LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 54. Bertemu Lagi


__ADS_3

Yoga berdiri di dekat meja Laila. Ia tengah mengamati jemari gadis cantik itu yang lincah menari di atas keyboard. Sejak awal, Yoga. memang terkesan dengan kecantikan sekaligus kemahiran Laila dalam menyelesaikan setiap pekerjaan yang diberikan. Dan hari ini adalah genap minggu ketiga Laila bekerja di El Khasif Group.


"Jam dua kita meeting dengan bos besar ya..." ucap Yoga kemudian.


"Meeting? Saya, Pak? Bukankah biasanya dengan pak Dikta, Pak?"


"Dikta ikut. Laila mendampingi ya. Pastikan segala materi meeting siap ya. Laila kordinasi dengan Dikta dan Prima ya..." ucap Yoga.


Jemarinya mengetuk-ngetuk meja Laila. Sementara matanya menatap Laila sambil mengurai senyum. Beberapa pegawai yang menangkap polah Yoga tersenyum penuh makna. Mungkin mereka menganggapnya sebuah kewajaran terlebih Yoga adalah satu-satunya pria lajang di divisi tersebut.


"Ini cowok matanya ga sudah-sudah menatapku. Kamu kalah tampan, say. Aku tak tertarik. Maaf ya. Hehe..." batin Laila.


Pukul dua kurang sepuluh menit. Langkah Laila kembali berpacu bersama Yoga, Dikta dan Prima. Keempatnya menuju ruang meeting utama. Laila memegang dadanya. Ia merasakan degup jantungnya bertalu bak genderang dipalu. Berulangkali ia menghela nafas demi mendamaikan gejolak dalam dadanya.


"Ah, mengapa jantungku seperti ini? Apakah akan ada yang terjadi? Waduh...." batin Laila.


Laila telah berdiri di pintu besar berukir. Seorang pegawai membukakan pintunya. Dan saat kakinya melangkah memasuki ruangan, debaran itu kian hebat. Bahkan dinginnya ruangan berpendingin itu tak mampu mengusir peluh yang mengembun di dahi.


"Laila gugup ya..." tanya Dikta.


Dikta yang duduk di sebelah Laila ternyata memperhatikan perubahan demi perubahan yang ada pada Laila. Mendapat pertanyaan tersebut, Laila mengangguk kecil.


"Jangan khawatir kita bukan mau berperang kok. Hihi...."


"Ish, pak Dikta ini loh. Ada-ada saja"


"Dikta, bahan presentasi sudah dipersiapkan kan?" tanya Yoga.


"Sudah, Pak..."


"Kamu teliti lagi, jangan sampai ada yang terlewat..."


"Baik, Pak..."


Semua mata tertuju saat seorang laki-laki tampan masuk ruangan. Laki-laki itu duduk di kursi utama. Ya, karena dia adalah pimpinan utama sekaligus pemilik El Khasif Group.


"Kak Barraq...." gumam Laila.


Jantung Laila berdegup hebat sejak laki-laki tampan itu datang. Berulangkali kali Laila menghela nafas. Ia tengah berusaha mendamaikan degup jantungnya itu.


Ingin rasanya Laila berlari memeluknya saat itu. Ia ingin bercerita bahwa ia sudah mengingat semuanya. Termasuk kisah mereka saat Laila menjadi arwah gentayangan. Atau sekedar menyapanya, untuk mengurangi kangen yang membuncah itu. Laila menggigit bibirnya. Jemarinya meremas ujung kemejanya.

__ADS_1


Melihat itu, Dikta yang berada di sebelah Laila tersenyum. Dikta menyinggung kan bahunya ke bahu Laila.


"Segitunya melihat bos besar kita. Hihi..." bisik Dikta cekikikan.


"Apaan sih, Pak..."


"Bukan hanya kamu yang begitu. Semua gadis yang melihat bos besar juga akan berekspresi seperti mu tadi..."


"Oh, begitu...." ucap Laila menyimpan malunya.


Suasana menjadi senyap, saat laki-laki tampan itu membuka suara.


"Selamat siang. Kita mulai saja agenda kita hari ini. Maaf jika saya mengumpulkan seluruh team. Jika biasanya hanya dalam bentuk file, namun kali ini berbeda. Mengapa? Karena saya ingin anniversary ke lima puluh tahun ini benar-benar berbeda. Karena itu saya minta divisi HE untuk memaparkan projects yang telah disiapkan..." ucap Omar Barraq El Khasif.


Katanya biasa, namun karena disampaikan oleh seorang Oemar Barraq El Khasif, maka terasa berbeda. Begitu berkharisma. Mampu melelahkan hati siapa saja, terutama kaum hawa.


Pun demikian dengan Laila. Gadis cantik yang tengah memperjuangkan cintanya itu, terpaku. Matanya menatap Barraq dengan senyum yang tiada henti menghias wajahnya.


