
Laila berdiri di balkon. Matanya menatap langit yang dipenuhi kerling bintang. Kerlingnya membuat siapa saja terpesona. Sesekali mata Laila pun mengikuti pergerakan beberapa mobil mewah yang meninggalkan halaman rumahnya.
Laila menghela nafas. Helaannya cukup panjang. Sepanjang laju fikirannya berusaha meniti keping ingatan tentang Barraq. Hingga kepala terasa sakit, Laila belum berhasil mengingat semua hal yang pernah dilalui bersama Barraq saat ia koma. Dan Laila begitu penasaran akan semua hal itu.
Laila memegangi kepala. Matanya terpejam. Di kepalanya tengah berseliweran kilasan potongan peristiwa, walau samar. Entah kapan itu terjadi Laila tidak mengetahuinya. Pun demikian, hanya sedikit kilasan itu yang mampu mengisi ingatannya.
"Langitnya indah ya. Apalagi ada bintang-bintang yang beterbangan..." ucap Attar sambil berdiri di sebelah Laila.
Mendapati kehadiran Attar, Laila sedikit beringsut sekedar memberi ruang agar pandangannya Tidka terlalu dekat dengan Attar. Senyum pun mengembang menghiasi wajah cantik Laila.
"Tapi bintangnya kalah cantik dengan gadis di sebelah ku ini?" ucap Attar bernada menggoda.
"Gombal..." ucap Laila.
"Betul. Aku tidak sedang menggombal, La..."
"Hehe...sekali perayu, tetap perayu..."
"Apa aku harus terjun dari balkon ini, agar kau percaya..."
"Haha....tidak perlu, Tidka perlu..."
Attar tersenyum. Tangannya merogoh kantung celananya.
"Kalau ini, mau kan?" ucap Attar sambil menyodorkan kotak berwarna biru.
Deg.
.
.
.
Perhatian Laila langsung beralih kepada Attar dan kotak yang disodorkan Attar. Terlebih cara Attar memberikannya, begitu menjadi perhatian Laila.
"Apa ini...? Bukankah kakak sudah memberiku hadiah tadi?"
"Will you marry me...?" ucap Attar.
Deg.
.
.
Ini adalah kali kedua Laila merasakan degup jantungnya berlompatan. Aliran darahnya pun menyanyikan sebuah lagu yang entah dimainkan dengan irama apa. Laila diam. Tiada kata yang mewakili bagaimana perasaannya saat ini atau pun kata apa yang tepat untuk memberi jawaban atas ungkapan Attar barusan.
"Laila..." panggil Attar penuh harap.
"Kak...Aku belum bisa jika secepat ini" ucap Laila hati-hati.
__ADS_1
"Tapi....bukankah kau sudah berjanji. Seusai operasi pembedahan mu, kita akan menikah?" ucap Attar mengingatkan kata yang dianggap sebuah janji itu.
"Ya. Tapi tidak secepat ini. Aku masih harus beradaptasi dengan kondisiku saat ini..." ucap Laila berusaha menjelaskan.
"Apa karena tuan Oemar Barraq El Khasif?" ucap Attar sambil menatap Laila.
Rupanya ia tengah mencari jawaban pasti jauh di dalam mata indah Laila.
"Tidak sepenuhnya..."
"Tidak sepenuhnya, bagaimana? Apa maksud mu?" ucap Attar.
Dari nada bicaranya, jelas jika ia tengah berusaha mendamaikan hati yang tengah mulai berbagai itu.
"Kak Barraq dan kak Attar sendiri yang mengatakan bahwa Laila telah melakukan perjalanan saat koma. Dan Laila lebih banyak bersama kak Barraq. Sampai rasa kami bersatu..."
"Itu saat kau menjadi arwah, Faktanya saat tersadar kau lupa segalanya. Mengapa? Karena cinta yang kau rasakan saat itu hanya cinta sesaat. Bukan cinta yang akan kau rasakan di segala situasi dan kondisi. La, cinta sejati mu hanya untuk ku..." ucap Attar berusaha meyakinkan.
"Entahlah, Kak...."
"Mengapa Laila bimbang kembali? Apa ada yang sudah terjadi antara dia dan Barraq saat kutinggalkan beberapa saat lalu...? Tapi rasanya kecil kemungkinan karena waktu kebersamaan keduanya begitu singkat. Aku tidak boleh terpancing emosi dengan semua ini. Hmm, hilang wibawa perwira ku jika aku sampai demikian" batin Attar.
"Kak...." ucap Laila sambil menepuk lengan Attar yang masih terdiam.
"Ah, ya...." ucap Attar seketika saat mendapat perlakuan Laila.
"Aku mengerti. Dan aku tidak akan memaksa mu lagi. Tapi....kapan aku akan mendapat jawaban dari mu atas keinginan ku tadi?" ucap Attar berusaha setenang mungkin.
Senyum yang berasal dari sebuah kelegaan atas pengertian Attar.
"Terima kasih, Kak. Pengertian kakak sangat berarti bagi ku..." ucap Laila.
