LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 49. Kejutan


__ADS_3

Laila duduk di kursi sebuah Airport Internasional. Matanya dilengkapi kacamata berwarna hitam. Bibir tipisnya disapu perona tipis-tipis saja warna matte. Sementara penutup berwarna hitam yang biasa nangkring di kepalanya pun sudah tiada. Laila sudah seperti sediakala. Ini adalah karunia Tuhan melalui tangan-tangan terampil team dokter dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ya, kini Laila sudah kembali cantik dan siap memesona siapa saja yang mendapatinya.


"Mengapa ayah lama sekali, Bu...?" ucap Laila.


"Mungkin ayah mu masih ada pekerjaan yang sulit ditinggalkan..."


"Tapi mengapa ayah berjanji jika ada pekerjaan?" ucap Laila manyun.


Di sini sifat manja Laila timbul. Maklum saja ia adalah anak satu-satunya di keluarga Wijoyo Hadiningrat. Keluarga bangsawan yang memiliki kedudukan tinggi di negeri ini.


"Wis...wis...wis. Jangan diperpanjang. Nanti juga dijemput, Ndok. Sabar yoo..." ucap Arini.


Laila masih manyun. Hatinya sedikit menyimpan kesal. Lama tinggal di negeri orang membuat kangennya akut terhadap segala hal yang ada di negeri sendiri. Terlebih terhadap Wijoyo, ayahnya. Tak berapa lama kemudian, berhenti sebuah mobil mewah. Dan Laila langsung mengenali mobil mewah itu. Terlebih jaraknya masih dapat dijangkau tatapan matanya.


"Itu ayah mu, Ndok..." ucap Arini.


Mata perempuan paruh baya itu menatap Laila yang tampak manyun karena lama menunggu.


"Sudah....' ucap Arini lagi.


Tangannya mengusap bahu anak perempuannya itu beberapa kali.


"Ayok...." ajak Arini.


Dengan sedikit kesal Laila bangun dari duduknya. Sebelah tangannya menenteng sebuah tas dari brand ternama berukuran sedang. Namun baru beberapa langkah, kakinya serasa tertahan. Terutama saat melihat Attar turun dari mobil mewah milik keluarganya.


"Mengapa harus dia, sih.? Mengapa bukan ayah yang menjemput atau...kak Barraq?" batin Laila.


"Wah...kecantikan mu sudah kembali, Laila. Duh, jantung kuat-kuat ya saat berada di dekat perempuan se-cantik Laila. Hehe...." batin Attar.


"Selamat datang di tanah air, nona Laila Ratri Hadiningrat" ucap Attar sambil mengurai senyum.


Sebelah tangannya langsung meraih tas dari tangan Laila.


"Terima kasih kak Attar. Ayah mana, Kak..." ucap Laila sambil beriringan langkah.


"Kebetulan komandan ada acara mendadak yang tak bisa di tinggalkan di kota B" jelas Attar sambil membukakan pintu mobil.


"Ooo...."


Laila meng-o singkat sambil langsung duduk manis di sebelah Arini. Terlihat jika Laila menghela nafas saat Attar menatapnya dari kaca spion. Seulas senyum pun ia urai, walau tipis saja.


"Langsung pulang atau ingin kemana dulu, Tante? ucap Attar.


"Wah, Tante kurang faham ini. Hehe...Laila bagaimana?"


"Pulang saja. Laila ingin istirahat..." ucap Laila.


"Kemana dahulu juga boleh. Sopir ganteng siap mengantar..." ucap Attar sambil memutar kemudi.

__ADS_1


"Bisa ae loh nak Attar ini..." ucap Arini tertawa.


"Tidak apa-apa loh, Tante. Biar tuan nya tersenyum..."


"Nieh senyum...." ucap Arini sambil memamerkan deretan giginya alias nyengir kuda.


Dan hal tersebut membuat Arini dan Attar tertawa sesaat.


Setelah sekitar empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya kendaraan mewah itu memasuki sebuah rumah mewah. Dan mata Laila menilik setiap sudut rumah yang tampak remang.


"Apa tuan Wijoyo Hadiningrat mengalami kekurangan dana, hingga harus menghemat pengeluaran listrik, Bu...?"


"Hush... ngawur!" ucap Arini.


"Sebab tidak ada lampu yang menyala, Bu. Rumah pun gelap. Kan Laila jadi khawatir..."


"Sudah ah. Ayo, turun..." ajak Arini sambil membuka pintu mobil mewahnya diikuti Laila.


"Betul kan, Kak...?" ucap Laila mencari dukungan.


"Haha...Ga ikutan. Ngeri..." ucap Attar saat mintai dukungannya.


"Ah, kak Attar nih. Payah..."


"Haha...." tawa Attar.


Tawa yang mengiringi langkah ketiganya hingga pintu utama yang berukir indah pun dilewati, barulah Laila mengerti mengapa situasi yang ada sedikit berbeda dari biasanya.


