
"La, yang mempercepat waktu operasi mu adalah Barraq. Ia yang menghubungi dokter Pieter. Keduanya bersahabat, La. Dan keberadaannya di sini dalam rangka menemani mu, walau secara diam-diam. Barraq tidak ingin Attar terpancing emosi lagi" ucap Berry.
Deg.
.
.
.
Laila terdiam. Hatinya kembali beriak saat mengetahui apa yang sudah dilakukan laki-laki tampan yang memang sudah sejak lama ia cintai itu. Laki-laki yang juga sudah membalas perasaannya.
"Kak Barraq...." ucap Laila.
LailaenghelaMatanya menyasar ujung taman. Berharap bayang Barraq ada di sana.
"Kau ingin bertemu Barraq...?" ucap Berry.
"Ya. Sebentar saja. Aku ingin membawanya dalam ingatanku saat sadar nanti. Aku tidak ingin kehilangannya lagi, kak" ucap Laila.
"Baiklah..."
BLASHH....
Tiba-tiba saja keduanya sudah berada pada suatu tempat yang dimaksud Berry. Di sebuah kursi taman duduk seorang laki-laki. Ia membelakangi Laila ataupun Berry.
"Kak Barraq..." ucap Laila.
Tangannya menyentuh bahu laki-laki yang ia sebut dengan Barraq itu. Namun sayang, usahanya gagal setiap berusaha menyentuh bahu laki-laki yang ia cintai itu. Tangannya hanya beruba bayang setiap kali menyentuh bahu Barraq.
Mata Laila berkaca-kaca. Ada banyak bulir bening yang mengerubuti matanya.
"Aku tak dapat menyentuhnya, Kak. Padahal aku merindukannya" ucap Laila dengan suara bergetar.
"Sudah ku katakan, urusan mu di sini sudah selesai maka kau tidak dapat melakukan apa pun lagi. Terlebih kini kau sudah tahu bahwa nyawa mu belum lagi meninggalkan raga mu..." tutur Berry.
"Tapi Kak...Tidak bisakah aku menemui nya sebentar saja" ucap Laila penuh iba.
"Maafkan aku, Laila. Bukan kewenangan ku untuk memutuskan bisa atau tidak. Tapi yang ku tahu begitulah aturannya..."
Laila kian sendu. Hatinya benar-benar dilanda gerimis. Apa yang ia rasakan, dan alami di dunia arwah berbanding terbalik dengan dunianya. Laila ingin apa yang sudah terjalin bersama Barraq saat menjadi arwah akan menyata di dunianya nanti. Ia tidak ingin cinta yang ditawarkan Attar. Ia tidak ingin perhatian yang diwujudkan Attar. Laila hanya ingin semuanya tentang Barraq, ya Oemar Barraq El Khasif. Laki-laki yang sejak dahulu ia cintai.
"Bolehkan aku menatapnya, Kak...?" ucap Laila sambil menyusut bulir bening yang mulai terjun bebas itu.
"Tentu..." ucap Berry singkat.
__ADS_1
Mendapati kata persetujuan singkat Berry, Laila tidak menyia-nyiakannya. Laila langsung beralih ke hadapan Barraq. Laila menutup bibirnya dengan tangan saat mendapati Barraq dengan sempurna. Benar saja penuturan Berry, Barraq tidak menyadari kehadiran Laila sama sekali. Laki-laki tampan itu masih sibuk mengotak-atik ponsel berwarna hitam itu. Sesekali ia menerima panggilan, sesekali ia membalas pesan.
"Kak...ini aku. Laila. Aku rindu kebersamaan kita. Maafkan aku, yang terkesan melupakan mu. Tapi sungguh sukma ini begitu mendamba mu..." ucap Laila.
Tangannya mengusap wajah laki-laki tampan itu, walau tak sampai. Laila kian pilu.
"La, waktumu sudah hampir habis. Kau sudah menghabiskan hampir dua puluh empat jam. Dan sudah saatnya kau kembali" ucap Berry.
"Mengapa laju waktu begitu cepat? Bukankah baru beberapa menit saja?"
"Itulah dunia arwah..."
"Tapi mengapa saat lalu laju waktu sama, kak?'
"La, waktu lalu kau yang masuk ke dunia nyata. Tapi saat ini kau benar-benar berada di dunia arwah yang tidak bisa tersentuh siapa pun. Kecuali orang diberi keistimewaan tertentu" tutur Berry.
