
Attar berdiri di hadapan Barraq. Setelah keduanya keluar dari kamar Laila, keduanya tidak serta-merta meninggalkan kediaman Wijoyo Hadiningrat. Attar membawa Barraq pada sisi lain rumah, yaitu taman.
Mata Attar menatap Barraq. Bukan suatu kebiasaan Attar melakukan itu. Namun situasi itu mengharuskan ia melakukannya. Rasa kasih dan cintanya lah yang mendorongnya dan mampu menghilangkan rasa pertemanan sejak lama keduanya.
"Kita memang berteman, bahkan bersahabat. Dalam segala hal kita berbagi, bukan saja tawa tapi juga duka. Namun kali ini aku tidak akan mampu berbagi apa pun dengan mu. Karena Laila adalah cinta ku. Dan Laila sudah menerima ku. Seusai penyembuhan pasca operasi pembedahan, kami akan menikah. Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaan Laila saat kau tiba-tiba saja datang dan bercerita tentang dirinya saat menjadi arwah? Jika kau tidak mengetahuinya, maka aku yang akan memberitahukannya. Begini rasanya...." ucap Attar diakhiri dengan layangan sebuah pukulan ke arah Barraq.
Berada pada situasi itu, Barraq tidak tinggal diam. Ia tidak ingin wajahnya kembali menjadi sasaran bogem mentah Attar. Karenanya secepat kilat Barraq menghindar dari serangan kepalan tangan Attar. Bukan hanya sekali, namun beberapa kali. Pun demikian, Barraq tidak ingin meladeni jurus-jurus Attar yang cukup mematikan. Karena menurut Barraq hal tersebut dapat memperkeruh keadaan.
"Sial...! Mengapa kau hanya menghindari ku? Tak bisakah kau membalasnya? Atau seorang Oemar Barraq El Khasif telah berubah menjadi banci...! ucap Attar geram.
"Sebaiknya kita bicarakan dahulu. Jangan terpancing emosi. Terlebih kita sudah lama bersahabat...." ucap Barraq ketika berhasil menyudahi adu jurus.
"Pertemanan kita sebenarnya telah berakhir ketika kau mendekap tubuh gadis yang aku cintai. Walaupun itu arwahnya....."
"Jadi benar arwahku bergentayangan mencari keadilan saat koma...?" ucap Laila yang tiba-tiba saja sudah berada tak jauh dari keduanya.
Sontak kedua laki-laki tampan berbeda profesi itu mengalihkan perhatiannya pada si empunya suara.
"Laila..." ucap keduanya hampir bersamaan.
"Mengapa kak Attar tidak bercerita apa pun?"
"Aku...aku..."
Attar menjadi kelu. Katanya tak sampai ujung lidahnya. Jelas ada kegamangan terlintas di ujung tatapannya.
"Apa kau sudah berubah menjadi pengecut...!" ucap Wijoyo.
"Siap...! Tidak, Ndan...!" ucap Attar khas seorang perwira.
Tubuhnya serta-merta berdiri dengan sikap sempurna. Pandangannya pun lurus ke depan. Terlebih saat Wijoyo menghampiri dan menepuk bahunya.
"Jadi yang diceritakan tuan Oemar Barraq El Khasif, benar adanya?" ucap Laila lagi.
Gadis itu benar-benar ingin mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Attar terdiam. Ujung tatapannya ada pada rerumputan hijau di ujung sepatunya. Sementara itu Barraq menghela nafas. Helaan yang cukup panjang. Tanda ada sebuah kelegaan yang Barraq rasakan.
"Jawab, kak..." desak Laila.
Matanya mulai dikerubuti bulir bening. Tanda bahwa hatinya tengah beriak. Laila sedih dalam ketidaktahuannya.
"Benar. Saat koma, arwah mu mencari keadilan dan meneruskan niatmu membantu Oemar Barraq El Khasif. Dan semua tujuan mu terwujud" ucap Attar sedikit menyimpan ujung tatapannya.
"Lalu mengapa kakak tidak menceritakan apa pun kepada ku?"
__ADS_1
"Untuk apa, La...?! Bukankah kau sendiri tidak mengingat apa pun..."
"Paling tidak aku tahu bahwa tuan Oemar Barraq El Khasif sangat berarti untuk ku..."
Deg.
.
.
.
Mendapati kata Laila barusan, Barraq langsung mengangkat wajah. Matanya tertuju pada Laila. Barraq seakan tak percaya atas pendengarannya barusan.
"Aku sangat berarti untuk Laila? Wow...Apakah Laila mulai mengingat ku dan semua yang pernah dijalani bersama saat ia menjadi arwah? Kebetulan sekali. Tapi aku tidak boleh gegabah menarik kesimpulan. Aku tidak ingin ada pihak yang tersakiti. Terutama Attar. Bagaimana pun juga ia sahabat ku" batin Barraq.
"Maafkan aku. Aku khilaf. Aku terbawa perasaan. Karena aku tidak ingin kehilanganmu..." ucap Attar.
