LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 9. Tolonglah...


__ADS_3

Mengapa kau selalu terpaut dengan ku?" tanya Barraq dengan mata tak lepas dari wajah Laila.


"Itu Karena...." ucap Laila terhenti saat Barraq kian lekat menatapnya.


"Em, itu... flashdisk. Ya, flashdisk. Saat aku dikejar mereka, aku menabrak kakak. Dan aku memasukkan flashdisk ke kantong jaket kakak"


"Flashdisk...? Jaket ku?" ucap Barraq linglung.


"Saat itu kakak sedang teler...?


"Gila...Orang teler dipercaya. Jika aku membuangnya bagaimana?"


"Karena....Ah, entahlah" ucap Laila.


"Sepenting apa isi flashdisk itu?"


"Di dalamnya terdapat data penyalahgunaan dana juga sabotase proyek"


"Wait...Kau bekerja dimana, La...?"


Laila menghela nafas. Matanya menerawang jauh. Jelas fikirannya tengah mengembara. Sesungguhnya hatinya tengah beriak. Ia tak sanggup mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Tentang tempat dimana ia bekerja ataupun pelaku penyalahgunaan dana dan sabotase proyek. Karena menurut hemat Laila semuanya bisa saja membuat Barraq kecewa dan diamuk amarah.


Tanya Barraq kembali berulang. Namun Laila tetap bungkam. Hanya matanya saja yang sesekali menilik wajah Barraq yang ditumbuhi bulu halus dan mulai lebat itu.


"Laila...!" ucap Barraq.


Kali ini tangan Barraq menyentuh lengan Laila. Dan hal tersebut tentu saja membuat Laila terkesiap.


"Kenapa...?" tanya Barraq saat mendapati reaksi tak lazim Laila.


"Em, Kak. Flashdisk itu dmn sekarang?" tanya Laila mengalihkan topik pembicaraan.


"Em, flashdisk ya...? Aku tidak tahu. Karena memang kondisi ku saat itu tidak memungkinkan untuk mengingat atau menilik segala benda yang ada pada diriku. Aku pakai sepatu atau tidak pun, aku tak peduli..." ucap Barraq.


"Sayang sekali jika hilang. Upaya ku menjadi sia-sia sepertinya" ucap Laila lesu.


"Seingat ku, aku terbangun sudah di rumah. Waktu itu pagi hari. Pakaian ku pun sudah berganti. Wait...biasanya yang mengurusku saat aku mabuk adalah mang Nurdin"


"Mang Nurdin...?"


"Dia asisten di keluarga ku. Tapi ia lebih dekat dengan ku. Wait... Kalau begitu aku akan menghubunginya" ucap Barraq sambil mengeluarkan benda pipih dari kantung jaket nya.


Barraq pun menghubungi sebuah nomor kontak pada teleponnya. Berulangkali ia menghubungi, namun nihil Tiada jawaban sedikit pun.


"Kemana mang Nurdin..." ucap Barraq penasaran.


"Mungkin tidur. Ini pukul 3 dini hari"


"Jam berapa pun aku menghubunginya, dia akan menjawabnya. Tapi ini diluar kebiasaannya. Apakah ada sesuatu yang menahannya?" ucap Barraq gusar.


Kemudian Barraq memutar kemudi dan melajukan mobil sport berwarna silver-nya.


"Seorang tuan begitu mengkhawatirkan asisten rumah tangganya. Kira-kira seberapa dekat keduanya" gumam Laila.


"Jangan bawel..." ucap Barraq.


"Hehe..." tawa Laila mendengar celoteh laki-laki yang berusia menjelang di angka tiga puluh itu.


Langit masih gelap. Belum ada tanda malam akan bergelung siang. Rupanya sang pemilik siang masih memberi kesempatan penghuni bumi menikmati waktu istirahatnya. Sementara itu langit sendiri tak sendirian. Ada bulan separuh yang masih jelas menemani. Juga ada kerlip bintang bak berlian di sekitarnya.


