
Laila terlonjak karena guncangan dari langkah Darius yang cepat. Tubuhnya terhuyung kesana-kemari. Pada situasi saat ini, Laila benar-benar tak mampu berbuat apapun. Yuph...Saat ini Laila tengah terkurung dalam botol, hasil perbuatan Darius.
Semestinya sebagai arwah, Laila dapat dengan mudahnya meloloskan diri dari kungkungan benda duniawi seperti itu. Namun karena kekuatan Darius, maka setiap upaya Laila selalu gagal. Darius benar-benar telah memagari botol itu dengan kekuatannya sehingga Laila berada dalam genggamannya.
DOR...
DOR...
DOR...
Dinding kaca dari botol berbentuk unik itu lagi-lagi di gedor Laila. Ia berharap upayanya kali ini dapat berhasil. Namun bak menjaring angin, segala upaya kembali nihil.
Pukul lima lewat tiga menit. Keduanya sampai di suatu tempat. Di sana terdengar suara deburan ombak yang memecah karang ataupun membasuh bibir pantai. Hembusan angin pun begitu mengusik telinga. Laila di bawa ke sebuah rumah kayu yang ada di sana. Rumah yang sedikit jauh dari deretan rumah lainnya.
KREEEK....!!
Derit pintu terdengar. Suaranya sedikit menyayat hati. Darius menatap sekeliling ruangan rumahnya. Ruang pengap dengan kebulan dupa dan sebuah jendela berdebu yang menghadap laut. Seekor burung berwarna hitam ditempatkan dalam sangkar tergantung di sudut ruangan. Tempat yang begitu terasa asing dsn sedikit menyeramkan.
Darius melangkah masuk rumah. Langkahnya menuju sebuah meja kayu. Sebuah kurs pun menemani meja kayu tersebut. Darius kini sudah berada di dekat meja. Ia langsung menegak air dari sebuah kendi tanah liat yang ada di atas meja. Setelah dahaganya benar-benar hilang, Darius pun duduk sambil meletakkan botol berbentuk unik itu begitu saja ke atas meja.
"Lepaskan aku, pak tua...!!" ucap Laila.
Bukan hanya sekali, namun berulangkali Laila meminta untuk dilepaskan. Namun permintaan Laila itu tak digubris. Darius justru memilih pergi meninggalkan Laila tanpa kata sedikit pun.
"Hei...Hei...! Apakah rasa keadilan mu benar-benar telah mati sehingga kau tega memenjarakan ku tanpa tahu duduk persoalannya terlebih dahulu? Jawab pak tua...!!" ucap Laila.
Kata Laila yang cukup panjang itu sukses membuat langkah Darius terhenti. Laki-laki tua bertubuh kerempeng itu kembali memutar tubuhnya. Ia kembali melangkah menghampiri Laila. Matanya menatap lekat Laila.
"Aku tak peduli pada apapun. Terlebih kau hantu. Dan lagi Bagi ku uang adalah segalanya. Haha...." ucap Darius.
Tangannya mengguncang botol berbentuk unik itu beberapa kali. Dan Laila kembali terombang-ambing atas perlakuan tersebut.
__ADS_1
"Dasar pak tua jahat...! Salah ku apa pada mu?" ucap Laila.
"Tidak ada. Aku hanya butuh uang. Haha..." ucap Darius.
Tangannya berisyarat yang menunjukkan kebutuhannya akan uang. Melihat itu Laila geram.
"Waktu ku tak banyak pak tua. Jadi tolong lepaskan aku..."
"Kau berisik sekali. Apa aku harus melenyapkan mu sekalian...?!" ucap Darius.
Tangannya bergerak setinggi leher. Jemarinya bergerak bak tengah memegang. Sementara itu mulut Darius kembali komat-kamit. Sepertinya ia tengah merapal mantra.
"Akh...!!" teriak Laila dari dalam botol unik itu. Sebelah tangannya memegangi dadanya, sementara sebelahnya lagi bak tengah menggapai sesuatu. Laila merasakan kesakitan yang luar biasa.
"Apa aku akan mati untuk kedua kalinya. Sakit sekali...Aku harus apa? Meminta pengampunannya? Atau merelakan saja kematian ku lagi?" batin. Laila.
Laila begitu tersiksa. Tubuhnya benar-benar tak berenergi untuk melakukan perlawanan sedikitpun. Dan sedikit demi sedikit tubuh Laila menjadi samar. Bak telur di ujung tanduk, begitulah situasi Laila saat ini.
"Aku...Aku..." kata Laila terhenti.
