
Laila berdiri di sebelah Barraq. Hari ini adalah dua hari sebelum ia pergi. Walau ada gurat Kesedihan, namun sekuat tenaga Laila tak menampakkan di hadapan Barraq. Mata keduanya menilik bangunan yang ada di hadapannya. Bangunan sederhana bercat usang dengan bunga dan pepohonan yang rindang. Pun demikian, kehangatan dan keramahan penghuninya kental terasa.
Barraq mengetuk pintu beberapa kali. Namun tiada jawaban. Kemudian Laila menembus dinding melihat situasi di dalam bangunan tersebut. Laila menelusuri ruangan demi ruangan yang ada. Hingga sampai pada sebuah ruangan, hati Laila terenyuh. Laila mendapati seorang laki-laki yang terbaring tak berdaya. Di sebelahnya tersaji makanan sederhana berupa ubi-ubian seperti ubi jalar dan ubi batang.
Selang infus pun terpasang pada lengan kiri laki-laki tersebut. Sementara itu, di sudut ruangan duduk seorang perawat laki-laki. Perawat tersebut tengah asyik mengotak-atik ponselnya.
"Ugh...ugh..." ucap laki-laki paruh baya itu.
Tangannya menggapai-gapai. Isyarat jika ia memerlukan bantuan. Melihat isyarat itu, perawat itu pun langsung menghampiri. Mendadak wajah perawat itu berubah saat mencium aroma tak sedap. Jelas ada kekesalan yang terlukis di wajah dan gerak-gerik perawat itu. Terlebih saat kata terucap dari mulutnya.
"Bapak pup ya...?! Kok tidak memberitahu sebelumnya. Kalau begini kan saya yang repot. Bapak tahu sudah tiga bulan ini anak bapak tidak mengirimi uang untuk kebutuhan sehari-hari...! Apa yang bapak makan itu adalah sisa tabungan dari tiga tahun terakhir ini. Entah sampaikan akan mencukupi kebutuhan yang ada. Jadi jangan menambah kesusahan saya...!"
"Ma-ma-af..." ucap laki-laki paruh baya itu.
"Jika bukan karena kemanusiaan, sudah saya tinggalkan bapak. Dengan gaji yang kurang dari seharusnya pasti perawat lain sudah meninggalkan bapak..."
"Ehem...." Barraq berdehem.
Barraq berdiri di ambang pintu. Matanya menilik setiap sudut ruang kamar yang tak luas itu. Barraq menghela nafas. Kakinya melangkah sedikit berat. Terlebih saat tercium aroma tak sedap itu. Pun demikian, Barraq tetap mencoba meringankan langkah dan menghampiri si empunya rumah. Barraq sedikit menahan nafasnya saat mulai mendekati sumbernya.
"Dan-daniel...kau kah itu....?" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Irfan, ayah dari Daniel.
Sudah lebih dari empat tahun Irfan menderita sejumlah penyakit. Namun tak kunjung pulih, walau telah menjalani bermacam pengobatan di El Khasif Hospital.
Mendapati kehadiran Barraq, perawat itu terkesiap. Ia langsung menjura takzim. Karena ia tahu siapa laki-laki tampan di hadapannya itu. Tangan Barraq berisyarat agar perawat itu tetap diam. Tak memberitahu identitasnya kepada Irfan.
"Bukan, Om. Saya temannya Daniel..." ucap Barraq lembut sambil tersenyum.
"Oo..." ucap Irfan singkat.
"Maaf jika mengganggu waktu istirahat nya, Pak..." ucap Barraq.
"Ternyata tuan Barraq lebih lembut dan sopan dibanding tuan Ethan. Dan dari sorot matanya, aku yakin dia orang yang tulus. Tidak seperti tuan Ethan" batin Prima, sang perawat.
Mendengar ucapan Barraq, Irfan mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa kedatangan Barraq tidaklah mengganggu sama sekali. Wajahnya pun sumringah karena senyum yang terurai.
"Om Irfan sepertinya sudah semakin sehat nieh. Senyumnya saja sudah mengalahkan bujangan..."
"Hehe..."
Tawa Barraq dan Irfan mengisi udara saat itu. Tawa yang begitu tulus pastinya. Tawa yang telah lama tak dirasakan Irfan. Kemudian ditengah tawa, tatapan Irfan mengarah pada suatu tempat dimana Laila berdiri. Tatapan yang membuat Barraq dan Laila terkesiap. Bagaimana tidak, tak semua orang yang dapat menangkap perwujudan Laila.
"Duduklah, Neng..." ucapnya.
"Om, kenal saya?" ucap Laila memberanikan diri.
