
Laila berdiri di sudut ruangan. Matanya menilik sekitar. Satu persatu ia tilik. Kemudian matanya mendadak dikerubuti bulir bening saat matanya bertemu sosok yang selama ini ia sayangi dan rundu. Laki-laki paruh baya itu begitu berkharisma. Dia adalah Wijoyo Hadiningrat. Seorang petinggi di Badan Intelijen Negara.
"Ayah...." ucapnya dengan bibir bergetar.
Rindu Laila membuncah. Rasanya ia ingin langsung berlari memeluk laki-laki yang amat ia sayangi itu. Namun Laila buru-buru mengurungkan niatnya itu. Selain itu, Laila pun segera menyusut bulir bening yang hampir tumpah itu. Kini perhatian Laila tertuju pada pembacaan dakwaan untuk ketiga pelaku, Bryan, Karna dan Alex.
"Mengapa dakwaannya penganiayaan, dan pelecehan? Mengapa tidak disebutkan pembunuhan sama sekali?" ucap Laila.
Gestur tubuh Laila mengisyaratkan kegamangan. Dalam hatinya ada tanya yang mulai berseliweran.Pun demikian, Laila tak berani untuk membuat spekulasi. Tak lama kemudian kaki Laila hampir saja melangkah menuju Wijoyo Hadiningrat. Laila tak sanggup menahan kerinduan. Langkah Laila menuju ayahnya benar-tidaknya terbuka, namun lagi-lagi Laila mengurungkannya. Hal tersebut karena lagi-lagi perhatiannya telah teralihkan.
Laila langsung membulatkan matanya dengan sempurna. Hatinya beriak dipenuhi amarah. Laila tak dapat menerima penyangkalan yang dilakukan oleh pengacara dan ketiga pelaku.
Geram dengan situasi yang ada, Laila pun mendekati ketiga pelaku yang tengah duduk di kursi pesakitan. Laila menampakkan wujudnya di hadapan ketiganya. Pucat pasi wajah ketiganya saat mendapati kehadiran Laila. Ketiganya saling berpelukan dan menyembunyikan tatapan.
Riuh suara mengisi udara ruang peradilan. Semua perhatian tertuju pada ketiga pelaku.
"Katakan yang sebenarnya. Jangan berdusta...!" ucap Laila.
Kata yang hanya dapat di dengar oleh ketiga pelaku dan seorang laki-laki tampan berpakaian non formal. Dia adalah perwita Attar.
"Iy-iya...kami tidak berdusta" ucap ketiganya hampir bersamaan.
"Apa kalian ingin seumur hidup, ku hantui?!" ucap Laila berang.
"Tidak....!" ucap ketiganya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Harap tenang...!" ucap hakim.
"Jangan jadi pendusta. Camkan itu...!" ucap Laila.
"Apakah ketiga tersangka baik-baik saja?" tanya hakim.
"Kalian baik-baik saja...! Katakan itu!" ucap Laila dengan mata yang membulat sempurna.
"Ya. Kami baik-baik saja..." ucap Bryan, Karna dan Alex hampir bersamaan.
__ADS_1
"Kalian yakin...?" bisik pengacara.
"Yakin...." ucap ketiganya lagi dengan wajah pasi.
Tak menghabiskan separuh dupa ketiganya sudah tenang kembali. Walau sesekali ketiganya menatap sudut ruangan dimana Laila berada.
"Saya mengakuinya..." ucap Alex terbata dan nyaris tak terdengar.
"Apa! Bisa ulangi...!" ucap hakim.
"Bi-bisa, pak hakim. Saya bersama dua teman saya telah melakukan semua yang didakwakan" ucap Alex.
"Hadeuh...." ucap pengacara kecewa.
"Wah...."
Riuh suara mengisi udara saat itu saat pernyataan Alex terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
"Jelaskan urutan peristiwa nya" ucap hakim lagi.
Alex, Bryan dan Karna pun bergantian menjelaskan kronologi peristiwa pada bulan lalu itu. Gemuruh dada Wijoyo Hadiningrat menyimak setiap pernyataan ketiga pelaku. Tangannya terkepal hebat mendengar perlakuan ketiga pelaku terhadap putri kesayangannya. Terlebih saat mendengar ketiganya menceritakan bagaimana tubuh Laila berada di dalam jurang.
"Laknat...! Terkutuk kalian...!" ucap Wijoyo Hadiningrat.
Wijoyo Hadiningrat kini berdiri tegak. Tubuh tegapnya tak sanggup lagi hanya terpaku diam. Mendengar ucapan Wijoyo, Bryan, Karna, dan Alex langsung berlari dan berlutut dikaki Wijoyo. Ketiganya meminta pengampunan.