Ada bulir bening yang kini berjatuhan mengiringi tubuhnya yang kian memudar.
"Kak Barraq...maafkan aku telah menyusahkan mu. Selamat tinggal, aku berharap kau bahagia dna dapat menyelesaikan masalah hidup mu. Maafkan aku, kak..." batin Laila di sela tangis dan rasa sakitnya.
"Menangis. mengapa ia menangis? Tak seperti hantu lainnya yang akan dipenuhi amarah atau meminta pengampunan jika aku akan melenyapkan, tapi mengapa ia justru menangis. Ada apa?" batin Darius.
Bersamaan dengan itu, cengkaraman tangan renta namun kuat Darius mengendur. Dan perlahan Darius melepaskannya. Seketika itu tubuh Laila kembali. Pun demikian energinya belum pulih sempurna. Laila terduduk. Laila menangis. Semula ia telah benar-benar membayangkan akhir dari riwayatnya dan bersiap menjadi arwah penasaran yang penuh kemarahan. Arwah pembalas dendam. Tapi ternyata, situasi berkata lain. Ia masih berkesempatan untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi.
Laila menatap Darius yang juga tengah menatapnya lekat. Entah mengapa Darius berperilaku demikian. Bibir Laila benar-benar tertutup rapat. Tiada kata yang mampu terlontar sedikit pun. Begitu pun dengan Darius..
"Aku benar-benar tak mengerti..." batin Darius.
__ADS_1
Kemudian Darius memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Laila. Ada sedikit kegusaran menduduki hatinya tentang apa yang baru saja ia lihat.
Sementara itu, Laila masih terduduk lesu. Wajah pasinya terlihat murung. Terlebih saat mengingat sisa waktu yang ia miliki saat ini.
"Aku tidak mau berubah jadi hantu pembalas dendam. Aki tidak mau...! Tapi aku harus bagaimana? Apakah yang harus aku lakukan?" gumam Laila.
"Siapakah yang dapat membantuku pada situasi seperti ini?" ucap Laila lagi.
"Barraq...?" ucap Laila saat kembali mengingat Barraq.
Ada rasa yang membuncah saat mengingat laki-laki tampan itu. Sedang apa? Bagaimana kondisinya? Sudahkan ia berupaya menemukannya? Semua pertanyaan itu mengusik hati dan fikirannya.
"Andai aku bisa memanggil mu, tentu kau akan segera datang dan membebaskan ku. Sayangnya...energi ku tengah habis sehingga aku tak memiliki kekuatan untuk membuat panggilan kepadamu..." keluh pilu Laila.
Grrrrrr...!
Laila terkesiap saat mendengar suara geraman itu. Suara yang begitu menyeramkan. Mata Laila aktif menilik kesana-kemari. Rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya.
Dan tiba-tiba mata Laila tertumbuk sosok yang tengah berdiri menatapnya. Matanya bulat berkilat. Begitu tajam bak sang raja hutan mengintai mangsa.
"Kiaaah.....kucing!!!" teriak Laila.
Makhluk imut satu ini telah menjadi musuh bagi Laila. Sebab dibalik ke-imutannya tersimpan kekuatan untuk meluluh lantankan kekuatan hantu..Ketajaman mata dan instingnya telah membuatnya mampu membuat para hantu lari tunggang langgang. Wajar jika beberapa pemburu hantu menggunakan hewan satu ini di setiap aksi perburuannya.
Panik Laila saat kucing berbulu hitam tebal itu mendekatinya. Ditambah lagi dengan geraman yang sukses membuat ciut nyali. Kian dekat, kian dekat. Dan....kucing hitam itu tampak menilik dengan lekat botol unik dimana Laila berada.
Laila beringsut menjauh. Tubuhnya lekat pada sisi lain botol.
"Pergilah, Cing. Pergilah...! Jangan ganggu aku" ucap Laila berusaha mengusir.
Sudah payah Laila mengumpulkan keberanian untuk mencoba mengusir, namun ternyata tiada reaksi sedikit pun dari hewan yang terus menggeram itu. Laila kian kecut saat salah satu kaki hewan imut itu meriah botol, oh bukan. Lebih tepatnya mempermainkan botol berisi itu. Botol itu di pingpong pada kedua kakinya. Laila yang berada di dalamnya begitu frustasi. Ia terombang ambing kesana-kemari.
__ADS_1
"Berhentilah, kucing...! Berhentilah...! Sampai kapan kau akan memperlakukan ku seperti ini?! Apa mau mu, kucing...?!" ucap Laila di tengah rasa kecutnya.