
"Berani kau menjejakkan kaki di rumah ini...!" ucap Ethan.
"Ini masih rumah ku juga, Kak. Karena aku seorang El Khasif..." ucap Barraq.
Kata Barraq begitu tenang. Walau ada badai yang berkecamuk dalam hatinya. Seandainya
Barraq menuruti hatinya, tentu sudah diterjangnya Ethan saat itu. Atau paling tidak ia akan melempar kata-kata kasar.
"Ow, benar juga. Kau pun seorang El Khasif. Tapi hari ini kita akan buktikan siapa El Khasif sejati..."
"Apa maksud kakak? Dibuktikan dengan apa bahwa kita adalah sama-sama El Khasif...?"
"Kita duel..."
"Duel...!" ucap Barraq terkejut.
Walau Barraq sudah memprediksi segala kemungkinan, namun tetap saja ia terkejut dengan ajakan kakak laki-laki satu-satunya itu.
"Kenapa? Tidka berani? Jika demikian, maka darah El Khasif mu diragukan..." ucap Ethan berang.
"Ow, jadi upaya Pembunuhan ku disebabkan keraguan mu terhadap darah yang mengalir di tubuhku ini? Hah...! Kau picik, Ethan. Katakan saja kau tidak ingin tersaingi oleh ku. Karena faktanya aku lebih El Khasif dari siapa pun..."
"Haha....!"
Tawa Ethan langsung mengisi udara saat itu. Tawa yang dipenuhi aura kebencian dan keserakahan.
"Hati-hati, Kak. Dia menyembunyikan pistol di balik bajunya..." ucap Laila mengingatkan.
"Dasar pengecut..." ucap lirih Barraq.
Barraq mendengus. Rasanya amarah itu sudah sampai ubun-ubun. Dan sulit terbendung. Pun demikian, ternyata Barraq tetap berusaha meredam. Menurut fikirnya, niatnya saat ini adalah menegakkan keadilan, bukan membalas dendam. Seperti halnya Laila yang kini telah legowo menerima takdir setelah keadilan ia dapatkan.
Barraq menghela nafas begitu panjang. Ia tengah berusaha mendamaikan badai yang tengah berkecamuk dalam dadanya.
"Aku memang tidak ingin ada dua matahari di keluarga kita. Karena itu mari kita tentukan hari ini. Siapa yang akan menjadi matahari yang sebenarnya di keluarga El Khasif..."
"Tujuanku bukanlah itu, Ethan...!"
"Haha...Oya? Lalu apa tujuanmu?"
"Aku ingin pengakuan mu atas apa yang telah kau rencanakan dan lakukan terhadap ku..."
__ADS_1
"Cih...! Tak Sudi aku menuruti kemauan mu itu...! Aku...Hanya aku satu-satunya putra di keluarga El Khasif ini!"
"Kau sudah dibutakan keserakahan, Ethan...!"
"Keserakahan kata mu?! Hei...anak dari pelakor...! Kau belum sadar juga siapa dirimu?"
"Anak pelakor...?!"
"Siapa yang kau sebut anak pelakor...?!" ucap Barraq.
"Ibu mu telah merebut papa dari mama ku...! Apa itu namanya jika bukan pelakor..?!!"
Deg.
.
.
.
Degup jantung Barraq bertalu. Darahnya mendidih. Telinga Barraq memanas seiring gemuruh dalam dadanya yang kian membuncah.
"Jangan terpancing, Kak. Aku mohon tenanglah..."
"Jika kau ingin mengetahui siapa yang paling El Khasif, maka aku akan meladeni mu untuk membuktikannya. Aku atau diri mu...!"
"Hah...! Akhirnya aku akan mempunyai lawan. Tidak seperti tadi. Banci...!"
Barraq menghambur ke hadapan Ethan. Ia menjadi tak sabar. Barraq pun segera melancarkan jurus-jurus andalannya yang begitu mumpuni. Sedikit kewalahan Ethan meladeni jurus-jurus adik laki-lakinya yang menurutnya anak pelakor itu.
Dan pada suatu kesempatan, Barraq menyarangkan tendangan tanpa bayangannya. Tendangan itu tepat menggedor dada Ethan. Hal tersebut tentu membuat Ethan surut ke belakang. Tangannya memegang dadanya yang terasa nyeri. Mimik wajahnya jelas melukiskan bagaimana rasa sakit yang tengah ia rasakan.