Sekonyong-konyong kata itu benar-benar menjadi kejutan bagi Laila. Gadis yang sudah kembali cantik itu terjingkat karena terkejut. Bersamaan dengan itu, mendadak semua menjadi terang benderang. Lampu-lampu kembali menyala. Dan yang semakin membuat Laila terkejut bercampur senang adalah kehadiran orang-orang di dalam ruangan itu lengkap dengan segala pernak-pernik kejutannya.


"Selamat hari lahir, kesayangan ayah....!" ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah Wijoyo.


"Ayah....!" teriak Laila.


Laila langsung berlari dan memeluk laki-laki yang amat ia sayangi itu. Bersamaan dengan itu riuh tepuk tangan dan bunyi-bunyian pun mengisi ruangan tersebut.


"Katanya ayah keluar kota, kok malah di sini....? Ow...mau mengerjai Laila rupanya"


"Haha....Attar yang mengatur semuanya. Ia ingin memberi kejutan kepadamu"


"Ya. Maafkan aku, Laila. Tapi...kau senang bukan"


"Tentu saja. Di luar dugaan. Terima kasih, kak Attar. Terima kasih ayah, ibu..." ucap Laila sambil mengeratkan pelukannya kepada sang ayah.


"Tentu saja, Ndok. Ayah bahagia sekali operasi mu berjalan lancar. Dan Laila bisa pulang tepat di hari kelahiran mu..."


"Laila malah lupa kalau hari ini kelahiran Laila. Yang ada di kepala ini hanya pulang dan pulang..."


"Haha...."

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Malam kian merangkak gelap. Temaram di kaki langit sudah hilang, karena dijemput malam. Suasana malam semakin meriah terlebih saat Laila menuruni anak tangga dengan memakai dress berwarna biru dengan motif bunga kecil di bawah dan lengannya. Semua mata tertuju pada Laila yang tampil begitu cantik dan mempesona. Terlebih Attar. Perwira tampan itu tak usai menatap Laila.


Attar segera menyongsong kehadiran Laila. Langakhnya semakin lebar dengan senyum yang selalu tersungging di bibirnya. Hatinya berbisik bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk melamar kembali gadis pujaannya itu. Bahkan Attar sudah menyiapkan cincin bertahta berlian safir berwarna biru. Warna kesukaan Laila.


Namun sebelum sempurna Attar berdiri di hadapan Laila yang baru saja sampai di anak tangga terakhir, Attar dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


"Selamat nona Laila Ratri Hadiningrat. Maaf saya terlambat.." ucap laki-laki itu.


Tangannya menyodorkan sebuah kado berpita biru dan seikat bunga berwarna putih. Lagi-lagi itu adalah warna kesukaan Laila, biru dan putih. Seulas senyum pun tampak menghiasi wajah tampannya.


Kehadiran Barraq langsung menarik perhatian segenap yang hadir. Terutama Laila. Setiap mata tak lepas menatap Barraq. Ketampanan dan kesuksesannya kini telah menjadi magnet tersendiri bagi kaum hawa. Tak heran jika ada banyak suara yang terdengar dari bibir-bibir merona gadis yang hadir.


"Selamat atas kepulangan mu. Dan selamat juga atas hari lahir mu. Semoga kau selalu bahagia dan mencapai segala yang kau inginkan. Wow, dua kebahagiaan kau dapatkan sekaligus Laila..." ucap Barraq.


"Terima kasih atas kehadiran, tuan. Dan terima kasih juga atas doanya..." ucap Laila.


Gadis cantik itu sumringah. Tangannya menerima pemberian Barraq sambil berisyarat memanggil Marni, asisten rumah tangga di kediaman Wijoyo Hadiningrat. Laila memberikan kado dan bunga pemberian Barraq kepada Marni.


"Letakkan di kamar ya, Bi..." bisik Laila yang dibalas anggukan oleh Marni.


"Maaf, saya ingin menemui tamu lainnya dahulu. Sekali lagi terima kasih" ucap Laila sambil menunduk takzim ala putri kerajaan.


"Silahkan. Terima kasih juga atas sambutannya..." ucap Barraq.


"Kau datang juga..." ucap Attar sesaat setelah Laila berlalu.


"Ow, ya. Tentu saja..."


"Aku tidak merasa mengundang mu..."


Barraq tersenyum mendapat pernyataan Attar barusan.


"Bro, maaf jika mengganggu acara yang sudah kau rencanakan. Sungguh tiada maksud demikian. Aku hanya memenuhi undangan saja..."


"Oemar Barraq El Khasif, selalu saja ada alasan yang kau dapat. Kau tidak pernah berubah ya. Sejak dahulu saat masih di sekolah hingga kini...." ucap Attar sedikit nyinyir.


"Haha....Aku memang tak pernah berubah. Kau yang sudah berubah Attar" ucap Barraq di sela tawanya.


"Hah...! Aku pun tetap seperti ini sejak dahulu, Bi. Oya, lalu siapa yang mengundang mu...?"


"Tante yang mengundang nak Barraq..." ucap Arini yang tiba-tiba saja berada di belakang keduanya.


Deg


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2