
"Mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan Oemar Barraq El Khasif? Ayolah, La. Hentikan...! Sudah cukup kau berharap pada hal yang sama sekali tidak mungkin. Hentikan...! Pergilah, Barraq...!" batin Laila.
"Bagaimana dengan misi mu, Tar?" ucap Wijoyo sesaat sebelum meneguk teh hangat dari cangkir porselen nya.
"Siap, Ndan. Misi berjalan lancar. Dan terduga bersih. Bahkan terlalu bersih..." ucap Attar.
Wijoyo termangu. Fikirannya terpusat pada ucapan Attar barusan.
"Aku tahu ia laki-laki bersih. Aku hanya ingin memastikan laki-laki yang dicintai putri ku itu layak. Emran...tapi sungguh aku minta maaf, sebersih apa pun anak laki-laki mu itu aku tak dapat lagi menunggu lama. Nasib anak ku benar-benar dipertaruhkan..." batin Wijoyo.
"Well...Kalau begitu, saya ke dalam. Ada berkas yang harus di periksa. Kalian lanjutkan berbincang nya..."
"Siap, Ndan.." ucap Attar.
Laki-laki yang terkesan selalu siaga itu begitu bersemangat. Wajahnya pun begitu sumringah. Karena menurutnya ia akan dapat leluasa berbincang dengan gadis yang diam-diam ia cintai sejak bau kencur itu.
Sementara itu, mendengar ucapan Wijoyo Laila hanya diam. Bibir tipis merona itu, hanya mengumbar senyum sedikit saja. Tak lebih, tak kurang. Laila pun yakin, hal yang Wijoyo lakukan hanyalah sebagai akal-akalan saja.
Kemudian sepeninggalan Wijoyo, Laila dan Attar tetap pada mode diamnya. Dua insan itu mendadak jadi miskin kata. Hanya ekor matanya saja yang sesekali mencuri pandang.
"Mengapa aku jadi rikuh begini? Tuhan, tolong aku..." batin Laila.
"Mengapa aku jadi rikuh begini? Tuhan, tolong aku..." batin Attar.
"Aku..." ucap Attar tercekat.
Bak ada penghalang di kerongkongan, Attar urung membuka suara. Terlebih tiba-tiba saja Laila mengangkat wajah dan menatapnya.
"Apa kak Attar ingin menagih jawaban ku?"
"Ah, ya. Tapi jika belum mempunyai jawaban, aku akan memakluminya" ucap Attar.
"Tidak. Laila sudah mempunyai jawabannya..."
Deg.
.
.
.
__ADS_1
Degup jantung Attar serasa terhenti. Darahnya pun berdesir. Entah apa yang akan terjadi sepersekian detik berikutnya, masihlah menjadi misteri bagi Attar.
"Sungguh...?" ucap Attar mendadak rikuh.
Baru kali ini Attar kecut. Bahkan desing peluru pun tak sanggup membuatnya kecut. Tapi kali ini, sungguhlah berbeda. Ada kekhawatiran yang menggerayangi jiwanya.
"Ah, sial...! Mengapa aku se-gugup ini?" batin Attar.
"Maaf duhai hati. Terpaksa aku mendustai mu. Apa yang akan aku lakukan, mungkin akan melukai mu. Namun tetap harus aku lakukan. Kuatlah duhai, hati..." batin Laila.
Ada riak sedih yang mulai membasuh hati Laila. Karena ia tahu siapa sebenarnya pemilik hatinya. Kemudian dengan sedikit ragu, Laila memulai katanya.
"Aku tidak menolak kakak..." ucap Laila perlahan.
Katanya terdengar begitu hati-hati. Laila khawatir salah dalam pemilihan kata untuk menyampaikan maksud hati.
Deg.
.
.
.
"Sungguh, Laila Tidka menolak kakak. Apalagi kakak baik dan mau menerima Laila apa adanya. Tapi..."
Deg.
.
.
.
Hati Attar mendadak berdesir. Kata Laila kembali sukses mengaduk-aduk perasaannya. Perwira berpangkat cukup tinggi itu menatap lekat wajah Laila yang sebagian tertutup kain berwarna hitam itu. Ia begitu khawatir dengan kata terakhir Laila barusan.
"Kak, Laila meminta waktu hingga pembedahan Laila berhasil. Lala tidak ingin mendampingi kakak dengan kondisi seperti ini. Apa kakak bersedia menunggu...?" ucap Laila.
Attar menghela nafas lega. Kekhawatiran langsung menguap bak tertiup angin. Attar kian menatap lekat Laila. Ada perasaan yang kian membuncah. Sebuah harapan mulai menghiasi hatinya yang semula gamang.
"Aku akan selalu ada untuk mu. Seperti dahulu saat kita masih kanak-kanak" ucap Attar.
