LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 26. Upaya Penyelamatan Barraq


__ADS_3

Pukul tiga lewat tiga puluh menit dini hari. Attar telah berpakaian dokter dan menggunakan masker. Jelas identitasnya akan sulit dikenali. Pun juga dengan Maleq. Sementara itu, Barraq juga tengah dipersiapkan. Kepalanya dibalut hingga hampir menutupi keseluruhan. Hal ini lagi-lagi untuk menyamarkan identitas Barraq.


Barraq pun telah dipindahkan ke atas brankar. Dikondisinya saat ini, mau tidak mau Barraq harus dibawa menggunakan brankar. Hal ini demi mempercepat mobilitas menuju tempat yang dimaksud.


Ya, beberapa saat lalu semua telah sepakat untuk memindahkan Barraq ke tempat aman. Dan tempat itu adalah rumah di pantai. Dan malam dini hari ini, mereka berencana untuk melancarkan rencana tersebut. Mereka tengah menyiapkan penculikan pasien atas nama Barraq. Dikatakan penculikan karena memang upaya itu dilakukan secara diam-diam. Tiada orang yang tahu selain Maleq, Attar dan seorang dokter perempuan cantik, Dara. Segala rute perjalanan pun telah disiapkan.


Sementara itu mata Laila tak henti menatap Dara, gadis cantik yang telah menjadi dokter muda di El Khasif Hospital. Dan dia adalah orang kepercayaan Maleq. Matanya lincah menilik dari ujung kaki hingga kepala. Ada kecemburuan yang terselip di ujung hati Laila terhadap Dara. Terlebih saat Dara memberi perhatian kepada Barraq.


"Hei...cemburu ya?" ucap Berry sambil menepuk bahu Laila.


"Cemburu...? Ah, tidak. Tentu saja tidak. Jika keduanya jatuh hati, maka aku tidak boleh keberatan. Sebab itu sudah semestinya"


"Lalu kau bagaimana?"


"Ah, siapakah aku ini? Aku hanya arwah yang memiliki waktu enam hari lagi sebelum pergi untuk selamanya. Jadi apa yang dialkukan dokter Dara bagiku itu sebuah kewajaran dan keharusan" ucap Laila yang berbicara hanya untuk Berry saja.


"Yuph...Kalau aku jadi Barraq, aku juga akan memilih dokter Dara ketimbang diri mu. Dokter Dara itu cantik, baik dan perhatian. Sementara diri mu...Haha...!"


"Berry....!!!" ucap Laila dengan suara soprannya.


Mendapat reaksi demikian, Berry justru tertawa. Kini ia jadi tahu pasti bagaimana perasaan Laila sebenarnya terhadap Barraq.


Sementara itu, Attar masih menilik koridor ruang VVIP. Ia menanti waktu yang tepat untuk membawa Barraq keluar ruangan.


"Sekarang..." ucap Attar.


Bersamaan dengan itu Maleq dan Dara mendorong perlahan brankar ke luar ruangan. Layaknya team medis membawa pasien, ketiganya melangkah dengan tenang namun cepat. Kewaspadaan pun tergambar dari setiap gerak-gerik ketiganya.


Sementara itu, Laila memilih menyusuri jalan terlebih dahulu. Menilik situasi. Sesekali Laila pun berada di dekat Barraq. Itupun dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata.


"Berhenti..." ucap Maleq.


Dan semua terhenti seperti permintaan Maleq.


"Aku belum mematikan CCTV daerah ini. Hehe..." ucap Maleq


"Fiuh...aku kira ada apa" ucap Attar.


"Hehe..." tawa tertahan semua.


Begitulah setiap hampir melewati sebuah ruangan, Maleq pasti akan mematikan sesaat CCTV. Hingga sempurna melewati barulah Maleq akan mengaktifkan kembali CCTV tersebut. Jika dihitung, hanya enam puluh detik CCTV dinonaktifkan.


"Dokter Dara, pasiennya akan dipindahkan kemana?"


Mendengar pertanyaan itu, semua jadi kaku. Mungkin sekaki kanebo kering. Hihi...


"Em, Ow. Pasien tidak sanggup lagi membayar tagihan rumah sakit, jadi minta dipindahkan ke rumah sakit lain" ucap Dara.


"Dini hari seperti ini?"


Deg.


.


.


.


"Harus jawab apa ini..." ucap Dara berbisik


"Aku lumpuhkan saja ya? Atau aku rasuki ia...?" ucap Berry bergaya bak pemain film laga Bollywood karena diserta gerakan berjoget.


"Hihi..."


