LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 24. Kenyataan Lainnya


__ADS_3

Laila kembali menghempas tumpukan file. Kali ini di ruang kerja dalam rumah sang wartawan gaek, Rifky. Lembaran tiap file-nya beterbangan ke udara untuk kemudian jatuh kembali ke lantai dengan tenang. Tiada kegaduhan yang tercipta. Hanya tatap heran bercampur kecut Rifky yang ada.


Sesaat kemudian, benda-benda lainnya mulai beterbangan. Dan satu persatu mulai beradu. Dimulai dari sebuah vas bunga, kemudian gelas berisi air mineral, file, buku, hingga benda kecil lainnya seperti pena, dan atau alat tulis kantor lainnya. Laila benar-benar menghempaskannya dengan tujuan memberi pelajaran agar Rifky kecut dan urung dengan semua janjinya kepada Ethan.


Rifky menilik setiap perjalanan setiap benda menuju dinding dengan heran. Hingga beradu gaduh barulah Rifky terjingkat. Ternyata sadarnya baru dimulai ketika gaduh menyapa telinga dan menghentak dada.


Rifky terdiam. Langkah kakinya terasa berat. Tubuhnya pun gemetar. Ini benar-benar sebuah fenomena di luar nalar, begitu fikirnya. Belum usai rasa takutnya, Rifky kembali dikejutkan dengan kehadiran Laila di sudut ruangan. Laila berdiri dengan sorot mata beraura tak menyenangkan. Rambut panjang Laila pun terurai dan sedikit menutupi sebagian wajahnya yang pasi. Begitu melihat itu semua Rifky kian kecut. Tubuhnya gemetar. Bahkan tanpa sadar celananya pun telah basah. Bau tak sedap langsung menyeruak, mengisi udara dalam ruangan tersebut.


Tak sampai hitungan ketiga, Laila sudah berada di hadapan Rifky. Bahkan hanya sekejap mata saja wajah pasi itu sudah begitu dekat dengan wajah Rifky. Saking dekatnya, degup jantung Rifky saja terdengar bertalu bak genderang ditabuh.


"Sekali saja jemari mu menyentuh keyboard untuk menulis berita tuan Barraq, maka tak segan-segan aku akan memotongnya. Berikut dengan lengannya..." ucap Laila.


Kata datar bernada ancaman itu kian membuat wartawan gaek itu kian kecut. Tubuhnya kian gemetar. Bahkan tarikan nafasnya pun nyaris tak terlihat.


"Apa kau mengerti...?"


Rifky mengangguk perlahan. Matanya mau tak mau menatap wajah pasi milik Laila.


"Dan jika tuan Barraq memerlukan bantuan, maka kau akan membantunya. Mengerti...?"


Rifky kembali mengangguk. Jelas ada aura ketakutan yang tengah menyelimuti Rifky.


BLAST...


Secepat kilat, Laila menghilang. Laila meninggalkan Rifky dalam ketakutan akut nya. Laila telah berlalu dan meninggalkan hawa dingin mencekam.


Gemetar tangan Rifky merogoh kantong celana. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyelipkan diantara bibirnya. Kemudian Rifky berusaha menyalakan pemantik api, namun gagal. Bukan sekali, tapi berulangkali. Dan hasilnya tetap sama. Rupanya rasa takutnya telah mempengaruhi di setiap sendi tubuhnya, hingga Rifky sendiri sulit mengendalikan segala aktifitas tubuh walau sederhana.


CETIK...!


BLUP...!


Sebuah nyala api kecil dari sebuah pematik tiba-tiba saja menyala. Entah darimana, namun sebuah lengan menyodorkan nyala api itu untuk membakar rokok yang masih terselip pada bibir Rifky.


Rifky membiarkan nyala api itu membakar rokoknya. Namun lagi-lagi celananya telah basah kembali. Dan aroma tak sedap pun kembali menyengat. Gemetar tubuh Rifky kian akut. Terlebih saat seulas wajah kembali muncul di hadapannya. Kali ini begitu seram.


"Ingat yang diucapkan teman ku. Jika kau masih melakukan perintah tuan Ethan, maka aku akan menambahi hukuman untuk mu. Bukan hanya jari tangan mu. Kedua kaki mu pun akan aku hancurkan..." ancam Berry.


Bersamaan dengan itu, nyala api pun padam. Berry pun menghilang. Dan tubuh Rifky pun terkulai tak sadarkan diri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Laila berdiri. Matanya menatap deretan pakaian dalam bermacam mode, warna dan ukuran. Laila ingin sekali memakai satu diantaranya. Laila ingin tampil berbeda saat bertemu Barraq nanti ketika tersadar. Laila ingin meninggalkan kesan yang baik di tujuh hari terakhir sebelum ia pergi untuk selamanya.


"Sudah ada pilihan, La...?" ucap Berry.


"Ah, kak Berry. Aku terkejut tau..."


"Haha...hantu bisa terkejut juga ternyata"


"Ish, dasar alay..."


"Alay...? Ow, kau ingin aku seperti kemarin-kemarin?"


