
"Akh...!" keluh Ethan.
Pistol di tangannya langsung terlempar. Bersamaan dengan itu darah segar pun langsung mengalir dari tangannya. Sebutir peluru tepat mengenainya.
"Sial....!!!" umpat Ethan.
Sebelah tangan Ethan memegang pergelangan tangan yang terus mengeluarkan darah itu. Bersamaan dengan itu, lagi-lagi dua orang perwira meringkus Ethan. Rontaan tubuh Ethan tak berarti banyak bagi kedua perwira bertubuh tegap itu. Terlebih saat sebutir peluru kembali menembus betis Ethan. Hal tersebut membuat Ethan tersungkur. Kemudian kedua perwira itu langsung memborgol tangan Ethan dengan sigap.
"Kalian akan menyesal telah melakukan ini kepada ku....!" teriak Ethan.
"Kau juga pak tua. Haha...!" ucap Ethan saat melewati Emran.
"Kak, Kau terluka..." ucap Laila cemas.
"Aku baik-baik saja. Em, darimana saja kau...? Aku fikir kau sudah pergi, tanpa berpamitan dengan ku"
"Maaf, Laila tadi menemui kak Attar. Laila fikir bisa cepat, tapi ternyata Laila terhalang sesuatu.."
"Bertemu Attar? Apa keperluan mu?.Dan apa yang menghalangi mu....?"
"Tadi Laila sempat lemah. Tubuhnya sempat menghilang beberapa saat...." ucap Attar.
"Sungguh...?" ucap Barraq.
Matanya menatap lekat wajah cantik alami Laila. Dan gadis cantik yang tinggal beberapa jam saja akan menghilang itu mengangguk mantap.
"Maafkan aku, Kak..." ucap Laila.
"Kita harus segera ke rumah sakit. Tak perlu lagi menunggu team medis" ucap Attar.
Tangannya hampir mengangkat tubuh Barraq. Namun laki-laki tampan itu menolaknya. Barraq memejamkan mata. Ada sakit yang ia rasakan akibat dua butir peluru yang bersarang di tubuhnya. Walau sudah mendapat pertolongan pertama, namun tetap saja darah terus menitik sehingga membasahi kain yang menutupi luka.
"Nak, bagaimana keadaanmu...?" ucap Emran.
Ada getar disaat ia berucap. Laki-laki yang telah banyak mengalami hal buruk itu duduk di dekat Barraq. Wajah tampannya lebih tirus. Begitu pun dengan tubuhnya yang terlihat jauh lebih kurus. Dan matanya yang menatap Barraq terlihat mulai dikerubuti bulir bening.
"Papa bersembunyi. Menunggu bukti dan waktu yang tepat untuk menampakkan diri. Jarwo telah mengambil kehidupan papa. Dengan bantuan Ethan ia sempurna menjadi seorang Emran El Khasif. Tak ada seorang pun yang menaruh curiga sedikit pun terhadap keberadaannya. Bahkan kau pun tidak sepertinya..." jelas Emran.
Barraq diam. Penjelasan Emran terdengar asing di fikirnya. Karena itu Barraq memasang mode tak percaya. Hal tersebut jelas terlukis di wajah tampannya. Dan hal tersebut tentu saja dapat langsung ditangkap oleh Emran.
"Apa yang harus papa lakukan agar kau mempercayai papa? Bahwa aku adalah papa mu yang sebenarnya. Aku adalah Emran El Khasif? Apa aku harus menyebut semua tanda lahir di tubuh mu?"
"Semua? Memang ada berapa tanda lahir mu, Kak?" celetuk Laila sambil tersenyum menggodai.
Barraq pun turut tersenyum mendengar celetukan Laila.
"Berhentilah...." ucap Emran saat laki-laki yang mirip dengannya itu melewatinya.
Emran lalu menghampiri laki-laki yang tangannya sudah terborgol itu. Tangan Emran terangkat dan bermaksud melakukan sesuatu terhadap wajah wajah laki-laki itu. Dan tentu saja hal tersebut ditolaknya.
__ADS_1
"Apa mau mu...?!" ucap laki-laki itu.
"Berhentilah berpura-pura menjadi diriku, Jarwo..." ucap Emran.
"Aku Emran El Khasif...!" ucap laki-laki itu.
Bersamaan dengan itu, tangan Emran menarik wajah laki-laki yang disebutnya Jarwo itu. Dan....semua menjadi terkesiap. Ternyata semua adalah topeng.
"Waaaah...." gumam mereka setelah menyaksikan wajah di balik topeng itu.
Mendapati wajahnya menjadi tontonan, Jarwo pun menyimpannya dalam-dalam. Ia menutupinya dengan kedua lengannya yang sudah terborgol.
"Dia Jarwo. Laki-laki yang telah membuat perjanjian dengan Ethan untuk menguasai El Khasif Group. Maafkan papa, Nak. Papa terlambat datang.." ucap Emran.
Barraq tetap dalam diamnya. Walau ada hawa panas yang menelusup di dalam relung hatinya. Barraq hanya menatap Emran, laki-laki yang hampir dua tahun ini telah digantikan. Lebih tepatnya di curi kehidupannya. Ah, tak terbayang bagaimana rasanya dikhianati oleh anaknya sendiri, Ethan.