Semua menahan tawa melihat tingkah Berry yang terlihat konyol itu. Masing-masing dari mereka memalingkan wajah tak ingin melihat tingkah konyol Berry yang menghasilkan tawa itu.


"Sttt... diamlah. Belum waktunya" ucap Laila.


Sebelah tangannya menutup mulut Berry. Sementara sebelah lainnya mendekap Berry. Hal itu agar Berry tidak bergerak kesana-kemari.


"Karena kita tidak ingin diketahui wartawan bahwa ada seorang pasien pindah ke rumah sakit lain. Memang itu hak pasien, tapi akan sangat memalukan bagi El Khasif Hospital, bukan?" ucap Attar.

__ADS_1


"Ya. Kita tidak ingin hal ini menjadi pemberitaan utama di media..."


Dokter jaga itu pun mengangguk. Rupanya alasan yang diberikan dapat diterima akal. Ia pun tersenyum dna mempersilahkan mereka membawa pasien.


"Jaga rahasia ini. Jangan sampai ada seorang lagi yang mengetahui. Hanya kita saja ya..." ucap Dara.


Tangannya membetulkan jas snelli dokter jaga itu. Dan sesekali mengusap lembut lengannya. Laki-laki itu sedikit rikuh atas perlakuan Dara. Pun demikian senyum pun mengembang dari sudut bibirnya seraya mengangguk,engiyakan permintaan Dara.


Dara pun melangkah gontai meninggalkan dokter jaga itu. Begitu gontai sambil sesekali memutar tubuh dan melambaikan tangan. Hingga di sebuah belokan barulah Dara memacu langkahnya. Nafasnya pun sedikit memburu.


"Fiuh...ku kira akan ketahuan. Hehe..." ucap Dara saat telah bergabung kembali bersama rombongan.


"Tinggal satu ruangan lagi. Setelah itu sampai di basement. Apakah jalan aman Laila?" ucap Maleq saat berada dalam sebuah lift.


"Aman, om..." ucap Laila setelah meniliknya sesat dengan kecepatan kilat.


"Laila...?" ucap Dara.


Matanya menatap Maleq dan Attar bergantian. Jelas di ujung tatapan ada tanya yangemerlukan sebuah jawaban ataupun penjelasan sekakian. Pun demikian, antara Maleq ataupun Attar tak berkomentar apapun. Keduanya memilih melanjutkan perjalanan dengan cepat sesaat setelah pintu lift terbuka.


"Mengapa tuan Maleq menyebut nama itu? Padahal diantara kami tak seorangpun yang memiliki nama itu. Wait....aku seperti mengenal nama itu. Begitu familiar. Tapi kapan dan dimana?" gumam Dara.


Kemudian Dara pun kembali melangkah. Ia mengikuti langkah Maleq dan Attar yang sudah beberapa langkah berad di depannya.


"Cepat sekali langkahnya..." gerutu Dara.


Sebelah tangannya langsung memegangi sisi kanan brankar sesaat setelah berhasil membersamai. Sementara sebelah lainnya membetulkan selimut Barraq yang jatuh hingga ke dada kembali. Dan hal itu jelas dilihat oleh Laila.


"Hiks...mengapa setiap melihat adegan itu, hatiku berdenyut. Dan aku merasakan sakit?" ucap Laila.


Arwah gentayangan yang cantik itu pun kemudian memilih pergi. Ia ingin mendamaikan suasan hatinya. Laila duduk pada dahan pohon. Kakinya berayun memperlihatkan sepatu berwarna putih yang ia kenakan.


"Ah, celaka..." ucap Laila saat mendapati sekelompok laki-laki bertubuh kekar.


Kelompok laki-laki itu turun dari dalam mobil.


Dan hal tersebut bersamaan dengan keluarnya Barraq dan rombongan. Dan sepertinya tidak akan ada waktu untuk menghindarinya.


Sontak hal itu mengejutkan Maleq dan lainnya. Bersamaan dengan itu beberapa laki-laki kemudian kian mengerumuni. Tatapan mata mereka saling beradu. Tatapan saling menilik guna mencari tahu.


"Siapa mereka?" bisik Dara.


"Aku yakin bukan keamanan hospital. Atau anak buah ku" ucap Attar.


"Mereka bodyguard keluarga El Khasif. Dan aku yakin mereka suruhan Ethan" ucap Maleq.


"Mau kemana? Dan siapa dia?" ucap laki-laki itu sambil menunjuk brankar.


"Dia pasien Yanga akan dipindah ke rumah sakit lain. Mengapa memilih dini hari, karena demi menjaga nama baik El Khasif Hospital. Kau mengerti maksud ku...?" ucap Attar.


