LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 7. Mata-mata


__ADS_3

Pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Barraq melajukan mobil sport berwarna silver yang beberapa saat lalu dihantarkan oleh seorang asisten keluarga El Khasif ke halaman parkir El Khasif Hospital. Barraq menyusuri jalanan yang lengang dengan cepat. Deru mesin mengudara hebat. Suaranya terdengar hingga jauh.


"Kemana dua hantu tadi? Datang enaknya. Pergi juga seenaknya. Kalau begini terus bisa-bisa aku harus menyiapkan jantung ekstra. Hah..." ucap Barraq.


Mata Barraq terus fokus pada jalanan seraya menilik kiri-kanan lajur. Rupanya Barraq tengah bersiap dari segala kemungkinan yang bisa saja terjadi karena ulah dua hantu teman barunya itu.


Dan sekejap lalu ia sukses berandai. Hal tersebut dilakukan hanya untuk menemukan tiga pelaku yang dimaksud Laila.


"Jika aku jadi seorang yang baru menghilangkan nyawa kemana aku akan pergi? Atau bersembunyi? Atau mungkin tempat untuk sekedar melepaskan penat?" ucap Barraq sambil terus melajukan mobil sport barunya yang tetap berwarna silver itu.


"Em, tempat bersembunyi tapi asyik. Tempat untuk menghilang namun tetap bisa berbaur dan menghabiskan hari. Tempat yang bebas untuk bertemu ataupun menerima perintah dari sang Bos tanpa ada yang mencurigai. Dimana tempat seperti itu?" gumam Barraq lagi.


"mereka ada di sebuah pub milik salah satu diantaranya..."


"Wuih...!" Barraq berjingkat.


Tangan Barraq segera membanting stir ke kiri. Dan sukses menghentikan laju mobil mewahnya. Suara cicit mesin pun terdengar. Bersamaan dengan itu, Barraq menghela nafas lega karena ia sukses menghentikan laju mobilnya.


"Astaga....! Sudah kukatakan jangan pernah tiba-tiba muncul seperti ini...!" " ucap Barraq Carilah cara yang elegan gitu"


"Hantu tidak memikirkan itu semua..." ucap Berry.


"Aishh...!" desah Barraq.


Dari caranya mendesah, jelas jika ia tengah kesal atas polah kedua hantu itu yang telah mengejutkannya. Sementara Laila hanya nyengir kuda menatap Barraq yang ada di sebelahnya.


"Maaf ya, Kak..." ucap Laila kemudian.


"Tuan mau pergi kemana? Sepertinya tergesa sekali..." ucap Berry.


"Ke sebuah Pub di pinggiran kota..." ucap Barraq sambil melajukan mobilnya.


"Pub..? Darimana kakak tahu jika mereka ada di pub?" ucap Laila.


"Jadi benar mereka ada di pub? Aku hanya menebaknya saja. Berdasarkan naluri jika - maka" ucap Barraq.


"Wah...ternyata tuan hebat juga. Tak salah jika Tuhan mengirim tuan untuk Laila..."


aq


"Wow...itu berlebihan" ucap Barraq.


Bersamaan dengan itu, mobil mewah Barraq pun memasuk areal parkir yang cukup luas. Ada banyak mobil mewah yang juga terparkir di sana. Mata Barraq menyapu areal parkir saat ia telah sempurna berdiri di luar mobil sport-nya. Mendadak hatinya berdenyut saat melihat sebuah mobil yang terparkir di sudut areal. Antara percaya dan tidak dengan apa yang terekam tatapan matanya.


"Ethan...Apa yang dia lakukan di sini? Laki-laki super baik dan amat menjaga nama baiknya berada di sebuah pub seperti ini..." batin Barraq.


Hatinya di duduki rasa penasaran akut. Pun demikian, ia tak tertahan lama di areal parkir. Barraq memilih terus melangkah memasuki pub yang di duga sebagai tempat tongkrongan ketiga tersangka ketimbang mencari tahu demi memenuhi rasa penasarannya.


Tak lama msik pun terdengar mengalun. Irama yang berasal dari live musik yang tengah berlangsung. Riuh rendah suara pengunjung pub ketika musik mengalun menghentak jiwa. Ada banyak diantaranya yang bergoyang mengikuti alunan musik. Karena memang iramanya menawarkan rayuan melenakan dari racikan sang maestro.


"Sudahkah kalian melihat satu atau ketiga orang tersebut..." tanya Barraq.


"Yuph..." ucap Laila dan Berry hampir bersamaan.

__ADS_1


"Ow...rupanya setelah mengalami kencing di celana, mereka menyibukkan diri di sini" ucap Laila.


"Mereka dimana?" tanya Barraq.


"Di meja nomor lima belas..." ucap Laila.


Mata Barraq langsung bisa menilik tiga laki-laki yang tengah berbincang diantara kepulan asap rokok. Sesekali ketiga laki-laki itu menegak minuman yang tersedia.


