LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 39. Pengakuan Attar


__ADS_3

Pagi hari. Matahari baru saja beranjak dari peraduannya. Semburat merahnya saja baru mewarnai kaki langit di ufuk timur. Sementara itu, angin berhembus membawa hawa dingin. Entah datangnya darimana. Sekonyong-konyong hembusannya sukses meliukkan pepohonan dan atau dahan bunga di taman.


Laila duduk pada kursi roda di taman belakang rumah. Di sebelahnya berdiri seorang perawat yang sesekali membetulkan selimut pada tubuh Laila. Sementara Laila sendiri tengah menatap seluas taman. Matanya menilik kuncup-kuncup bunga yang mulai bermekaran. Pun demikian, sekali waktu ujung tatapannya tak terukur. Entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Yang pasti apa yang tengah ia lakukan kini telah menjadi rutinitasnya sejak enam bulan lalu sesaat setelah tersadar dari koma.


Sehelai kain berwarna putih melekat di kepala Laila. Ujung kainnya menjuntai dan menutupi sebagian wajahnya yang rusak. Luka dari peristiwa delapan bulan lalu telah meninggalkan bekas berupa parutan pada wajah dan beberapa bagian tubuh lainnya. Dan hal tersebut membuat Laila lebih banyak menghabiskan waktu nya di rumah sambil menunggu waktu pembedahan kulit mendatang.


Pun demikian, tiada gurat sedih ataupun penyesalan yang berlebihan di sana. Yang ada hanya senyum dan ketulusan. Laila sadar, apa yang terjadi padanya adalah resiko yang harus ia terima dalam upaya menegakkan keadilan, seperti yang ayahnya ajarkan.


Senyum Laila mengembang. Terlebih saat menyaksikan sebuah berita melalui ponselnya. Berita tentang Oemar Barraq El Khasif yang telah kembali mendulang popularitas dan kesuksesan. Melihat itu, mendadak bulir bening mengerubuti kedua matanya. Bukan sedih, ini air mata bahagia buah dari usaha yang tidak sia-sia. Walau harga yang harus dibayar begitu mahal, namun bibirnya selalu berucap penuh kesyukuran. Ya, Flashdisk yang ia berikan kepada Barraq benar-benar telah membuka jalan bagi putra mahkota kedua keluarga El Khasif untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan. Sekaligus membuktikan betapa sakit jiwa nya Ethan El Khasif.


"Ndok..." sapa Wijoyo.


Tangannya mengusap bahu anak gadis kesayangannya itu. Laki-laki paruh baya itu berjongkok di hadapan Laila. Kedua tangannya menggenggam erat jemari Laila. Sementara matanya menatap jauh ke dalam manik mata putri semata wayangnya itu. Entah apa yang tengah ia cari pada putri kesayangannya itu.


Mendapat perlakuan tersebut, Laila tersenyum. Tangannya buru--buru menutup ponsel yang masih berpendar dan memberikannya kepada perawat di sebelahnya.


"Ayah mempunyai tamu untuk mu...." ucap Wijoyo hati-hati.


"Siapa, Yah...?" ucap Laila.


Sebelah tangan Wijoyo berisyarat. Tak lama seorang laki-laki bertubuh tegap datang. Ia langsung duduk berjongkok di sebelah Wijoyo. Matanya menatap wajah Laila yang tertutup kain sambil tersenyum.


"Apa kabar, Laila...?" sapa laki-laki itu ramah.


Laila langsung mengalihkan perhatiannya. Matanya menilik laki-laki berwajah tampan di hadapannya. Laki-laki yang tengah tersenyum ramah kepadanya bak telah lama mengenalnya. Laila mengerutkan dahi. Fikirannya melambung entah kemana. Laila tengah mencoba menautkan beberapa keping ingatan yang menuju pada sosok laki-laki tampan itu. Namun sekuat apa pun upaya, Laila tak menemukan apa pun yang dapat dijadikan petunjuk atas identitas laki-laki di hadapannya itu.


"Mengapa aku merasa tak asing dengan wajahnya? Apakah sebelumnya aku pernah bertemu dengannya?" batin Laila.


"Dia Attar. Teman ayah. Dia yang telah mengungkap kasus mu" bisik Wijoyo.


"Oya....Kak Attar" seru Laila.