Menatapi sosok Barraq, maka berseliweran lah saat-saat kebersamaan keduanya pada ingatan Laila. Uraian kata yang disampaikan Yoga di depan pun tak mampu mengusik kenangan Laila.


Berulang kali Laila bergumam. Satu kata yang ia gumam kan itu adalah nama Oemar Barraq. Lirih sekali, hingga Dikta yang tengah serius menyimak pemaparan Yoga pun tak menyadarinya. Dikta lebih fokus pada laptop untuk menayangkan beberapa s**lide projects anniversary.


"Baik. Bagaimana tanggapan dari semua divisi terkait konsep yang di tawarkan team HE? Oya, saya minta soft copy nya, pak Yoga..." ucap Barraq dengan suara khasnya.


Tangannya berisyarat kepada Dikta untuk segera mengirimkan data yang dimaksud bos besarnya itu. Dikta pun mengangguk mantap mengiyakan.


Namun beberapa saat kemudian, Dikta mulai mengeluh. Kiriman file yang diinginkan Barraq gagal terkirim. Bukan hanya sekali, namun dua, tiga bahkan empat kali. Peluh mulai mengembun walau ruangan sedingin puncak Himalaya.


"Laila bantu aku..." pinta Dikta ditengah kecemasannya.


Laila diam. Ia tak mendengar permintaan Dikta tersebut. Kerena hanya raganya saja yang tengah berada di tempat itu. Sementara sukmanya tengah menyusuri kembali kenangannya saat bersama Barraq.


"Laila..." bisik Dikta sambil mencubit lengan Laila.


Gadis cantik itu terkesiap. Sebelah tangannya mengusap bekas cubitan Dikta.


"Ish, cowok kok nyubit sih..." ucap Laila sedikit keras.


Sesaat perhatian seisi ruangan pun tertuju padanya. Dan hal tersebut membuat Laila kikuk.


"Maaf...Maaf" ucap Laila menyimpan malunya.

__ADS_1


"Rasakan..." bisik Dikta.


Tangannya masih mengotak-atik laptopnya.


"Dikta...belum dikirim juga? Ditunggu pak Barraq..." bisik Yoga sedikit kesal yang membuat Yoga kian gugup.


"Pake flashdisk saja, Pak...."


"Ah, ya..."


"Ini pakai punya saya..."


Dikta pun langsung meraih flashdisk yang di sodorkan Laila. Tangan Dikta cepat memindahkan file yang dimaksud. Ia tak ingin jika bos besarnya itu ngamuk bak singa lapar.


"Done..." ucap Dikta lega.


Bersamaan dengan itu Laila langsung menyambar flashdisk yang baru saja di cabut. Laila melangkah cepat menuju meja dimana Barraq berada. Entah apa yang difikirkan Laila saat itu. Ia melangkah begitu cepat, bak kilat menyambar.


Sembari melangkah, gadis cantik itu terus merasai degup jantungnya yang bertalu. Kian dekat, kian hebat. Mata Laila tak berkedip menatap Barraq yang tengah fokus membubuhkan tanda tangan pada beberapa file.


Saat Laila berdiri di sebelah Barraq, seakan ada hawa dingin yang menerpa wajahnya sekaligus menerbangkan ujung rambutnya. Laila terdiam. Gadis cantik itu mencari sela di antara kesibukan Barraq.


"Maaf, Pak. File untuk projects anniversary, siap..." ucap Laila sambil menyimpan rasa yang membuncah.


Tangan Laila menyodorkan flashdisk. Kian berdegup hebat jantung Laila. Di sudut hatinya, rasa kangen itu kian memberontak.


CELETAK...


Barraq meletakkan penanya. Wajahnya terangkat. Matanya menatap dingin Laila yang berdiri bak patung. Barraq menyandarkan tubuh pada kursi kebesarannya. Kemudian tanpa ba-bi-bu lagi, Barraq meraih flashdisk dari tangan Laila.


Cepat sekali Barraq sudah memasukkan flashdisk itu ke laptop miliknya. Namun tidak segera ia buka. Matanya kembali menatap Laila.


"Aku tidak suka ditunggui. Kembalilah ke tempat duduk mu..." ucap Barraq dingin.


Laila terkesiap. Ia tak menduga akan mendapat pernyataan seperti itu dari Barraq.


"I-iya, Pak. Maaf. Tapi flashdisk itu milik pribadi saya..."


"Aku tidak akan mengambilnya. Jangan khawatir...!" ucap Barraq dengan suara sedikit tinggi.


Dan hal tersebut menjadi perhatian sesaat pegawai yang ada di ruang meeting. Laila menjadi rikuh ada pada situasi tersebut.

__ADS_1


"Ba-baik, Pak. Maaf...." ucap Laila sambil berlalu cepat.


"Sial....!" umpat Laila dalam hati.


__ADS_2