Laila pun duduk di sebelah Barraq dan mengumbar senyum.
"Tentu saya kenal. Waktu itu, neng mengantar keperluan saya bersama Daniel. Neng masih magang waktu itu kata Daniel" ucap Irfan.
Barraq menatap wajah Laila yang terlihat bingung itu. Bahkan lebih pada konyol menurut Barraq. Hingga laki-laki tampan itu tersenyum lebar.
"Mungkin dulu kalian dekat..." bisik Barraq.
"Cemburu ya...." ledek Laila.
"Ish, ogah..." bisik Barraq.
Kata sekenanya Barraq membuat Laila terkekeh. Kekeh yang begitu sempurna untuk dinikmati. Terlebih Barraq. Laki-laki tampan itu tengah menilik setiap gurat bahagia yang terlukis pada Laila. Karena ini adalah kesempatan langka untuk dinikmati, maka Barraq tak menyia-nyiakan kesempatan itu sedikit pun.
__ADS_1
Kemudian percakapan terus berlangsung
Riuh rendah suara yang tercipta. Bahagia pun dirasakan oleh Irfan sejak tiga tahun terakhir ini.
Namun demikian, berbeda halnya dengan Prima. Perawat itu tampak kecut. Wajahnya kian pasi setiap menyaksikan percakapan yang bak sepihak itu. Tatapannya mengarah pada sebuah kursi yang terlihat kosong. Kursi yang sebenarnya di duduki oleh Laila.
"Om, kami pamit. Beristirahatlah...."
"Terima kasih atas kunjungannya. Apa Daniel baik-baik saja?"
"Tentu, Om. Daniel baik-baik saja. Dan Daniel mengirimkan beberapa barang keperluan untuk Om" ucap Barraq sambil tersenyum.
Kata yang membuat Laila menatap Barraq. Karena sepengetahuan Laila, tiada suatu barang apa pun yang dibawa saat datang berkunjung. Terlebih saat Barraq menyebut nama Daniel. Namun saat melihat kerling mata Barraq sebagai suatu isyarat, maka Laila mengerti maksud dari laki-laki tampan itu.
Laila tersenyum mendapati isyarat itu. Ini bukti kepedulian dan kelembutan hati Barraq, begitu fikir Laila. Kemudian Laila memukul-mukul kecil lengan Barraq. Saat melakukan itu wajah Laila pun berekspresi menggemaskan.
"O..ooo...." begitu gumam Laila.
Melihat itu, hati Barraq beriak syahdu. Hatinya benar-benar jadi merah jambu. Barraq pun mencubit kecil hidung Laila sebagai wujud kegemasannya atas polah Laila barusan.
Kemudian Barraq dan Laila melangkah ke luar ruangan diikuti Prima, sang perawat yang tengah merinding disko itu. Barraq memberi isyarat untuk perawat agar ia duduk sebentar di kursi yang ada di teras. Dan perawat itu pun mengikutinya.
"Aku ingin bertanya. Aku harap kau menjawab dengan jujur..."
"Apa yang ingin tuan tanyakan?"
"Aku ingin melihat rekam medis om Irfan. Ada...?"
"Ada. Sebentar, Tuan. Saya akan mengambilkannya..." ucap Prima sesaat sebelum berlalu.
"Apa yang kakak rencanakan...?" ucap Laila.
Laila mengernyitkan dahi. Ia mencoba memaknai kata Barraq. Mencari maksud yang sebenarnya. Melihat reaksi Laila, Barraq tersenyum. Sebelah tangannya mengucek pucuk kepala Laila dengan gemas.
"Kota ingin perlihatkan kecurangan Ethan terhadap om Irfan kepada Daniel. Dengan begitu diharapkan Daniel bekerjasama dengan kita"
"O...."
Laila meng-o panjang. Wajahnya kembali menunjukkan ekpresi yang menggemaskan bagi Barraq. Dan hal itu lagi-lagi membuat Barraq mengucek pucuk kepala Laila.
"Ini, Tuan..." ucap Prima sambil kembali duduk.
Barraq menerima berkas yang disodorkan Prima. Tak lama kemudian, Barraq sudah tenggelam menilik setiap lembar berkas yang ada. Ada kecewa dan geram yang mengisi relung hatinya. Dan itu jelas terlukis pada raut wajah Barraq. Laki-laki tampan yang merupakan pangeran kedua di keluarga El Khasif itu mengepalkan tangan. Nafasnya memburu.
"Ada apa, Kak...?" tanya Laila.
Gadis berbaju biru dengan motif bunga berwarna putih dan merah muda itu begitu penasaran. Terlebih saat reaksi yang ditunjukkan Barraq barusan.
