
Matahari mulai tergelincir dari atas kepala saat Barraq meninggalkan rumah Darius. Sementara langit begitu cerah dengan awan yang berarak perlahan. Tak sedikitpun awan gelap membayangi langit hari itu. Hanya deburan ombak dan cicit burung camar yang silih berganti rutin memecah keheningan.
Barraq melangkah dengan cepat dan tergesa. Ia tak peduli dengan situasi sekitar. Saat ini satu tujuannya yaitu membawa Laila ke tempat yang aman. Tempat yang terbebas dari rapalan mantra-mantra jahat. Hal ini agar Laila dapat menghirup udara dengan nyaman tanpa harus terbakar. Dan karena ketergesaannya itu, Barraq menjadi lupa akan keberadaan Berry yang saat itu masih beradu kekuatan dengan Darius.
Melihat kepergian Barraq, Berry manyun. Hanya sekilas ia menatapi
"Habis manis, sepah dibuang klo seperti ini caranya. Hehe...." gumam Berry yang diakhiri dengan tawa.
Matanya lagi-lagi sekilas menatap punggung Barraq yang kian menjauh.
"Em, rupanya Barraq telah berhasil menemukan Laila. Syukurlah..Jika demikian aku harus segera menyudahi permainan jurus ini dan secepatnya pergi menyusul Barraq dan Laila. Tapi....mungkin sebentar lagi. Setelah Barraq dan Laila benar-benar menjauh dari tempat ini, sehingga Darius tak dapat menjangkaunya lagi..." batin Berry.
Sementara itu, Barraq kian jauh. Langkahnya kembali menyusuri tepian pantai. Air berloncatan saat kaki Barraq menjejak pantai. Tak sedikit pun jejak ditinggalkan karena langsung di basuh ombak yang datang ke pantai.
"Apakah kita sudah jauh dari rumah pak tua itu?" ucap Laila.
"Sebentar lagi. Bersabarlah...." ucap Barraq.
Barraq terus memacu langkahnya. Hingga kurang lebih lima belas menit perjalanan, barulah Barraq menghentikan langkahnya. Barraq menghempaskan tubuhnya pada pasir putih yang basah. Nafasnya sedikit memburu. Seraya mendamaikan degup jantungnya yang bak berloncatan, tangan Barraq merogoh kantong jaket. Ia mengeluarkan botol berbentuk unik itu.
Tersenyum Barraq menatap sosok cantik di dalamnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Barraq pun memutar penutup botol dan membukanya. Hooplaa.....Bak asap yang tertiup angin, tubuh Laila seketika itu terbebas. Dan Melihat itu Barraq begitu lega. Barraq rebah pada pasir putih. Ia membiarkan tubuhnya basah di basuh air yang rutin mencumbu bibir pantai.
"Terimakasih, Kak...!!!!" ucap Laila.
Laila berjingkrak-jingkrak kegirangan. Menari berputar-putar. Entah tarian apa yang tengah ia tarikan. Yang pasti melihat itu, Barraq tersenyum. Ada kelegaan yang sulit diterjemahkan dengan kata saat itu.
Barraq duduk menghadap laut. Matanya menatap hamparan lautan nan luas bak tak berujung. Sebentuk pelangi pun terlukis di atasnya sesaat setelah gerimis menghilang. Tangan Barraq terlipat memeluk kedua lututnya. Bibirnya komat-kamit tiada henti berucap syukur.
"Kak...terima kasih ya" ucap Laila yang kini telah duduk di sebelah Barraq.
Mata Laila sendiri tengah terpukau pada warna pelangi di atas riak gelombang lautan yang tampak kemilau bak berlian ditimpa sinar mentari. Hatinya pun dipenuhi rasa yang membuncah. Sebuah rasa yang lagi-lagi sulit diurai oleh kata.
"Heei...sudah cukup berterima kasihnya. Cukup sekali saja. Tak perlu berulang begitu" ucap Barraq tanpa menatap Laila.
