LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 41. Pencarian Cinta


__ADS_3

Barraq duduk di dekat jendela yang terbuka. Tak peduli ada hawa dingin yang merangsek masuk. Sejak tadi laki-laki tampan yang tengah mendulang kesuksesan itu tengah asyik mengotak-atik ponsel berwarna hitam nya. Beberapa berita online mencuri perhatiannya. Berita tersebut tentu saja terkait dengan insiden delapan bulan lalu. Sejak pertemuan nya dengan gadis bercadar, fikir Barraq jadi mengembara. Ia begitu penasaran. Terlebih setelah melihat postur dan gesturnya yang begitu serupa dengan Laila.


Mata Barraq menilik satu persatu berita tersebut. Namun tak satu pun yang menyebutkan kondisi korban setelah insiden tersebut. Juga tiada satu pun berita yang menjelaskan keberlanjutan insiden tersebut. Semua hilang bak ditelan bumi. Barraq menghela nafas. Matanya menerawang jauh.


"Ah, mengapa beritanya menggantung seperti ini? Pengajuan tuntutan dari keluarga atau apa gitu. Aneh..." gumam Barraq.


Matanya kembali menilik setiap tagline berita online yang ada. Dan lagi-lagi nihil. Barraq kembali tak menemukan berita lebih detil tentang peristiwa delapan bulan lalu di jalan Akasia.


"Aah...! bodohnya aku...!" ucap Barraq.


Tangannya melempar ponsel tanpa melihat tempat mendarat benda pipih itu. Ia merasa begitu bersalah dan menyesal atas kelambatan menyadari hal yang sebenarnya begitu penting dalam hidupnya. Diusapnya dengan kasar wajah tampannya sebagai wujud kekesalannya.


"Mengapa aku tak mencari tahu kuburnya sejak ia menghilang dalam dekapan ku? Atau keluarganya mungkin. Ya, untuk mengucapkan terima kasih. Ah, aku terlalu sibuk dengan perusahaan..." batin Barraq.


"Apa yang harus aku lakukan? Darimana aku harus memulai...?"


Jemari Barraq beradu pada meja kecil berwarna coklat di dekatnya. Suara ketukannya kadang berirama, kadang kacau. Mungkin sesuai situasi hatinya saat ini yang up and down bak roller coaster.


PUK...


Sebuah tepukan mampir pada bahu Barraq. Dan hal tersebut tentu saja membuat Barraq berjingkat. Bersamaan dengan itu, Barraq memutar tubuhnya.


"Ayah..." ucap Barraq saat mengetahui si empunya tangan.


Emran tersenyum. Matanya menilik anak laki-laki keduanya itu. Untuk kemudian, duduk di sebelah Barraq.


"Ada apa? Ayah perhatikan kau begitu gelisah...?" ucap Emran.


Sebelah tangannya mengguncang bahu Barraq hingga berayun kecil.


"Ayah ingat Laila Ratri Hadiningrat? Gadis yang aku ceritakan itu..."


"Ow, gadis yang telah membantu mu mengungkap kecurangan Ethan dan Jarwo beserta komplotannya?"


"Ya..." ucap Barraq berapi.


"Tentu saja ingat. Jika dia masih hidup, tentu ia akan menjadi menantu ayah..." ucap Emran.


Bibirnya menyunggingkan senyuman. Senyum menggoda rasa anak laki-laki keduanya itu. Mendapat kata candaan Emran, Barraq pun tersenyum.


"Em, bagaimana jika ucapan ayah menjadi kenyataan? Laila menjadi menantu di rumah kita?"


"Nak, bukankah kau sendiri yang mengatakan tentang kondisi Laila saat itu? Dan Laila telah pergi selamanya?"

__ADS_1


"Bagaimana jika Laila masih hidup?'


"Nak...."


"Yah, tak satu pun berita yang menyebutkan bahwa Laila sebagai korban yang kehilangan nyawa. Dan beritanya pun tiada berkelanjutan. Stop hanya sampai pada hari insiden. Dan setelah itu tak ada kabar lagi. Dan bodohnya Barraq, Barraq tidak pernah berupaya mencari Laila" ucap Barraq.


Dari nada bicaranya jelas jika ia tengah dirundung kesal.


"Mencari apa? Kuburnya? Keluarganya?" ucap Emran datar.


"Semuanya, Yah. Hitung-hitung mengurangi rasa bersalah atas kebodohan ku sendiri"


"Kalau begitu, mulailah. Mengapa kau berlarut-larut dalam kegamangan mu?"


"Barraq sungguh bingung, harus memulai dari mana..."


Laki-laki tampan yang merupakan putra mahkota di keluarga El Khasif itu, mengangkat tubuhnya. Kaki panjangnya tegak menahan beban tubuhnya. Matanya kembali menatap jauh. Entah kemana. Kedua tangannya disimpan pada dua kantung celananya.


Tak lama Emran pun mengikuti jejaknya. Laki-laki yang baru saja kembali mendapatkan kehidupannya setelah dicuri Jarwo itu berdiri mensejajari Barraq. Melalui ekor matanya, Emran menilik wajah putra keduanya itu. Ada riak dalam hatinya saat melihat guratan gundah di wajah anak laki-laki tampannya itu.