__ADS_1


Ingatannya seakan dihentak ribuan volt listrik, sehingga ia mengingat siapa laki-laki yang tengah berjongkok itu.


"Kabar baik, Kak..." ucap Laila kemudian sambil mengurai senyum.


"Laila benar-benar tidak mengingat apa pun. Terlebih tentang perjalanannya saat koma dengan wujud arwah" batin Attar.


"Kok diam-diaman begitu? Berbincang lah. Apa karena ada ayah? Well kalau begitu Ayah akan ke dalam dahulu. Kebetulan memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan..."


"Ok, ayah..." ucap Laila.


Nada bicaranya benar-benar ceria. Tiada beban sedikit pun. Begitu ringan dan mengalir begitu saja. Melihat itu, Attar tersenyum. Hatinya berdenyut. Ingin rasanya ia memeluk gadis yang menurutnya luar biasa itu. Pun demikian, Attar hanya mampu menatapnya saja sambil menimbang segala rasa yang kian membuncah.


"Syukur-syukur kau bisa menerima Attar sebagai calon suami mu..." bisik Wijoyo.


"Ayah...!" ucap Laila kesal.


Hatinya melonjak. Ia tak ingin hidupnya diatur sedemikian rupa.


Tangannya menepuk bahu Attar sesaat sebelum berlalu.


"Siap, Ndan..." ucap Attar dengan sikap tubuh tegak.


Sepeninggalan Wijoyo, mendadak suasana jadi rikuh. Tiada kata yang terucap. Kedua insan itu tengah larut dalam fikirannya masing-masing. Sejenak keduanya terlihat gamang. Keduanya berasa sulit menemukan kata untuk memulai percakapan.


Kemudian Attar menarik sebuah kursi ke hadapan Laila. Ia pun duduk tenang sambil sesekali melempar tatapannya pada Laila. Attar menghela nafas. Begitu pun dengan Laila, walau tiada rasa dalam hatinya, namun tetap saja ia merasa rikuh. Terlebih saat ucapan ayahnya kembali terngiang.


"Kak Attar tidak takut atau jijik melihat wajah ku?" ucap Laila sekenanya saja.


Sebab ini hanyalah pertanyaan pancingan untuk mencairkan suasana.


"Tentu saja tidak. Sebab cantik mu pun sudah ku ketahui"

__ADS_1


"Gombal...."


"Kapan pembedahan nya?" tanya Attar.


"Dua bulan lagi..."


"Ow, aku harap semua berjalan lancar"


"Aamiin..."


"Oya, apa kau tidak ingin bertemu dengan Oemar Barraq El Khasif? Laki-laki yang telah kau bantu itu. Sekaligus laki-laki yang kau cintai itu?"


"Urusan ku apa bertemu dengan nya? Dan darimana kakak tahu jika aku mencintainya? Hati-hati praduga bisa menyesatkan..."


"Ehmm...Laila sepertinya benar-benar lupa tentang Barraq. Ingatannya sebatas bahwa ia pernah membantunya saja" batin Attar.


"Hah...benar juga. Kalau pun bertemu, mestinya dialah yang harus berusaha. Sekaligus berucap terima kasih. Karena kau adalah pahlawan nya. Bukan, begitu?"


"Entahlah, Kak. Aku tidak merasa demikian. Aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai manusia. Oya, terima kasih juga kakak sudah membantu menemukan pelakunya"


"Ough...bukan aku, La. Tapi kau. Kau yang telah menemukannya. Bahkan membuat ketiganya mengakui segalanya " batin Attar.


"Em, bagaimana jika Oemar Barraq El Khasif ingin menemui mu?"


"Jangan, Kak...!"


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin dikasihani olehnya. Dan bagi ku ucapan terima kasih nya di media sudah cukup. Aku tidak ingin lebih. Apalagi bertemu..."


Mata Laila dikerubuti bulir bening. Tapi sekuatnya ia berusaha menutupinya. Ia tidak ingin dibilang cengeng atau manja oleh Attar.

__ADS_1


"Aku tahu perasaan mu, La. Dengan kondisi mu saat ini, senyum mu menyimpan luka dan rasa tak percaya diri. Ah, Laila Ratri Hadiningrat. Saat kau menjadi arwah, kau mungkin milik Barraq. Tapi di sini, kau akan segera menjadi milik ku. Hanya milik ku. Itu tekad ku..." batin Attar.


__ADS_2