Laila terdiam. Fikirnya menyimak setiap kata Berry. Pun demikian, bulir bening yang terus terjun bebas tiadalsh surut.
"La, pergilah. Pergilah..." ucap Berry bernada perintah.
"Maafkan aku, Kak. Dan aku mohon dengan sangat ingatkan aku tentang cinta kita. Jangan mudah putus asa, Kak. Aku menanti mu..." ucap Laila.
Gadis cantik itu membungkuk di hadapan Barraq. Menatapnya sekali lagi dan...
CUP...
"Astaga...." gumamnya.
"Aku pamit ya, Kak. Bantu aku mengingat semuanya...." ucap Laila sambil menatap Berry.
"Kuatkan ingatan mu, La. Semangat...!" ucap Berry kian berapi saat tubuh Laila berangsur samar untuk kemudian menghilang.
Bersamaan dengan itu...
"Kak Barraq...Kak Barraq!" ucap lirih Laila di awal kesadarannya.
"Ehem...! Sayang...kau sudah sadar, Ndok?" ucap Arini sambil mendekati Laila.
Langkah Arini menjadi setengah berlari saat mengetahui kesadaran Laila kembali.
Sesaat sebelah tangan Laila menggapai sekeliling. Bak mencari pegangan.
"Ya, Ndok. Ibu di sini..." ucap Arini yang langsung memeluk putri semata wayangnya itu.
"Bu, Laila melihat kak Barraq di rumah sakit ini..." bisik Laila terbata.
__ADS_1
"Attar, panggilkan dokter..." ucap Arini.
Suaranya sedikit meninggi. Mendengar suara Arini, Attar yang tengah terlelap pun terbangun.
"Ya, Tante..." ucap Attar gagap.
"Laila sadar. Tolong panggilkan dokter, nak Attar..."
"Ya, Tante...." ucap Attar.
Langkah Attar terasa terbang keluar ruang perawatan saat menyadari Laila telah sadar. Harapannya menguat akan kesembuhan Laila, gadis yang ia cintai itu.
"Ibu mohon, jangan sebut nama Barraq jika ada ayah mu atau Attar. Ibu khawatir, Ndok..."
"Ya, maaf. Tapi sungguh tadi Laila melihat kak Barraq, Bu. Karenanya Laila memanggilnya..." ucap Laila.
"Tenangkan dirimu, Ndok. Itu manifestasi hatimu, Ndok. Cinta mu hanya untuk Barraq. Ibu tahu itu..."
"Hehe....ibu" ucap Laila bernada malu.
Sementara itu, seorang laki-laki yang duduk pada kursi di tengah taman masih saja sibuk meladeni beberapa pesan dalam ponselnya. Kali ini wajahnya mendadak sumringah saat mendapat sebuah pesan singkat dari Pieter.
"Miss Laila has regained consciousness. Congratulations. I'm happy too..." pesan Pieter. (Nona Laila telah sadar. Selamat. Aku turut berbahagia untuk mu...)
"Alhamdulillah..." balas Barraq.
"And then, what are your next plans..?" pesan Pieter. (Kemudian apa rencana mu selanjutnya?)
"Go home. Work. And do anything to get rid of Laila's name from my mind..." (Pulang. Bekerja. Dan mengerjakan apa saja yang dapat menghilangkan nama Laila dari fikiran ku)
"Come on, Barraq. She's your girl. Laila is your love. Laila is your life. Fight for it...! (Ayolah, Barraq. Dia gadis mu. Laila adalah cinta mu. Laila adalah hidup mu. Perjuangkan...!)
"Who knows. I do not know what to do. Laila will soon marry another man.." balas Barraq.
(Entahlah. Aku tidak tahu harus bagaimana. Laila akan segera menikah dengan laki-laki lain)
"Oh, my God. so hard your love, Barraq. I hope Allah gives you the best way..." pesan Pieter.
(Ya, Tuhanku. begitu sulit cinta mu, Barraq. Aku harap Allah memberi mu jalan terbaik)
"Aamiin. In Syaa Allah. Well, thanks for your help, pieter. I will never forget your help. You are my best friend..." pesan Barraq menutup percakapan saat itu.
(Terima kasih atas bantuan mu, Pieter. Bantuan mu tak akan pernah ku lupa. Kau teman terbaik ku...)
"You're welcome. You will always be my best friend. Thank you also for your help to me so far.." balas Pieter.
__ADS_1
(Terima ksih kembali. Kau pun akan selalu menjadi sahabat terbaik ku. Terima kasih juga atas bantuan mu kepada ku selama ini)