"Oh, No. Geli, Kak. Haha...."


"Yei...pilih mana?" ucap Berry bernada lemah gemulai Seperti dirinya beberapa waktu lalu.


"Cukup, Kak...." ucap Laila sambil tersenyum bergidik.


Mata Laila kembali menyapu deretan pakaian. Ia masih mencari pakaian yang cocok untuknya. Tak lama kemudian, matanya tertumbuk pada sebuah gaun berwarna peace yang tergantung di sebuah etalase. Matanya berbinar menatap gaun berlengan pendek dengan panjang selutut itu.


"Itu kak..." ucap Laila.


Berry tersenyum. Ia pun mengikuti arahan telunjuk Laila.


"Kau tinggal melayang dan menerobos pakaian itu. Niscaya kau akan langsung memakainya" ucap Berry.


"Semudah itukah...?"


"Hook oh..." ucap Berry sambil mengangguk mantap.

__ADS_1


Laila pun mengikuti arahan Berry. Ia langsung melayang mendekati gaun berwarna peace itu. Tak sampai hitungan ketiga, Laila langsung menerobos ke dalam etalase. Sekali lagi matanya mengamati gaun indah itu. Dan Hooplaa....ajaib. Laila langsung memakai gaun itu ketika ia menerobosnya.


Laila berputar-putar saat telah memakai gaun itu. Wajahnya yang pasi menunjukkan ekspresi bahagia. Karena ada senyum tipis yang terlukis di sana.


"Bagaimana, Kak...?" tanya Laila.


"Aku yakin siapa pun yang melihat mu sekarang, akan jatuh hati" ucap Berry.


"Oya. Haha...."


Laila tertawa. Deret gigi putihnya benar-benar terlihat. Begitu rapi tersusun. Namun ketika tengah bersuka hati, Laila kembali mendengar suara bib bib yang beberapa hari ini ia dengar. Suara yang begitu mengganggunya.


"Akh..." keluh Laila.


"Ada apa..?" tanya Berry khawatir..


"Suara itu datang lagi, Kak. Begitu nyata di isi kepalaku..." ucap Laila.


"Kita pergi dari tempat ini..." ucap Berry sambil merengkuh bahu Laila.


Bak kilat menyambar, keduanya hilang begitu saja. Tak berbekas.


"Sementara itu, seorang pelanggan toserba tampak begitu tertarik dengan gaun berwarna peace di dalam etalase. Matanya tiada henti menilik.


"Aku mau gaun ini..." ucap pelanggan itu.


Seorang pramuniaga melayani dengan cekatan. Ia menyerahkan gaun berwarna peace yang baru saja ia keluarkan dari dalam etalase kepada pelanggan tersebut. Namun belum lagi sempurna di terima, pelanggan itu memalingkan wajahnya. Rupanya ada aroma wewangian yang terendus indera penciumannya.


"Melati...." gumamnya.


Dan hal tersebut langsung diiyakan oleh pramuniaga. Karena ia pun mencium aroma kembang melati tersebut.


"Maaf, mbak tidak jadi. Biasanya kalau bau melati atau bangkai, barang atau baju tersebut sudah dipakai hantu" ucap pelanggan tersebut.


"Egh...."


Pramuniaga mengangkat wajahnya. Ia menatap heran wajah pelanggan tersebut.


Katanya tak sempurna saat ditinggal pelanggan. Fikirnya tak mampu menerima penjelasan si pelanggan barusan. Tanya pun langsung mengerubuti hatinya.


"Apa iya...? Ih, serem..." gumamnya sambil meletakkan kembali gaun peace itu ke dalam etalase.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sementara itu, diwaktu yang sama pada tempat yang berbeda. Laila lesu dalam dekapan Berry. Suara bip bip yang terdengar telah menguras energinya. Keduanya kini berdiri di depan ruang perawatan VVIP dimana Barraq berada. Ada gaduh dari langkah kaki saat itu. Dokter dan beberapa orang perawat terlihat berlarian menuju ruang perawatan lainnya.


"Bagaimana kondisi pasien...?" ucap seorang dokter beberapa langkah dari Laila dan Berry berada.


"Seperti tiga hari terakhir ini, serangannya kembali terjadi. Dan hari ini serangannya berulang beberapa kali. Tubuhnya bergetar hebat, Dok. Entah apa yang tengah dialami pasien sebenarnya" ucap seorang perawat menjelaskan.


"Atau...apa mungkin jika ini adalah tanda jika pasien akan kembali tersadar?" ucap perawat lainnya.


"Saya tidak dapat berspekulasi apa pun. Lebih baik kita cek secara keseluruhannya dahulu" ucap dokter.


"Tolong Barraq, Maleq. Apakah tidak ada upaya dari team dokter untuk mempercepat kesembuhan Barraq?" ucap Emran.


Katanya begitu khawatir. Berbanding terbalik dengan kata hatinya.


"Cepatlah mati, Barraq. Dengan demikian, rencana ku akan cepat terwujud" batin Emran El Khasif.


"Kak, semua dokter sudah berupaya semaksimal mungkin. Aku tahu pasti itu..." ucap Maleq.


