LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 43. Perasaan Barraq


__ADS_3

Ingatan Barraq mengembara. Ingatan pada saat ia hampir bertemu dengan gadis di El Khasif Hospital beberapa hari lalu.


"Gadis itu..." ucap Barraq Gadis itu yang berada di rumah sakit saat itu. Ya, aku ingat. Tapi mengapa ia ada di sini? Apakah ia Laila?Ah, sial....!" batin Barraq.


Mata Barraq terpejam. Ada gundah yang menduduki hatinya. Apa yang terjadi pada Laila, tidak segera menjadi perhatiannya selama ini. Selama enam bulan terakhir ini. Sontak rasa bersalah pun menggerayangi jiwanya. Jelas rasa penyesalannya itu kian menggigit sukma.


"Ya, Tuhan....." ucap Barraq penuh perasaan.


Tangan laki-laki tampan itu terkepal. Ia memukul kemudi berulangkali. Rupanya laki-laki tampan itu tengah meluapkan segala rasa marah dan sesal yang memenuhi hatinya dan berbuah rasa bersalah pun akhirnya menyeruak, hingga Barraq malu dan sungkan


Barraq menghela nafas. Matanya kian lekat menatap rumah yang kini kembali ditutup pagar tinggi itu.


"Laila...sulit aku percaya. Ternyata kau masih hidup. Padahal enam bulan lalu kau menyatakan perpisahan. Tepat di dekapan ku. Dan sejak enam bulan lalu aku meyakini ketiadaan mu. Melihat mu dengan semua keadaan mu, tumbuh penyesalan ku. Lalu aku harus apa, Laila?" gumam Barraq.


Kemudian Barraq memutar kemudi dan meninggalkan rumah nomor satu, Bandar Agung itu. Hatinya benar-benar di duduki kegamangan dan kegelisahan. Barraq kecewa. Ia kecewa kepada dirinya sendiri. Kecewa atas kelambatan berfikir dan bertindak.


Kemudian laki-laki tampan yang tengah mereguk sukses itu melajukan mobil sport silver-nya dengan cepat. Entah kemana ia memacunya. Ia hanya ingin mendamaikan segala rasa yang bergemuruh dalam dadanya.


Cukup lama Barraq memacu mobil sport silver miliknya. Tiada sadar kini sudah berada jauh di ujung kota. Sebuah pemandangan pun terbuka di sisi kiri jalan. Mendadak Barraq menghentikan laju kendaraannya. Suara cicit mesin pun mengisi udara seketika. Suaranya beradu dengan gemuruh air yang tumpah dari dinding tebing yang tinggi.


Barraq membanting pintu mobilnya. Ia keluar dengan tergesa. Menuruni jalan setapak di tebing curam yang selalu basah karena percikan air. Kepulan butir halus air yang terjun bebas itu pun menghujani tubuh Barraq.


Sesampainya di bawah air terjun laki-laki tampan itu pun menceburkan diri. Lama Barraq membenamkan diri. Ia membiarkan tubuhnya dibasuh air yang menyejukkan itu.


Nafas Barraq tak beraturan ketika muncul dipermukaan. Tarikannya seirama degup jantung yang kian bertalu. Barraq kian gelisah. Polahnya barusan tiada memiliki pengaruh apa pun atas segala rasa dalam dadanya.


"Bodohnya aku...!" ucap Barraq.


Laki-laki tampan itu menghela nafas. Tangannya menghentak permukaan air hingga menimbulkan percikan.


"Aku harus segera menyelesaikannya. Aku harus menemui Laila. Apa pun yang akan terjadi" ucap Barraq.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Mang, tadi ada tamu?" ucap Laila.


"Hanya menanyakan alamat saja?" ucap Udin, laki-laki yang dipanggil Laila dengan sebutan mang itu.


"Alamat? Emang siapa yang ia cari?"


"Wah, mamang kurang tahu, Non. Tapi kalau mamang perhatikan wajahnya, rasanya tidak asing. Wajahnya itu begitu familiar..."

__ADS_1


"Oya..." ucap Laila sedikit penasaran.


Begitu penasarannya, hingga Laila mengurungkan untuk menyeruput secangkir teh yang ada di tangannya. Laila membagi tatapannya pada sosok mang Udin dan langit yang membiru dengan sedikit awan di perutnya.


