di meeting pemegang saham. Kakak keluar dengan wajah merah padam. Aku tahu kakak orang baik. Semua kakak raih sebagai hasil kerja keras..."
Laila menghentikan ceritanya. Ia menatap wajah Barraq yang begitu flat. Tiada reaksi apa pun atas ucapan Laila yang berada pujian itu.
"Lanjutkan....." ucap Barraq.
"Em, sejak saat itu Laila berusaha untuk menemui kakak. Aku ingin memberikan bukti-bukti ini. Namun tiada kesempatan itu yang menjadi nyata"
"Dan tindakan pencurian mu itu diketahui?Dan hari itu juga adalah hari kau kehilangan nyawa mu?"
__ADS_1
"Ya. Tepat setelah aku menabrak mu malam itu" ucap Laila sendu.
Barraq berdiri. Ia melangkah menuju balkon. Di sana Barraq berdiri tegak. Matanya nanar menatap jauh. Gemuruh di dadanya belum lagi usai.
"Ethan....rasa hormatku pada mu berguguran sudah. Rasa percayaku pun musnah sudah. Mengapa kau tega melakukan semua ini kepada ku, Ethan? Aku saudara mu...!" ucap Barraq.
Tubuh Barraq bergetar hebat. Nafasnya kembali tak stabil.
Melihat itu, Laila menghampiri Barraq. Hati-hati sekali Laila menyapa Barraq.
"Kak...." ucap Laila.
"Tinggalkan aku. Aku ingin sendiri..." ucap Barraq.
"Kakak baik-baik saja...?"
Barraq memutar tubuh. Matanya langsung menatap Laila lekat. Jelas di ujung tatapannya ada aura yang tak menyenangkan.
"Baik-baik saja? Kau tanyakan itu?! Aku akan katakan bagaimana keadaan ku. Dengar...! Aku baik-baik saja. Di situasi ini pun aku baik-baik saja. Hidup ku hancur pun aku tetap baik-baik saja. Aku baik-baik saja...!! walau kakak ku sendiri yang melakukan, aku akan baik-baik saja...!" ucap Barraq penuh amarah.
"Tenang, Kak...."
"Tenang....? Mana bisa aku tenang?! Pergi...! Tinggalkan aku. Pergi...!" ucap Barraq.
Barraq duduk pada lantai. Tangannya memeluk kedua lututnya. Ada isak yang jelas sampai ke telinga Laila. Namun Laila tak berani berbuat apa-apa lagi. Laila pun berlalu meninggalkan Barraq dengan segala kesedihan dan kemarahannya.
Jelas di mata Laila pun tersimpan bulir bening yang siap muncul saat itu. Karena itu, Laila pun buru-buru meninggalkan Barraq.
Langit gelap membentang. Gelapnya malam tak mampu menjadi obat ataupun pelipur kesedihan Laila ataupun Barraq.
Tak lama kemudian langkah Laila terhenti pada sebuah tempat. Sebuah taman tepat di bawah balkon kamar Barraq. Laila duduk lesu pada sebuah batu besar di sudut taman. Hatinya gusar. Dan ada sedikit kegamangan di sana.
"Kasihan kak Barraq. Hidupnya yang sudah kacau kini makin kacau karena terbawa-bawa dengan masalah ku..." ucap Laila.
"Kau tidak bersalah, Laila...." ucap Berry yang tiba-tiba sudah turut duduk.
"Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan? Sebagian hati ku mengatakan bahwa keadilan harus ditegakkan. Aku tidak rela atas perbuatan mereka terhadap ku. Tapi sebagian lagi aku tak tega melihat kesedihan kak Barraq"
"Kesedihan dan marahnya tuan Barraq tidak ada kaitannya dengan mu. Rasa itu ada karena ia mengetahui seperti apa sebenarnya saudara laki-lakinya itu. Kau tak perlu merasa bersalah..." ucap Berry menenangkan.
"Benar. Ada tidaknya diri mu, Ethan memang sudah menzolimi ku" ucap Barraq yang langsung duduk di dekat Laila.
Mata sembab. Tak lazim bagi seorang laki-laki seperti Barraq untuk mengeluarkan air mata. Namun semua itu menjadi lumrah sejak ia harus kehilangan ibu kandungnya hingga up and down kehidupannya.
"Kau tahu Laila, jauh sebelum kita bertemu rupanya saudara laki-laki ku itu memang tidak ingin ada aku membersamai kehidupannya. Dan karenanya Ia kemudian mulai menghancurkan semua yang ada dalam hidup ku sedikit demi sedikit. Dimulai dengan perusahaan, kemudian citra positif ku. Kekasih ku pun tak luput dari incaran rencananya. Terakhir aku ketahui bahwa segala bentuk pencekokan minuman keras pun adalah ulah Ethan..." ucap Barraq.
Laki-laki tampan putra kedua di keluarga El Khasif itu menghela nafas. Begitu berat terasa.
"Tapi....Kak"
"Laila, aku justru berterima kasih kepadamu. Karena mu aku memiliki bukti konkrit untuk menjerat pelaku yang sebenarnya" ucap Barraq.
Matanya menatap langit. Fikirannya beterbangan menyusuri keping kenangan saat kehangatan keluarga masih kental terasa. Barraq menggenggam erat jemari hantu cantik di sebelahnya.
"Sudah ku katakan kau tidak boleh kemanapun. Kau akan tetap bersama ku..."
"Wew..." celetuk Berry.
Celetukan itu sontak di respon dengan tatapan tajam bak elang mengintai mangsa milik Barraq.
"Wah, sungguh menyeramkan suasana malam ini" ucap Berry sambil nyengir kuda.
__ADS_1