
"Berhentilah, kak. Kaki ku lelah..." keluh Laila.
Kakinya terasa pegal dan sudah tak sanggup mengiringi irama langkah Attar yang bak berlari itu. Mendengar kelurahan Laila, Attar pun menghentikan langkahnya. Genggaman kuat tangannya pun terlepas. Attar memilih melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya pun menatap riak air yang riang ditiup sang bayu.
"Mengapa kakak ingkar janji....?" ucap Laila kemudian.
Mendapat pertanyaan itu, perhatian Attar langsung beralih. Mata Attar menilik wajah cantik Laila. Tanpa sedikitpun teralihkan. Hal tersebut membuat Laila rikuh. Buru-buru gadis cantik itu memalingkan wajah. Menghindari tatapan mata tajam Attar.
"Bukan aku. Tapi kau yang ingkar janji..." ucap Attar.
"Aku...??"
"Ya. Coba kau ingat-ingat. Sesaat sebelum kau ke luar negeri apa janjimu kepada ku?"
Sesaat Laila menerawang. Ia berusaha menapaki kembali jejak ingatan seperti yang diminta Attar. Lama Laila mencoba, namun nihil. Laila pun menggeleng perlahan. Matanya tak menatap sedikitpun laki-laki gagah yang berdiri di hadapannya itu.
"Kau mengatakan bahwa akan melanjutkan keseriusan mu saat aku melamar mu sekembalinya dari operasi. Aku lelah menanti, La. Janji mu tak kunjung nyata. Karena aku berinisiatif melakukan ini semua melalui ayah mu..."
"Dengan memanfaatkan kejadian waktu lampau...?"
__ADS_1
"Kejadian lampau...?"
"Ya. Kejadian saat ayah mu menyelamatkan hidup ayah dan ibu. Bukankah itu?"
"Apa maksudmu? Aku mencintaimu tanpa embel-embel itu. Aku tulus mencintai mu. Walau tanpa kejadian itu pun aku tetap mencintaimu"
"Tapi aku tidak mencintai kakak..." ucap Laila lirih.
Attar terdiam. Dia yakin dan faham betul perkataan apa yang baru saja terlontar dari bibir gadis yang ia cintai itu. Tapi setenang mungkin Attar mencoba menghadapi Laila. Attar berusaha menjadi sosok yang dewasa seperti halnya yang diharapkan Wijoyo, komandan sekaligus ayah dari gadis yang ia cintai.
Attar meraih tangan Laila. Tubuh jangkung itu terlihat membiarkan lututnya bermain dengan rumput yang hijau. Ya, Attar berjongkok di hadapan Laila. Mata perwira itu menatap lekat gadis yang ia cintai. Attar berharap perlakuannya mendapat respon positif dari sang pujaan hati, Laila. Namun alih-alih mendapat perhatian, Laila justru mengisyaratkan kecewa. Dan Attar pun gamang harus berbuat apa.
Akhirnya Attar pun memberanikan diri untuk sekali lagi menyatakan perasaannya sekaligus meyakinkan Laila akan cinta tulusnya. Lama Attar berbicara ini dan itu. Terutama tentang keseriusan, ketulusan dan komitmen yang yang ingin bangun bersama Laila. Dan akhirnya...
Bulir bening yang sejak tadi mengerubuti kedua mata Laila kini sukses terjun bebas. Bulirnya membasahi pipi dan tepat menitik pada punggung tangan Attar yang masih memegang tangan Laila.
Dan Perwira itu pun terkesiap mendapati beberapa bulir bening di punggung tangannya. Mata laki-laki itu kembali menatap lekat wajah Laila yang telah basah itu.
Deg.
__ADS_1
"Sedemikian ogah kah Laila menerima cinta ku? Apa karena Oemar Barraq? Apa Laila telah menemukan cintanya terhadap Barraq? Jika demikian, aku harus apa?" batin Attar.
"Benar aku telah mengetahui bagaimana perasaan ku. Aku hanya bingung harus berbuat apa. Aku tengah menunggu kak Barraq untuk kelanjutan cerita cinta ini. Ya, Tuhan. Tolong cinta ku..." batin Laila.
Attar melepaskan tangan Laila. Begitu perlahan. Perwira itu pun telah berdiri. Hal itu setelah mengetahui kegagalan usahanya untuk meyakinkan Laila, gadis yang ia cintai sejak lama itu.
"Maafkan, aku. Begini saja. Aku berikan pilihan kepada mu. Tiga bulan adalah waktu untuk mu untuk meyakinkan hati mu. Jika cinta yang kau cari itu kau temukan sebelum tiga bulan, maka aku akan berbesar hati untuk melepaskan mu. Tapi jika kau tak menemukannya, maka kau harus melanjutkan pernikahan kita. Deal...?"
Laila tampak terdiam. Hanya matanya saja yang menatap wajah laki-laki di hadapannya itu. Ada unsur ketidakpercayaan di ujung tatapannya. Melihat itu Attar mengangguk mantap. Ia kembali berusaha meyakinkan Laila.
Gadis yang baru saja mendapatkan kecantikannya itu tampak berfikir. Laila memutar tubuh, membelakangi Attar. Tangannya bersilang depan dada beberapa saat.
"Bagaimana?" ucap Attar.
Walau merupakan pilihan yang sulit, namun Attar berusaha berbuat seadil mungkin demi gadis yang ia cintai itu.
"Deal...." ucap Laila kemudian.
"Good...." ucap Attar.
__ADS_1
"Mengapa kau menyetujuinya, Laila? Kau akan membuat hati ku tercabik-cabik setiap kau mengingat Oemar Barraq" batin Attar.