LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 45. Sahabat Tiada Akhlak


__ADS_3

Bak mendapat suntikan multivitamin, Barraq menjadi bersemangat. Wajahnya pun tampak sumringah seiring lancarnya aliran darah yang dipompa jantung. Barraq mengumbar senyum. Matanya menatap Arini penuh binar. Ada asa di terselip di sana.


"Terima kasih, Tante..." ucap Barraq.


Sekonyong-konyong, langkah Barraq pun terasa ringan. Ia melangkah mendekati Laila dan Attar yang belum menyadari kehadirannya.


Berdiri Barraq di dekat keduanya. Kedua matanya lekat menatap Laila yang mulai menyadari kehadirannya.


"Tuan Oemar Barraq El Khasif..." ucap Laila terkesiap.


Buru-buru tangannya membetulkan kain hitam yang tersibak dihembus angin lalu.


Mendengar namanya disebut dengan sempurna, Barraq tersenyum. Hatinya pun beriak saat bibir tipis gadis itu menyebutnya. Ada desir aneh yang ia rasakan saat tatapan gadis yang sudah menyatakan perpisahan itu bertaut dengan tatapannya.


Sementara itu, Attar yang baru menyadari kehadiran Barraq langsung memutar tubuh. Sontak wajah tampannya menyiratkan keterkejutan.


"Barraq...." batin Attar.


"Apa kabar tuan Attar Pramudya Wibisono...?" ucap Barraq.


Bibir laki-laki yang banyak digandrungi perempuan itu mengurai senyum. Ia begitu tenang menyapa, walau gemuruh di dadanya kian nyata.


"Hei....bro. Ada angin apa nih berkunjung?" ucap Attar berusaha tenang.


"Kalian saling kenal?" ucap Laila.


"Ow, tentu. Kami bersahabat sejak di sekolah menengah. Jangankan sekolah, makan dan tidur pun kami selalu bersama. Bukan begitu tuan Attar Pramudya Wibisono?" ucap Barraq.


"Ow, ya. Benar sekali..." ucap Attar.


Kali ini mata Attar sedikit menghindari tatapan mata Laila yang mulai memperhatikannya.


"Sial...! Mengapa Laila menatapku seperti itu?" batin Attar.


"Oya, ku lihat kalian dekat sekali. Apa kalian bersahabat juga? Atau ada hubungan spesial lainnya?" ucap Barraq tanpa tedeng aling-aling.


"Kami...?" ucap Laila.


Tangannya menunjuk dirinya dan Attar. Hal tersebut sebagai isyarat untuk memperjelas maksud pertanyaan Barraq.


"Ya, tentu saja..."


"Dia calon istri ku..." ucap Attar tiba-tiba.


Sebelah tangan Attar langsung merengkuh bahu Laila dan membawanya ke dalam dekapannya. Mendapat perlakuan tersebut, Laila justru menjadi rikuh. Dan jelas di ujung tatapannya ada sebuah kegamangan.


"Mengapa Barraq datang? Apa keperluannya?" batin Laila.


"Ow, begitu rupanya. Mengapa kau tidak bercerita apa pun jika akan segera menikah? Apa kau takut aku akan menculik calon pengantin mu?" ucap Barraq.

__ADS_1


"Kau....!" ucap Attar sambil bangun dari duduknya.


"Haha....tenanglah, Attar. Aku tidak se-picik itu" ucap Barraq di sela tawanya.


"Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan nona Laila Ratri Hadiningrat"


"Apa yang ingin tuan bicarakan?" tanya Laila.


Barraq tersenyum. Matanya menatap Attar.


"Empat mata...." ucap Barraq menegaskan.


Sekejap Laila rikuh. Namun buru-buru ia memperbaiki kerikuhan nya saat itu. Kemudian setelah sukses menguasai dirinya, Laila pun langsung menatap Attar. Tatapan yang seakan meminta dengan sangat kepada Attar untuk memberinya dan Barraq kesempatan bercakap empat mata.


Attar terkesiap. Ia tak menduga sama sekali, jika Laila akan meminta hal yang sebenarnya sangat berat ia luluskan. Attar membalas tatapan Laila dengan berat hati. Namun saat melihat permohonan di ujung tatapannya, Attar luluh. Laki-laki tampan itu pun memutar tubuh. Kakinya segera melangkah menjauhi keduanya.


Barraq menghela nafas. Matanya menatap lekat wajah Laila yang sebagian tertutup kain berwarna hitam. Barraq merasa sedikit aneh saat tak mendapati reaksi apa pun di wajah ataupun mata Laila. Tak seperti pada pertemuan terdahulu, Barraq selalu menemukan binar cinta di mata Laila setiap kali ia menatapnya.


"Ada apa tuan ingin menemui ku?" ucap Laila.


"Em, ya..."


Barraq terkesiap. Lamunannya buyar.


"Ada apa tuan ingin menemui ku?" ucap Laila lagi.


"Aku...Aku ingin mengucapkan terima kasih atas segala bantuan mu yang luar biasa ini. Mulai dari bukti berupa flashdisk yang kau berikan hingga upaya mencari pelaku kecurangan" ucap Barraq.


