LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 40. Pertemuan


__ADS_3

Laila kembali menatap layar ponselnya yang berpendar. Ia tersenyum. Sebuah media berita online kembali merilis wawancara eksklusif bersama Oemar Barraq El Khasif, pangeran kedua keluarga El Khasif. Kesuksesan yang tengah laki-laki tampan itu dulang, benar-benar telah menjadikannya pengusaha muda yang banyak di buru pebisnis untuk bekerja sama. Kepiawaiannya dalam mengelola bermacam bisnis telah mengembalikan citra positif keluarga El Khasif dalam waktu enam bulan saja. Pun juga apa yang ia raih saat ini, telah membuatnya digilai banyak gadis selain karena ketampanannya itu.


Lagi-lagi Laila tersenyum. Penuturan Barraq makin menarik simpatinya. Menurut Barraq kesuksesannya tak terlepas dari campur tangan banyak orang. Diantaranya adalah ayahnya El Khasif, segenap pegawai, dan seorang gadis special yang telah menyadarkan bahwa betapa berharga dirinya. Disebutkan juga bahwa bukti berupa flashdisk yang diberikan gadis tersebut telah membuka kebenaran tentang siapa dirinya. Namun dari semua yang ada, Tuhan adalah pokok dari kunci keberhasilannya. Hanya Tuhan yang kuasa memberi dan mengambil apa yang menjadi ketetapannya.


"Kau benar-benar orang baik, tuan Oemar Barraq El Khasif. Penuturan mu begitu menyejukkan. Tiada keangkuhan sedikitpun terasa..." gumam Laila.


"Ehmm, tuan Barraq lagi?" ucap Arini.


"Ibu....! Buat Laila terkejut saja"


"Hehe...Anak ibu klo menyimak berita tuan Barraq paling senang. Kenapa tidak datangi saja sih..."


"Terus bilang kalau aku Laila yang sudah membantunya. Dan lihat aku...! Karena mu, aku begini! Ah, ibu. Itu bukan prinsip membantu yang ayah ajarkan. Jika ingin membantu, jangan ragu-ragu, jangan setengah-setengah. Dan harus siap dengan segala resikonya"


"Ah, kau selalu terpengaruh dengan omongan ayah mu..." ucap Arini.


"Loh. Tapi betul, kan?"


"Iya, iya. Pokoknya Laila paling bener dech..." ucap Arini sambil tersenyum.


Tangannya menyodorkan buah peer yang telah dikupas dan dipotong. Itu adalah buah kesukaan Laila.


"Terima kasih, ibu ku sayang..." ucap Laila.


Bersamaan dengan itu, Laila memeluk erat Arini, ibunya.


"Alah, gombal. Hehe..." ucap Arini


"Walaah, Ndok. Kau tidak tahu apa sebenarnya yang ibu rasakan saat mendapati kondisi mu ini? Ibu mu ini marah, sedih..! Tapi ibu tetap harus mendukung segala keputusan mu. Darah mu sama kentalnya dengan darah Wijoyo Hadiningrat, wajar jika pola fikir dan keras kepala mu sama..." batin Arini.


"Ibu melamun...?"


"Siapa bilang...?"


"Kucing, noh yang bilang"


"Haha...." tawa keduanya mengisi udara saat itu.


Sejak kondisi Laila seperti saat ini, Arini bukan saja sosok ibu bagi Laila tapi juga teman, sahabat bahkan guru. Itulah yang menyebabkan keduanya kian dekat. Tertawa bersama. Bahkan bergosip bersama.


"Sudah ah, yuk siap-siap. Waktu terapi mu hampir tiba..."


"Aah....terapi ya?" ucap Laila lesu.

__ADS_1


"Kenapa? Mau menyerah? Ehmm, klo begitu darah yang mengalir dalam tubuh mu adalah palsu. Bukan darah Hadiningrat..."


"Tuh, kan. Selalu dikaitkan kesitu. Iya, ya...semangat Laila. Huh...!!" ucap Laila meniru yel yel sang ayah.


Arini tersenyum. Senyum penyemangat bagi putri semata wayangnya itu. Tapi siapa sangka jika hatinya kebalikan dari apa yang nampak. Arini menangis pilu setiap mendapati kondisi gadis kecilnya yang kini sudah tidak kecil lagi itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul empat lewat empat puluh lima, sore. Laila telah berada di ruang terapi El Khasif Hospital. Mata Laila melirik jam yang bertengger di dinding.


"Ehmm, masih ada waktu lima belas menit lagi" gumam Laila yang diamini Arini.


