LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 15. Bertemu Penghubung Dunia Arwah


__ADS_3

"Jalan Melati 3"


"Jalan Melati no 3?" ucap Barraq.


"Hook oh..."


"Apakah desa Waringin?"


Wajahnya menyiratkan keterkejutan.


"Bagaimana kau tahu...?"


"Sebab itu adalah alamat rumah ini?"


"Apa...?!"


Berry terkesiap. Matanya membulat seakan ingin berloncatan. Wajah innocent nya lenyap seketika. Terjawab sudah mengapa ia selalu kembali ke rumah ini.


"Tapi bagaimana tuan ada di rumah ini?"


"Itu aku tidak tahu. Rumah ini ku beli setahun yang lalu. Aku sendiri tidak tahu siapa pemiliknya. Aku membelinya melalui perantara juga. Mungkin mang Dikin tahu. Wait... aku akan menanyakannya" ucap Barraq.


"Selama aku bertanya, jangan berbuat ulah. Aku tidak ingin dianggap gila..." ucap Barraq lagi yang sambut tawa Berry.


Kemudian Barraq mengarah ke halaman belakang. Tempat dimana Dikin biasa berada. Berdiri Barraq di bang pintu. Matanya menilik sejauh mata memandang halaman belakang yang ditanami bunga dan pepohonan rindang.


"Mang Dikin..." panggil Barraq.


Sadar yang dimaksud belum menampakkan hidung Barraq mengulanginya. Baru yang ketiga kali, Dikin menyahut panggilan Barraq.


"Ya, Mas Barraq..." ucap Dikin.


Dari sudut halaman laki-laki paruh baya itu tampak tergopoh menghampiri sang empunya rumah.


"Saya, Mas. Ada apa...?" ucap Dikin dengan logat kedaerahannya.


"Mang di sekitar sini ada paranormal kah?"


"Paranormal?" ucap Dikin sedikit terkejut.


Mata Dikin menatap Barraq sekilas. Ada kekhawatiran menyelinap di relung hatinya.


"Apa yang ingin mas dapatkan dengan mendekati paranormal? Kesuksesan? Kebahagiaan atau wanita?" selidik Dikin.


Barraq tersenyum. Ia mengerti maksud ucapan Dikin.


"Mamang tidak perlu khawatir. Saya bukan orang yang menghalalkan segala cara demi mencapai keinginan. Em, begini mang. Paranormal yang saya maksud adalah yang bisa menghubungkan dunia arwah"


"Mas...?!"


"Jangan salah faham, Mang. Saya mempunyai teman yang dalam kesulitan. Dan dia meminta bantuan saya" jelas Barraq singkat.


"Apa teman mas adalah arwah atau hantu?"


"Ya, Mang. Dia kehilangan nyawa karena sesuatu hal yang tak semestinya"


"Dia ingin balas dendam?"

__ADS_1


"Balas dendamnya tidak seperti yang mamang bayangkan. Dia ingin pelakunya dijebloskan ke penjara"


"Ow...mamang tahu paranormal yang seperti itu.."


"Oya...? Dimana, Mang?"


"Di belakang rumah ini..." ucap Dikin mantap setengah berbisik.


"Belakang rumah...?"


"Ya, Mas. Mari mamang antar..." ucap Dikin.


Sebelah tangannya menarik lengan Barraq. Dan tentu saja Barraq mengikuti langkah Dikin yang tak sempurna itu. Langkah yang sedikit terseok karena sebelah kakinya yang berbeda dari sebelah lainnya. Semua terjadi karena ia mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu.


Barraq terus mengiringi langkah Dikin hingga keluar halaman belakang rumahnya. Keduanya masuk hutan bakau dengan melewati jalan setapak. Sepanjang perjalanan, Barraq tak hentinya menilik sekitar. Hatinya penuh tanya tentang keberadaan penghubung dunia arwah itu.


"Tuan, benarkah ini tempatnya? Dahulu perjalanan kami tak serumit ini" ucap Berry.


"Entahlah. Tapi cara hantu dan manusia menemui orang kan berbeda. Hehe..." ucap Barraq setengah berbisik.


"Bisa jadi..." ucap Berry tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, Mereka telah berdiri di depan sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Cukup kokoh dan bergaya tradisional. Lagi-lagi Barraq menilik sekitar. Tanya nya kian membuncah tentang keberadaan si penghubung dunia arwah.


"Mari masuk, Mas..." ajak Dikin.


"Dikiiiin....! Siapa lagi yang kau bawa itu?!" ucap seseorang dari dalam rumah.


Dari warna suaranya, jelas jika ia seorang perempuan. Mendengar suara itu, kaki Barraq surut. Ada kengerian yang menggerayangi sukma saat suara itu dihantarkan oleh hembusan angin. Ditambah lagi suara deburan ombak, menambah suasana kian mencekam. Walaupun saat itu hari masihlah pagi.


Lagi-lagi Barraq terkesiap atas penjelasan Dikin tentang status rumah yang kini ia miliki itu.


"Ow, kesatria berkuda putih...masuklah" ucap perempuan yang dipanggil emak itu.


Dikin pun mempersilahkan Barraq untuk memasuki rumah yang sedikit menyeramkan itu.


"Kesatria berkuda putih...?" ucap Barraq.


