
"Cahaya biru? Apakah itu ujung lorong ini? Tempat apakah itu?" batin Laila di sela teriakkan nya yang panjang.
Kemudian tak sampai sepersekian detik, Laila pun bak di lontarkan ke dalam cahaya biru itu. Dan cahaya biru itu pun menelan tubuh Laila.
ZLUPH....!!
Mendadak suasana kembali hening. Laila benar-benar menghilang. Tak lama kemudian telinga Laila berdenging. Suaranya begitu memekakkan.
NGIIIIIIIIIIIING......
Begitu panjang dengungnya. Sekuat kamampuan Laila menahan dengung itu. Kemudian Laila memejamkan mata. Terlebih cahaya biru itu sangat menyilaukan. Laila menimbang rasa, waktunya sudahlah lama berada pada balutan cahaya biru. Fikirnya pun mulai bertanya. Kian lama kian bertambah.
"Sepanjang apakah Cahaya biru ini? Dan apakah setelah ini masih ada yang harus aku jalani?" fikir Laila.
BIP.
BIP.
BIP.
Laila menajamkan telinga. Suara dengung itu telah berubah menjadi bip bip. Seakan tak percaya, Laila hingga mengusek telinga. Dan benar saja, suara bip bip itu memanglah kembali mengisi kepalanya. Suaranya kian lama kian jelas. Laila gamang. Fikirnya kembali bermain dalam tanya. Terlebih saat tubuhnya bergetar hebat seiring suara bip bip yang cepat.
Laila mendengar ada banyak langkah kaki. Langkah kepanikan, fikir Laila. Dan ada beberapa tangan yang berusaha melakukan sesuatu pada tubuhnya.
"Ada apa ini? Ada apa dengan ku? Mengapa suara itu kembali? Suara apakah itu sebenarnya? Apakah perjalanan ku belum usai? Dan dimanakah, aku? Mengapa aku merasa tubuhku begitu kaku dan sulit digerakkan?" batin Laila.
Dengan banyaknya pertanyaan yang timbul sebagai ungkapan rasa penasarannya, maka Laila mengumpulkan keberaniannya. Kini ia bersiap diri untuk membuka mata. Itu pun ia lakukan saat tubuhnya kembali tenang seiring suara bip bip yang kembali teratur.
Perlahan namun pasti, Laila pun mulai membuka mata. Kali ini hanya sepersekian detik saja ia membuka mata, untuk kemudian memejamkannya kembali.
"Cahaya....?" batin Laila.
Hati Laila melonjak. Saat berkas cahaya benar-benar menggelitik manik matanya, walau belum sempurna. Dan ajaibnya lagi suara bip bip itu kian jelas menyata. Rasa penasaran gadis cantik itu pun membuncah.
Laila kembali mengerjapkan mata sesaat karena cahayanya yang menyilaukan untuk kemudian membuka mata. Hati Laila kembali melonjak. Ada gemuruh yang menduduki dadanya saat cahaya itu kian melimpah menghujani indera penglihatannya.
Gadis cantik itu hampir tak percaya dengan apa yang nampak di depan mata. Kemudian satu-satu matanya menatap bayang yang kian lama kian nyata itu.
Ibu....? Ayah....?" ucap Laila terbata.
Katanya begitu lirih. Ada bulir bening yang mengerubuti kedua matanya. Terlebih saat melihat wajah kuyu Arini, perempuan yang dipanggil Laila ibu. Yang wajahnya telah basah dibasuh air mata.
"Apakah ini nyata...?" ucap Laila lagi.
Suaranya begitu lirih. Bahkan bibirnya hingga bergetar hanya untuk mengucapkan beberapa kata saja.
"Tentu sayang. Ini ibu, nak...." ucap Arini
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Arini memeluk anak gadis semata wayangnya itu. Anak gadis yang selama dua bulan ini menjalani perawatan intensif setelah peristiwa mengenaskan di jalan Akasia. Dan gadis yang selama dua bulan ini mengalami koma.
Pun demikian, tiada yang tahu jika selama ini, arwah Laila bergentayangan untuk mencari keadilan atas apa yang menimpanya.
"Nduk...." ucap seorang laki-laki.
Laki-laki bertubuh tinggi dan berambut klimis itu tak lain adalah Wijoyo Hadiningrat, ayah dari Laila. Ternyata kedudukan tingginya tak menghalanginya untuk menitikkan air mata. Ini adalah rasa suka citanya atas kembalinya putri kesayangannya, Laila.
"Maaf, Nona. Siapakah nama nona?" ucap seorang dokter.
Perhatian Laila langsung tertuju pada seorang dokter yang tengah memeriksanya.
"Nama saya....Laila, dokter....Faaz"
Deg.
.
.
.
