
Laila masuk ke dalam mobil mewah Barraq. Ia menembus begitu saja, tanpa kesulitan apa pun. Laila duduk di kursi belakang dengan tenang. Matanya menilik polah Barraq yang tengah memukul stir berulangkali. Polah Barraq bukanlah karena amarah, tapi lebih pada upaya untuk menenangkan diri.
"Kakak, mau kemana? Kenapa tergesa sekali..." ucap Laila dari arah belakang.
CIIIT...!
Suara cicit mesin terdengar. Rasa terkejut Barraq telah membuatnya menghentikan laju kendaraannya dengan tiba-tiba. Maksud hati ingin menghentikan laju mobil dan keluar untuk kabur, namun ternyata kendaraan tetap melaju tak terkendali. Lajunya mengarah pada tepian jalan yang tampak temaram dibasuh cahaya lampu berpadu pendar bulan. Lajunya benar-benar tak terkendali.
BRUKK...!!
Mobil mewah itu menabrak sebuah pohon di tepi jalan. Asap mengepul dari mesin dengan kap mobil yang terbuka. Barraq mengusap wajahnya. Nafasnya memburu. Peluhnya pun mulai mengembun pada keningnya.
"Astaga...Mengapa aku jadi seperti ini?' ucap Barraq lirih.
Kemudian ketika terngiang suara dari arah belakang, Barraq sontak memalingkan wajah. Matanya menilik seksama. Nihil. Tidak ada seorang pun yang berada di sana.
"Fiuh...." desah Barraq lega.
Namun ketika ia kembali memalingkan wajah ke depan, ia melihat sosok yang tengah duduk manis pada kursi di sebelahnya. Barraq terkejut setengah mati. Tangannya langsung meraih gagang pintu dan berusaha membukanya. Bukan hanya sekali namun berulangkali ia berusaha membuka pintu mobil. Namun tetap saja gagal.
"Kakak sudah berjanji untuk berbicara dengan ku? Lalu mengapa kakak ingin lari dari janji yang sudah terucap itu..." ucap Laila.
Wajah pasinya kian murung membuat Barraq menghentikan upayanya. Ia berusaha mengendalikan rasa ketakutannya.
Barraq menghela nafas berulangkali. Tangannya pun mengusap wajah tampannya berulangkali. Kemudian ia bergelayut pada stir. Barraq memberanikan diri menatap gadis yang tengah duduk di sebelahnya itu.
"Ok...Apa yang ingin kau bicarakan? Aku akan mendengarkan..." ucap Barraq.
Walau ada sedikit keraguan, namun akhirnya kata-katanya terlontar juga.
"Tolong aku menemukan orang yang telah berlaku jahat kepada ku..."
"Mes-mestinya kau datang ke polisi dan membuat laporan di sana..."
"Aku ini arwah, kak. Mana bisa begitu...
"Lalu mengapa harus aku?"
"Karena hanya kakak yang dapat melihat ku, walau aku tak bermaksud demikian"
"Kapan? Saat ini?"
"Bukan. Kemarin saat di kolam..."
"Di kolam...? Apakah aku pernah ke kolam? Kolam yang mana?"
PLAK...!!
"Jangan bercanda..." ucap Berry.
Tangannya memukul lengan Barraq. Dan tentu saja membuat laki-laki tampan itu terkesiap. Sontak ia melihat pada si empunya pukulan.
"Astaga....!" ucap Barraq.
Barraq kembali memalingkan wajah. Kali ini di barengi dengan menutup wajah. Ia tak mau melihat wajah seram Barraq.
"Ingat kata-kata ku, Tuan Barraq...?"
"Iy-iya..." ucap Barraq sambil mengangguk, tanda mengiyakan.
"Syukur jika ingat. Jika tidak..." ucap Berry dengan suara yang menyeramkan.
Berry bergidik. Matanya tak sanggup menatap lagi wajah seram Berry.
"Tapi sungguh, aku tidak ingat kapan pertama kali kita bertemu"
"Malam lalu di kolam, kau setengah teler. Kita sempat berbincang..."
