
"Tuan...Tuan Barraq!" ucap Dara.
Tangannya mengguncang lengan Barraq beberapa kali. Ada cemas yang terukir di wajah Dara. Hak tersebut saat Barraq tak sadarkan diri.
Mendengar kata Dara, Laila yang tengah bercakap dengan seorang hantu gaek langsung menghampiri. Saat itu, Dara tengah memeriksa Barraq dengan seksama. Tangannya begitu cekatan melakukan segala prosedur medis.
Kemudian Laila menatap Attar. Tanpa kata untuk. Pun demikian dengan Attar karena sejatinya Attar sendiri tak mengetahui apa yang tengah terjadi pada Barraq. Hanya cemas yang jelas terlukis di wajahnya. Sadar tiada jawaban berarti, Laila kemudian berlalu.
Kini ia berdiri pada bangunan angker itu. Tepatnya di tempat paling tingginya. Mata Laila menilik sekitar. Nanar tatapannya menembus gelapnya malam bersama desir angin.
"Tak bisa dibiarkan berlama-lama seperti ini. Bisa-bisa kak Barraq akan tersiksa terus. Aku harus melakukan sesuatu...." ucap Laila.
Bersamaan dengan itu, Laila pun menghilang bersama desau angin pada gemerisik suara dedaunan yang bergesekan. Laila pun meninggalkan pesan kepada Attar.
"Pantai Lembayung, kakak harus membawa kak Barraq ke sana. Kita akan bertemu di ujung jalannya. Cepat, Kak. Aku akan menghadang laju kendaraan pengejar kita" begitu pesan Laila.
"Baiklah..." gumam Attar.
Matanya menilik sekitar. Berharap masih dapat menangkap kelebat bayang Laila. Walau sekejap. Dan benar saja, bayang Laila sukses ditangkap mata Attar. Laki-laki tampan berprofesi sebagai seorang perwira itu tersenyum. Entah apa makna dari senyum itu tiada yang tahu.
Sementara itu, Laila kini sudah berdiri di tengah jalan yang masih lengang. Tiada kendaraan yang berlalu lalang. Hanya suara binatang malam saja yang masih terdengar.
Laila benar-benar berdiri. Bak gunung tinggi yang tak tergoyahkan. Wajah cantiknya telah berubah. Hanya aura yang tak menyenangkan yang tersisa di wajah yang semula cute itu.
Tak menghabiskan separuh dupa, sebuah mobil berwarna hitam meluncur di kejauhan. Kian lama kian jelas. Laila ingat betul siapa pemilik mobil itu. Dengan wajah sedikit tersembunyi, Laila mengangkat tinggi tangan ke udara. Matanya tajam menatap. Bak singa mengintai mangsa. Segala energi telah terkumpul. Laila bersiap membuat perhitungan dengan si empunya mobil.
Sadar ada seorang gadis berdiri di tengah jalan, mobil pun melambat untuk kemudian berhenti. Keempat laki-laki bertubuh tegap dengan wajah sangar turun dari mobil berwarna hitam itu.
"Sudah pengen mati, Kau?! Minggir...!" ucap seorang laki-laki.
Langkah keempat laki-laki itu kian cepat menghampiri karena tak mendapat respon dari Laila.
"Sudah ku katakan, menepilah....!!' ucapnya lagi lebih keras.
Tangan Laila bergerak. Dan mobil yang semula terparkir kini perlahan mulai bergerak. Keempat laki-laki itu belumlah menyadarinya. Keempatnya masih fokus pada Laila.
"Kalian sudah mengganggu ku..." ucap Laila.
Nada bicara Laila terasa begitu menyeramkan. Dan keempat laki-laki itu tentu saja terkesiap. Terlebih saat melihat wajah Laila yang berubah begitu dingin dan terkesan menyeramkan. Ditambah lagi dengan desau suara angin yang tiba-tiba saja berhembus. Hembusannya mampu menggoyang pepohonan di sekitar. Ataupun Sesekali menerbangkan rambut panjang Laila. Auto bertambahlah keseraman saat itu.
"Guys...guys....!" ucap seorang laki-laki berlogat kedaerahan.
"Aku yakin seratus persen de e iku dedemit...sumpah tak kewer-kewer" ucapnya lagi tetap dengan logat kedaerahannya.
