
Barraq berdiri di tepi pantai. Ia membiarkan kakinya yang tak beralas itu basah dibasuh ombak yang datang dan pergi ke dan dari tepian pantai. Mata Barraq menatap jauh. Ia menatapi hamparan lautan yang kemilau bak berlian karena disapa mentari. Sebentuk pelangi pun terukir di langit sebagai manifestasi benih hujan yang baru saja usai.
"Kak Barraq...." sapa Laila.
Kehadiran Laila yang tiba-tiba selalu membuat terkesiap Barraq. Tak ayal Barraq selalu menggerutu akan cara Laila tersebut. Pun demikian, Laila hanya menanggapinya dengan senyum khasnya saja. Namun kali ini berbeda. Tiada gerutuan sedikit pun yang keluar dari mulut Barraq. Laki-laki tampan itu justru mengumbar senyum. Matanya menatap Laila. Ia tertegun. Terlebih saat ia melihat Laila berpakaian tak seperti biasanya. Dress berwarna biru dengan motif bunga kecil di bagian bawahnya. Barraq terpesona. Hatinya beriak. Nalarnya sudah kacau dikalahkan oleh rasa yang tak lazim, namun kian membuncah itu.
"Kemarilah...." ucap Barraq.
Tangannya terulur sebagai isyarat agar Laila mendekat kepadanya. Dan Laila pun meluluskannya. Laila langsung mendekat pada Barraq. Bahkan terlalu dekat. Hingga jantung Barraq bertalu hebat, bak genderang ditabuh.
"Ini kencan kita yang pertama. Aku harap kau bahagia, La..."
"Aku bahagia, Kak. Terima kasih. Andai aku nyata di hidup mu, tentu aku akan jauh lebih bahagia"
"Maafkan aku, La. Karena aku, kau jadi kehilangan nyawa mu..."
"Mengapa meminta maaf, Kak. Laila tidak menyesal sedikit pun atas apa yang telah Laila lakukan"
"Aku berhutang kepada mu. Jika ada yang bisa aku lakukan untuk melunasinya, katakan saja. Aku pasti akan meluluskannya"
Laila terdiam. Matanya menatap wajah tampan Barraq. Ia menilik setiap gurat ketampanan yang selalu digilai wanita itu.
"Fix seratus persen ketampanan mu, tuan Oemar Barraq El Khasif..."
Tiada henti Laila menatap Barraq. Begitu pun sebaliknya. Barraq begitu tenggelam dalam indahnya manik mata Laila. Manik mata yang tengah ia telusuri saat ini. Manik mata yang selalu membuat hatinya bergetar ketika menatapnya atau ditatap olehnya.
"Fix seratus persen kecantikan mu, Laila Ratri Hadiningrat..."
"Maukah kau berjalan-jalan dengan ku?" ucap Barraq.
Tangan Barraq meraih tangan Laila. Wajahnya pun begitu sumringah.
"Tentu..."
Laila tersenyum. Mata Laila menatap tangannya yang tergenggam erat.
"Tapi perlahan ya. Luka ku belum sembuh benar..." ucap Barraq sambil memulai langkah.
Barraq membawa Laila dalam irama langkahnya. Satu satu kaki berayun. Ayunannya meninggalkan jejak sesaat karena langsung dihapus ombak yang dihempas sang bayu ke tepian pantai.
Walau tiada pernyataan yang nyata, namun hati keduanya senantiasa berbicara. Ya...berbicara tentang indahnya langit senja, tentang birunya langit, indahnya taman bunga dan atau tentang cita-cita yang selalu menjadi impian setiap pasangan yaitu menua bersama hingga akhir hayat. Seperti halnya Barraq dan Laila saat ini.
Sebut ombak kian menjadi ketika Barraq dan Laila duduk di hamparan pasir putih. Dan Laila menyandarkan kepalanya pada bahu Barraq.