Dokter Maleq sendiri sebenarnya adik dari Emran El Khasif. Ia memilih menjadi dokter ketimbang seorang pengusaha meneruskan usaha keluarga.


"Walau bagaimanapun, ia tetaplah anak ku. Seburuk apa pun..." ucap Emran.


"Buruk..?Kak, Barraq tidaklah seburuk yang kakak ketahui. Justru anak laki-laki pertama kakak yang buruk"


"Maleq...! Ethan adalah anakku satu-satunya yang mengerti maksud dan tujuan ku. Lihat saja karirnya tengah bersinar. Bahkan hampir melebihi kesuksesan ku..."


"Suatu saat kakak akan mengerti siapa yang matahari, siapa yang bayangan matahari..."

__ADS_1


"Aku tahu itu. Ethan adalah abu. Dan Barraq adalah emas..." batin Emran.


Di sudut bibirnya terbit sebuah senyuman. Senyum yang hanya dapat dimaknai olehnya sendiri.


"Pun demikian, permainan ini tidak boleh terbongkar. Peran ini begitu menguntungkan ku. Haha....!" batin Emran.


"Kak...." ucap Maleq.


Katanya sukses mengembalikan kesadaran Emran dari lamunannya.


"Ah, sudahlah. Kau jaga Barraq. Aku akan kembali ke kantor. Ada meeting yang harus ku hadiri" ucap Emran sambil bangun dari duduknya.


Kaki panjangnya mulai melangkah. Menapaki lantai berwarna putih itu. Diikuti Maleq.


"Oya, Ethan sudah kesini?"


"Sepertinya belum, Kak..."


"Anak itu begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak sempat melakukan hal yang mestinya dilakukan..." ucap Emran.


Mendengar itu, Maleq tersenyum kecut. Langkahnya begitu cepat meninggalkan Maleq yang berdiri di ambang pintu sambil menatap punggung laki-laki yang katanya adalah kakaknya itu. Sementara itu di belakang Emran mengiringi tiga orang laki-laki yang merupakan asisten pribadi dan bodyguard nya.


Sementara itu, Laila yang sejak tadi duduk pada kursi yang beberapa saat lalu ditinggalkan Emran, menilik kondisi Barraq. Ada sedih yang terlukis di ujung tatapannya.


"Hidup mu dipenuhi ketidakadilan, Kak. Ternyata bukan hanya aku yang mencarinya, tapi kau pun membutuhkannya..."


"Aku yakin tatapan itu bukan sekedar rasa kemanusiaan saja. Itu adalah cinta..."


"Egh..."


Laila mengangkat wajahnya. Mata indahnya menatap Berry yang duduk santai pada sofa di sudut ruangan.


"Attar..." ucap Maleq.


"Apa kabar, Om...?" l


"Baik..." ucap Maleq.


Tangannya menyambut uluran tangan Attar. Sesaat keduanya berjabat tangan dengan erat.


"Sudah lama sekali tak bertemu, At?"


"Ya, Om. Lima tahun. Maklum, tugas Attar selalu berpindah-pindah"


"Jika saja Barraq diizinkan dahulu, mungkin ia akan berseragam seperti mu saat ini"


"Untuk apa, Om. Semua Barraq telah miliki. Untuk apa bersusah payah mempertaruhkan nyawanya"


Maleq menghela nafas. Tangannya berisyarat mempersilahkan Attar ke dalam ruang perawatan dimana Barraq berada.


"Lihatlah sahabat mu itu, At. Begitu tak berdaya dalam ketidakadilan. Om sendiri tidak dapat berbuat banyak..." ucap Maleq sedih.


"Bersabarlah, Om. Sebentar lagi semuanya akan menjadi lebih baik. Attar dan Barraq memiliki cukup bukti untuk mendapatkan keadilan itu"


"Benarkah?"


"Ya, Om..." ucap Attar sumringah.


"Syukurlah. Dan om juga mempunyai sedikit informasi. Mungkin bisa memperkuat bukti yang ada..."


"Wah, terima kasih, Om"


"Mengapa tubuh kak Barraq berkeringat seperti itu. Bukankah ruangan ini ber-AC? Apakah ada tengah terjadi" ucap Laila.


"Laila...! Laila...!" ucap Barraq dalam ketidaksadarannya.


"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Walau pelakunya sudah kau temukan dan sudah mendekam di penjara, tapi pelaku sebenarnya belum mendapat ganjarannya. Artinya upaya mencari keadilan mu belum usai" ucap Barraq.


Nafas Barraq terengah. Energinya terkuras sat ia berupaya mencegah langkah Laila yang menjauhinya.


"*Aku tahu, Kak. Dan kini itu menjadi tugas mu. Temukan ia dan berikan keadilan untuk ku. lwaktu ku telah berakhir kak. Jadi aku mohon dengan sangat lanjutkan. Aku ingin keadilan itu bukan saja milik ku, tapi juga milik mu..." ucap Laila.

__ADS_1


"Laila*..." ucap Barraq.


__ADS_2