"Dokter Maleq dan dokter Fazz jelas menyarankan untuk melakukan pembedahan. Lalu mengapa tidak dilakukan?"
"Karena tidak mendapat persetujuan dari wali pak Irfan"
"Siapa?
"Tuan Ethan..."
"Apa..?!" ucap Barraq.
Tangannya kembali mengepal hebat. kemarahan Barraq pun kian membara. Walau Barraq telah menemukan petunjuk sebagai kelemahan Daniel, namun tetap saja hati kecilnya mengutuk apa yang telah dilakukan Ethan. Barraq pun tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Daniel jika mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
"Baik, Prima saya akan membawa berkas ini. Dan ini untuk keperluan om Irfan selama seminggu kedepan"
Barraq mengeluarkan dua puluh lembar uang seratus ribuan. Hal tersebut membuat Prima termangu.
"Mulai sekarang segala keperluan om Irfan menjadi tanggungjawab ku. Melalui diri mu aku akan mengurusnya. Oya, apa uang bulanan mu lancar?"
"Lancar, Tuan. Karena saya adalah perawat di El Khasif Hospital" ucap Prima.
"Jika ada sesuatu yang penting segera hubungi saya" ucap Barraq sambil memberikan secarik kertas berisi nomor ponselnya.
"Baik, Tuan..."
"Oya, satu lagi. Jangan beritahukan kedatangan saya kepada siapa pun. Termasuk kepada Ethan..." sesaat sebelum berlalu.
"Baik, Tuan..." ucap Prima mantap.
Mata Prima menatap punggung laki-laki yang tampan itu. Laki-laki yang selalu buruk di mata publik, namun begitu baik. Hal tersebut pula yang membuat Prima gamang atas penilaian yang pernah ia berikan.
"Ah, ternyata tuan Barraq begitu baik. Kenaikannya pun tulus. Ketulusan yang terpancar di matanya. Dan juga bagaimana caranya memperlakukan pak Irfan. Sungguh orang di luaran sana telah salah menilai mu, Tuan..." ucap Prima.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Kak..." ucap Laila.
Sekilas Barraq menilik Laila dengan ekor matanya. Kemudian ia fokus kembali pada jalanan. Saat ini hati Barraq tengah sumringah. Bagaimana tidak, petunjuk atas kasusnya semakin terang benderang. Dan masa menuju bahagia atas kehidupannya itu tinggal beberapa langkah saja.
Sesekali tangannya menilik berkas rekam medis Irfan yang ada di kursi belakang lewat kaca spion. Senyum khasnya mengembang, auto bertambahlah ketampanannya yang bernilai sembilan koma sembilan dari rentang angka satu hingga sepuluh itu.
"Kak..." panggil Laila lagi.
Kali ini, Barraq terkejut. Karena terkejutnya itu, Barraq pun banting stir ke kiri jalan. Cicit mesin terdengar begitu menggigit. Kemudian Barraq menilik sekali lagi ke tempat dimana Laila berada.
"Kak..." ucap Laila.
Kali ini dengan suara yang bergetar. Laila menilik tubuhnya yang tersisa separuh itu. Selebihnya telah menjadi bayang. Laila hampir terisak. Bukan karena tubuhnya, namun karena yang akan ditinggalkannya nanti, yaitu Barraq. Laki-laki tampan yang sejak lama ia cintai.
"Sayang...." ucap Barraq.
Tak banyak kata yang ia lontarkan. Hanya genggaman tangannya pada jemari Laila saja yang berbicara. Tak lama kemudian Barraq merengkuh kepala Laila dan membenamkannya pada dada yang selalu berdegup berlarian saat bersama Laila.
"Bukankah masih tersisa dua hari lagi, hari ini dan esok?" ucap Barraq.
"Entahlah, Kak. Dan semakin dekat dengan hari itu, suara bib bib pun kian sering terdengar" ucap Laila.
"Aku harus apa?" ucap Barraq sedikit panik.
"Entahlah, Kak..."
"Kalau begitu kita kembali ke rumah pantai..."
"Tidak, Kak. Kita lanjutkan perjalanan menemui Daniel"
"Tapi..."
"Cepat, Kak. Sebelum kesempatan melihat mu bahagia sirna" ucap Laila.
Tangannya mengusap bulir bening yang sempat membasahi kedua matanya. Dan kemudian, senyum pun Laila coba berikan. Ia tengah menguatkan hati sebagai peliput lara.
Kemudian Barraq pun memacu mobil sport berwarna silver dengan kecepatan tinggi. Barraq tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
__ADS_1
"Semoga aku tidak terlambat untuk membahagiakan mu, wali sejenak..." batin Barraq.