Laila terdiam, kata dari Attar barusan benar-benar menohok perasaannya.
"Maafkan saya Tuan Oemar Barraq El Khasif. Sebaiknya anda pulang. Saya harus menyelesaikan permasalahan yang ada. Satu persatu..." ucap Laila.
Suaranya sedikit bergetar. Tanda bahwa ia tengah berada pada situasi yang tidak baik-baik saja.
Sementara itu, mendengar permintaan Laila Barraq terkesiap. Pun demikian, Barraq pun langsung meluluskan permintaan Laila tersebut walau dengan berat hati.
"Iya, Tante..." ucap Barraq sebagai jawaban atas panggilan Arini.
"Kapan nak Barraq akan berkunjung lagi...?" ucap Arini.
"Bu..." ucap Laila.
"Secepatnya Tante. Barraq akan berkunjung kembali..." ucap Barraq sesaat sebelum berlalu.
Langkah Barraq kian panjang saat meninggalkan areal taman. Walau ada segudang tanya yang memenuhi hatinya, Barraq berusaha setenang mungkin demi mendamaikan suasana hatinya itu. Laki-laki tampan itu berulang-ulang mengusap wajahnya sambil menghela nafas panjang. Untuk kemudian memacu mobil sport berwarna silver dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, sejak bermula meninggalkan area taman, Laila tak pernah lepas menatap kepergian Barraq. Hingga sosok Barraq benar-benar menghilang, barulah Laila kembali menyimpan tatapannya pada pangkuannya.
"Maafkan aku, tuan. Jika semua benar, maka aku masihlah butuh waktu untuk menyelesaikannya. Dan jika kata mu mengandung kebenaran, maka aku akan kembali kepada mu. Semoga kita selalu disabarkan...sehingga cita-cita kita terwujud " batin Laila.
"Nak, Attar..."
"Siap, Ndan...!"
__ADS_1
"Selesaikan persoalan ini. Aku tidak ingin persoalan ini mengganggu kesehatan putri ku..." ucap Wijoyo.
"Siap, Ndan...! Saya akan selalu menjaga Laila. Dan menyelesaikan persoalan ini secepatnya" ucap Attar.
"Good...!" ucap Wijoyo.
Sebelah tangannya menepuk bahu Attar sesaat sebelum berlalu meninggalkannya.
"Laila ingin berbincang sebentar dengan kak Attar Yah, Bu..." ucap Laila.
"Baiklah. Selesaikan dengan baik-baik dan penuh bijaksana " ucap Wijoyo.
"Ikuti kata hati mu, Ndok..." bisik Arini.
Tangan Arini mengusap lembut bahu putri satu-satunya itu. Sementara bibir merahnya mengecup pipi Laila dengan gemas. Mendapat perlakuan itu Laila tersenyum. Hatinya berbisik mengiyakan setiap kata Arini, ibu yang amat mengeri dirinya itu.
Namun belum sempurna pasangan suami-istri yang selalu mesra itu meninggalkan area taman, dering ponsel langsung menyita perhatian keduanya. Wijoyo Hadiningrat pun langsung menerima panggilan itu.
"Hallo..." ucap Wijoyo membuka percakapan.
Wijoyo terdiam. Ia menyimak suara yang di ujung telepon yang begitu gamblang menjelaskan keberlanjutan operasi pembedahan Laila. Seketika wajah Wijoyo sumringah. Sesekali matanya menatap Laila yang kini perhatiannya tersita oleh polah Wijoyo.
Rasa penasaran pun menyeruak, meliputi hati Laila dan setiap yang ada di taman belakang rumah tersebut. Laila menjadi tak sabar. Ia butuh penjelasan lebih atas polah Wijoyo, ayahnya. Laila pun lebih mendekat kepada Wijoyo. Ia ingin turut menyimak percakapan itu.
"Baik, akan segera kami persiapkan..." ucap Wijoyo mengakhiri sambungan telepon tersebut.
"Ada apa, Yah? Mengapa ayah begitu senang menerima telepon tersebut? Apa ayah mendapat lotre?"
"Lotre...? Cah gendeng..." ucap Wijoyo bernada bercanda.
Dan hal tersebut memancing tawa Laila juga beberapa orang yang ad di tempat itu.
"Bukan ya? Lalu apa donk...?" ucap Laila manja sambil manyun.
"Jadwal operasi pembedahan mu di majukan minggu depan..." ucap Wijoyo sambil memeluk Laila.
"Apa....?! Ayah tidak bercanda kan?" ucap Laila.
"Tentu saja tidak. Apa pernah ayah bercanda dengan segala urusan mu?"
"Ya, Tuhan...." ucap Laila yang langsung disambut peluk haru Arini.
Keduanya pun berpelukan dan bertangisan. Wujud kesyukuran atas kabar baik yang baru saja diterima.
__ADS_1
"Selamat ya, Laila...." ucap Attar mengurai senyum.
"Terima kasih, Kak..." ucap Laila.