"Oya, Non. Mamang ingat betul bagaimana wajah terkejutnya, saat melihat non di balkon. Pemuda itu pun koan terkejut saat mamang bercerita tentang non..."


"Ah, mamang. Mengapa mamang harus bercerita tentang saya? Saya bukan orang yang harus dikasihani..." ucap Laila bernada sedikit tinggi.


Udin terdiam ditatap demikian oleh Laila. Hatinya mulai ditumbuhi penyesalan.


"Maafkan mamang, Non..." ucap Udin.


"Ya sudahlah, mang" ucap Laila kemudian.


Tangannya kembali menyorong cangkir berisi teh ke bibirnya. Sementara tangan kirinya meletakkan ponsel berwarna putih yang masih menampilkan gambar seseorang. Rupanya Laila belum sempat menutupnya.


Bersamaan dengan itu, mata Udin langsung berpusat pada gambar di ponsel yang tergeletak di meja itu. Dari mimik wajahnya, jelas jika Udin tengah menilik wajah sosok laki-laki di ponsel tersebut. Sontak Udin teringat laki-laki yang beberapa saat lalu berdiri di hadapannya.


"Maaf, Non. Siapa laki-laki di ponsel non itu?" ucap Udin.


Mendapat pertanyaan itu, Laila langsung menatap layar ponselnya. Secepat kilat Laila meraih ponsel tersebut dan menutupnya.


"Bukan siapa-siapa, Mang..." ucap Laila cepat.


Mendengar itu, Laila terkesiap. Laila kembali membagi tatapannya antara Udin dan ponsel berwarna putih di tangannya.


"Mamang yakin...?" ucap Laila.


"Ya. Mamang yakin, Non" ucap Udin mantap.


Deg.


.


.


.


Waktu serasa terhenti. Ingatan Laila mengembara pada sosok laki-laki tampan yang ia tabrak sebelum peristiwa di jalan Akasia. Laki-laki yang seyogyanya ia tolong dari kecurangan Ethan, kakak laki-lakinya sendiri. Sekaligus laki-laki yang juga ia cintai.


"Mengapa seorang Oemar Barraq El Khasif begitu terkejut saat mendapati ku di balkon? Apa karena keadaan ku saat ini? Atau ada hal lain yang membuatnya terkejut?" batin Laila.

__ADS_1


Laila terkesiap saat Udin berpamitan untuk kembali pada pekerjaannya. Ditatapnya punggung asisten rumah tangga keluarganya itu hingga si empunya menghilang di balik rimbunnya dahan pohon di taman.


Laila menghela nafas. Tangannya kembali meraih benda pipih berwarna putih. Mata Laila pun langsung menilik wajah tampan dalam layar ponselnya itu.


"Mengapa tiba-tiba saja kau muncul Oemar Barraq El Khasif? Apakah Tuhan mengirimkannya untuk ku sebagai suatu pertanda? Atau hanya suatu kebetulan saja?" batin Laila.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel ditangan Laila berpendar. Suaranya sukses membangkitkan kembali kesadaran Laila. Sontak mimik wajah Laila berubah, saat mendapati sebuah nama yang tertera di layar ponsel. Sedikit enggan Laila menerima panggilan itu.


"Hal...Hallo" ucap Laila.


"Apa tuan putri tengah melamun lagi?" ucap seorang laki-laki di ujung telepon.


"Ah, kak Attar pandai menebak. Jangan-jangan kakak memiliki indera keenam..."


"Bukan hanya keenam, ketujuh pun aku memiliki. Hehe...." ucap Attar diakhir tawa.


"Hehe...kakak bisa saja" sambut Laila dengan tawa.


"Senang rasanya mendengar tawa Laila"


"Gombal...."


"Haha...." tawa Attar kembali terdengar.


"Ada apa kakak menghubungi ku...?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya kangen saja..."


"Hah...! Kangen? Bukankah dua jam yang lalu baru bertemu?"


"Dua jam itu serasa dua tahun, La. Karenanya kangen ku sudah akut kembali"


"Gombal...! Tak Laila sangka seorang perwira seperti kakak bisa gombal juga..."


"Wah, meledek. Wajah garang, tapi hati merah jambu. Hahaha...."

__ADS_1


"Hahaha....Kak Attar ada-ada saja "


__ADS_2