LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 23. Artikel Kampungan


__ADS_3

Laila berdiri di depan sebuah pintu besar berukir. Ia menilik segala aktifitas yang ada di dalamnya. Menyimak segala pembicaraan yang tengah berlangsung. Kemudian Laila menembus dinding ruangan besar dimana Ethan tengah berbincang dengan seseorang.


"Aku ingin kau menulis artikel tentang Barraq kembali" ucap Ethan sambil menyeruput teh hangat.


"Berita apa yang tuan inginkan kali ini?"


"Em, sepertinya Anda sudah faham betul dengan keinginan saya"


"Tentu, Tuan. Kita adalah pebisnis. Haha...."


"Haha...Buatlah berita berdasar foto ini" ucap Ethan.


Tangannya menyodorkan sebuah foto ke atas meja. Rifky meraih foto tersebut. Mengernyit dahi Rifky saat melihat siapa sosok yang ada dalam foto.


"Perselingkuhan? Atau skandal dengan wanita malam?"


"Yang kedua..."


"Wow...anda luar biasa. Pilihan anda selalu membuahkan kontroversi. Anda juaranya, Tuan..."


"Picik sekali kau, Ethan. Cara mu sungguh kampungan berbanding terbalik dengan apa yang semua kau miliki" ucap Laila.


Dada Laila bergemuruh. Rencana yang diutarakan Ethan membuat hati Laila beriak. Kali ini bak ada badai yang tengah berkecamuk. Begitu kacau.


"Aku ingin besok beritanya sudah tersebar"


"Baik, Tuan..." ucap Rifky sesaat sebelum meninggalkan ruangan.


"Tak kan ku biarkan kalian melakukannya. Ku pastikan rencana kalian gagal" ucap Laila yang masih bersungut.


Tak lama pintu pun kembali diketuk. Seorang laki-laki kemudian memasuki ruangan. Langkahnya begitu tergesa. Bisa dipastikan ada hal penting yang ingin disampaikan.


"Tuan...." ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Daniel.

__ADS_1


"Bagaimana Daniel?" ucap Ethan.


"Maaf, Tuan. Sepertinya saya harus turun tangan. Upaya Pembunuhan tuan Barraq gagal. Dan orang kita tertangkap..." ucap Daniel.


Ethan terdiam. Hanya matanya saja menyiratkan amarah. Terlebih saat melihat kepalan tangannya yang kuat. Sejatinya ia tengah diamuk amarah. Namun Ethan berusaha untuk tidak melakukan hal yang berlebihan. Semua karena telah adanya rumor negatif tentang dirinya yang beredar. Apalagi para paparazi terus bertengger di depan kantor megahnya.


"Jika kau pun gagal, bagaimana?" ucap Ethan kemudian.


"Saya tidak akan membawa-bawa tuan. Semua akan saya tanggung..."


"Baiklah. Kalau begitu keluarga mu akan menjadi tanggungan ku, seandainya terjadi sesuatu pada mu"


"Terima kasih, Tuan..."


"Dasar mental jongos. Mau saja dikorbankan..!" ucap Laila.


Daniel pergi meninggalkan ruangan besar itu. Isi kepalanya berputar. Daniel tengah mencari cara terbaik agar misi yang diembannya sukses. Dia berfikir rencananya harus dilaksanakan dalam satu atau dua hari ini. Hal itu berkaitan dengan kemungkinan belum pulihnya kesadaran Barraq. Dan situasi tersebut tentu saja menguntungkan Daniel dalam upaya meloloskan rencana jahatnya itu.


Sementara itu, Laila yang menyimpan amarah langsung membersamai Rifky. Mengapa bisa secepat itu? Ya, maklumlah namanya juga hantu dapat menembus ruang dan waktu secepat yang ia mau. Hehe...


"Jejak Digital Tak Pernah Salah..." begitu Laila membaca tagline berita yang tertera.


"Cih...kampungan. Wartawan bayaran. Tunggu saja aku akan buat perhitungan dengan mu..." ucap Laila geram.


Laila terus menilik setiap baris berita yang terdapat pada monitor. Setiap Laila membacanya, maka ia kian geram. Laila terus mengawasi gerak gerik maupun tulisan Rifky.


TOK.


TOK.


