
"Astaga..." ucap Barraq.
Tubuhnya belum lagi beranjak dari gelungan selimut. Tangannya memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
KREEEK...!
Pintu berderit halus. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di ambang pintu. Tangannya mencencang beberapa file. Matanya menilik Barraq sedikit kesal.
Mendapati sikap laki-laki paruh baya itu, Barraq sedikit membetulkan posisi tubuhnya.
"Papa kira kau sudah berubah lebih dewasa. Tapi nyatanya jauh panggang dari api" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Emran El Khasif, ayah dari Barraq.
Mendengar itu Barraq menatap kacau sejenak laki-laki yang sudah selalu jadi alarm dalam hidupnya itu sejak kematian ibunya. Tangan Barraq menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian Barraq menurunkan kakinya dan dududk di bibir tempat tidurnya. Tangannya merapikan rambut hitam panjangnya yang berantakan dengan mengikatnya.
"Pa..." ucap Barraq.
Kata Barraq bak isyarat bagi Emran bahwa anak laki-laki keduanya itu siap untuk diajak bicara.
"Bantulah kakak mu, Ethan untuk membesarkan perusahaan kita. Berhentilah jadi pecundang...!" ucap Emran.
Begitu tegas dan penuh penekanan di setiap katanya. Bahkan ia melempar beberapa file yang sejak tadi ke wajah Barraq. Pun demikian, Barraq hanya diam dan bersikap acuh.
"Anak tak tahu diri....! Mengapa kau selalu membuat malu keluarga. Kau lihat artikel yang ada di setiap file itu. Semua berisi informasi tentang mu. Bagaimana kau menghabiskan hari-hari mu. Dan bagaimana kau membuat malu keluarga ini...!! Tak satu pun bisnis yang kau jalankan berhasil. Satu-satunya yang masih membuat mu di dengar adalah karena kebesaran nama Emran El Khasif...." ucap Emran.
Suara Emran di Liputi nada penekanan. Amarahnya selalu memuncak setiap berbicara dengan Barraq. Darahnya mendidih setiap menilik informasi tentang anak keduanya itu.
"Bicaralah, Barraq...! Apa yang harus papa lakukan untuk membuat mu sadar? Apa harus ku coret dari daftar keluarga?!" ucap Barraq berapi-api penuh amarah.
Jelas jika Emran benar-benar tengah diliputi amarah yang bersumber pada kekecewaan terhadap setiap polah Barraq yang menurutnya tak menguntungkan hidup dan nama baik keluarga.
Sementara itu, Barraq sendiri hanya diam. Rupanya ia sudah terbiasa diceramahi seperti itu. Dan bisa jadi bak menikmati sarapan di waktu pagi atau santap siang dan malam. Barraq hanya sesekali menatap Emran yang tengah bersungut-sungut itu.
"Bicaralah, Barraq. Atau paling tidak berusaha untuk berhenti menjadi aib keluarga, Barraq..." ucap Emran sesaat sebelum meninggalkan Barraq.
Langkah kaki Emran menyisakan rasa yang cukup menakutkan. Begitu menurut yang mendapatinya terlebih ketika menyaksikan bagaimana mimik wajahnya saat ini.
Barraq memunguti lembaran artikel dsn membacanya sejenak.
"Sampah....!" ucapnya sambil melemparkan file berisi artikel-artikel tersebut.
"Hei...apa lagi yang sudah adik ku ini lakukan hingga singa yang tertidur pulas pun terbangun?" ucap Ethan yang langsung membekap tubuh Barraq dengan erat.
"Kak...Apaan sih. Berat tahu..."
"Ow, berat ya. Berarti kemampuan tubuh mu telah hilang"
"Jangan memancing ku, Kak..." ucap Barraq.
Kali ini Barraq tidak tinggal diam. Ia berusaha terlepas dari dekapan Ethan. Bahkan kini ia membalas Ethan dengan menimpa tubuh kakak laki-lakinya itu. Dan terjadilah pergulatan kakak beradik itu. Saling timpa. Saling tindih. Saling mengeluarkan kemampuan dan kekuatan.
Begitulah kelakukan kakak-beradik itu di waktu-waktu kebersamaannya pagi ini. Polah yang sudah hampir tak pernah dilakukan lagi beberapa tahun terakhir ini. Terlebih saat Ethan menjadi CEO salah satu anak perusahaan besutan El Khasif Group. Dan pagi ini polah itu berulang lagi setelah sekian lama.
Nafas keduanya sudah payah. Keduanya rebah pada lantai berwarna putih yang berbau wangi itu. Ada tawa yang menghiasi diantara pergulatan kakak-beradik itu.