"Teler...? Mabuk maksud mu?" ucap Barraq yang langsung dibalas Laila dengan anggukan kepala.
"Aku begitu penasaran, mengapa kakak bisa melihatku bahkan menyentuh ku. Begitu penasarannya, hingga aku mengikuti kakak sampai di rumah...."
"Wait...Apakah peristiwa di pagi hari juga ulah mu juga?"
"Iya. Maaf, aku telah menjahili mu..."
"Baru kali ini ada hantu yang meminta maaf. Hehe..."
"Namanya juga hantu cantik..."
"Ow, begitu ya. Tapi...tetap saja menyeramkan" ucap Barraq tersenyum tipis.
"Laila..." ucap Berry bernada memperingatkan.
"Oya, namaku Laila. Dan ia adalah Berry. Aku berkeliaran sebagai arwah sekitar tiga puluh hari. Ku kira ketika menjadi arwah, segala sesuatu menjadi mudah. Ternyata tidak. Awal sekali aku menghadapi banyak kesulitan,.beruntung aku bertemu Berry. Hantu menyeramkan tapi baik..."
"Seperti itu kok dibilang baik..."
"Heeei....! Kau lupa?" ucap Berry memasang wajah seramnya.
"Ok...Ok. To the point saja. Aku tidak suka bertele-tele..." ucap Barraq.
__ADS_1
"Heeei....! disini siapa bos nya?!!" ucap Berry lagi.
Tangan Barraq menunjuk ke arah Berry yang tengah memasang wajah super duper menyeramkan.
"Bagus. Kalau begitu dengarkan dahulu cerita Laila..."
Barraq terdiam. Matanya menatap Laila sesaat. Dan mendadak suasana pun menjadi hening dan terasa dingin membuat Barraq semakin bergidik.
"Aku mohon bantulah aku menemukan orang yang telah membunuh ku"
"Ow...jadi ini dalam rangka balas dendam?"
"Bukan balas dendam. Aku hanya ingin orang yang membunuh ku mendapat hukuman setimpal di penjara. Aku ingin keadilan..."
"Mengapa kau tidak membalasnya sendiri. Bukankah kau sanggup melakukannya. Terlebih ada hantu seram di belakang itu" ucap Barraq.
"Jika bisa, tentu sudah aku lakukan. Arwah punya keterbatasan, kak. Apalagi aku tidak ingat siapa pelakunya. Semua samar dalam ingatan ku..."
"Astaga...Hantu hilang ingatan namanya" ucap Barraq sambil mengusap wajah.
"Kau tidak bisa menolak, tuan Barraq..." ucap Berry.
"Ok. Tapi beri aku waktu untuk memikirkannya"
"Berapa lama...?"
"Entahlah...Jika aku sudah menemukan jalan keluarnya pasti aku akan memulai membantu mu" ucap Barraq.
Mata Laila berkaca-kaca. Ada banyak bulir bening yang mengerubuti kedua matanya.
"Terima kasih..." ucap Laila.
Deg.
.
.
.
Barraq terdiam. Matanya menatap wajah Laila yang pasi itu. Barraq menghela nafas Ia merasakan kesedihan yang mendalam dalam mata Laila.
"Dia ingin balas dendam tapi tak ada hasrat amarah sedikit pun aku rasakan. Dia hanya ingin mencari keadilan atas pelakunya" batin Barraq.
TOK.
TOK.
TOK.
Ada banyak tangan yang mengetuk-ngetuk kaca mobil. Cukup keras. Barraq terkesiap. Ia pun langsung mengalihkan perhatiannya pada sumber suara. Barraq mengangkat tangan, tanda bahwa ia baik-baik saja.
Kemudian perhatiannya beralih sejenak pada kursi di sebelahnya, berharap Laila masih ada di sana. Namun nihil arwah cantik itu telah menghilang dari pandangan Barraq. Sesungguhnya Barraq pun sempat terkejut atas ketiadaan Laila, namun cepat-cepat ia mampu menguasai keterkejutannya itu.