TOK.


Pintu diketuk. Seorang gadis manis tampak berdiri di ambang pintu. Senyumnya tampak manis terurai. Bahkan lebih manis dari teh yang dibawanya. Langkah sang gadis melenggok penuh pesona. Bahkan Rifky yang tengah berkonsentrasi pada layar monitor pun mau tidak mau langsung mengalihkan perhatiannya. Mengembang senyum Rifky saat sang gadis meletakkan secangkir teh sambil.sedikit menjura. Dengan demikian, dua benda kenyal besar yang bak meronta dari wadahnya itu tampak jelas terlihat.

__ADS_1


"Sumber inspirasi...." ucap Rifky.


Matanya serasa ingin melompat membersamai dua benda kenyal yang begitu menggoda itu.


"Tehnya, Pak..." ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Terima kasih..." ucap Rifky.


Sebelah matanya mengerling genit. Membuat sang gadis tersipu. Sedikit melenggokkan tubuh ke kanan-kiri bak burung cendrawasih yang tengah tebar pesona. Ini adalah isyarat kesiapan untuk menjadi sumber ketertarikan. Rifky kian antusias. Sumber inspirasinya memang aduhai.


"Diminum, Pak...." ucap Sekar.


Suaranya manja, mendesah. Karena perhatian Rifky terpusat pada Sekar, ia tak sadar jika di belakangnya ada Laila yang siap menggagalkan rencananya. Langkah awal pun Laila mulai. Teh yang baru saja dihidangkan, dihempas Laila. Airnya mengenai tangan Rifky dan sebagian kertas yang terserak di meja.


"Ah, sial...!" ucap Rifky.


Tangannya cepat menyelamatkan kertas yang perlu diselamatkan. Sementara Sekar sibuk membantu merapikan.


"Hihi...." tawa Laila.


Sekali lagi. Laila mengerjai Rifky. Kali ini kertas-kertas yang baru dirapikan dihempas angin kencang. Lembarannya beterbangan sesaat, untuk kemudian kembali terserak di lantai. Angin hasil kekuatan Laila benar-benar ampuh membuat Rifky terdiam. Matanya tiada henti menatapi kertas yang sebentar beterbangan itu. Tanya pun mulai menduduki hatinya. Dalam ruangan tertutup, bagaimana mungkin angin dapat bebas terbang menghempas. Begitu fikir Rifky, sang wartawan gaek. Segala spekulasi pun hadir. Pun demikian, segera terkikis oleh nalar yang tak dapat menerimanya. Hati Rifky mulai kecut.


BLAST.....!!


Mendadak monitor laptop yang sejak tadi menyala, mati. Rifky panik. Bagaimana tidak, berita yang siap dinaikkan terbuang begitu saja. Ini adalah hal yang tidak biasa.


"Sial...!" gerutu Rifky.


Matanya menilik sekitar. Hawa dingin mulai menjalari tubuh berikut seluruh ruangan. Rifky memutar matanya. Tangannya menarik lengan Sekar. Dengan suasana yang terasa mencekam, Rifky memilih ke balik punggung Sekar. Rupanya ia mulai terpengaruh dengan segala fikiran negatif tentang keberadaan makhluk halus yang dihembuskan Sekar.


Kemudian keduanya lari keluar ruangan. Nafas keduanya memburu. Kemudian pintu pun tertutup rapat dengan sendirinya. Hal itu kian membuat keduanya kecut. Keduanya lari tanpa melihat ke arah mana pun, baik kanan, kiri, ataupun belakang. Beberapa pegawai menatap heran polah keduanya yang tengah mengalami ketakutan akut. Terlebih hingga berlarian seperti itu.


Laila tersenyum puas. Matanya menatap penuh kepuasan. Jika memungkinkan, bisa saja ia berjoget ala india sampai ala K-Pop Korea. Gagal sudah berita negatif tentang Barraq hari itu. Dan Rifky telah diingat oleh Laila. Sehingga kapan pun Laila inginkan, ia dapat langsung menemui Rifky dengan cepat.

__ADS_1


Laila menghela nafas seraya berlalu cepat. Entah kemana. Bak asap ditiup angin tubuhnya menghilang begitu saja meninggalkan hawa dingin dalam ruangan.


__ADS_2