"Bi...." ucap Ethan (Bi \= B, panggilan Barraq yang merupakan inisial nama)
"Tidak perlu menghasut ku untuk memimpin perusahaan keluarga kita. Aku tak mau, I" ucap Barraq. (I \= E, inisial dari nama Ethan)
"Jangan Ge Er. Aku tak akan meminta mu melakukan itu.."
"Lalu untuk apa kau melakukan lagi tingkah kekanakan ini bersama ku?"
"Untuk apa kata mu?!" ucap Ethan.
Tangannya kembali meraih bahu dan mendekapnya. Dan hal tersebut segera ditepis Barraq.
"Bi, aku hanya ingin memastikan keadaan mu, adik ku. Aku tahu banyak hal yang kau alami" ucap Ethan sambil menepuk bahu adik laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Sekaligus memastikan bahwa kau tidak akan memiliki satu pun perusahaan yang ada. Kenapa? Karena semua adalah milik ku...!" batin Ethan.
Ada seringai yang menghiasi sudut bibirnya saat.
"Aiiish...dasar penjahat. Lain di mulut lain di hati. Jangan percaya kakak mu Barraq. Dia bermuka dua. Cih...." ucap Laila yang menyaksikan kedua laki-laki tampan itu dari alamnya.
"Ough...kasihan sekali, Barraq. Hidup mi di khianati saudara mu sendiri" ucap Laila lagi.
Ada iba yang mengisi relung hati Laila. Ia menatap kedua laki-laki berwajah tampan itu bergantian. Ketampanan yang tak dapat tak diindahkan. Ketampanan yang selalu membuat gandrung setiap perempuan. Terlebih Ethan. Selain tampan, Ethan bak magnet yang akan menarik banyak kaum hawa karena kedudukan dan kekayaannya.
Sementara Barraq hanya sebatas ketampanan dan nama El Khasif yang melekat padanya. Selebihnya hanya berupa aib bagi keluarga dan dipandang sebagai pecundang karena ketidakmampuannya mengurus perusahaan milik El Khasif Group.
"Wait...apa aku kerjai saja si muka dua itu ya. Hihi....pasti seru" ucap Laila.
Terbit sifat jail Laila. Ia memulai dengan menggerakkan selimut di dekat Ethan dan menutupkannya pada wajah Ethan. Laki-laki itu terkesiap untuk kemudian tertawa kecil.
"Ow...berani kau mengerjai kakak mu ini ya...?"
"Apaan sih, Kak..."
"Selimut ini menutupi ku barusan..."
"Mungkin angin yang melakukannya. Tuh pintu balkon terbuka lebar" ucap Barraq.
Ethan mengangguk. Matanya menatap selimut putih di dekatnya.
"Mungkin, bisa jadi..."
"Hihi....rasakan itu" ucap Laila.
Kemudian Laila kembali berulah. Ia meniup tengkuk laki-laki tampan itu.
"Mengapa ada hawa dingin di tengkuk ku. Angin dari jendela kah? Ah, mungkin saja. Atau...benar kata Diman, ada hantu di rumah ini..." batin Ethan sambil mengusap tengkuknya.
"Hihihi...." tawa Laila saat melihat respon Ethan atas polahnya itu.
"Eits....!" ucap Ethan.
Ethan terkesiap. Bahkan ia melonjak. Tubuh kekarnya tak mampu menyembunyikan ketakutannya. Ethan memegang erat lengan adik laki-lakinya itu.
"Apaan sih, Kak...?!" ucap Barraq sambil menepis tubuh Ethan.
"Bi...kertas itu melayang" ucap Ethan.
Matanya mengarah pada kertas yang semula melayang dsn kini telah kembali seperti semula saat tatapan Barraq mengikuti arahan Ethan.
"CEO penakut. Ga cocok, Kakak. Dan lagi mana ada kertas melayang. Kalau pun ya, pasti karena tertiup angin. Norak...."
"Heeei....!" ucap Ethan kesal karena ucapan Barraq.
Barraq tertawa seru. Tubuhnya terguncang karena gelak nya itu. Apa yang di rasa Barraq, seperti itu pula dengan Laila. Gadis cantik yang berbentuk arwah itu tertawa. Semua karena reaksi berlebih dari Ethan. Laila tak menyangka jika sosok tampan seperti Ethan ternyata sosok yang penakut.
"Sungguh aku melihatnya, Bi....Aku yakin bukan angin,Bi. Bisa saja itu hantu yang melakukan. Hiiii....." ucap Ethan.
Tangannya meraih lembar kertas yang semula melayang.
"Ah, sudahlah kak. Keluarlah dari kamar ku. Aku masih ingin tidur..." ucap Barraq sambil mendorong kakak laki-lakinya itu keluar kamar.
"Ok...ok...." ucap Ethan sambil melangkah terpaksa karena di dorong Barraq.