"Urusan Laila sudah selesai, kak. Memberikan bukti kecurangan kepada kakak sampai menemukan pelaku yang menyebabkan kematian Laila. Dan waktu Laila tersisa tiga hari lagi" ucap Laila.
"Ternyata waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita bertemu. Tapi sekarang sudah harus berpisah..." ucap Barraq.
Tangannya mengusap punggung tangan Laila berulang kali. Dan sesekali ia hadiahi dengan kecupan lembut. Mendapat perlakukan itu, Laila menyimpan tatapannya ke ujung kaki. Laila khawatir matanya akan berbicara banyak tentang bagaimana perasaannya saat itu.
"Laila..."
"Em, ya...Kak. Oya, Laila juga demikian. Terima kasih sudah membantu Laila..."
"Aku tidak merasa melakukan banyak hal, La. Justru kaulah yang telah melakukan banyak hal untuk ku. Terima kasih ya...." ucap Barraq.
Sekali lagi ia menghadiahi kecupan pada punggung tangan Laila yang putih bersih itu. Dan mendapati hal tersebut lagi-lagi Laila harus menyembunyikan tatapannya pada ujung kakinya yang selalu basah di basuh ombak yang rutin mampir ke pantai.
__ADS_1
"Oya, aku ingin memberikan ini kepada mu. Ini hadiah untuk orang special seperti mu..." ucap Barraq.
Tangannya langsung mengalungkan sebuah kalung indah. Indah karena ada sebentuk cincin yang melengkapinya. Berkaca mata Laila. Dirabanya benda yang baru saja dipakaikan oleh laki-laki yang diam-diam sudah lama ia cintai itu. Bahkan sebelum menjadi arwah gentayangan seperti saat ini.
"Indah. Untuk ku, Kak...?" tanya Laila.
Kata Laila terdengar begitu sumringah. Bahkan kata itu membuat Barraq terkekeh sesaat.
"Tentu saja, sayang...."
Deg.
.
.
.
Mendengar kata yang terlontar, Laila terdiam. Matanya menatap lekat wajah tampan Barraq. Pun demikian, tiada kata yang terlontar dari bibir tipis Laila sebagai balasan atas ucapan Barraq barusan.
"Sepertinya Laila terkejut atas ucapan ku barusan. Hehe...Hantu juga bisa tersipu begitu ya. Ah, Laila...andai kita bisa bersama maka akan aku pastikan kita akan hidup bahagia. Tuhan, jangan kau hukum aku seperti ini..." batin Barraq.
"Aku bisa apa, Kak? Kebersamaan kita tersisa tiga hari lagi. Dan sampai saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana..." batin Laila.
"Aku harap kakak akan selalu bahagia. Semua persoalan hidup kakak akan terselesaikan dengan baik..."
"Aamiin. Jika aku boleh memohon pada Tuhan, maka aku mohon di kehidupan nanti aku akan dipertemukan dengan mu sebagai pasangan..."
"A--Aamiin..." ucap Laila terbata.
"Tubuh mu...."
Kata Barraq terhenti. Wajah tampannya jelas melukiskan Kecemasan yang mendalam.
"Cakupan hilangnya makin luas. Tapi aku baik-baik saja. Ini efek dari waktu ku yang kini tersisa sedikit. Aku harap kakak akan terbiasa di tiga hari terakhir ini"
"Tidak...! Aku tak kan sanggup, La"
"Jika begitu aku akan pergi menjauh agar kakak tidak menyaksikan ketika aku pergi selamanya..."
"Ah...!" keluh Barraq.
Barraq berdiri. Ada kesal bergelayut dalam hatinya. Barraq memutar tubuhnya. Ia melangkah perlahan meninggalkan Laila yang masih tertegun.
"Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" batin Laila.
Laila pun akhirnya mengikuti langkah Barraq. Bahkan ia melangkah hanya satu atau dua saja dari langkah Barraq.
"Pergilah...! Jika kau ingin pergi..." ucap Barraq.