Barraq memarkir mobilnya dengan sembarang. Ia melangkah dengan cepat memasuki rumah mewah berdinding pualam biru. Langkahnya begitu memburu menyusuri lorong panjang menuju area belakang rumah. Namun belum sampai di ujung koridor, Barraq sudah bertemu dengan orang yang ia maksud, yaitu Nurdin.


Masih dari kejauhan, tampak Nurdin melangkah cepat. Wajahnya kuyu. Sesekali sebelah tangannya menyeka sudut bibirnya. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Nurdin, begitu hati Barraq berucap. Barraq tampak gusar mendapati kondisi Nurdin saat bertemu.


Barraq menilik wajah memar Nurdin. Ada segudang tanya setiap melihat memar di wajah Nurdin. Karena memar dan luka itu bukanlah yang pertama kali Barraq dapati. Pun demikian, Nurdin selalu berhasil membuat alasan yang dapat diterima nalar Barraq.


"Ini bukan karena jatuh lagi kan, Mang. Katakan siapa yang melakukan ini padamu, Mang? Katakan...!" ucap Barraq.


"Tuan muda...?!" ucap Nurdin terkesiap.


Matanya menilik setiap inci wajah Barraq. Bahkan Nurdin memutarinya.


"Tuan muda baik-baik saja?" ucap Nurdin heran.


"Aku baik-baik saja, Mang..."


"Tuan muda tidak mabuk?"


"Tidak Mang..."


"Wah...amazing! Apa ada penyebab tuan muda tidak mabuk"


"Ah, banyak tanya. Menyesal aku menemui mamang?" ucap Barraq.


Barraq pun memutar tubuhnya. Kaki panjangnya kembali melangkah menyusuri koridor diikuti Nurdin dan juga tentu saja Laila.


"Flashdisk, Kak. Flashdisk....!" ucap Laila yang sejak tadi membersamai Barraq.

__ADS_1


"Ow, astaga..." ucap Barraq.


Sebelah tangannya menepuk jidat. Sebuah reaksi atas khilafnya tentang tujuan utamanya menemui Nurdin.


"Em, Mang. Kejadian ini sudah lama sekali. Hampir sebulan lalu. Tapi semoga mamang masih mengingatnya" ucap Barraq.


"Saat aku pulang dalam keadaan mabuk, apakah mamang menemukan benda kecil di kantong jaket ku?"


"Benda kecil...?" ucap Nurdin.


Keningnya mengkerut. Tanda bahwa ia tengah memeras otak dan berusaha mengingat.


"Flashdisk warna biru, Kak..." ucap Laila merinci benda yang dimaksud.


"Warnanya biru, Mang" ucap Barraq meneruskan informasi Laila.


"Ah, ya...! Mamang ingat. Apakah itu benda yang penting, Tuan muda?"


"Bilang tidak, Kak..." ucap Laila.


"Em, Tidak juga Mang..."


"Cari alasan tentang isinya, Kak..." ucap Laila lagi.


"Ah, cerewet....!" ucap Barraq tiba-tiba.


Hal tersebut tentu memancing tanya Nurdin yang mengiringi langkahnya.


"Mamang tidak bicara apapun, Tuan muda..."


"Oh, maaf manga. Kata itu bukan untuk mamang. Itu untuk ku. Ya, untuk ku sendiri..." Barraq beralasan.


"Hihihi....." Laila tertawa saat mendapati kerikuhan sikap Barraq dalam beralasan.


"Hanya berisi data lama ku saja..." ucap Barraq.


"Mamang simpan di laci meja kerja tuan muda..."


Laila sumringah mendengar penjelasan Nurdin. Hatinya beriak hebat. Harapan itu mulai bersemi setelah beberapa waktu sempat pupus. Laila mencubit lengan Barraq, untuk memastikan bahwa ia tidak tengah bermimpi.


"Aww....! Em, maksud ku benarkah...?!" ucap Barraq yang baru saja terkejut karena perlakuan Laila.