"Ih, serem....!" ucap seorang lagi.
Langakhnya kian surut. Begitu pun dengan tiga laki-laki lainnya.
"Ya, Tuhan. Kok kaki ini berat banget yak. Ayo lari, Ngun. Lari...!!" ucap Mingun pada dirinya sendiri.
Wal hasil dari ucap itu, Mingun dan ketiga laki-laki lainnya akhirnya berlari. Kian lama kian cepat. Namun alih-alih berlari ternyata keempatnya hanya lari di tempat saja.
"Sudah jauh belum kita berlari, Ngun...?" ucap seorang laki-laki lainnya.
"Walah...guys. Dari tadi kita hanya lari di tempat e. Walah cilaka...."
"Hihi....!" tawa Laila mengisi udara saat itu.
Tawa yang membuat bergidik seluruh jiwa dan raga. Bahkan hingga merinding disko.
"Pergi...! Pergilah kalian...! Kejar mobil kalian..! Haha...!"
__ADS_1
"Mobil...?!" ucap keempatnya.
Sontak mereka mencari keberadaan mobil mereka yang telah lebih dahulu berjalan mundur meninggalkan mereka.
"Mobil ku...!!" ucap Mingun.
Kali ini ia berhasil melangkahkan kakinya. Dan memacu langkah dengan kecepatan tinggi.
"Haha....!!!"
Laila tertawa melihat polah keempat laki-laki itu. Masih dengan menyimpan tawa, Laila pergi meninggalkan jalanan yang mulai ramai itu. Tujuannya kini hanya satu, yaitu rumah pantai.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Bagaimana, Barraq?" ucap Attar saat Dara keluar dari sebuah kamar di rumah pantai.
"Sudah lebih baik. Darahnya pun sudah berhenti keluar dari lukanya"
"Syukurlah..."
"Dokter Maleq dimana?" tanya Dara.
"Setelah ku hubungi, beliau masih dalam perjalanan. Mungkin sesaat lagi akan sampai..."
"Bagaimana, Kak Barraq?" tanya Laila.
"Kau lihat sendiri sajalah. Aku enggan menjawabnya..."
"Kucir....." cibir Laila.
Hal yang justru membuat Attar tertawa. Dan tawa itu tentu saja telah menarik perhatian Dara. Dokter muda itu langsung mendatangi Attar dan menepuk bahunya. Kepala Dara mengangkat. Ini adalah isyarat untuk sebuah pertanyaan umum. Pertanyaan tentang situasi ataupun kondisi yang tengah terjadi.
Attar hanya mengangkat bahu yang menerangkan situasi dan kondisinya kini.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan..." ucap Laila lirih.
Suaranya timbul tenggelam di antara isaknya yang kian pilu. Ada banyak hal indah yang sudah terbayang di pelupuk mata, namun semua menjadi samar dan mulai menghilang mengingat waktu yang tak kan pernah ia miliki lagi. Mengingat waktunya tersisa enam hari lagi.
Mata Barraq mengerjap. Dan perlahan mulai terbuka. Hal itu pun terjadi saat bulir bening jatuh tepat di wajahnya.
"Laila...." ucap Barraq.
Sebelah tangannya mengusap pipi yang telah basah untuk kemudian memeganginya.
"Ada apa...? Mengapa kau menangis?" tanya Barraq.
Ditanya demikian, tangis Laila kian menjadi. Bahkan tubuhnya pun mulai terguncang. Mendapati situasi itu, Barraq bangkit dari tidurnya. Barraq langsung merengkuh Laila dan mendekapnya. Barraq membiarkan gadis cantik itu menumpahkan segala rasa yang beriak dalam hatinya.
"Maafkan aku, La. Karena aku, kau menjadi korban. Andai waktu bisa ku putar, tentu aku tidak akan memilih berada pada situasi ini. Maafkan..."
"Tidak, Kak. Aku yang harusnya meminta maaf. Karena aku, kau hampir kehilangan nyawa mu"
"Hampir. Lalu bagaimana dengan diri mu? Kau tiada karena aku, La. Aku yang berhutang pada mu"
"Kau tidak berhutang apa pun pada ku. Sungguh. Semua ku lakukan karena memang sudah seharusnya demikian..."
