LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 34. Siapa Dia Sebenarnya...?


__ADS_3

"Kau bukan El Khasif. Kau hanya seorang anak pelakor. Anak haram. Bukan begitu, Pa..." ucap Ethan.


Kata terakhirnya jelas meminta persetujuan Emran. Sementara itu, yang empunya nama justru terdiam. Ia terpaku. Sepertinya ia gamang menghadapi situasi tersebut. Mata Emran menatap Barraq dan Ethan. Laki-laki paruh baya itu begitu menyimpan kegamangan sekaligus kecemasan. Ada apa...??


"Pa...!" ucap Ethan.


Dari nada bicaranya jelas jika ia tengah butuh dukungan Emran. Laki-laki paruh baya itu pun terkesiap. Buru-buru ia menganggukkan kepala.


"Mengapa papa tiba-tiba mengiyakan hal yang selama ini disangkalnya? Dan...mengapa ada kegamangan terlintas di wajahnya" batin Barraq.


"Mengapa kau kembali ke rumah ini? Bukankah kau telah meninggalkan rumah ini?"


"Aku tidak meninggalkan rumah ini sepenuhnya. Aku hanya bersembunyi sementara dari kerakusan Ethan...! Jelas aku pergi untuk kembali" ucap Barraq.


Matanya menatap Ethan. Ada kilat amarah di mata Barraq.


"Ow, jadi kau ingin mengambil apa yang menjadi milik k?!"


"Bukan milik mu, tapi milik ku. Perusahaan yang ku bangun atas jerih payah ku sendiri. Dan tiada berkaitan dengan El Khasif sedikit pun..."


"Hah...! Semua orang tahu siapa dirimu di keluarga El Khasif. Tapi bagi ku kau tak lebih dari seorang anak pelakor..." ucap Ethan.


Deg.


.


.


.


Hati Barraq berdenyut. Ia tak dapat menerima semua ucapan yang Ethan lontarkan. Mata Barraq menatap sekilas kepada Emran yang berdiri tak jauh dari Ethan. Dan Barraq menangkap keganjilan atas sikap Emran.


"Mengapa papa diam saja. Dan apa ini... Mengapa ada kegamangan di ujung tatapannya" batin Barraq.


"Pa. Barraq butuh penjelasan lebih. Ada apa dengan papa? Dahulu papa selalu menyangkal semua tuduhan tentang ibu. Tapi...mengapa sekarang papa diam saja?"


Emran terdiam. Ia benar-benar hilang kata. Emran tak tahu harus berbuat apa. Dan hal tersebut makin membuat Barraq penasaran. Barraq menilik setiap gurat di wajah Emran. Ia berharap ada reaksi di wajah laki-laki pengusaha nomor satu itu. Tapi amazing, nihil. Barraq tak menemukan apa pun di sana selain kegamangan di ujung tatapannya.


"Apa kepergian Mekayla juga ulah mu, Ethan? ucap Barraq.


"Aku tabu ada dua keuntungan jika kalian bersama. Pertama, Perusahaan mu akan menjadi besar karena adanya penggabungan. Dan hal itu bisa menyamai El Khasif di kemudian hari. Kedua, kebersamaannya kalian akan menarik lebih banyak investor. Dan hal ini menjadi ancaman paling berbahaya bagi El Khasif..."


"Ow, karena itu kau membuat Mekayla pergi? Picik...! Kau picik, Ethan...!"


"Aku pun yang membuat usaha mu hancur. Juga citra positif mu di publik aku yang menghancurkannya. Dan jadilah Barraq yang sekarang. Kau pecundang, Barraq. Haha...!"

__ADS_1


DOR...!


Desing peluru kembali terdengar. Kali ini Emran sendiri terkejut dengan perbuatannya. Rupanya Emran tak sengaja menarik pelatuk pistol yang masih tergenggam di tangannya.


"Akh...!" keluh Barraq.


Sebelah tangannya mendekap paha kirinya yang mengucurkan darah segar. Barraq terduduk. Ia meringis menahan sakit.


"Bodoh...! Mengapa kau lakukan...! Mestinya tangan ku inilah yang melakukannya" ucap Ethan.


Sebelah tangannya mendorong Emran dengan kasar. Dan hal itu tentu saja membuat Barraq dan semua yang menyaksikan terkejut.


"Mengapa tuan Ethan begitu..." bisik-bisik beberapa asisten rumah tangga.


Ethan tak menggubris Emran yang sudah jatuh terduduk. Ethan justru memilih menghampiri Barraq. Kemudian Ethan mengambil pistol dari balik bajunya. Ethan menodongkannya tepat pada kepala Barraq. Dan hal tersebut membuat histeris yang melihatnya.


"Kemana Laila? Aku tidak melihatnya. Apa sudah terjadi sesuatu kepadanya?" batin Barraq.