Mata Barraq sesat menatap kesal Laila atas perlakuan tersebut. Pun demikian, ia berusaha untuk menetralisir keterkejutannya tersebut. Hal tersebut karena tatapan heran Nurdin begitu mengintimidasinya.


"Em... Ya, Tuan. Mamang ingat kalau mamang menemukan benda kecil berwarna biru itu. Dan mamang menyimpannya di laci meja kerja tuan muda" ulang Nurdin yakin.


BRAKK....!!


Pintu dibuka kasar. Barraq tak peduli jika suaranya bisa mengganggu ketenangan seisi rumah. Barraq segera menuju meja yang sudah lama tak ia gunakan itu. Barraq mulai mengaduk isi laci empat susun itu satu persatu. Namun nihil. Barraq belum menemukan benda yang dimaksud tersebut.


"Mamang yakin menyimpannya di sini?"


"Ya tentu saja, Tuan..."


"Tapi aku tidak menemukannya. Sial...!!" ucap Barraq kesal. Ia menutup laci terakhir dengan keras.


"Apakah tidak ada di sana, Kak...?" ucap Laila lesu.


"Sudah ku katakan tidak ada. Apa kau tidak mendengarnya....!" ucap Barraq.


"Tuan muda...maafkan mamang" ucap Nurdin.


Wajah heran Nurdin berubah menjadi gusar. Tangannya gemetar saat kata lancar Barraq begitu keras mengisi ruang telinga.


"Maafkan aku, Mang. Bukan maksudku membentak mu. Kata-kata ku tadi bukan untuk mamang. Sungguh...Aku hanya ingin masalah ini selesai satu persatu" ucap Barraq.


Barraq terduduk lesu. Ada sesal terlukis di wajahnya.


Mang, pergilah. Istirahatlah. Nanti kita berbincang lagi..."


"Baik, Tuan muda.." ucap Nurdin.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Nurdin langsung meninggalkan ruangan tersebut. Ia tidak ingin menambah kegusaran tuan muda yang sangat ia hormati itu.


Sementara itu, Laila mengitari meja. Ia membuka kembali satu persatu keempat laci susun itu. Tentu saja dengan cara yang tak biasa. Laila menilik dengan teliti setiap isi laci. Bukan hanya sekali, tapi berulangkali ia meniliknya.


Wajah pasi Laila menyiratkan kegusaran. Harapan yang sempat membuncah, kini perlahan mulai sirna.


Hiks...


Hiks...


Hiks....


Laila menangis. Ia duduk di sofa yang ada di sudut ruangan dekat jendela besar. Matanya yang basah menatap jauh entah kemana.


"Ah, sial. Pake menangis segala lagi nih hantu..." batin Barraq saat ekor matanya mendapati tangis Laila.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Waktu ku hampir habis. Jika upaya ku gagal, maka aku akan berubah jadi hantu pembalas dendam. Aku tidak mau...!" ucap Laila yang tentu saja dapat di dengar Barraq.


Mendengar itu, Barraq mendekati Laila. Ia duduk berjongkok di hadapan Laila. Tangannya meraih jemari Laila yang terasa dingin itu. Barraq menghela nafas. Karena sesungguhnya ia tidak mengerti mengapa ia bisa melakukan hal senarsis itu. Hal yang sudah hampir empat tahun tidak pernah ia lakukan.


"Kak...Jika aku tidak menemukannya aku akan menjadi...." ucap Laila.


"Sstt...Hal itu tak akan pernah terjadi. Kenapa? Karena kita akan segera menemukan flashdisk nya. Aku yakin itu. So...jangan menangis apalagi berputus asa seperti ini"


"Maukah kakak membantu ku sekali lagi?"


"Apa ada yang bisa membantu mu selain aku?" ucap Barraq sambil membersamai Laila duduk di sofa.


"Hihi...betul juga"


"Kalau aku jadi hantu pembalas dendam, kakak akan membantuku untuk selalu mengingatkan ku bahwa aku adalah orang baik..."