__ADS_1
Sebuah senyum pun terbit dari sudut laki-laki bertubuh tinggi dan tegap itu. Hatinya tengah bersorak kegirangan atas pernyataan Laila barusan.
"Terima kasih, Kak..." ucap Laila.
Entah mengapa hatinya jadi gerimis setelah memberikan jawaban atas pernyataan Attar beberapa waktu lalu. Tatapan Laila disimpan pada ujung kakinya. Sementara jemarinya sibuk memilin ujung cadar hitam yang menjuntai ke pangkuannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, diwaktu yang hampir bersamaan pada tempat berbeda. Barraq tengah memacu mobil sport berwarna silver dengan kecepatan tinggi. Lajunya tengah berlomba dengan degup jantung yang kian bertalu. Ada harapan yang menggerayangi hatinya, sesaat setelah membaca sebuah pesan tentang keberadaan keluarga Laila.
Ternyata hal mudah bagi seorang Oemar Barraq El Khasif untuk menemukan keberadaan keluarga Laila. Semudah membalik telapak tangan sepertinya. Buktinya dalam waktu satu hari, team pengamanannya berhasil menemukan alamat kediaman keluarga Wijoyo Hadiningrat, keluarga dari Laila Ratri Hadiningrat.
Mata elang milik Barraq begitu cermat menilik sederetan rumah berpagar tinggi yang ia lalui. Hingga di seberang jalan salah satu rumah, Barraq pun menghentikan laju mobilnya. Mata Barraq kembali tertuju pada alamat yang tertera pada layar ponselnya.
"Bandar Agung nomor satu...." gumam Barraq mencocokkan dengan rumah di seberangnya.
Hati Barraq berdesir saat pintu pagar tinggi itu terbuka. Dan yang lebih membuat Barraq terkesiap adalah ketika sebuah mobil berwarna hitam keluar. Mata Barraq kian meng-elang. Tatapannya begitu tajam menilik laju mobil yang belum lagi cepat itu. Seulas wajah pun membayang di kaca jendela mobil. Dan lagi-lagi hal tersebut membuat Barraq terkesiap.
"Attar....?!" ucap Barraq.
Seketika ada rasa penasaran dan juga sedikit kesal yang menggerayangi hatinya. Mata Barraq benar-benar tak lepas dari mobil hitam milik Attar yang baru saja melintas. Hingga menghilang di ujung jalan, barulah Barraq kembali memusatkan perhatiannya pada rumah dua lantai di seberang jalan.
"Mengapa Attar keluar dari rumah keluarga Wijoyo Hadiningrat? Apa kaitannya? Dan mengapa Attar bercerita apa pun kepada ku tentang keluarga Wijoyo, padahal ia mengenalnya? Ah, sial....!" ucap Barraq.
Beberapa pertanyaan berseliweran dalam benaknya. Ia sungguh penasaran atas polah Attar. Kemudian Barraq pun melajukan mobilnya dengan perlahan hingga tepat berada di depan rumah keluarga Wijoyo Hadiningrat. Laki-laki tampan itu terlihat berbicara sejenak dengan security. Rupanya Barraq tengah mengorek keterangan tentang si empunya rumah. Tak membutuhkan waktu lama, Barraq pun mendapatkan informasi yang ia butuhkan. Namun yang membuatnya terkejut bukan kepalang adalah kenyataan bahwa Laila tidaklah meninggal saat peristiwa di jalan Akasia beberapa waktu lalu. Laila Ratri Hadiningrat masih hidup.
Entah sorak Sorai atau kemarahan yang tengah menduduki sukmanya saat informasi tentang gadis yang ia cintai mampir ke telinganya dengan jelas. Lidah Barraq jadi kelu.
"Ya, Tuhan. Apa ini? Apa yang terjadi? Aku harus bagaimana?" batin Barraq gamang.
Kemudian Barraq memutar tubuh dan kembali ke dalam mobil mewahnya. Sejenak ia kembali menatap rumah yang cukup megah di hadapannya. Barraq terkejut saat pandangannya berpadu pada sosok yang tengah berdiri di balkon. Sebagian wajahnya tertutup cadar berwarna hitam.
Ingatan Barraq mengembara. Ingatannya kembali pada gadis yang hampir ia temui di dunia El Khasif Hospital beberapa hari lalu.
"Gadis itu yang ada di hospital saat itu. Ya, aku ingat. Mengapa ia ada di sini? Apakah ia Laila?Ah, sial....!" batin Barraq.
Matanya terpejam. Ada penyesalan yang menduduki hatinya.
"Ya, Tuhan....." ucap Barraq.
Tangannya terkepal dan memukul kemudi.
__ADS_1