"Hehe...Em, kakak apa kabar?" ucap Laila seakan ingin memecah kekakuan suasana diantaranya.
"Baik. Dan....mendekatlah" ucap Barraq.
Tangannya berisyarat agar Laila lebih mendekat kepadanya. Sesaat Laila terdiam. Namum itu tak berlangsung lama. Karena di detik berikutnya Laila telah meluluskan permintaan Barral tersebut. Ya, Laila langsung mendekatkan wajahnya pada Barraq.
"Aku tidak pernah mabuk lagi..." ucap Barraq setengah berbisik.
"Oya...?! Wah, sebuah kemajuan yang patut dirayakan nih. Hehe..."
"Dirayakan bagaimana? Joget-joget seperti dirimu tadi? Ogah..."
"Haha...." tawa Laila.
"Aku senang, baru tiga hari aku pergi kakak sudah tidak mabuk lagi. Bagaimana jika aku pergi selamanya, pasti hidup kakak akan jauh lebih baik lagi..."
"Bicara apa, La...?" ucap Barraq.
Mata Barraq menatap Laila yang sudah berdiri. Gadis berparas cantik itu berdiri menatap lautan. Laila membiarkan sang bayu menerbangkan ujung rambut panjangnya. Kemudian Laila bersiap melangkah. Namun bersamaan dengan itu, Barraq sukses mencegah niatnya itu.
__ADS_1
"Jangan pergi..." ucap Barraq.
Sebelah tangan Barraq memegang jemari Laila. Matanya penuh perasaan menatap Laila. Tiada lagi lukisan yang menyiratkan keganasan seperti saat menghadapi Darius beberapa saat lalu.
"Aku mohon. Tetaplah bersama ku..." ucap Barraq.
Sebuah permintaan yang lazim disampaikan kepada seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Laila menatap Barraq. Mata Laila menilik jauh ke dalam manik mata milik Barraq. Kata dari Barraq sesaat sempat membuat Laila terkejut. Pun demikian, Laila langsung tersenyum. Wajah pasinya melukiskan sebuah perasaan yang sulit di uraikan dengan kata.
"Waktu ku tersisa tiga belas hari lagi, Kak. Dan mustahil rasanya membalikkan fakta bahwa setelah itu aku akan menghilang selamanya..."
"Aku akan mencari cara agar kita tetap bersama"
"Jangan mengacau takdir kak. Tuhan bisa marah..." ucap Laila dengan mata yang sudah dikerubuti bulir bening.
Barraq menghentak lengan Laila yang sejak tadi ia pegang. Laila pun terjatuh tepat di hadapan Barraq. Wajah keduanya begitu dekat. Bahkan terlalu dekat hingga hembusan nafas Barraq dapat Laila dengar dan rasakan.
"Laila..." ucap Laila.
Kata Laila terhenti saat mata elang milik Barraq itu menatap lekat dirinya. Saat ini jantung Laila berdegup hebat. Laila terpaku. Benar-benar tiada kata.
"Perasaan apa ini? Apakah hantu pun memiliki perasaan seperti ini?" Ah, tak mungkin. Tapi...." batin Laila.
"Jantung ku berdegup tak karuan seperti ini. Ada apa dengan ku? Setelah hampir lima tahun aku tak pernah merasakan hal seperti ini, hari ini aku kembali merasakannya. Rasanya ini mustahil...! Pada seorang hantu...? Ah, ini sebuah kegilaan...! Tapi....." batin Barraq.
"Apa yang sedang kalian lakukan....!!" ucap Berry yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari keduanya.
Barraq dan Laila terkesiap. Bak pasangan yang tertangkap basah hansip keduanya buru-buru membetulkan posisi tubuh mereka. Sikap keduanya pun begitu rikuh.
"Kalian....??" ucap Berry penasaran.
"Jangan bilang jika kalian..." ucap Barraq.
Kedua tangannya berisyarat saling mematuk mengisyaratkan sebagai tindakan berciuman.