Tangan Barraq meraih gagang pintu mobil dan membukanya. Ajaib...pintu mobil dapat terbuka dengan mudah.
"Apakah dua hantu tadi telah mengerjai ku lagi? Ah, sial....! Kenapa aku harus bertemu dengan hantu segala sih..." batin Barraq.
"Jangan macam-macam, tuan Barraq..." ancam Berry sambil menyembulkan kepala di pintu mobil.
"Wush...!!" ucap Barraq.
Ia bergidik. Sekujur tubuhnya meremang hebat. Dan ia pun cepat-cepat keluar dari mobil.
Bersamaan dengan itu suara sirine ambulance pun mengudara. Beberapa team medis berhamburan menghampiri Barraq.
"Tuan...!" sapa seorang team medis.
"Aku tidak apa-apa..." ucap Barraq.
Sebelah tangannya memegangi luka pada kepalanya yang mulai mengeluarkan darah.
"Aneh...saat berbincang dengan Laila, aku baik-baik saja. Tidak terluka sedikitpun. Tapi...mengapa kini kebalikannya. Dan...Aduh. Sakit sekali..." batin Barraq.
"Kita check insentif di rumah sakit, Tuan..." ucap seorang team medis lagi.
Barraq mengangguk lemah. Tubuh kekarnya tak mampu berdiri. Barraq lesu. Tak terelakkan lagi, Barraq pun terjatuh tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian team medis pun membawanya menuju sebuah rumah sakit ternama, yaitu El Khasif Hospital.
"Apa kita terlalu keras padanya, Ry...?" ucap Laila.
"Tentu tidak. Aku yakin itu belum seberapa jika dibandingkan dengan hinaan yang ia terima beberapa tahun ini" ucap Berry.
"Wait...Apakah kau mengetahui kehidupannya? Sebab kau menyebut beberapa tahun ini.."
"Aduh, Laila...gadis yang baru jadi hantu, tentu saja aku mengetahuinya. Siapa yang tidak mengenal salah satu putra mahkota keluarga El Khasif. Dahulu semasa aku hidup, aku sering membacanya di berita-berita. Mulai kisah sedih hingga kisah arogant Barraq aku mengetahuinya"
"Lalu mengapa kau seolah tidak mengetahui apa-apa tentang nya semalam?"
"Aku kira kau tahu. Hehe...Aku lupa jika kau hantu baru. Haha...."
__ADS_1
"Sial...!" umpat Laila kesal.
Sementara itu Berry masih saja terkekeh hebat melihat wajah kesal Laila yang merasa dikadali.
"Heeei...mau kemana?" tanya Berry kemudian saat Laila memutar tubuh.
"Jalan-jalan. Bosan melihat mu terus..."
"Paling ke jalan Akasia. Tempat kau kehilangan nyawa..." ucap Berry mencibir.
"Auk ah...!" ucap Laila dan berlalu.
"Jangan marah. Aku bercanda...! Tunggu aku...!" ucap Berry lagi.
Laila tak menggubris. Ia berlalu cepat bak asap tertiup angin. Hanya kelebat bayang Laila saja yang sempat ditangkar mata Berry.
"Beuh...cepat belajar juga nih hantu baru. Hehe..." ucap Berry sambil mengikuti Laila.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mengapa mereka menjahati ku? Apa sebenarnya salah ku. Dan mengapa hanya Barraq saja yang dapat melihat dan menyentuh ku, yang lain tidak? Apakah Barraq terlibat...?" ucap Laila.
Laila berdiri tepat pada tempat seperti ucapan Berry sebelumnya, yaitu jalan Akasia. Suatu tempat yang di sisi kirinya dibatasi dengan bukit tinggi. Sementara di sisi kanannya terdapat jurang terjal dengan sungai mengalir di bawahnya. Tempat dimana ia kehilangan nyawa. Tiba-tiba saja mata Laila dikerubuti bulir bening saat menatap lama jalan Akasia. Ada perasaan sedih dan marah silih berganti mengisi relung hatinya.