"Dan satu lagi. Kau bukan anak pelakor. Papa menikahi ibu mu setelah tiga tahun kepergian mama, istri pertama papa" ucap Emran.
Mata Barraq mulai dikerubuti bulir bening. Ingin rasanya ia menghambur dalam dekapan Emran selalu menghangatkan itu. Bak membaca fikiran Barraq, Emran pun memeluk Barraq. Dan isaknya tak terbendung lagi. Jadilah keduanya berpelukan dan saling berisak-tangis, bak pilihan tahun tak bertemu.
"Akh....!" keluh Barraq.
Tubuh Barraq lesu dan hampir rebah. Barraq telah banyak kehilangan darah. Melihat itu, Laila kembali cemas. Ia khawatir akan kondisi laki-laki tampan itu.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Nak..." ucap Emran.
"Barraq masih baik-baik saja, Pa. Akh... Lalu...dimana papa selama ini?" ucap Barraq terbata.
Bersamaan dengan itu, team medis lainnya pun datang. Seorang dokter muda lain tampak tergesa melangkah. Rambut hitamnya sesekali diterbangkan angin.
"Tuan...." ucap Dara.
Dokter muda itu mengangguk takzim pada Emran juga pads Barraq. Ada senyum tipis yang terbit dari sudut bibirnya saat matanya beradu dengan Barraq. Kemudian gadis cantik itu mulai melakukan prosedur tindakan medis di bawah pengawasan dokter Faaz. Dara begitu cekatan. Sesekali matanya menilik wajah Barraq yang mulai pasi itu.
"Kita membutuhkan darah sekarang...." ucap Faaz.
"Darah ku saja. Golongan darah kami sama seratus persen" ucap Emran.
"Tidak, Kak. Kau belum sembuh benar. Biar aku yang menggantikan mu. Golongan darah kita sama bukan.." ucap Maleq sambil tersenyum.
"Tapi...." ucap Emran terhenti.
"Hei...! Aku dokter mu, tuan Emran El Khasif. Jadi tidak boleh ada penolakan" ucap Maleq.
"Beginilah keluarga El Khasif, nak Attar..." ucap Emran.
"Haha...sudah sejak dahulu, om. Keras kepala" ucap Attar.
"Tapi tidak keras hati...." ucap Emran lagi.
__ADS_1
"Tentu, Om. Terutama pada El Khasif sejati..."
Emran menepuk bahu Attar. Berulangkali ia melakukannya.
"Terima kasih, nak..."
"Sama-sama, om"
Sementara itu, Barraq mulai menerima transfusi darah. Perlahan namun pasti, cairan berwarna merah itu masuk ke dalam tubuh laki-laki tampan itu.
"Dokter...." ucap Barraq lesu.
Tangannya memegang tangan Dara saat dokter muda itu menempelkan stetoskop pada dadanya. Dan peristiwa itu dilihat oleh Laila. Gadis itu menggigit bibirnya. Hal ini karena hatinya tak dapat menerima apa yang dilakukan Barraq barusan.
"Dokter, tolong lakukan di sini saja. Tolong keluarkan pelurunya di sini saja. Dan biarkan saya tetap sadar. Saya tidak ingin kehilangan detik-detik terakhir bersama Laila..." ucap Barraq.
Deg.
.
.
.
Laila terdiam. Hatinya luluh mendengar permintaan Barraq. Laila hampir menangis saat tangan Barraq meraih tangannya.
"Maafkan aku, kak..." ucap Laila sendu.
"Tapi tuan...Di sini tidak tersedia perlengkapan medis yang memadai"
"Apakah dokter Dara kehilangan daya kretifitasnya? Dan lagi, ada dokter Faaz si sini" ucap Barraq lemah.
Dara tertegun. Matanya menatap Barraq sejenak untuk kemudian berpindah pada Attar dan Emran terutama Faaz.
"Em, begini saja. Kami akan meluluskan permintaan tuan. Tapi tempat pelaksanaannya tetap di El Khasif Hospital. Bagaimana....?" ucap Faaz
"Papa lebih setuju begitu. Lebih aman untuk mu, nak..."
"Tidak ada tempat yang aman untuk Barraq, Pa..."
"Tidak perlu kakak melakukan itu. Justru Laila lebih khawatir. Kesehatan kakak jauh lebih penting ketimbang bersama ku di saat terakhir ku. Dan masih ada hari esok, Kak" ucap Laila.
"Kita tidak tahu, La. Hari ini atau esok adalah hari terakhir kita bersama. Yang jelas kalau pun aku tiada, aku akan bahagia. Karena kita akan bersama.
"Nak, jangan seperti itu. Bagaimana dengan papa? Apakah kau tega melihat papa sendirian" ucap Barraq.
"Kalau begitu aku ingin kalian melakukan tindakan medis di sini..."
"Aishh...dasar keras kepala"
__ADS_1
"Sudah turun menurun. Di alirkan dalam kentalnya darah merah..." ucap Maleq sambil menyunggingkan senyuman.