Tak lama kemudian, telinga Laila menangkap kegaduhan. Hanya sepersekian detik saja sumber kegaduhan itu tepat di depan ruangan dimana ia berada. Mata Laila menilik, penasaran.


Lamat-lamat terdengar suara khas seorang. Suara yang selalu ia dengar. Hati Laila beriak. Bahkan degup jantungnya bertalu. Di ambang pintu berdiri seorang laki-laki yang tengah sibuk meladeni pertanyaan dan atau saran dari para staf. Mendadak perhatian Barraq tertuju ke dalam ruangan dimana Laila berada.


Deg.


.


.


.


Melihat pusat perhatian Barraq, seorang staf langsung memberi penjelasan tentang ruangan tersebut. Dan Barraq mengangguk tanda ia mengerti. Pun demikian, bukanlah hal itu yang menjadi pusat perhatiannya. Tapi gadis yang duduk di atas kursi roda.


Mata Barraq lagi-lagi menilik gadis tersebut dari jarak pandang cukup. Barraq pun menanyakan prihal gadis yang ada di dalam ruangan.


"Ia pasien kita. Delapan bulan lalu mengalami kecelakaan. Dua bulan ia koma..."


"Sampai dimana pengobatannya?"


"Sejak tersadar ia sudah mengikuti terapi. Dan dua bulan mendatang ia akan menjalani pembedahan wajah"


"Pembedahan wajah?"


"Lebih tepatnya rekonstruksi. Delapan puluh persen wajahnya rusak parah setelah jatuh ke dalam jurang, mobil yang dikendarainya pun terbakar. Tapi dia berhasil di selamatkan walau situasinya mengenaskan" jelas seorang staf lagi.


Mendengar penuturan stafnya, Barraq makin penasaran. Kakinya pun melangkah melewati ambang pintu.


Deg.


.

__ADS_1


.


.


"Mengapa jantungku bertalu seperti ini? Tenanglah Barraq. Tenang. Dia bukanlah Laila. Karena Laila telah pergi. Tapi postur dan gestur tubuhnya begitu serupa dengan Laila" batin Barraq.


"Hei, mengapa ia ke dalam? Apa keperluannya? Pergilah, aku tidak ingin dikasihani....!" batin Laila.


Tinggal beberapa langkah lagi, seorang staf menghentikan langkahnya.


"Maaf, Tuan. Tuan sudah ditunggu di ruang Press Conference" ucap seorang staf El Khasif Hospital.


Langkah Barraq jadi urung. Ia pun kembali memutar langkahnya. Dan membersamai langkah seorang stafnya tersebut. Dengan demikian, kelegaan pun menyelimuti hati Laila.


"Fiuh...." gumam Laila lega.


"Padahal ibu berharap, kalian bertemu..."


"Ibu..."


"Apa salahnya. Mestinya ia mencari dan menemui mu. Kewajiban dia berterima kasih kepada mu.


Laila terdiam. Penuturan Arini, ibunya dinilainya masuk akal. Mata Laila menatap punggung laki-laki yang diam-diam ia cintai itu.


"Ya, juga. Mengapa tidak ada upayanya untuk menemui ku? Apakah ia takut, aku akan meminta ganti rugi? Atau hadiah yang besar? Ah, tapi tuan Barraq tidaklah demikian. Aku yakin ada hal lain yang membuatnya tak melakukannya" batin Laila.


"Mengapa aku melihat Laila pada gadis itu. Walau wajahnya tak dapat ku lihat, tapi hati ini berkata bahwa ia adalah Laila. Tapi, tidak! Ia bukan Laila. Bukankah Laila telah pergi untuk selamanya? Tapi degup jantungku tak dapat dibohongi. Degup ini sama persis dengan degup ketika bersama Laila. Oh, Tuhan aku harus apa?" batin Barraq.


Langkah panjangnya diiringi bermacam pernyataan dan pertanyaan. Kebimbangan pun kembali mengisi hatinya.


"Mestinya aku mencari makam Laila. Mengunjunginya dan menceritakan keberhasilan ku kini. Bodohnya aku. Mengapa aku tidak melakukan itu" batin Barraq.


"Siapa nama gadis itu?"


"Gadis...?"


"Ya. Gadis yang di ruang terapi tadi"


"Ow, dia La..."


"Tuan dan Nyonya, kita sambut tuan Oemar Barraq El Khasif...!"


Kata seorang staf tersebut menjadi hilang, karena suara pewara yang memberitahukan keberadaan Barraq. Dan Barraq pun langsung mengurai senyum dan melangkah menuju podium tanpa melanjutkan mendengar ucapan staf nya barusan.

__ADS_1


__ADS_2