Faaz terdiam. Hatinya setengah melonjak. Mata sipit Faaz menilik wajah Laila kembali.
"Mengapa gadis ini mengetahui nama ku? Bukankah saat ia datang sudah hilang kesadaran? Tapi bagaimana ia bisa tahu nama ku. Wait....Apakah Laila yang terbaring ini, adalah juga gadis yang sama dengan arwah yang menyertai tuan Barraq? Gadis yang mencari keadilan itu? Sayangnya aku tak dapat melihat wajah arwah gadis yang beberapa saat lalu berpamitan" batin Faaz.
"Laila...Ratri... Hadiningrat " ucap Laila lirih.
"Apakah nona ingat apa yang terjadi dengan nona?" ucap Faaz lagi.
"Aku...Aku..." ucap Laila.
Fikirannya menerawang jauh. Laila tengah mengumpulkan keping kenangan dalam ingatannya. Bla Bla Bla...cukup panjang Laila menceritakan kejadian yang menimpanya. Dari gedung El Khasif Group hingga berakhir di jalan Akasia.
"Seingat ku...Terakhir aku jatuh dari tebing. Dan bangun-bangun sudah di sini" ucap Laila lirih.
"Apakah saat koma, nona Tidka mengalami suatu peristiwa apa pun?'
"Apa maksud dokter?" ucap Wijoyo.
"Ah, tidak ada Tuan. Hanya memastikan saja" ucap Faaz rikuh.
Sementara itu mendapat pertanyaan itu, Laila menggeleng mantap. Bahkan kini gadis cantik itu, justru menyimpan tanya atas pertanyaan Faaz.
"Apakah ada yang terjadi, dok?" ucap Laila.
"Tidak nona. Semua baik-baik saja"
__ADS_1
"Entahlah. Mengapa ada tanya yang menggoda fikirnku? Aku penasaran, apa mungkin dia adalah Laila yang sama? Sayangnya ia lupa..." batin Faaz.
Kata terbata Laila menjadi bukti bahwa kesadarannya telah kembali. Senyum pun mengembang menghiasi setiap wajah mengiringi ucap syukur yang tak terhingga.
Arini tak henti-hentinya memeluk dan menciumi Laila. Ada kelegaan sekaligus bahagia yang tak terbendung rasanya. Sementara itu, Laila sendiri sesekali termangu. Ada perasaan kosong di sudut hatinya. Apa itu, Laila sendiri tidak mengetahuinya pasti.
"Bagaimana perasaan mu, Ndok?" ucap Wijoyo Hadiningrat sesaat setelah Faaz meninggalkan ruangan.
"Entahlah, Yah. Tapi sejauh ini Laila baik-baik saja"
"Walaah, Ndok. Melihat mu koma, ibu jadi anak kecil. Nangis terus..."
"Lah, memang ayah tidak? Ayah juga menangis kan? Cuma saja secara sembunyi-sembunyi..."
"Hehe...." tawa Laila tertahan mengisi udara saat itu.
"Bu, bagaimana kondisi Laila sebenarnya? Mengapa Laila merasa kesulitan menggerakkan kaki dan tangan Laila" ucap Laila.
Deg.
.
.
.
Degup jantung Arini dan Wijoyo serasa terhenti. Keduanya tak sanggup menceritakan bagaimana kondisi Laila saat ini. Lama keduanya diam dalam fikirnya masing-masing.
"Ndok, ayah yakin anak ayah adalah gadis yang kuat. Sekuat tekadnya untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh Ethan El Khasif" ucap Wijoyo.
Matanya sesekali menilik wajah Arini, istrinya. Juga Laila, putri semata wayangnya itu.
"Ayah, bertele-tele. Seperti bukan ayah saja"
"Oya...? Hehe...Ndok, kaki dan tangan mu terluka cukup parah. Dan setelah ini diperlukan terapi yang intensif untuk sembuh seperti sedia kala..."
"Tentu. Karena Laila jatuh dari tebing. Laila bisa mengukur bagaimana kemungkinan luka yang Laila alami"
"Laila kuat, ya..." ucap Wijoyo.
Tangannya meraih sebuah cermin dan memberikannya pada Laila. Sementara itu, Arini melipat tangannya untuk kemudian menutup sebagian wajahnya. Arini tak sanggup melihat reaksi Laila saat melihat wajahnya nanti.
"Untuk apa cermin ini, Yah..? Apakah ada yang salah dengan wajah ku?" duga Laila.
Mendengar itu, Arini kian pilu. Terlebih saat Laila mulai mendekatkan cermin itu ke wajahnya.
"Ap..apa ini wajah ku??!!" ucap Laila.
__ADS_1
Dari nada bicaranya jelas jika ia terkejut. Arini dan Wijoyo memejamkan matanya. Tak sanggup melihat reaksi Laila.