"Tentu aku mengerti. Aku tidak bodoh...!"


"Kalian sudah mengecek ruang perawatan tuan Barraq?!" ucapkan keras.


Dan hal itu membuat beberapa laki-laki lainnya terkesiap dan langsung memacu langkah menuju ruang yang dimaksud. Attar dan Maleq saling menatap. Karena faham betul mereka berada pada situasi yang cukup merugikan seandainya terbongkar. Ada Kecemasan yang menduduki hati masing-masing saat itu.


"Kalau begitu cepatlah pergi. Nanti ada wartawan yang datang"


"Fiuh...." desah lega Dara.


Kemudian mereka pun kembali bergegas membawa brankar menuju sebuah mobil berwarna hitam.


Pukul empat tepat dini hari. Dengan hati-hati mereka meletakkan tubuh Barraq dalam mobil.


"Akh..." keluh Barraq.


Bukan hanya sekali, tapi berulang. Terutama jika tubuhnya sedikit terguncang.


"Hentikan mobil itu...! Di dalamnya ada tuan Barraq..." ucap laki-laki tadi setelah mendapat informasi melalui telepon.


"Cepat jalan...!!" teriak Laila dengan suara soprannya.

__ADS_1


"Kita akan kecoh mereka..." ucap Maleq yang kembali keluar mobil.


Maleq memilih salah satu mobil yang jarang ia gunakan. Ia pun memacu mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.


"Lailaaa.....!!" teriak Maleq.


ZAP....!


Hawa dingin menyeruak ketika Laila sudah duduk di sebelah Maleq.


"Ya, Om..."


"Kau jaga Barraq. Jangan sampai terjadi sesuatu terhadapnya. Dan teman hantu mu itu, minta ia menemaniku. Sekarang....!"


ZAP...!!


Laila kembali menghilang dan berganti dengan Berry.


"Tolong aku, Berry. Kita harus menghadang para bodyguard itu"


"Siap, Om..." ucap Berry bersemangat.


Sementara itu, dalam kendaraan yang di kendalikan Attar. Barraq terus mengaduh setiap rasa sakit menderanya. Jalan yang tak mulus membuat laju kendaraan benar-benar menggila.


"Sabarlah, tuan..." ucap Dara.


Sebelah tangannya menutupi salah satu luka yang mulai basah dengan darah.


"Carilah rute yang lebih baik, Kak. Kasihan tuan Barraq. Lukanya kembali mengeluarkan darah..."


"Aku akan mencarinya, Kak..." ucap Laila.


Belum lagi Attar menjawab, Laila telah menghilang dari pandangan mata.


Sementara Laila mencari jalan terbaik, Barraq terlihat begitu payah. Rasa sakitnya begitu menyiksanya. Kerap ia harus memegangi apa saja yang ada di sekitarnya termasuk jemari Dara. Dan hal itu lagi-lagi disaksikan oleh Laila. Hati Laila semakin beriak. Rasa cemburunya kian membuncah.


Pun demikian, Laila berusaha setenang mungkin. Ia berusaha lebih fokus pada keselamatan Barraq ketimbang perasaannya.


"Belok kiri ada bangunan tua. Laila rasa bisa digunakan untuk bersembunyi sebentar sambil memeriksa kondisi kak Barraq" ucap Laila kepada Attar.


"Terima kasih..." bisik Attar.


Sesuai dengan saran Laila, Attar pun banting setir ke arah kiri. Dan benar saja ada sebuah bangunan tua berdiri di sana. Attar menilik sekitar. Terlebih Dara yang mulai kecut.


"Nah dokter kita bersembunyi sebentar di sini. Kau periksalah Barraq" ucap Attar.


"Ba-baik..." ucap Dara gagu karena rasa takutnya.


Laila menilik sekitar gedung yang terlihat angker itu. Jelas bulu kuduk saja sudah merinding disko sejak tadi.


"Mengapa kau membawa manusia ke tempat ini..." ucap seorang laki-laki berwajah seram.


"Maaf, Pak. Hanya menumpang sebentar. Kami dikejar orang-orang jahat yang ingin mencelakai laki-laki baik di dalam mobil itu"


"Mengapa kau mencampuri urusan manusia? Jika para pemburu hantu mengetahuinya, habislah kau..."


"Urusan ku dengan laki-laki baik itu bum selesai. Maka aku harus membantunya dan tak dapat meninggalkannya"


"Ow, begitu. Jika demikian kami akan membantu mu"


"Sungguh...?!"


"Tentu saja. Sesama hantu harus saling membantu..."


Deg.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2