"Kita mencari pelaku kecurangan? Kita...?" ucap Laila tak percaya.


Deg.


"Fix Laila tidak mengingat apa yang telah terjadi. Tapi aku harus tahu lebih banyak penyebabnya" batin Barraq.


"Ya, kita. Bahkan kita pun berhasil menemukan dan menjebloskan pelaku penganiaya mu ke balik jeruji besi" ucap Barraq penuh yakin.


"Haha...Tuan bercanda. Mana mungkin orang koma bisa melakukan semua itu"


"Semula aku pun tidak percaya. Tapi kini aku mengerti. Saat kau koma, arwah mu berkelana meneruskan maksud hati mu yaitu menolongku dan menemukan pelaku penganiaya mu, tapi saat itu kau menyebutnya pembunuh mu" ucap Barraq.


Mendengar penuturan Barraq, Laila terdiam. Ia berusaha menelusuri jejak dalam ingatannya. Namun nihil. Laila tak menemukan apa pun.


"Arwah...? Membantu mu? Aku tidak ingat apa pun..."


"Bahkan kita saling jatuh hati, Laila. Dan kita berjanji untuk berdoa kepada Tuhan agar kita disatukan sebagai pasangan di kehidupan kemudian..."


"Jatuh hati...? Aku tidak ingat apa pun" ucap Laila.


Katanya menjadi terbata seiring rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya. Laila mengaduh.

__ADS_1


"Laila...." ucap Barraq sambil berjongkok di hadapan Laila.


Barraq begitu khawatir dengan kondisi Laila.


"Apa yang terjadi, Laila...? Katakan..." ucap Barraq khawatir.


"Cukup...! Jangan dilanjutkan lagi" ucap Attar yang langsung merengkuh tubuh Laila.


Tangannya pun menolak tubuh Barraq, sahabatnya itu. Pun demikian, dalam urusan cinta ternyata tak pandang bulu. Apa pun hubungan keduanya, Attar menjadi tak peduli. Yang terpenting baginya kini hanya menjadikan Laila sebagai pendamping hidupnya. Dan berbahagia selamanya.


Barraq tersenyum kecut atas perlakuan Attar. Laki-laki tampan itu membetulkan posisi duduknya untuk kemudian berdiri dengan cepat. Sementara itu, Attar langsung membopong tubuh Laila.


Langkah Attar begitu cepat. Jelas sekali tujuannya adalah ruang pribadi Laila. Tak lama menyusul Wijoyo dan Arini yang melangkah cepat berkejaran dengan langkah Barraq di belakang Attar.


"Ada apa dengan Laila, Attar?" ucap Wijoyo saat Laila di baringkan di tempat tidur.


Tanpa menjawab pertanyaan Wijoyo tersebut, Attar langsung memutar tubuh. Ia menghampiri Barraq yang berdiri di sisi lain tempat tidur. Kemudian Attar menarik lengan Barraq dan menariknya sedikit menjauh.


BUK....!


Attar melayangkan bogem mentahnya. Sebuah pukulan telak mengenai wajah Barraq. Pangeran kedua keluarga El Khasif itu tampak menahan sakit. Pukulan yang tak sempat mengelak itu sukses membuat Barraq meringis menahan sakit.


"Jangan kau dekati Laila. Dia milik ku!" ucap Attar dengan rahang mengeras.


Tangan Barraq memegangi wajah bekas pukulan Attar. Pun demikian Barraq tersenyum mendengar ungkapan Attar barusan.


"Milik mu?! Hah...!! Kita sama-sama tahu, Laila mencintai siapa? Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa Laila adalah milik mu?" ucap Barraq sedikit geram.


"Mungkin saat menjadi arwah, Laila milik mu. Tapi dalam dunia nyata, Laila milik ku. Dia calon istri ku...!!" ucap Attar.


"Lucu.... Benar-benar lucu kehidupan ini. Kau adalah sahabat ku, tapi kau tega menikam ku dari belakang. Dasar sahabat tak punya akhlak...!" ucap Barraq geram.


"Aku tak peduli apa kata mu atau kata dunia. Yang terpenting bagi ku adalah kebahagiaan Laila...! Dia adalah milik ku. Bahkan sebelum kecelakaan itu pun aku sudah menyatakan perasaan ku. Tapi sayang peristiwa itu telah membuat ku harus bersabar beberapa bulan untuk mendapatkan jawaban Laila..."


Deg.


Barraq tertegun. Penuturan Attar barusan sukses menohok hatinya. Mata Barraq lekat menilik Laila yang baru saja mendapatkan kesadarannya.


"Tuan Oemar Barraq El Khasif, aku sudah menerima ucapan terima kasih mu dan juga maaf mu. Untuk selebihnya, aku butuh waktu mencerna segala ucapan mu. Untuk itu lebih baik kau pergi. Laila butuh istirahat..." ucap Laila.


"Kau dengar itu. Pergilah...!!" ucap Attar.


"Kau juga kak Attar. Aku ingin sendiri..." ucap Laila.


"Apa..?! Aku juga...?!" ucap Attar sedikit heran.


"Ya, kak. Kau juga. Maaf...."


EGH....

__ADS_1


__ADS_2