
"Bi...." panggil dokter Maleq yang tak lain adalah paman dari Barraq.
"Barraq ingin sendiri, Om. Maaf..." jawab Barraq.
"Om, berharap Barraq tetap kuat. Dan tetap menjadi Barraq yang om kenal. Jangan berubah..." ucap dokter Maleq.
Sebelah tangannya mengusap bahu laki-laki tampan yang tengah kalut itu sesaat untuk kemudian meninggalkannya sendiri seperti yang dimintanya.
Barraq termangu. Ada badai yang tengah berkecamuk saat ini.
"Aku lebih bahagia jika bukan lagi menjadi keluarga El Khasif. Kau berbicara tentang darah. Menurut mu darah siapa yang mengalir di tubuh ku. Hah....!"
"Kak..."
"Astaga..."
Barraq berjingkat. Ia terkesiap atas kehadiran Laila yang tiba-tiba.
"Tidak bisakah mengetuk pintu dahulu? Atau memberikan sinyal tertentu, jadi aku tidak terkejut seperti ini..."
"Maaf...." ucap Laila.
Wajahnya menunjukkan sedikit rasa bersalah. Ternyata hantu saja mempunyai rasa seperti itu. Hehe...
"Kemana teman mu?"
"Kangen ya...?"
"Bukan begitu. Justru aku berharap ia tidak muncul. Apalagi muncul tiba-tiba dengan wajah seramnya itu..."
"Hihihi...."
"Heei...Mengapa tawanya tak mengerikan seperti tawa hantu pada umumnya?" batin Barraq.
"Karena dia hantu yang cantik..."
"Astaga....!!"
Barraq kembali terkejut. Kakinya terangkat sedikit ke udara. Sebelah tangannya memegangi dadanya karena degup jantungnya terasa hebat. Wajah Barraq pun sedikit pasi karena mendapati kemunculan Berry yang tiba-tiba. Tapi kali ini senyum di sudut bibirnya terbit sesaat. Hal tersebut saat melihat wajah Berry yang tampak lebih berseri tanpa luka-luka mengerikan yang biasa menghiasinya.
"Maafkan aku, Kak. Aku meminta bantuan kepada kakak seperti memaksa. Sungguh aku tidak tahu jika kakak sendiri tengah di rundung masalah..."
"Ah, sudah gaharu cendana pula..."
"Kalau begitu, aku akan pergi. Maafkan Laila sekali lagi, Kak..."
"La, tidak seperti itu. Hanya dia yang bisa membantu mu? ucap Berry.
__ADS_1
"Tapi dia sendiri tengah bermasalah. Aku tak tega. Dan waktu ku juga tak banyak, Ry. Aku tidak bisa menunggu lama..."
"Lalu apa yang akan kau lakukan...?" tanya Berry yang berdiri tak jauh dari Laila.
Laila terdiam. Ia memalingkan wajah. Ia tidak ingin Barraq melihat keputusannya yang jelas tercermin di wajahnya. Terlebih ada banyak bulir bening yang mengerubuti kedua matanya.
Lama Laila terdiam. Katanya jadi hilang. Benar-benar hilang.
Melihat itu, terbit rasa iba Barraq. Matanya tiada henti menatap Laila
"Ah, sial. Mengapa aku jadi tak enak hati seperti ini. Melihatnya bersedih begitu aku jadi iba, walaupun ia hantu. Astaga..." batin Barraq.
"Baiklah...aku akan membantu mu. Bagaimana pun kondisi ku, aku pastikan aku akan tetap membantu mu..."
"Sungguh...?" ucap Laila.
Wajah sedihnya mendadak berubah sumringah. Barraq mengangguk yakin. Di ujung bibirnya mengembang senyuman.
"Terima kasih, Kak. Dan sebagai balasannya aku pun akan membantu kesulitan kakak"
"Memang apa yang bisa kau lakukan? Jika kau bisa, tentu kau tidak akan meminta bantuan ku..."
"Auugh.... jleb!" ucap Berry meledek Laila.
sebelah tangannya berisyarat bak memegang benda tajam dan mengarahkannya ke dada. Hal tersebut tentu saja membuat Laila cemberut.
Sementara Barraq dan Berry tertawa cekikikan, Laila kian cemberut. Bibirnya saja mengerucut siap untuk di kucir. Melihat itu Barraq kian terkekeh.
"Baru kali ini aku tertawa. Dan bahan tertawa ku adalah berasal dari makhluk halus alias hantu. Haha..."