Barraq mengernyitkan dahinya. Hanya menyatakan ketidakyakinan atas kemampuannya untuk meluluskan permintaan Laila.


"Entahlah. Aku tidak yakin. Terlebih saat kau menjadi hantu lain, apakah kau masih secantik ini?" ucap Barraq.


"Kakak...ih, norak"


"Bagaimana? Kira-kira berubah menyeramkan, tidak?" ucap Barraq.


Lengannya memainkan lengan Laila dengan menyenggolnya berulangkali. Laila menutup wajahnya. Ia merasa malu.


"Kau malu ya..." ucap Barraq bernada meledek.


"Hook oh..." ucap Laila sambil mengangguk mantap.


"Kalau begitu jangan tutupi wajahmu. Aku penasaran bagaimana rupa hantu jika malu. Hehe..."


"Seperti ini, Kak...?" ucap Laila.


Kedua tangannya tak menutupi wajah lagi. Namun hal tersebut justru membuat Barraq terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak, saat itu Laila menampilkan wajah seramnya.


"Akh...Astaga!!" ucap Barraq dalam keterkejutannya.


Laila terkekeh mendapati reaksi Barraq. Ia tak hentinya terkekeh sambil sesekali mengusap lengan Barraq.


"Apa seseram itu saat menjadi hantu pembalas dendam?"


"Entahlah. Mungkin lebih seram dan ganas"


"Em, kalau begitu aku tidak bisa membantu mu..."


"Kakak.....!!!" teriak Laila.


Laila berdiri dari duduknya. Matanya menatap Barraq dengan tajam. Auranya sungguh membuat bergidik.


"Ok. Ok. Aku akan membantu mu. Itu pun kalau aku tidak lupa..."


"Kakak....!!"


Hawa dingin mulai menelusup tulang. Begitu dingin sehingga menambah suasana semakin menakutkan.


"Kak, ada orang di balik dinding itu..."


Mendengar ucapan itu, Barraq langsung menuju pintu. Dan secara mendadak ia membuka pintu besar itu. Barraq penasaran siapakah yang telah menjadi pengupingnya. Kemudian wajah Barraq berubah saat mendapati siapa penguping itu. Begitu pun dengan laki-laki yang tengah berdiri itu.


"Kakak...Apa yang kakak lakukan di depan kamar ku?" ucap Barraq ditengah keterkejutannya.


"Hanya ingin tahu apa yang sedang dilakukan adik ku ini. Sebab ku dengar ada suara berisik sekali. Seperti ada yang sedang kau cari?"


"Aku..." ucap Barraq terhenti karena kata Laila yang mengusik telinganya.


"Jangan katakan apa yang sedang kau cari, Kak. Aku mohon..." begitu ucap Laila.


"Aku sedang mencari botol minuman ku. Kakak tahu kan bagaimana aku jika tidak menemukan barang satu itu?" kilah Barraq.


"Kau berbohong, Barraq. Aku tahu betul bagaikan tabiat mu. Terlebih saat kau gusar atau bermasalah. Tapi... kira-kira yang tengah ia lakukan? Dan mengapa ia berada pub tadi?" batin Ethan.


"Kak...." ucap Barraq yang mengembalikan kesadaran Ethan.


"Ah, ya. Jika kau masih memerlukan benda itu, kau bisa mengambilnya dari kamar ku"


"Sejak kapan kakak jadi peminum?'


"Belum pernah sampai mabuk. Dan itu sesekali saja jika lelah menyergap ku. Dan minuman membuat ku cepat tertidur walau aku meminumnya tak sampai mabuk. Sudah beristirahatlah. Aku yakin bendanya sudah diketemukan" ucap Ethan.


Tangannya menepuk bahu Barraq untuk kemudian berlalu meninggalkan adik laki-laki satu-satunya itu.


"Dasar berwajah dua...!!" umpat Laila.


"Eh, mengapa kau mengatai kakak ku...?"


"Ah, tidak..." ucap Laila rikuh.

__ADS_1


__ADS_2