Dari gerak tubuhnya, jelas jika ia me.inya penjelasan kepada Dikin atas pernyataan perempuan itu. Namun Dikin hanya memiliki satu jawaban saja. Dikin hanya mengedikkan bajunya. Tanda jika ia tidak mengetahui apa-apa.


"Tuan, benar. Ini adalah rumah yang pernah aku dan Laila kunjungi dahulu..." ucap Berry.


"Ow...." ucap singkat Barraq tanpa bereaksi lebih.


Barraq menapak melewati ambang pintu. Saat itu terasa ada hawa dingin dan hangat yang silih berganti menerpa tubuh Barraq. Mata Barraq menilik teliti setiap sudut sejauh mata memandang. Decak pun terbit di ujung lidahnya saat mendapati kondisi dalam rumah yang jauh dari kata menyeramkan. Tak ada benda-benda yang mencerminkan kehororan dan membangkitkan rasa ketakutan akut. Semua tampak biasa saja.


"Nak Barraq... silahkan duduk" ucap perempuan yang dipanggil Emak itu.


Perempuan paruh baya itu melangkah mendekati sebuah kursi. Ia tersenyum untuk kemudian duduk dengan tenang. Barraq menilik perempuan di hadapannya itu. Dari kondisi tubuhnya, diperkirakan usianya diakhir enam puluhan. Namun yang membuat Barraq mengernyitkan dahi adalah kedua mata perempuan itu tak memiliki kemampuan untuk melihat, alias buta. Barraqenelan salivanya saat perempuan itu memulai katanya.


"Apa teman hantu mu itu sedang dalam cengkraman pemburu hantu?"


"Ya, Mak. Namanya Laila..." ucap Barraq yang duduk di sebelah kanan perempuan itu.


"Lalu...kenapa kau tidak menjaganya?" ucap perempuan itu lagi.


"Saya sudah ber...." ucap Barraq.

__ADS_1


Kata Barraq terhenti. Selaan dari perempuan itu benar-benar sukses mengejutkannya.


"Bukan kau nak Barraq. Tapi hantu di sebelah mu itu"


Deg.


.


.


.


Darimana ia tahu? Wew, tentu saja tahu. Bukankah ia adalah penghubung atau perantara dunia arwah. Hehe...


Barraq terdiam. Hanya matanya saja yang langsung beralih menatap Berry di sampingnya. Hantu laki-laki itu tampak cengengesan. Tangannya menggaruk kepala tak gatal.


"Sesering apa pun kau berganti wajah, tetap saja aku bisa mengenali mu. Karena bau mu begitu khas, Berry. Haha..." ucap perempuan itu diakhiri tawa.


"Hehe...Iya, Mak. Saya lengah karena urusan pribadi saya yang belum selesai"


"Baiklah. Nak Barraq, apa yang ingin kau ketahui?"


"Em, saya ingin tahu dimana Laila sekarang berada. Karena Berry tak dapat menemukannya. Saya juga ingin tahu bagaimana cara menolongnya"


"Sebentar...." ucap perempuan itu.


Kedua matanya terpejam. Mulutnya tampak komat-kamit. Sepertinya ia tengah merapal mantra. Cukup lama perempuan itu berdiam diri sambil terus merapal mantra-mantra. Entah mantra apa yang dirapal perempuan itu.


Barraq hanya diam. Matanya kembali menilik isi ruangan. Kemudian Barraq terkesiap oleh kata yang dilontarkan perempuan itu.


"Buka...!!" begitu ucap perempuan itu.


"Astaga, nek. Eyke kaget..." ucap Berry.


"Kambuh lagi, Ry...?" sindir Barraq.


"Kelepasan, bo. Haha...."


Barraq tersenyum mendapati tingkah Berry yang menurutnya lucu itu. Sebentar saja Barraq di bawah pengaruh kelucuan Berry, karena untuk selanjutnya ia sudah kembali fokus pada tujuan awalnya datang ke tempat itu..Mata Barraq kembali menilik perempuan paruh baya itu. Ia menunggu hasil yang akan diberikan perempuan itu.


"Laila ada di sebuah rumah dekat pantai ini. Rumah dengan tiang yang bengkok. Oh, ada burung berwarna hitam di depan rumahnya. Timur....jalan lah ke arah timur, maka kau akan menemukan rumah itu" ucap panjang perempuan itu.


"Apa aku harus melewati jalur pantai ini saja, Mak?"


"Ya. Sekitar lima belas menit jika berlari cepat. Kau tidak boleh ragu, nak Barraq. Keluarkan semua ilmu bela diri mu. Pemburu hantu itu tak mulus menggunakan ilmu halus. Ada waktunya menggunakan ilmu fisik..."


"Darimana Emak tahu jika saya bisa ilmu beladiri?"


"Kesatria berkuda putih. Emak lihat itu. Mata batin emak nyata melihat itu. Oya, untuk urusan selebihnya akan menjadi urusan emak. Dan Berry... persiapkan diri mu, mungkin nanti emak akan menggunakan perwujudan jelek mu itu"


"Iy-iya, Mak..." ucap Berry gagu.


Matanya memutari rongganya. Sementara wajahnya mengisyaratkan kekesalan karena pernyataan perempuan tua itu.


Langit telah terang. Warnanya biru membara. Hanya sedikit awan yang menghiasi nya. Tanda jika hari akan cerah hari ini. Barraq menatap langit. Ia tengah bersiap dan menyusun rencana penyelamatan Laila.


"Semoga berhasil...." ucap Barraq di awal langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2