"Kau tidak tahu bagaimana perasaan ku, Laila. Bagaimana kecewanya? Bagaimana gusarnya? Dan bagaimana aku sangat mengharapkan keputusan mu berpihak kepada ku..." batin Attar.
"Maafkan aku, kak. Aku belum dapat memberi kepastian atas ungkapan mu. Aku tengah ragu, Kak. Terlebih dengan kilasan potongan peristiwa ini membuatku kian penasaran..." batin Laila.
"Ndok..." ucap Wijoyo.
Sontak perhatian Laila dan Attar beralih kepada si empunya suara yang sudah berdiri di ambang pintu balkon.
"Ayah...." ucap Laila yang langsung menghibur dan mendekap laki-laki yang selalu sempurna di matanya itu.
Yang tak kalah sigap adalah Attar. Sesaat setelah ia mengetahui kehadiran Wijoyo, tubuh Attar langsung bersikap sempurna.
"Bagaimana sudah menentukan waktu?" ucap Wijoyo.
"Waktu...?" ucap Laila setengah terkejut.
Wajah nya mendongak. Matanya menatap Wijoyo, ayahnya.
"Apa Attar belum mengatakan apa pun?"
__ADS_1
Laila lesu. Jawaban Wijoyo sontak melipat rasa penasarannya. Dan membungkus rapat kata lainnya yang sudah siap di ujung lidah. Laila melepaskan dekapannya dan memilih duduk di kursi di sudut balkon.
"Emm, Laila masih membutuhkan waktu, Ndan. Dan saya memakluminya..." ucap Attar.
"Membutuhkan waktu? Tapi bukankah seperti ucapan mu lalu, bahwa hubungan kalian akan menjadi lebih serius setelah operasi pembedahan selesai? Lalu mengapa sekarang berubah? Ada apa? Ayah fikir semua berjalan baik-baik saja sesuai rencana. Lalu jika berubah, maka sepertinya Ayah sudah tidak mengenal putri ayah sendiri saat ini..." ucap Wijoyo panjang meluapkan kekecewaannya.
"Bukan seperti itu, Yah. Laila ingin memastikan bahwa kilasan potongan peristiwa yang beberapa waktu ini adalah imajinasi saja dan bukan fakta seperti yang kak Attar katakan..."
"Kau ingin membuktikan ucapan ku atau ucapan Oemar Barraq El Khasif" ucap Attar.
Perwira yang tengah bucin itu tiba-tiba saja berdiri. Wajahnya jelas menampakkan kekesalan.
"Maaf, Ndan. Sepertinya rencana tidak berjalan mulus. Dan dengan demikian, saya harus memulangkan kembali orangtua saya ke kampung halaman..."
"Or...orang tua, kata mu? Apa mereka di sini?" ucap Laila gagu.
Ia dihinggapi rasa tak enak hati.
"Di rumah ku..." ucap Attar.
Matanya menatap Laila sambil lalu saja.
"Maaf, Ndan. Mohon izin pulang. Sudah malam. Dan saya juga tidak dapat meninggalkan ayah dan ibu terlalu lama di rumah..."
"Berhati-hatilah. Dan sampaikan salam ku untuk kedua orangtua mu..." ucap Wijoyo.
Sebelah tangannya menepuk bahu kekar Attar sambil tersenyum. Sebuah isyarat yang diartikan agar Attar bersabar dan kuat hati dalam menghadapi Laila, putri kesayangannya itu.
Dan perlakuan tersebut dibalas Attar dengan senyum dan anggukan kecil. Sebuah tanda penghormatan pun Attar berikan sebelum ia berlalu dan meninggalkan balkon tersebut.
"Ayah tidak mengerti dengan cara mu berfikir kini, Laila...." ucap Wijoyo.
"Ayah...." ucap Laila sambil meraih lengan Wijoyo dan mendekapnya.
"Attar itu laki-laki yang baik, Ndok. Ayah tahu pasti. Gerak-gerik dan laju karirnya selalu menjadi perhatian ayah..."
"Baik saja tidak cukup ayah..."
"Ow....anak ayah mulai berspekulasi rupanya. Selain baik, Attar juga jujur, sopan, dan yang lebih penting ia mencintai mu dengan sepenuh hati"
"Ya, Attar sempurna Ayah. Tapi...."
"Tapi apa, Ndok...? Apakah kau menemukan kekurangannya?" ucap Wijoyo.
"Putri kita tidak mencintainya...." ucap Arini yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang keduanya.
Arini pun meraih sebelah lengan Wijoyo lainnya. Perempuan yang sudah lebih dari tiga puluh tahun menemani Wijoyo itu merebahkan kepalanya sambil mengusap lembut lengan yang di depannya itu.
"Seperti kita, Yah. Kita saling mencintai. Dan ibu ingin anak kita pun demikian terhadap pasangannya. Mencintai dan dicintai...."
"Ibu...." ucap Wijoyo.
__ADS_1
Lengannya merengkuh Arini dan membawanya dalam dekapannya bersamaan dengan Laila. Wijoyo tampak menghela nafas. Matanya menerawang langit. Dan sesekali ia membagi kecupan pada pucuk kepala Laila dan Arini.