LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 37. Perjalanan Laila


__ADS_3

Beberapa saat setelah Laila menghilang. Tepatnya hanya sepersekian detik saja. Laila sudah berdiri di ujung lorong yang terlihat panjang. Lorong yang diliputi warna putih karena memanglah terbuat dari cahaya. Dan pendarnya cukup menyilaukan mata. Laila tiada pilihan lain, selain memasuki lorong tersebut. Karena hanya lorong itulah satu-satunya tempat yang ada pada tempat tersebut. Laila menjadi takut.


"Dimana aku? Apakah aku benar-benar akan menghadap Tuhan saat ini? Apakah ini jalannya? Bagaimana jika salah?" ucap Laila.


Berdasar ingatan Laila, bahwa ia baru saja menghilang dari pandangan Mirza. Hal tersebut tentu saja setelah enam puluh hari kurang satu hari Laila mencari keadilan. Fikiran Laila benar-benar gamang. Ia terus menebak-nebak apa dan bagaimana yang akan menimpanya nanti.


"Bagaimana jika lorong ini salah...? Apa yang akan terjadi? Tuhan, tolong aku..." ucap Laila.


Laila diselimuti kegamangan ketika akan memulai langkah. Sekali lagi ini menilik lorong yang bak tak berujung itu. Mata Laila mengerjap sejenak sebagai reaksi atas pendar putih yang menyilaukan itu. Kemudian, bak ada kekuatan yang menariknya, akhirnya Laila memulai langkahnya.


Selangkah demi selangkah Laila mulai menyusuri lorong yang berpendar putih itu. Sekali lagi mata gadis cantik itu menilik sekitar. Nihil. Laila tetap tak menemukan apa pun. Semua terlihat serupa. Kecut perasaan Laila mulai menjalari aliran darahnya.Tak terbayangkan berada sendirian pada tempat antah berantah seperti saat ini. Sementara bermacam pertanyaan terus membayangi langkah Laila yang masih tampak ragu itu, Laila dikejutkan suara yang menyebut namanya.


"Laila...."


Dari warna suaranya, jelas jika ia seorang laki-laki. Mendengar itu spontan Laila menilik sepanjang lorong. Ia mencari asal suara tersebut. Nyata atau ilusi, Laila berusaha membuktikannya. Dan terbitlah senyum Laila saat mengetahui siapa si empunya suara.


"Kak Berry....?!" ucap Laila sumringah.


Hatinya sedikit terhibur dengan keberadaan Berry.


"Tentu. Siapa lagi jika bukan aku. Hehe...."


"Pakaian mu....?" ucap Laila.


Gadis cantik itu begitu pangling akan penampilan laki-laki yang sudah dianggapnya kakak itu. Laila menilik Berry dengan mengitarinya. Ia begitu penasaran akan penampilan laki-laki yang selalu membantunya itu, namun menghilang beberapa waktu ini.


"Kakak kemana saja? Mengapa pergi tanpa memberitahu ku?"


"Ada tugas yang harus aku lakukan..."


"Tugas?" ucap Laila penasaran.

__ADS_1


"Sesungguhnya aku adalah seorang penjaga arwah. Dan ini pakaian ku" bisik Berry.


"Penjaga arwah...?"


"Ya, Laila. Aku penjaga arwah mu. Aku menjaga setiap arwah yang tersesat atau memiliki perjanjian tertentu dari para pemburu hantu atau arwah"


"Darius...?" ucap Laila.


"Ya, seperti laki-laki bertumbuh kerempeng itu, Darius..."


Laila mengangguk. Fikirnya mencoba menghubungkan setiap peristiwa yang dialami dengan penuturan Berry barusan. Kemudian Laila menjadi mengerti mengapa Berry selalu ada di saat ia harus menghadapi Darius saat itu. Laila pun tersadar mengapa Berry dapat dengan mudah mengalahkan Darius, laki-laki pemburu Arwah beberapa waktu lalu. Senyum Laila mengembang. Matanya menatap Berry penuh perasaan.


"Terima kasih. Kak. Aku takkan pernah melupakan mu..."


"Tentu saja kau tidak boleh melupakan ku. Haha...."


"Dasar tengil...."


"Ups...!" ucap Berry.


