LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 51. Lamaran


__ADS_3

"Ndok...turunlah" ucap Arini.


Tangannya langsung memeluk tubuh langsing putri kesayangannya itu dari belakang. Sekali waktu Arini menghadiahi kecupan pada pipi lembut itu milik satu-satunya obat penawar dukanya itu.


"Sayang, ayoklah. Semua sudah menunggu..." ajak Arini lagi.


"Bu...Bukankah Laila sudah meminta waktu untuk membuat keputusan yang menurut Laila tepat. Laila masih butuh waktu untuk meyakinkan hati ini. Dan saat lalu kak Attar dan ayah menyetujuinya, tapi mengapa kini berubah?" gerutu Laila panjang.


"Ibu tahu. Semuanya ibu tahu. Terutama tentang perasaan mu yang sebenarnya. Tapi apa daya kata ibu jadi tak bermakna dihadapan ayah mu. Terlebih setelah ibu tahu penyebab Ayah mu bersikeras atas mu dan Attar untuk segera bersatu" ucap Arini dengan suara bergetar.


Hampir Luruh air mata Arini saat mengurai kata. Arini jadi malu hati karena tak mampu berbuat apapun untuk cinta putri kesayangannya itu. Kian dalam ia larut dalam pilunya, makin erat ia mendekap putri semata wayangnya itu.


Sementara itu, mendengar penuturan Arini, Laila terenyuh sekaligus penasaran. Tanya pun langsung menduduki relung hatinya. Sambil menyimpan tanyanya, Laila mengusap lembut punggung tangan Arini. Sesekali ia pun mengecupnya.


"Apa sebenarnya penyebab kekerasan hati ayah, Bu..?" tanya Laila.


Katanya mengalir perlahan dan terkesan hati-hati. Terlebih saat ia merasakan hangatnya bulir bening yang menitik di bahunya.


Tanpa memberi jawaban atas pertanyaan Laila, Arini justru membuat pernyataan yang membuat Laila gelisah.


"Sekarang justru ibu meminta anak kesayangan ibu ini untuk memenuhi keinginan ayah mu. Jika ibu harus memohon, maka ibu akan melakukannya..." ucap Arini.


Deg.


.


.


.


Laila terdiam. Hatinya lesu. Kata yang baru ia dengar serasa cambuk yang mencabik asanya. Bagaimana tidak sosok perempuan yang selalu mendukungnya, kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Mata Laila mulai dikerubuti bulir bening seiring dengan hati yang kian gelisah. Pun demikian, ia yakin bahwa ada alasan kuat yang telah merubah keteguhan hati perempuan yang selalu ia sayangi dan hormati itu.


"Ndok...." ucap Arini bernada meminta penuh harap.


Mata keduanya berpadu. Saling menyelami perasaan hingga jauh ke dalam lubuk terdalam.


"Ayah dan ibu berhutang penjelasan kepada ku..." ucap Laila kemudian.


Katanya lirih. Kemudian tangan gadis itu menyusut bulir bening yang hampir terjun bebas. Ia pun mulai bersegera merapikan pakaian, rambut dan riasan wajahnya. Walau hatinya menolak, namun kekuatan baktinya terhadap Arini ibunya telah menggoyahkan keteguhan cintanya kepada Barraq.


Selang lima belas menit, barulah Laila bersegera keluar ruang pribadinya. Laila menuruni anak tangga yang cukup panjang itu. Matanya langsung menangkap kehadiran Attar dan keluarga yang tengah duduk bersama Wijoyo.

__ADS_1


Senyum Laila mengembang, saat meraih tangan Prabu dan Sarah, orangtua Attar.


"Walah....Tar. Benar katamu. Non Laila ayu. Bahkan kebangetan ayu nya" ucap Prabu bernada menggoda Attar.


"Sudah,.pak. Jangan di goda terus. Tuh wajah anakmu makin seperti udang rebus" ucap Sarah.


"Hahah..."


Tawa pun terdengar mengisi udara. Begitu berwarna rasa yang tercipta malam itu. Berbanding terbalik dengan apa yang dirasa Laila. Gadis yang tengah gundah itu hanya mampu menatap ujung kakinya yang terbalut sandal berwarna hitam. Hati Laila benar-benar gamang. Ia tak tahu harus berbuat apa saat itu.


