LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 32. Menghadapi Kenyataan (2)


__ADS_3

Matahari telah lewat di atas kepala. Birunya langit dengan awan putih yang sedikit menutupi telah menjadikan udara menghangat. Dan hal tersebut cukup membuat gerah di tubuh. Barraq menyeka keringat yang mulai mengembun di dahi dan beberapa bagian tubuh lainnya sebelum ia keluar. Barraq menghirup meregangkan tubuhnya. Menghirup udara dari sang bayu yang baru saja menyapa.


Barraq tersenyum pada gadis berbaju biru yang berdiri tak jauh darinya. Gadis yang telah membuat degup jantungnya bertalu bak genderang ditabuh palu. Sekali lagi Barraq tersenyum. Kecemasan yang sempat hadir, kini sirna. Hal tersebut karena tubuh Laila sudah kembali seperti sediakala.


Barraq menggenggam erat jemari Laila. Dan ia membawa Laila seirama dengan langkahnya. Laila tersenyum. Wajahnya sumringah mendapat perlakuan tersebut. Ringan langkah Laila hingga ia setengah berloncatan mengikuti langkah Barraq. Dan tawanya pun mengiringi setiap langkahnya.


Langkah kecil Laila menapak pada sebuah kursi di taman. Sesekali ia berjingkat, sesekali melenggang dengan hati-hati. Bahkan sebelah tangannya merentang sebagai upaya menyeimbangkan tubuhnya. Walaupun ada Barraq yang memegangi sebelah tangannya.


Laila tergelak saat beberapa pasang mata memperhatikan Barraq. Bahkan ada diantaranya yang tersenyum melihat polah Barraq yang bak bercanda ataupun bercakap sendirian. Barraq pun buru-buru menyimpan tatapannya pada lantai berwarna putih itu seraya mempercepat langkahnya. Sementara itu Laila terus tergelak.


BRAKK....!!


Barraq membuka pintu dengan kasar. Ia duduk dengan wajah bersungut-sungut.


"Marah ya...?" ledek Laila.


"Auk ach..." jawab Barraq sekenanya.


Melihat kedatangan Barraq yang demikian, Attar mengernyitkan dahi. Sementara matanya menatap Laila, meminta penjelasan.


"Anak gadis lagi menstruasi, Kak Attar" jawab Laila sekenanya.


"O..."


Attar meng-o singkat. Manik matanya memutari rongganya sesaat. Namun percakapan singkat Laila dan Attar tak digubris Barraq. Laki-laki tampan itu melemparkan berkas rekam medis Irfan ke atas meja.


"Aku ingin bertemu Daniel. Jika dia masih bertahan setelah fakta ini, maka benarlah jika dia sudah tak waras lagi..." ucap Barraq sesaat setelah melemparkan berkas.


Attar pun langsung meraih berkas tersebut. Dan dahinya kembali mengernyit saat matanya menilik setiap informasi yang tertuang pada berkas tersebut.


"Aku ingin bertemu Daniel..." ucap Barraq.lagi.


Barraq bersandar pada sofa di hadapan Attar. Kaki panjangnya menopang di atas kaki lainnya. Sementara matanya menatap Attar yang masih berkutat dengan berkas Irfan.


"Attar....!"


"Oya. Tentu. Tentu saja...." ucap Attar.


Attar tersenyum. Ia tahu betul bagaimana tabiat laki-laki di hadapannya itu. Kemudian tangan Attar meraih gagang telepon kabel dan menghubungi seseorang. Ia meminta agar segera disiapkan apa yang diminta Barraq.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, seorang perwira berpangkat lebih rendah dari Attar pun datang. Melihat kedatangan perwira itu, Attar langsung tersenyum. Setelah menerima penghormatan dan pernyataannya, Attar langsung berisyarat kepada Barraq untuk mengikutinya.


"Bro...." ucap singkat Attar.


"Jika saja kak Barraq mengizinkan, pasti prosesnya lebih cepat.." ucap Laila.


"Mengizinkan apa?" ucap Attar penasaran.


"Menakut-nakuti Daniel, seperti yang dilakukan kepada tiga kurcaci, jongosnya Ethan..."


"Haha....! Ya, ya. Aku lihat saat dipersidangan. Yang setelahnya kabur saat melihat ayah mu, kan?"


"Hehe...kak Attar menyaksikan ya?"


"Tentu saja. La, apa kau tidak ingin bertemu ayah dan ibu mu?"


"Aku tak tega, kak. Biarlah mereka mengetahui seperti yang sudah mereka ketahui..."


Mendengar itu, Attar tersenyum. Senyum yang begitu misterius. Entah apa yang tersimpan dalam benak perwira berpangkat tinggi itu hingga menampilkan ekspresi se-misterius itu.


Langkah kedua laki-laki tampan itu terhenti di depan sebuah pintu berat. Pintu itu sejatinya mengarah ke koridor kecil yang mengarah ke dua pintu berat lainnya. Yang lurus dari pintu pertama adalah ruang pandang, sementara yang di sebelah kanan adalah ruang interogasi utama.


Barraq melangkah menghampiri Daniel yang telah duduk terlebih dahulu. Melihat kehadiran Barraq Daniel acuh. Mata Daniel hanya menatap jauh. Entah kemana. Sementara itu, Attar menuju ruang di sebelahnya. Mengamatinya dengan cermat melalui cermin satu arah.


Barraq duduk di hadapan Daniel. Disebelahnya turut duduk Laila. Gadis cantik itu menatap Daniel. Ada riak di hatinya saat matanya menilik jauh ke dalam manik mata Daniel. Laila tahu di balik sikap dingin dan kepatuhan akut terhadap Ethan, tersimpan kasih sayang terhadap keluarga. Laila menyimpan simpati atas perjuangan Daniel. Sekaligus amarah karena kepatuhan akut nya terhadap Ethan yang dianggap salah kaprah.