"Ow... ternyata ketiga coro itu ada di sini" ucap Berry.


Barraq memilih tempat duduk yang sangat dekat dari ketiganya. Bahkan duduknya pun memunggungi ketiganya. Barraq menajamkan telinga untuk menangkap percakapan ketiganya di tengah alunan musik yang kian seru. Perekam suara pun sudah dipersiapkan. Rupanya Barraq tengah mencari bukti untuk meluluskan keinginan Laila dalam mencari keadilan. Sementara itu, Laila dan Berry pun turut serta duduk satu meja dengan Barraq. Keduanya menjadi penasaran tentang apa yang akan dilakukan Barraq.


"Kak..." ucap Laila.


"Ssstt....Dengarkan percakapan ketiganya" ucap Barraq. Jelas tanganny memberi isyarat agar Laila tak melakukan hal yang di luar nalar.


"Baiklah...." ucap Laila lesu.


"Semoga hantu menyeramkan tadi tidak mengikuti kita" ucap Karna.


"Edan...! Mustahil mereka mengikuti kita. Hantu tidak menyukai tempat seperti ini, Karna. Haha..." ucap Bryan.


"Yakin...!" ucap Karna lagi.


"Ah, berisik sekali kalian ini? Tak perlu dibahas lagi. Semakin dibahas, maka aku semakin teringat peristiwa tadi. Bagaimana kepala hantu itu muncul di dalam kap mobil. Hiiiii....seram" ucap Alex bergidik.


"Aishh...sialan. Kalau tahu akan dikejar hantu begini aku tidak akan menuruti perintah si Bos" ucap Karna.


"Entahlah..."


Oya, kemana si bos? Sudah lewat tengah malam belum muncul juga" ucap Bryan.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Alex berpendar. Dan hal tersebut langsung menjadi pusat perhatian Alex. Terlebih saat tahu pemilik kontak tersebut.


"Nah, baru diomongin sudah telfon. Sepertinya bos kita punya Indra keenam dech..."


"Hehe...." tawa ketiganya bersamaan.


"Ya, Bos..." ucap Alex.


"Pertemuan ditunda" ucap laki di ujung telepon.


"Tapi kenapa, Bos? Sesungguhnya ada yang harus kami sampaikan. Hal ini penting, Bos.." ucap Alex.


"Situasi bahaya. Ada yang memata-matai..."


"Maksud, Bos..." ucap Alex.

__ADS_1


Gestur tubuhnya tampak gusar. Matanya bergerak kesana-kemari menilik setiap sudut pub. Beberapa spekulasi pun bermunculan. Hatinya menduga siapa kiranya diantara pengunjung yang menjadi mata-mata seperti yang dibicarakan sang bos.


"Siapa...?" gumam Alex.


"Tak perlu kau cari. Pastikan saja kalian tutup mulut. Apa pun yang terjadi"


"Soal itu bos tak perlu khawatir. Kami akan tetap tutup mulut..."


"Good...Dan file yang kau ambil dari gadis itu simpan dengan baik.


"Sudah pasti, Bos...File yang kami ambil dari gadis itu aman tersimpan"


"Baik. Aku mempercayai kalian, terutama dirimu Alex"


"Terima kasih, Bos..." ucap Alex di akhir pembicaraan.


Alex pun kembali meletakkan ponsel. Matanya menatap wajah Karna dan Bryan satu persatu.


"Kenapa dengan Bos...? Apa ia urung menemui kita...?"


"Yuph...." ucap Alext singkat.


Tangannya menyomot kudapan yang sejak tadi belum ia sentuh sama sekali.


"Ah, sial...! Apa bos tidak tahu kesusahan kita?" keluh Karna.


"Ah, bawel..." ucap Alex.


Sebelah tangannya mengusap wajah Karna dengan cepat. Laki-laki berwajah tirus itu diam saja diperlakukan demimian. Karena ini adalah polah bercanda diantara ketiganya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"


"Entahlah..."


"Paling juga pesuruhnya yang akan menemui kita. Si Bos mana mau menemui kita. Terlebih setelah peristiwa bulan lalu. Tentunya bos menjaga nama baiknya..."


"Bukan begitu. Menurut si bos, ada mata-mata di sini"


"Apa, mata-mata...?!" ucap terkejut Karna dan Bryan hampir bersamaan.


"Sstt...diam. Jangan membuat tingkah yang mencurigakan" ucap Alex.


Jari Alex mengisyaratkan agar Karna ataupun Bryan lebih berhati-hati.


"Hah... "Keluh lesu Bryan.


"Ya. Aku akan diam..." ucap Karna manyun.


"Sebenarnya aku menaruh kekesalan pada pekerjaan ini. Di sisi lain tangan si bos bersih, tapi disisi lain tangan kita yang kotor saat menuruti perintah si bos."


"Jika menurutku bak buah si malakama..."


"Semua ada resikonya, Karna..."

__ADS_1


__ADS_2