Malam kian merangkak. Acara makan malam pun berlanjut diselingi guyonan yang kian menebar tawa. Sementara Laila sendiri hanya sesekali saja menanggapi tanya atau guyon yang menggelitik relung telinganya.


"Mengapa Laila tak seceria biasanya? Apakah karena maksud kedatangan ku malam ini tak ia setujui? Atau ada hal lain..." batin Attar.


Mata Attar begitu rutin menyambangi wajah ayu Laila. Dan ia tahu pasti bahwa gadis pujaannya itu tengah tidak baik-baik saja.


"Jadi kapan rencana pernikahannya, mas Wijoyo?" ucap Prabu, ayah dari Attar.


"Aku terserah dimas Prabu saja...." ucap Wijoyo di sambil tersenyum.


Prabu tampak diam. Matanya menatap Attar, putra laki-lakinya itu. Ia ingin menilik kesungguhan hati anak semata wayangnya itu. Attar sendiri tidak tahu jika ayahnya tengah menatap lekat dirinya. Hal tersebut karena ia lebih tertarik untuk menatapi Laila sambil sesekali menghela nafas sedikit dalam.


"Attar....bagaimana menurut mu?" tanya Prabu tiba-tiba.


"Nak...." ucap Sarah, ibu dari Attar.


Tangan perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu menepuk bahu Attar. Dan tentu saja membuat Attar terkejut. Melihat reaksi itu semua pun tertawa.


Attar bingung. Mengapa semua bereaksi demikian.


"Kalau begitu bagaimana jika malam ini saja kita nikahkan keduanya..." ucap Prabu disambut gelak tawa.


Terkecuali Attar yang kebingungan dan Laila yang bale mendengar petir di malam itu.


"Menikah....?!" ucap Attar dan Laila hampir bersamaan.


"Kenapa, Tidka mau?"


"Ya mau, Pak. Tapi mendadak loh..."


"Hahah...."

__ADS_1


Lagi-lagi semua tertawa.


"Apa yang kau lihat dari Laila. Sejak tadi bapak perhatikan matamu tak lepas dari Laila?"


"Em...anu" ucap Attar gagu sambil nyengir kuda.


"Bagaimana jika bulan depan acara pernikahannya?" ucap Sarah.


"Ah, jangan...!" ucap Laila lantang.


Semua menatap Laila.


"Em, maaf. Maksud Laila bulan depan terlalu cepat. Sepertinya terkesan buru2. Bukankah kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang?"


"Masuk akal. Lalu kapan...?"


"Bagaimana jika tahun depan...?"


"What...tahun depan!! Ini tidak boleh terjadi. Sepertinya Lailasengaja mengulur waktu" batin Attar.


"Terlalu lama..." ucap Attar yang membuat tersenyum.


"Jika setahun lama, lalu kapan waktu yang tepat, Attar? ucap Wijoyo sambil tersenyum.


"Em, tiga bulan lagi bagaimana? Attar fikir tiga bulan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya" ucap Attar.


"Bapak setuju..." ucap Prabu.


"Saya setuju..." ucap Wijoyo.


"Laila...?" ucap Attar.


"Ah, ya. Laila ikut saja..." ucap Laila lesu.


Semua lega mendengar kata Laila barusan . Sebuah persetujuan atas niat Attar dan keluarga pun telah terlontar.


"Baik. Kita sudah mendapat kesepakatan waktu pernikahan. Tinggal penentuan tanggal saja. Kalau ini kami menyerahkan sepenuhnya kepada mas Wijoyo. Kami manut" ucap Prabu sambil mengurai senyum.


Wijoyo pun menyambut ucapan Prabu dengan senyum yang sumringah. Dia pun menghela nafas dengan mata menatap Lailayang sejak tadi tertunduk lesu.


Tak lama kemudian, Attar meminta izin untuk berbicara berdua dengan Laila. Attar yakin ada banyak hal yang ingin Laila utarakan saat itu. Atas permintaan izin itu, semua pun mengamininya.

__ADS_1


Tak memerlukan waktu lama, Attar langsung menggaet lengan Laila. Dan membawanya berirama dengan langkah panjangnya. Laila pun berupaya mengimbangi langkah laki-laki yang sudah menjadi teman sejak ia beranjak dewasa itu.


__ADS_2