"Ampuni kami, Tuan. Ampuni..." ucap ketiganya hampir bersamaan.
Sebuah pengakuan yang membuat seisi ruangan tercekat dalam diam. Terlebih saat ketiganya meraung dalam tangisan.
"Aku adalah seorang ayah. Hanya seorang ayah tak lebih. Dan aku adalah ayah yang tak beruntung. Semua karena ulah kalian...!' ucap Wijoyo dengan geram.
Melihat kondisi Wijoyo Laila menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam. Hatinya begitu pilu. Laila tak sanggup menyaksikan kesedihan ayahnya itu. , Laila pun pergi dari tempat persidangan. Ia pergi sejauh mungkin. Langkah kakinya sudah tak terukur lagi. Sejauh apa Laila berlari, ia tak peduli. Yang pasti ia ingin kesedihan ayahnya tak tampak lagi.
Laila termenung. Wajahnya sudah basah dibasuh air mata. Gadis cantik itu tengah hanyut dalam Kesedihan yang dalam. Sesungguhnya ia tak menyesali apa yang telah ia lakukan untuk Barraq, karena itu sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk menegakkan keadilan. Namun saat melihat kesedihan ayahnya, keteguhan Laila sedikit goyah.
__ADS_1
"Maafkan Laila, ayah..." ucap Laila pilu.
"Akh....! Mengapa suara itu terdengar kembali ?!" keluh Laila.
Kedua tangannya menutup telinga dengan erat. Laila berusaha menghilangkan suara bip bip yang begitu mengganggu itu. Namun sekuat apa pun Laila berusaha, suara itu tetap bersarang di dalam kepalanya. Sepertinya suara bip bip itu kian melekat dalam kepalanya.
"Akh....!" keluh Laila berulangkali.
"Pergi...! Pergi...!" ucap Laila lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu diwaktu yang sama, pada tempat yang berbeda. Tepatnya di El Khasif Hospital. Dokter dan beberapa perawat berhamburan. Langakhnya begitu cepat menuju ruang perawatan VVIP. Hal tersebut terjadi setelah bel darurat pasien menyala.
Sementara itu di dalam ruangan seorang perempuan paruh baya tengah berdiri. Matanya menatap penuh perasaan pada seorang gadis yang tengah terbaring.
Tangan perempuan yang kecantikannya tak lekang dimakan usia itu tampak memegangi tubuh gadis yang tengah bergetar hebat. Di tubuh gadis itu ada banyak peralatan medis yang menempel. Peralatan yang digunakan sebagai penunjang hidup sang gadis.
"Bagaimana putri saya, dokter..?" ucap perempuan itu.
"Semoga segera tenang kembali setelah diberi suntikan penenang. Nyonya Arini jangan khawatir..." ucap dokter Faaz.
"Sampai kapan ia akan menderita seperti ini. Sudah dua bulan kurang lima hari, tapi belum ada tanda-tanda akan pulih..." ucap perempuan itu.
Wajahnya sudah basah dibasuh air mata.
"Kami akan terus berusaha semaksimal mungkin. Tiada maksud mendahului kehendak Tuhan, tapi selayaknya manusia kita wajib berusaha..." ucap dokter Faaz.
Arini mengangguk lesu. Tiada kata yang terucap selain derai air mata yang kian memanjang. Ditatapnya wajah putri semata wayangnya itu. Wajah yang dahulu cantik mulus, kini penuh luka lebam dan sayatan. Walau sudah berangsur baik, tapi tentu akan meninggalkan bekas.
Arini mengusap lembut pucuk kepala gadis itu.
"Sayang...bangunlah, ini mama nak. Bangunlah..." ucap Arini di sela isaknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari kian di penghujung. Dan malam pasti datang menjemput. Di tengah temaramnya langit, Arini tengah membasuh tubuh anak gadis kesayangannya itu. Perlahan dan tentu saja penuh kasih sayang. Bibirnya tiada henti bersenandung kecil. Entah lagu apa yang disenandungkan, tiada yang tahu. Dan sesekali Arini berujar seakan tengah berbincang dengan seseorang.
"Sayang, ini mama. Bangunlah. Ada banyak hal yang akan kita lakukan. Jadi cepatlah bangun..."
Sesaat bulir bening kembali mengerubuti matanya, namun buru-buru ia susut. Arini tak ingin gadis tersayangnya itu jadi turut bersedih.
__ADS_1
"Sayang...Maafkan mama ya, nak" ucap Arini penuh perasaan.