"Tadi aku bertemu orang-orang yang telah menganiaya sekaligus menghabisi ku" ucap Laila sendu.
"Ow, jadi kau sudah menemukannya? Lalu untuk apa kau meminta bantuan ku?" ucap Barraq.
"Aku hanya mengerjainya, tapi tidak bisa membalasnya. Kalau membunuhnya itu terlalu mudah, Kak. Aku ingin mereka menyesali perbuatan mereka dan menerima hukuman berdasar hukum yang berlaku"
"Wah...baru kali ini ada hantu baik"
"Heeei.....!" teriak Berry.
Dari caranya berteriak, jelas jika ia tak dapat menerima apa yang di sematkan pada makhluk seperti dirinya.
"Kau fikir semua hantu jahat?! Hantu itu jahat pasti ada alasannya..."
Barraq nyengir kuda. Kalimat Berry baru saja membuat fikirnya berolah pemahaman, bahwa hantu pun sama seperti manusia yaitu ada yang jahat, ada yang baik. Bak dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pun demikian semua memiliki alasan masing-masing untuk jadi apa dirinya.
"Ok..Jadi aku harus apa?"
__ADS_1
"Ketiga orang itu menyebutkan bahwa mereka tak berdaya karena perintah seseorang yang mereka sebut sebagai bos. Aku ingin mengetahui siapa dalang sebenarnya"
"Mudah. Kau tinggal menakuti ketiga orang itu, lalu paksa mereka mengaku dan menyebutkan siapa dalang utamanya. Mudah kan..."
"Pengadilan mana yang menerima keluhan tanpa bukti nyata. Bisa-bisa mereka hanya menikmati hotel prodeo hanya beberapa hari, kemudian bebas kembali sebelum di adili..."
"Tapi paling tidak kita tahu siapa dalangnya. Setelah itu kita akan cari bukti bahwa : 1. Pengakuan dari pelaku sebagai kaki tangan, 2. Pengakuan dari dalang tentang motif dan rencana penghabisan nyawa mu..."
"Cerdas...Tak salah, Tuhan mengirim mu untuk membantu Laila"
"Tapi aku ada masalah lain..." ucap Laila.
Wajahnya setengah menunduk. Perhatikan pada ujung kakinya yang timbul tenggelam dalam karena ayunan kaki yang ia buat saat duduk di sandaran sofa.
"Masalah lain...?"
"Laila hanya memiliki waktu hingga 30 hari kedepan. Setelah itu, ia akan menghilang dan berubah menjadi hantu pembalas dendam. Begitu menurut penghubung dunia arwah kami" ucap Berry.
Barraq menatap Laila kembali. Hatinya beriak. Sebuah perasaan yang aneh baginya terhadap seorang hantu yang tengah bersedih.
"Ow... kalau begitu kita tidak boleh buang waktu lagi. Kita harus segera susun rencana dan menyelesaikan persoalan ini" ucap Barraq.
"Terima kasih..."
"Tu-tuan..." ucap seorang perawat laki-laki yang berdiri di ambang pintu.
Wajahnya sedikit pasi karena mendapati Barraq tengah berbicara seolah ada lawannya.
Barraq kemudian melepas kembali selang infus nya. Ia berdiri dan meraih jaket kulit berwarna hitam yang sejak tadi tergeletak di sofa.
"Aku tidak gila. Aku hanya sedang berbicara dengan diri sendiri" ucap Barraq saat berpapasan dengan perawat laki-laki tersebut.
Wajah Barraq begitu datar tanap ekspresi.
Ia berusaha mendamaikan segala rasa keterkejutannya atas kehadiran yang tiba-tiba menurut Barraq karena minimnya perhatian terhadap sekitar dari perawat itu. Hal tersebut justru membuat si perawat rikuh dan tak berkomentar apapun.
Langkah Barraq kian jauh meninggalkan ruang perawatan VVIP. Langkah yang dibersaimai oleh dua makhluk halus yang hanya Barraq dapat melihatnya.
"Sekarang kita kemana..?" tanya Laila.
"Mencari tiga tersangka mu, Laila..." ucap Barraq.
Nada suaranya perlahan saja, nyaris tak terdengar. Barraq tak ingin dianggap gila karena seakan berbicara sendiri.
"Oya...?"
"Hook oh. Kira-kira dimana mereka berada?" ucap Barraq.
__ADS_1