Mendengar ucapan Barraq, Laila langsung menghambur. Ia memeluk punggung Barraq dengan erat. Laila terisak. Bulir bening yang sejak tadi mengerubuti matanya, kini terjun bebas dengan santainya. Isak Laila sukses menghentikan langkah Barraq. Dan laki-laki tampan itu pun membiarkan saja perilaku Laila tersebut. Hal tersebut karena hatinya pun tengah beriak pilu.
"Aku tahu ini berat kak. Tapi aku pun tak berdaya. Jangan pergi. Aku mohon. Aku ingin bersama mu" ucap Laila di sela isak pilunya.
Kata Laila benar-benar membuat Barraq terenyuh. Ia pun langsung meraih Laila. Gadis cantik yang semula mendekapnya dari belakang justru kini sudah berada dalam dekapannya. Erat Barraq mendekap. Barraq Mun menghujani pucuk kepala Laila dengan kecupan lembut. Nice.
Lama keduanya dalam tangis yang ternyata sudah menyatukan rasa yang beberapa waktu ini tersimpan rapi di sudut hati terdalam.
__ADS_1
"Jangan pergi tanpa izin ku..."
"Aku tak kan pergi tanpa izin mu, kak..."
"Mari kita berbahagia..."
"Aku ingin sekali kak. Berbahagia bersama mu. Semoga Tuhan memberi jalan terbaik untuk kita..."
"Pasti. Karena ketulusan kita. Aku yakin...."
"Aku....Aku pun...Akh! Akh...! Suara itu datang lagi, Kak. Suara bib bib yang begitu menyiksaku..."
"Sayang...." ucap Barraq.
Katanya mandul. Ia tak sanggup berkata atau pun menatap wajah Laila. Ia hanya mendekap tubuh gadis yang telah berkorban untuknya itu.Dekapan yang begitu erat. Hanya itu yang dapat Barraq lakukan saat ini.
"Apa kita perlu ke rumah sakit...?"
"Kak...aku arwah. Bagaimana mungkin..."
"Aku bercanda, sayang..."
"Ah, curang..." ucap Laila.
Sebelah tangannya memukul dada laki-laki tampan yang masih mendekapnya itu.
"Apakah masih sakit...?"
"Tidak. Tapi... suaranya begitu mengganggu ku. Dan rasanya mengisi seluruh kepalaku..." jelas Laila.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di waktu yang sama, pada tempat yang berbeda. Tepatnya di El Khasif Hospital. Team medis kembali berlarian. Tampak dokter Faaz tengah berkutat dengan peralatan medis yang bersarang pada tubuh seorang gadis cantik. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Entah apa yang tengah ia alami saat ini.
Melihat kondisi putri semata wayangnya, Arini terisak. Matanya telah basah di basuh air mata. Sementara tangannya menutup bibirnya yang tak henti bergerak menyebut nama gadis itu.
"Dokter lihat..." ucap seorang perawat.
Jarinya mengarah pada wajah gadis itu. Tepatnya pada mata yang mulai basah dialiri bulir bening. Mendengar itu, Faaz langsung mengecek kondisi pasien.
"Bagaimana, dok.." tanya Arini tak sabar.
"Maaf, Nyonya...." ucap Faaz.
Faaz menggeleng sesaat setelah mengecek kondisi pasien.
"Lalu mengapa putri saya bisa menangis?"
"Bisa saja karena refleks saat mendapati tangisan nyonya. Dalam situasi koma, setiap pasien akan bereaksi dengan sekitar. Em, maksud saya segala macam yang berhubungan dengan dirinya. Seperti keluarganya atau kesukaannya..."
"Apa yang harus saya lakukan, dok...?"
"Dampingi dan terus beri rangsangan. Bersabarlah, Nyonya..." ucap Faaz sesat sebelum berlalu ketika gadis cantik itu telah kembali tenang.
Arini tertegun. Matanya menatap putri semata wayangnya itu dengan pilu.
"Kapan kau akan pulih, sayang..." ucap Arini.
__ADS_1