Barraq menghela nafas. Ia mengeratkan dekapannya. Bahkan ia menghadiahi gadis cantik itu dengan kecupan pada pucuk kepala.
"Terima kasih. Karena mu aku kembali menemukan hidup ku. Terima kasih..." ucap Barraq.
"Waktu ku tersisa enam hari. Bisakah kita berkencan sebelum aku pergi?" ucap Laila.
__ADS_1
Matanya menatap wajah tampan Barraq.
"Kencan?" ucap Barraq sedikit terkejut.
"Ow, tentu saja. Kita akan berkencan..." ucap Barraq kemudian.
Barraq mengeratkan dekapannya. Lagi-lagi ia menghadiahi kecupan pada pucuk kepala Laila.
"Akh..." keluh Barraq ketika rasa sakit itu kembali menyergap.
"Kakak merasakan sakit?" ucap Laila.
Tangan Laila berusaha melepaskan dekapan Barraq pada tubuhnya. Namun Barraq menolaknya.
"Biarkan. Biarkan seperti ini. Sebentar lagi. Jangan hiraukan keluhanku" ucap Barraq.
Laila terdiam. Ia membiarkan Barraq mendekap erat tubuhnya. Laila benar-benar tengah merasakan degup jantung Barraq yang bertalu. Entah irama apa yang tengah ia mainkan. Tapi Laila menyukai itu, walau ia tahu jika hal itu mustahil.
"Perasaan apa ini? Mengapa setelah sekian lama jantung ini mati rasa terhadap apa pun, kini aku merasakan hal ini lagi. Aku tahu ini hal yang mustahil, karena kami berbeda. Tapi...Ya, Tuhan hukuman seperti apa yang Kau berikan kepada ku ini?" batin Barraq.
Matanya mulai dikerubuti bulir bening. Hatinya beriak luar biasa. Barraq benar-benar merasakan kegamangan. Barraq tak berdaya.
"Tuan tidak apa-apa?" ucap Dara.
Dokter muda itu telah berdiri di ambang pintu. Matanya menatap Barraq yang tengah melipat kedua tangan, bak memeluk. Terlebih karena Barraq terisak.
"Oya, saya baik-baik saja..." ucap Barraq.
Tangannya dengan cepat mengusap bulir
"Baik-baik bagaimana. Jelas-jelas sedang menangis. Dasar laki-laki..! Takut malu ya mengakuinya. Huh...!" batin Dara.
"Kak Attar ke kembali ke kantor. Hari ini sidang perdana kasus pembunuhan nona Laila. Dan masuknya berkas kasus percobaan pembunuhan terhadap tuan" jelas Dara.
"Aku ingin bertemu Nurdin. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan..." ucap Barraq.
"Untuk sementara kita tidak dapat kemana-mana. Kak Attar berpesan kepada ku. Semua demi kebaikan tuan"
"Aku mengerti. Nanti aku akan mencari cara agar dapat berkomunikasi dengan Nurdin. Mungkin saat Attar bersamanya"
"Nanti saya akan mencoba menghubungi kak Attar.."
"Terima kasih, Dokter..."
"Sama-sama, Tuan..."
"Oya, apakah dokter Maleq sudah sampai?"
"Dokter Maleq kembali ke rumah sakit, Tuan"
"Rumah sakit?"
"Ya, Tuan..."
"O...."
Percakapan singkat itu, justru menjadi perhatian Laila. Terlebih karena sikap manis yang ditunjukkan dokter muda cantik itu. Laila cemburu. Namun itu hanya sekejap saja. Laila memilih kembali fokus pada berita yang disampaikan.
"Sebentar aku pergi. Aku ingin melihat rupa pelaku yang telah membunuh ku untuk terakhir kalinya"
Laila pun menghilang. Tubuhnya bak asap tertiup angin. Bersamaan dengan itu, Laila meninggalkan kata yang hanya dapat di dengar Barraq.
__ADS_1
Sementara itu sepeninggalan Laila, Barraq terdiam. Ia bangkit dari duduknya dengan perlahan. Barraq berusaha mencapai jendela bertirai putih yang taknjauh dari tempat tidurnya. Sesampainya si sana, Barraq menatap jauh entah kemana. Mungkin ia tengah mencari kelebat sosok Laila atau mungkin hanya mencari pembenaran atas perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.