Laila menghela nafas. Tatapannya jadi sendu saat Barraq memulai percakapan. Barraq bercerita bagaikan pertemuannya dengan Irfan, ayah dari Daniel. Seakan tak percaya, Daniel melempar berkas yang ada di hadapannya.


"Jangan membodohi ku...!" ucap Daniel.


"Itu fakta bukan suatu pembodohan. Jika kau tak mempercayainya, sejatinya kaulah yang bodoh..." ucap Barraq datar.


Barraq berusaha setenang mungkin. Walau ada gemuruh yang sesaat lagi berubah jadi badai. Barraq berusaha sekuat tenaga tidak terpancing dengan kata dan gestur tubuh Daniel yang cukup memancing emosi itu.


"Ah, menyebalkan sekali nieh orang. Laila kerjai ya, Kak?" ucap Laila kesal.


"Tidak perlu..." bisik Barraq.


Sementara itu, setelah mendengar kata Barraq, Daniel terdiam. Matanya menerawang jauh. Entah kemana. Dalam situasi tersebut, pastilah pembenaran-pembenaran itu mulai bermunculan. Semua merujuk pada pernyataan dan fakta yang dipaparkan Barraq.

__ADS_1


"Lemot mengambil keputusan. Dasar jongos Ethan..." ucap Laila makin kesal.


"Sstt...." ucap Barraq.


Isyarat Barraq itu sempat menarik perhatian Daniel. Laki-laki dengan tangan terborgol itu menilik tempat tepat di sebelah Barraq. Matanya lekat menilik seakan ia dapat menyaksikan kehadiran Laila.


"Apakah nona Laila ada di sebelah, Tuan...?" ucap Daniel tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Ya..." ucap Barraq singkat.


Wajahnya tanpa ekspresi. Sebenarnya bukan tiada, namun Barraq pandai menyembunyikan segala rasa yang ada. Tenang sekali Barraq duduk. Ia bersandar pada kursi. Sebelah kakinya menopang pada kaki lainnya. Sementara tangannya terlipat di depan dada.


"Ah, lama. Dasar lola..." ucap Laila kesal.


"Saya siap memberi pernyataan yang sebenarnya..." ucap Daniel.


Kalimat yang meluncur itu membuat Barraq atau pun Laila lega. Ingin rasanya berjoget ala India yang tiba-tiba muncul di taman bunga atau menempel di pohon seperti cicak sambil bernyanyi lagu Tujh Mein Rab Dikhta Hai. Ahai...pasti seru. Haha...Namun beruntungnya, hal tersebut hanya angan-angan yang belum tentu terwujud.


"Jadi apa pernyataan mu. Apa perlu di dampingi pengacara El Khasif Group dahulu?"


"Tidak. Mohon di record pernyataan ku ini..."


"Wait..." ucap Barraq.


Tangannya memberi isyarat ke arah kaca lebar yang ada pada dinding. Tak lama dari itu, Attar dan seorang perwira lainnya datang. Attar langsung duduk di kursi yang di duduki Laila. Dan hal itu membuat Laila sungut. Bibir tipisnya maju bak ingin di kucir. Laila ngeloyor sedikit menjauh. Tempat berdirinya pun sedikit jadi perhatian Barraq.


Laila nyengir kuda, di tatap Barraq saat ia berdiri justru di sebelah Daniel. Pun demikian, Laila tak bergeser dari tempat berdirinya saat ini. Bahkan kini ia mengalihkan tatapannya.


"Aku adalah perpanjangan tangan atas keinginan tuan Ethan. Penghancuran nama baik dan perusahaan tuan Barraq, hingga upaya penggagalan pernikahan tuan dan nona Maleyka pun adalah misi yang diberikan tuan Ethan kepada saya. Pencarian nona Laila sebagai pelaku pencurian data rahasia tuan Ethan hingga berakhir dengan kisah pilu hingga upaya Pembunuhan tuan Barraq, Tuan Ethan lah yang memerintahkannya..."


Gemuruh dada Barraq mendengar penuturan Daniel. Tangannya mengepal hebat. Rahangnya mengeras menahan amarah. Begitu pun dengan Laila. Ada amarah yang kembali menduduki hatinya setelah beberapa waktu surut. Laila menatap tajam Daniel. Khawatir terjadi sesuatu, Barraq akhirnya memilih meninggalkan ruangan itu. Sementara Laila tetap dalam ruangan. Ia penasaran dengan pengakuan yang akan diberikan Daniel.


Namun setelah beberapa lama menyimak, Laila justru terisak. Amarahnya berangsur berubah jadi sebuah kesyukuran. Bagaimana tidak di akhir waktu yang tersisa, ia mendapat anugerah istimewa yaitu keadilan. Melalui kasus Daniel, ia jadi tahu siapa pemberi perintah menghabisinya. Jika Ethan harus di hadapkan pada hukum atas semua perilaku jahatnya, maka Laila adalah orang pertama yang bersorak karenanya.


"Aku yakin kau tahu yang kau lakukan adalah salah. Karena sesungguhnya kau orang baik. Tapi mengapa kau tetap melakukannya? Apa karena insting seorang jongos atau uang...?"


"Balas Budi. Tuan Ethan telah menanggung biaya pengobatan dan perawatan ayah saya. Karena itu saya rela melakukan apa saja untuk membalasnya..." ucap Attar.


"Ow....balas budi. Tapi sayang kau sudah tertipu, Daniel. Tuan Ethan adalah serigala berbulu domba..." ucap Laila.

__ADS_1


__ADS_2