"Apa mau mu, Ethan...?"


"Nyawa mu. Tapi dengan perlahan. Satu..."


DOR...!


Desing peluru kembali terdengar. Kali ini menyasar pada paha kanan Barraq.


Laki-laki tampan itu tak mampu mengelak lagi dari perilaku jahat Ethan yang sejatinya adalah kakaknya sendiri. Melihat ekspresi Barraq, Ethan tergelak. Suaranya mengisi udara saat itu.


"Itu baru satu, Barraq. Bagaimana jika dua..." ucap Ethan.


Tangannya bergerak perlahan untuk kemudian berhenti pada pangkal paha Ethan. Atau lebih tepatnya area sensitif Barraq.


"Bagaimana...?" ucap Ethan dengan seringainya yang tampak misterius.


Barraq terdiam. Tiada kata lagi yang mampu ia lontarkan pada situasi itu. Barraq pasrah. Toh jika mati sekalipun, artinya ia akan dapat bersama Laila. Barraq menatap Ethan. Tiada terlukis ketakutan sedikit pun di ujung tatapannya. Dan hal itu tentu saja semakin membuat Ethan frustasi.


"Ah, sial.....!!" ucap Ethan.


Ethan tersulut amarah. Tangannya dengan cepat bergerak. Kali ini pistol itu rapat pada kepala Barraq. Ethan tersenyum puas. Dan sepertinya Ethan benar-benar akan melakukannya. Namun sebelum Ethan meluluskan niatnya, seorang laki-laki menghentikannya.


"Cukup, Ethan...." ucap laki-laki itu.


Sontak semua perhatian tertuju padanya. Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari kakak beradik itu. Entah kapan laki-laki yang memakai topi berwarna gelap itu sampai di sana. Pakaiannya sedikit lusuh. Berdirinya pun jelas terlihat tak sempurna.


"Siapa kau..." tanya Ethan.

__ADS_1


Laki-laki yang sebagian wajahnya tertutup cadar itu diam saja. Tiada pergerakan sedikitpun.


"Sekali lagi aku bertanya. Siapa kau yang berani-berani menghentikan ku?!"


"Hentikan semua kejahatan mu, nak..." ucap laki-laki itu.


Sebutan nak pada Ethan telah membuat semuanya semakin memberi perhatian penuh kepada laki-laki itu. Tak terkecuali Barraq.


Tak lama kemudian, laki-laki itu pun membuka topi dan penutup wajahnya. Dan seketika semua menjadi terkejut saat melihat wajahnya.


"Tuan Emran....?!" ucap para asisten rumah tangga.


"Papa....!" ucap Barraq dan Ethan hampir bersamaan.


"Bagaimana bisa ada dua tuan besar...?" bisik-bisik antar asisten rumah tangga.


Suasana benar-benar menjadi gaduh. Semua tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.


"Pergilah kau penipu....! ucap Emran dengan pistol di tangan.


"Berhentilah jadi penipu, Jarwo..." ucap Emran yang lain lagi.


Emran gamang. Gestur tubuhnya tampak gamang. Begitu pun dengan tatapan matanya.


"Jangan bergerak....! Anda di tahan tuan...Emran, palsu" ucap Attar yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Emran yang masih menodongkan pistol kesana-kemari.


"Letakkan senjata mu perlahan..." ucap Attar yang diikuti Emran yang disebutnya palsu itu.


"Dorong perlahan pistol itu kepada ku. Cepat...!!" ucap Attar saat Emran terdiam.


Hanya sepersekian detik saja, pistol itu pun telah berada pada Attar. Bersamaan dengan itu, beberapa perwira pun meringkus Emran yang disebut sebagai Jarwo itu.


"Ah, sial. Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku adalah Ethan El Khasif. Penerus El Khasif Group. Aku harus apa di situasi ini? Lari kah? Tapi bagaimana?" batin Ethan.


Sementara itu, tangan Ethan yang menggenggam pistol itu pun mulai bergetar. Tak lama kemudian, ia mulai menodongkan pistol kepada Barraq dan laki-laki di hadapannya yang mengaku sebagai Emran itu.


DOR...!


Desing peluru kembali terdengar. Kali ini bukan dari pistol yang dipegang Ethan. Butir peluru yang baru dimuntahkan itu berasal dari team penembak jitu yang entah berada dimana. Itu adalah buah bidikan yang akurat karena tepat mengenai pergelangan tangan Ethan.


"Akh...!" keluh Ethan.


Pistol di tangannya langsung terlempar. Bersamaan dengan itu darah segar pun langsung mengalir.


"Sial....!!!" umpat Ethan.

__ADS_1


Sebelah tangannya memegang pergelangan tangan yang terus mengeluarkan darah itu.


To Be Continued....


__ADS_2