Sementara kakinya melangkah, Ethan terus menatap dimana kertas itu berada.
"Ayolah, Kak...." ucap Barraq.
Lagi-lagi Barraq mendorong kuat tubuh Ethan hingga sempurna di luar kamarnya.
BRUKK....!
__ADS_1
Barraq menutup keras pintu besar berukir itu. Ia menghela nafas panjang untuk kemudian memutar matanya ke setiap sudut kamar yang luas itu.
"Ada-ada saja. Hantu di zaman modern. Tak mungkin ada..." ucap Barraq sambil menghempaskan tubuh pada kasur nan empuk itu.
Namun baru beberapa saat ia menikmati keempukan kasur nan tebal itu, Barraq mendapat kejahilan dari Laila. Lagi-lagi selimut yang senilai terurai tiba-tiba saja menggelung tubuhnya.
Barraq terkesiap. Ia melonjak. Rasa takut telah menguasai dirinya. Barraq berusaha terlepas dari gelungan selimut tersebut. Cukup sulit ia melepaskan karena kepanikan terlanjur merasuki dirinya.
"Hihihi....."
Laila terkekeh seru. Ia tak mampu menahan kekeh nya saat melihat reaksi Barraq atas kejahilannya tersebut.
"Maaf ya, Barraq. Aku mengerjai mu. Aku senang melihat reaksi mu itu" ucap Laila tanpa dapat di dengar Barraq karena saat ini adalah siang hari.
Hos.
Hos.
Hos.
Nafas Barraq turun naik dengan cepat. Tatapannya tertuju pada selimut yang baru saja menggelung tubuhnya itu.
"Sial...Apa yang terjadi? Ah, mustahil. Ini hanya imajinasi ku saja. Sepertinya aku terpengaruh oleh kata-kata kak Ethan. Sial...." ucap Barraq lirih.
"Hihihi...." tawa Laila kembali mengisi udara. Tawa yang hanya di dengar oleh Laila dan teman. sesama arwahnya saja.
"Andai aku bisa menampakkan diri saat siang hari tentu akan seru ini. Hihihi...." ucap Laila kembali.
Sementara itu Barraq mulai menduga-duga penyebab dari kejadian yang baru saja ia alami. Namun semua nihil. Segala praduga menjadi mentah, karena dianggap suatu kemustahilan secara nalar. Kemudian akhirnya, Barraq sampai pada kesimpulan yaitu bahwa ia harus segera meninggalkan kamar itu. Haha....
Barraq ngeloyor meninggalkan ruang kamarnya. Langkahnya cepat menyusuri anak tangga menuju ruang lainnya. Pun demikian, Barraq tidak tahu jika setiap langkahnya diikuti oleh Laila yang sesekali tertawa karena melihat reaksi kecut di wajah Barraq.
"Astaga...Apa pun itu, aku harap akan hilang saat aku kembali ke kamar nanti" ucap lirih Barraq.
Hos.
Hos.
Hos.
Nafas Barraq memburu saat sampai di sebuah ruangan yang luas dimana Emran dan Ethan tengah sarapan. Kehadiran Barraq langsung menjadi perhatian.
"Tuan ingin sarapan di sini?" ucap seorang asisten rumah tangga.
"Bolehlah. Siapa tahu bisa ketularan kesuksesan orang-orang yang tengah makan ini..." ucap Barraq sambil duduk.
"Bi..." ucap Ethan.
Dari nada bicaranya, jelas itu adalah kata peringatan. Namun, Barraq acuh. Ia menganggap angin lalu kata singkat Ethan yang bak peringatan itu.
"Laki-laki itu tampak tak asing, sama halnya saat melihat Ethan. Siapa mereka? Mengapa wajah keduanya tampak tak asing bagi ku..." ucap Laila.
Laila mendekati Emran dan menilik wajahnya dari dekat. Bukan hanya itu, Laila mengelilingi tubuh tegap laki-laki paruh baya itu yang tampak tak asing bagi Laila.
Laila benar-benar menatap wajah Emran dari dekat. Bahkan sangat dekat. Jarak wajahnya ke wajah Emran hanya beberapa cm saja.
"Bagaimana perusahaan kita yang di kota A, Ethan?" ucap Emran.
"Em, baik Pa. Ada progres income. Dan diprediksi akan menjadi salah satu perusahaan yang akan memberikan keuntungan besar bagi El Khasif Group..."
"Syukurlah. Beruntung perusahaan itu kmu ambil alih jadi bisa berkembang pesat"
"Semua karena bimbingan dan arahan papa"
"Ow....jadi laki-laki ini adalah ayah dari Barraq dan Ethan. Tapi mengapa aku terus merasa jika aku mengenal wajah ini" ucap Laila.
Laila terus menatap wajah Emran dengan seksama.
__ADS_1