Sementara itu, Barraq masih pada posisi terakhirnya. Sikap dengan sebelah kaki terangkat ke udara. Sikap ini juga yang membuat Laila takjub.
"Waaaah...." gumam Laila.
Mulut gadis cantik yang tinggal satu hari di dunia arwah itu terbuka. Matanya pun terus menatap Barraq. Ada binar di ujung tatapannya yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata, baik lisan maupun tertulis. 😁
"Semoga kak Barraq dapat menguasai amarahnya itu. Karena hanya dengan itu ia dapat mengalahkan Ethan..." ucap Laila.
Sementara itu, pergulatan kedua laki-laki yang sebelas dua belas ketampanannya itu belum usai. Silih berganti keduanya berada pada situasi di atas angin ketika berhasil menyarangkan pukulan. Entah sudah berapa pukulan yang diterima tubuh masing-masing laki-laki tampan itu. Yang pasti ada bercak darah yang menitik dari sudut bibir masing-masing. Pun terdapat memar pada wajah dan beberapa bagian tubuh keduanya.
__ADS_1
DOR...!
Desing peluruh di muntahan dari sarangnya. Suaranya membuat Barraq dan Ethan terkesiap. Keduanya pun bergegas mencari perlindungan. Khawatir akan ada muntahan selanjutnya. Barraq bersikap waspada dari balik persembunyiannya. Matanya nanar menatap sosok laki-laki yang tengah berdiri di ujung halaman. Tangan kanannya terangkat ke udara. Ada sebuah pistol di sana.
"Papa...." gumam Barraq.
Sementara itu melihat situasi yang ada, Laila pun seketika menghambur ke laki-laki yang sejak dahulu diam-diam ia cintai itu. Hati Laila begitu cemas atas keselamatan Barraq.
"Apa kakak terluka..?" ucap Laila begitu khawatir.
Matanya menilik setiap lebam yang ada di wajah dan lengan Barraq.
"Tidak..." ucap Barraq sambil tersenyum.
Mata Barraq mengerling. Entah mengapa polahnya itu membuat Laila justru gemas. Gadis cantik itu mencubit lengan Barraq. Ajaib memang, Barraq dapat merasakan sakit akibat polah Laila itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan?! Kalian sudah mengotori halaman rumah ku..." ucap Emran.
Sadar siapa yang memuntahkan peluru, Ethan langsung keluar dari tempatnya berlindung. Ethan melangkah gontai. Dan langsung berdiri di sebelah Emran El Khasif.
"Tidak perlu begini. Toh, kau bukan papa..." bisik Ethan.
Ada sinis di ujung tatapannya.
"Sekedar pembuktian saja selayaknya seorang ayah. Hehe..." bisik Emran.
"Tapi tidak perlu memakai senjata api segala. Jika mengenaiku, bagaimana...?"
"Maaf, Tuan..." ucap Emran.
"Egh..."
Laila menajamkan telinganya. Ia begitu penasaran atas percakapan singkat ayah dan anak yang absurd itu.
"Mengapa Ethan mengatakan jika laki-laki yang diketahui sebagai tuan Emran itu bukan ayahnya? Dan mengapa tuan Emran menyebut Ethan dengan embel-embel tuan? Ah, adakah yang dirahasiakan keduanya? Jika ya, kurang ajar sekali..." batin Laila.
Mata Laila terus menilik gerak-gerik kedua laki-laki ayah dan anak itu. Jelas Laila menangkap suatu keganjilan atas kata dan perilaku keduanya.
Barraq berdiri. Membetulkan sejenak pakaian yang sempat berantakan. Untuk kemudian melangkah mendekati ayah dan kakak laki-lakinya berada. Itu pun dalam jarak waspada tingkat dewa.
"Bagaimana...? Apakah aku sudah se-El Khasif seperti gambaran yang ada dalam fikiran mu selama ini?" ucap Barraq.
__ADS_1
"Kau bukan El Khasif. Kau hanya seorang anak pelakor. Anak haram. Bukan begitu, Pa..." ucap Ethan.
Kata terakhirnya jelas meminta persetujuan Emran. Sementara itu, yang empunya nama justru terdiam. Ia terpaku. Sepertinya ia gamang menghadapi situasi tersebut. Mata Emran menatap Barraq dan Ethan. Laki-laki paruh baya itu begitu menyimpan kegamangan sekaligus kecemasan. Ada apa...??