"Ah, sudahlah. Yang terpenting selamat menikmati hidup mu yang baru. Aku harap kau berbahagia bersama orang-orang yang kau sayangi. Pergilah. Kau tidak boleh tertahan di lorong ini. Bisa membahayakan dirimu. Cepatlah, waktu mu hanya tersisa sedikit untuk mencapai ujung lorong ini" ucap Berry.


Sebelah tangannya mengibas sebagai syarat agar Laila pergi. Sementara wajahnya simpan ke arah lain. Hal tersebut Berry lakukan karena ia enggan melihat kepergian Laila.


Mendengar ucapan Berry, Laila pun berlalu tanpa ada tanya lagi. Kata-kata Berry tentang waktu yang tersisa sedikit membuat Laila mau tidak mau memacu langkah. Sebab dalam fikirannya kini ia tengah berpacu dengan waktu.


Tak lama kemudian, Laila merasa tubuhnya terhisap lebih jauh ke dalam lorong. Kian lama kiat cepat. Bak ada energi yang memerintahkan, tubuh Laila pun terus terhisap dengan kuat. Berasa terbang, Laila menyusuri lorong cahaya itu. Dan pada situasi tersebut, tentu saja gadis cantik itu tak mampu berbuat apa pun. Karena segala upaya untuk tetap bertahan telah gagal.


Laila terus terseret dalam pendar cahaya yang makin menyilaukan mata itu. Dan kepasrahan pun mulai membasahi hatinya.


"Selamat tinggal semuanya. Ayah, ibu. Terima kasih untuk segala kasih sayang dan pengorbanan kalian. Maaf aku belum dapat membalasnya. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan ayah dan ibu..." ucap Laila di tengah kepasrahannya.

__ADS_1


Mendadak seulas wajah muncul dalam ingatannya. Dan wajahnya menjadi sumringah, hingga ia menyunggingkan senyuman khasnya.


"Kak Mirza..." gumamnya.


Dalam senyumnya ia menikmati kenangan bersama laki-laki yang sejak dahulu sudah ia cintai itu, hingga ia rela melakukan apa pun demi membuatnya bahagia.


"Terima kasih sudah membalas segala rasa ku yang ada. Walau singkat, kasih sayang dan perhatian mu telah menggetarkan sukma ku. Aku berharap kau akan segera menemukan cinta sejati mu. Dan berbahagia karenanya. Sekali lagi terima kasih untuk segalanya..." fikir Laila.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Tak terasa Laila menangis. Bulir bening yang sejak awal sudah mengerubuti kedua matanya, kini benar-benar telah terjun bebas. Ucapannya yang bak kata perpisahan itu kian membuat haru sukmanya. Fikirnya benar-benar telah beranggapan bahwa saat ini adalah akhir dari semua perjalanan dan kisah hidupnya. Terlebih saat satu-satu kilasan peristiwa dalam hidup yang ia alami berseliweran di ingatan.


"Kenangan yang indah..." begitu fikir Laila.


Gadis cantik itu memejamkan matanya. Walau wajahnya terus terbasuh air mata yang terurai, namun bibirnya lagi-lagi menyinggungnya senyuman. Laila menikmati perjalanannya itu dengan penuh kepasrahan sambil membawa kenangan indah bersama orang-orang yang ia sayangi.


Bersamaan dengan itu, tubuh Laila kian cepat terhisap dalam lorong berwarna putih itu. Entah sudah berapa lama. Namun cukuplah bagi Laila untuk melihat semua kenangan indah dalam hidupnya.


"Aaaaaaa.......!!!!!" teriak Laila.


Cahaya itu bak menambah energi untuk membawa serta tubuh Laila. Sehingga tak ayal lagi tubuh Laila pun terbawa dengan cepat hingga cahaya biru menjelang.


"Cahaya biru? Apakah itu ujung lorong ini? Tempat apakah itu?" batin Laila di sela teriakkan nya yang panjang.


Kemudian tak sampai sepersekian detik, Laila pun bak di lontarkan ke dalam cahaya biru itu. Dan cahaya biru itu pun menelan tubuh Laila.


ZLUPH....!!

__ADS_1


Mendadak suasana kembali hening. Laila benar-benar menghilang. Berdiri Berry di ujung lorong. Matanya menatap cahaya biru itu.


"Selamat jalan saudariku. Kau akan berbahagia. Tugasku mendampingi mu telah usai. Semoga kita akan dipertemukan kembali di kehidupan nanti. Dan saat itu kau akan memeluk ku erat. Karena aku sungguhlah kakak mu...."


__ADS_2