"Aku harus memberi hukuman pada mereka yang telah menyakiti ku. Aku tidak rela,
Tuhan....!!" ucap Laila penuh amarah.
Saat itu langit terasa lebih pekat. Angin berhembus menerbangkan daun kering sesaat. Juga meliukkan dahan pohon sehingga berbisik seru. Hawa di sekitar pun begitu dingin dan terasa dipenuhi hawa aneh. Terlebih saat kabut tipis mulai menuruni lereng bukit memenuhi udara di sekitar jalan Akasia.
BREEEM...!
BREEEM...!
Deru mesin mengudara. Deru itu berasal dari sebuah mobil berwarna hitam. Ia melintas tepat dihadapan Laila. Semula Laila tak mempedulikannya, namun setelah mendengar percakapan ketiga orang di dalamnya barulah menaruh perhatiannya.
"Mengapa kau memilih jalan ini, Lex...?"
"Kenapa...?"
"Sebulan lalu kita menghabisi seorang gadis di sini..." ucap Karna.
"So.....Kamu takut?"
"Sedikit. Hehe..."
"Bilang saja takut. Hehe..."
Sampai di sini, Laila kian penasaran. Akhirnya, Laila membuat mesin mati mendadak. Tepat di tempat kejadian sebulan yang lalu.
"Astaga...kenapa nih mobil?" ucap seorang lagi.
"Lex...ini kan tempat gadis itu kita kerjai dan habisi" ucap Karna sambil gemetaran.
Matanya pun melihat kesana-kemari. Karna kecut. Sementara itu, Laila sudah duduk di dalam mobil. Ia menyimak setiap pembicaraan ketiganya sambil menilik wajah ketiganya.
"Iya, Lex... ini tempatnya. Aku ingat. Itu tempat kita mengerjainya" ucap Bryan. Jarinya menunjuk pada sebuah jalan setapak yang berujung pada sebuah gubuk kecil.
"Tapi kita tak sampai merenggut kegadisannya. Kita hanya kecup-kecup dikit saja. Menyesal juga. Hehe..."
Laila geram. Tangannya mengepal hebat. Wajahnya memancarkan aura tak menyenangkan.
"Ah...cukup. Pusing aku mendengar ocehan kalian...!" ucap Alex.
"Aku sih sebenarnya tak tega waktu itu, tapi bagaimana lagi, semua perintah Bos..."
"Jadi kalian yang sudah menghabisi ku...?! Aku akan membunuh kalian...! Tapi tunggu...kalian mengatakan bos. Artinya ada yang menyuruh kalian. Ah, aku penasaran siapa dalang sebenarnya. Aku akan mengikuti kalian..." ucap Laila.
"Sudahlah, hentikan...! Mesin mati tak ada hubungannya dengan peristiwa itu..." ucap Alex lagi.
"Hook oh...apa kamu fikir dia sudah jadi hantu gentayangan gitu?" ucap Bryan tapi biasa dipanggil Bro itu.
"Bisa saja, bukan...!"
"Ah, cukup...! lebih baik kau periksa mesin Karna daripada ngomel-ngomel kaya anak gadis yang baru saja menstruasi begitu...!" ucap Alex.
"Ogah...dibayar juga aku ogah melakukannya. Bryan saja." ucap Karna.
"Enak saja. Yang junior siapa di sini..?!"
"Aish... cukup. Biar aku saja...!" ucap Alex.
Alex pun langsung keluar dari mobil. Ia menutup pintu dengan keras. Kedua laki-laki di dalamnya terlonjak.
"Astaga...!!" ucap Karna dan Bryan hampir bersamaan.
Keduanya kompak memegang dada. Ini adalah sebuah refleks dari kebanyakan orang ketika terkejut luar biasa.
Sementara itu, mata Alex menyapu jalanan yang tampak temaram di basuh lampu jalan dan juga cahaya bulan. Sebenarnya bukanlah ia tak bergidik mendapati situasi tersebut, namun ia gengsi untuk mengakuinya.
Alex membuka kap mobil. Dan....
__ADS_1
"Aaaaa...!!!!!" teriak Alex.