"Maafkan ayah, nak. Ayah tidak bisa menceritakan yang sebenarnya. Kau harus menemukannya sendiri. Ini janji ayah pada Wijoyo Hadiningrat..." batin Emran.


"Ikuti kata hati mu, nak. Semuanya bermula dari hati. Em, tapi klo ayah menjadi kamu, ayah akan langsung mendatangi keluarganya. Ayah akan mencarinya walau sampai ke ujung dunia sekalipun..." ucap Emran.


"Jika benar Laila sudah tiada...?"


"Itu sebuah kenyataan. Hadapi..."


"Jika Laila masih hidup...?"


"Maka ikuti kata hati mu saja..."


Barraq tampak menghela nafas. Mata elangnya menatap Emran sejenak. Kemudian senyum pun mengembang dari sudut bibirnya.


"Terima kasih, Yah..." ucap Barraq sumringah.


Laki-laki tampan bertubuh tegap dan tinggi itu memeluk Emran sejenak untuk kemudian menyambar kunci yang sejak tadi tergeletak di meja. Itu pun ia lakukan setelah membaca sebuah pesan yang tertera pada ponselnya.


Langkah Barraq terasa ringan. Ada rasa yang membuncah dalam dalam jiwanya. Hingga laki-laki tampan yang banyak digilai kaum hawa itu pun berlarian setengah melonjak, bak bocah mendapat hadiah. Melihat itu Emran tersenyum geli. Kepalanya pun menggeleng karena polah Barraq tersebut.


"Mau kemana?!" ucap Emran.


"Mencari cinta..." ucap Barraq.

__ADS_1


"Ahai...!!" ucap Emran bernada menggoda.


Sepeninggalan Barraq, Emran menghela nafas. Ada asa di ujung tatapannya saat melihat api yang membara di kilat mata putranya itu.


"Semoga kau menemukan apa yang kau cari...." gumam Emran.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan pada tempat yang berbeda. Laila tengah duduk di hadapan Arina dan Wijoyo. Tatapan gadis itu tersimpan di ujung kakinya. Sesekali Laila menghela nafas.


"Ndok, fikirkan lagi keputusan mu. Jangan gegabah. Ini tentang hidup mu. Ayah mu hanya memberi saran bukan keputusan..." ucap Arini.


Katanya mengalir begitu lembut. Bersamaan dengan itu, Arini menggenggam jemari putri semata wayangnya itu. Ia faham betul apa yang tengah di rasakan putri kesayangannya itu.


"Betul. Ayah tidak memaksa mu. Hanya bersaran. Attar itu perwira yang baik. Sejak dahulu ia mencintai mu. Dan dia tetap memilih mu, walau kondisi mu seperti ini" ucap Wijoyo.


"Ya, Yah. Laila sudah mempertimbangkan itu semua. Dan Laila sudah pada tahap pengambil keputusan..."


"Ndok..." ucap Arini sedikit tinggi.


"Bu...Laila tidak ingin seperti pungguk merindukan bulan. Laki-laki itu belumlah tentu mencintai Laila. Selama ini saja, ia tak pernah berusaha mencari ku untuk sekedar berucap terima kasih..." ucap Laila.


Jelas dari nada bicaranya ada kecewa yang tengah ia rasakan. Gadis itu pun menyusut bulir bening yang baru saja meluncur.


"Tapi kau mencintainya, Ndok. Ibu tidak ingin kau tidak bahagia saat bersama Attar. Karena hati mu pada Barraq.


"Bu, Laila harus menghentikan penantian ini. Laila tidak ingin terus-menerus dihantui perasaan yang belum tentu terbalas..."


"Ayah setuju dengan keputusan mu..." ucap Wijoyo sambil membetulkan posisi duduknya.


"Maafkan aku, Emran. Aku tidak bisa menunggu lagi. Kebahagiaan putri ku dipertaruhkan..." batin Wijoyo.


"Setuju apa nih..." ucap tiba-tiba seorang laki-laki.


Laki-laki itu melangkah sambil tersenyum. Gestur tubuhnya saat melangkah begitu gagah. Tentu saja akan membuat para gadis di luaran sana terpesona. Bagaimana dengan Laila? Terpesona juga kah?


"Ah, Attar. Kemarilah..." ucap Wijoyo.


"Siap, Ndan..." ucap Attar.


Kaki panjangnya melangkah cepat. Sepintas ia melihat ke arah Laila yang masih termangu. Attar tersenyum, hatinya beriak saat mendapati gadis yang sejak dahulu ia cintai itu tengah hanyut dalam fikirannya.


"Duh jantung, tenanglah. Laila...apa kau tidak mendengar suara bertalu ini...? Berhentilah mencintai Barraq. Ada aku, La. Aku yang sejak dahulu mencintai mu.." batin Attar.

__ADS_1


"Mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkan Oemar Barraq El Khasif? Ayolah, La. Hentikan...! Sudah cukup kau berharap pada hal yang sama sekali tidak mungkin. Hentikan...! Pergilah, Barraq...!" batin Laila.


__ADS_2