"Ah, gila. Mana mungkin kami melakukan hal seperti itu.." ucap Barraq sambil berdiri.
Tangannya membersihkan sisa-sisa pasir putih yang menempel pada pakaiannya. Kemudian tanpa ba-bi-bu Barraq pun melangkah.
"Oya, selama aku tinggalkan sudah sejauh apa upaya tuan menolong Laila?"
"Apa maksud mu?" ucap Barraq sungut.
"Em, flashdisk yang ada pada kakak sudah dibuka kah?" tanya Laila tiba-tiba.
"Flashdisk...?"
"Ya, Tuan Barraq yang terhormat..."
"Astaga...." ucap Barraq sambil menepuk dahi.
"Jangan bilang kalau tuh Flashdisk hilang...?!"
Laila dan Berry menatap cemas laki-laki tampan yang mengaku sudah beberapa hari ini tak pernah menyentuh minuman beralkohol itu.
__ADS_1
"Ada...Ini" ucap Barraq sambil menunjukkan benda yang dimaksud.
Laila dan Berry memutar bola matanya. Tubuh keduanya seolah akan terjatuh saat mendapati polah absurd Barraq.
"Hadeuh..." ucap Berry tepok jidat.
Barraq tertawa cekikikan. Langkahnya begitu cepat meninggalkan pantai diiringi Berry dan Laila. Langkah Barraq kian lama kian cepat. Dan berakhir pada langkah panjang seirama degup jantung yang kian bertalu.
"Kemana..?!" ucap Laila.
"Ke rumah baru ku..!"
"Rumah baru...?" ucap Laila.
Laila tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Laila lunglai. Tubuhnya basah dibasuh ombak yang memecah pantai. Laila merasakan pusing yang luar biasa. Tangannya pun hingga memegangi kepalanya. Laila merintih. Suara rintihannya begitu menyayat hingga terdengar Berry hingga hantu yang baru saja berganti wajah itu berhenti.
Sadar ketiadaan Laila dan Berry, Barraq pun menghentikan langkahnya. Matanya menilik ke belakang berusaha menemukan sosok hantu yang mulai menempati hatinya walau belum jelas berstatus sebagai apa.
Barraq kembali melangkah. Ia menapaki jejak yang sebelumnya ia lalui. Hatinya beriak saat menemukan sosok Laila. Langkah Barraq begitu cepat. Entah mengapa dorongan itu begitu kuat untuk melakukan hal itu.
"Ada apa dengan Laila...?" ucap Barraq cemas.
"Sepertinya energi Laila habis?"
"Habis....?"
"Heei...hantu juga butuh istirahat. Dan Laila terlalu banyak mengeluarkan energi saat dalam sekapan pria tua itu. Laila pun terlalu banyak terpapar sinar matahari. Hal tersebut akan membuat Laila lebih cepat kehilangan energi"
"Ow...Lalu apa yang harus dilakukan agar Laila pulih kembali?"
"Sama seperti manusia normal...."
"Ow, kalau begitu kita harus segera membawanya pulang" ucap Barraq.
"Biarkan aku yang membawanya..." ucap Berry.
Katanya terasa tak yakin saat mengucapkannya. Karena Berry yakin Barraq akan sangat keberatan akan hal tersebut.
"Bagaimana, Tuan...?"
"Aku...Aku..." kata Barraq terhenti.
Matanya kembali menatap Laila. Ada Kecemasan di ujung tatapannya.
"Kau lebih cepat. Bawalah Laila...." ucap Barraq kemudian.
"Egh...."
Berry mengangkat kepalanya. Ia seakan tak percaya dengan kata yang baru ia dengar.
"Tunggu apa lagi. Cepat kau bawa Laila. Kau bisa secepat kilat sampai pada tujuan. Dengan demikian, Laila akan lebih cepat untuk beristirahat..." ucap Barraq.
"Oo...."
__ADS_1
Berry meng-o panjang. Kini ia mengerti maksud dan tujuan Barraq sebenarnya.