LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 30. Angin Surga


__ADS_3

Ethan duduk pada kursi kebesarannya. Di tangannya terdapat selembar kertas. Mata Ethan cermat menilik setiap.baris yang tertera. Mendadak wajah tampan itu berubah. Tangannya pun gemetar. Jelas terlukis di wajahnya api amarah yang membara. Ethan di lahap api amarah.


Sementara itu tak jauh di hadapannya berdiri Surya, pengacara gaek keluarga El Khasif. Surya menyimpan tatapannya di ujung kakinya. Wajahnya pasi. Surya pasi saat mendapati perubahan warna pada wajah Ethan.


"Mengapa ini bisa terjadi, pak Surya?! Apa Daniel yang telah melibatkan ku?!" ucap Ethan.


Ia melempar selembar surat berisi pemanggilan dirinya tepat di wajah Surya. Ethan berdiri berkacak pinggang. Matanya membara. Ada api amarah yang sudah berkobar hebat.


"Maaf, Tuan. Daniel Tidka mengatakan apapun selain mengakui semuanya atas perintahnya. Baik terhadap nona Laila ataupun tuan Barraq" ucap Surya.


"Lalu mengapa surat pemanggilan ini sampai keluar?! Apa tuduhannya akan disampaikan, Pak Surya? Apa kau tidak dapat mencegahnya?!"


"Kali ini tentang penggelapan dana perusahaan"


"Penggelapan? Mana mungkin...?!" ucap Ethan berang.


"Tuan Barraq sebagai pelapornya, Tuan..."


"Apa..?! Tak mungkin...!! Aku yakin tiada bukti yang mampu memberatkan tuduhan itu. Atau...ada yang telah berkhianat?! Jika ya, maka ku pastikan pengkhianat dan keluarganya itu akan menderita sepanjang hayatnya" ucap Ethan berang.


Amarahnya memuncak. Bahkan sebuah gelas berisi air mineral menjadi sasarannya. Gaduh suasana saat itu. Saat Ethan melemparnya. Suaranya beradu dengan pecahan kaca yang terserak.


"Oya, sudah kau temukan Barraq pak Surya..."


"Belum,.Tuan. Tuan Barraq bak hilang di telan bumi"


"Haish...sejak Daniel tertangkap, semua pekerjaan menjadi sulit. Bahkan menemukan orang se-ceroboh Barraq saja amatlah sulit"


"Maafkan saya, Tuan. Secepatnya akan kami temukan."


"Pergilah...!"


Ethan terduduk kembali pada kursi kebesarannya. Sebelah tangannya tampak memijat-mijat kepala.


"Kacau...!!" ucap Ethan bersungut-sungut.


Kini tangannya mengepal hebat. Ada gemuruh dalam dadanya yang kian buncah. Tak terelak lagi keserakahan Ethan telah menjadikannya gelap mata. Akal dan rasa kasih sayangnya telah memudar hingga tega merencanakan hal keji kepada saudara laki-laki satu-satunya itu, Barraq.


"Sial...! Sepertinya harus ku lakukan sendiri. Well, Barraq setelah kau ku temukan maka dengan tangan ku sendirilah kau akan ku singkirkan..." ucap Ethan.


Ada kilat kebencian di ujung tatapannya. Bibirnya pun menyunggingkan senyuman. Senyum yang dipenuh dengan keangkuhan, keserakahan dan kebencian.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sementara itu di waktu yang sama pada tempat yang berbeda. Attar duduk di hadapan Daniel. Keduanya hanya dibatasi oleh sebuah meja saja. Ada banyak tumpukan kertas dan foto di hadapan keduanya.


"Aku tahu bukan kau yang melakukan semua itu, jadi lebih baik kau mengakuinya saja..."


"Hah...! Sudah berulangkali aku mengatakan bahwa aku adalah pelakunya. Semua adalah rencana ku..."


"Kau tahu seberapa berat hukuman untuk kasus perencanaan pembunuhan?"

__ADS_1


"Aku tahu..."


"Lalu mengapa kau masih bertahan...? Apa unsur balas budi?"


"Balas budi? Kepada siapa?"


"Tentu saja kepada tuan Ethan..."


"Sudah ku katakan apa yang ku perbuat tidak ada kaitannya dengan tuan Ethan..."


"Well baiklah tuan Daniel. Kita akan lihat berapa lama kau akan bertahan dengan pendirian mu, itu..."


"Hah...!" ucap Daniel sambil memalingkan wajah.


Attar menilik menilik wajah Daniel sekali lagi sebelum ia pergi meninggalkan ruang interogasi itu. Hati Attar beriak. Ada kesal yang membuncah atas ketidakberhasilannya mendapatkan pengakuan Daniel. Ini adalah upaya yang ketiga kalinya.


Langkah Attar begitu panjang. Ia memasuki ruangan yang dua tahun ini menjadi tempatnya beradu akal dalam memecahkan bermacam kasus.


KREEEK....!


Derit pintu terdengar. Attar berdiri di ambang pintu. Ia tidak segera memasuki ruangannya. Matanya beradu pada sosok laki-laki yang tengah duduk memunggunginya.


"Ehem...."


Attar berdehem. Itu adalah isyarat atas kehadiran dari si empunya ruangan. Dan benar saja hal tersebut sukses menarik perhatian laki-laki yang duduk sambil asyik mengotak-atik ponsel berwarna hitam itu. Laki-laki itu pun memutar tubuhnya sehingga tampaklah wajahnya. Attar mengernyitkan dahi saat menatap wajah laki-laki yang sebagian tertutup topi hitam. Attar tak mengenali siapa laki-laki itu. Namun saat laki-laki itu membuka topi yang menutupi sebagian wajahnya, barulah Attar mengumbar senyum.


"Apa kabar, Tar...?" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Barraq.


"Hei...Bro!" ucap Attar sumringah.


"Kantor ini tak berubah sedikit pun sejak tiga tahun lalu..." ucap Barraq sambil melangkah untuk kemudian duduk pada sofa.


"Haha...betul juga. Hei, mengapa ke kantor? Kau bisa menghubungi ku saja. Situasi masih berbahaya, Bro..."


"Jenuh bersembunyi terus. Kau tahu kan bagaimana aku?"


"Tentu saja. Lebih baik bersimbah darah ketimbang bersembunyi bak tikus yang mencicit ketakutan..."


"Haha....!!" tawa keduanya mengisi udara dalam ruangan itu.


Saat tawa itu mengudara, hari masih pagi. Sekitar pukul sembilan lewat dua puluh menit. Kedua sahabat itu terus berbincang. Satu satu permasalahan dan atau pun keinginan Barraq terucap. Mulai dari keinginannya bertemu dengan Nurdin, Turut menyelidiki latar belakang Daniel hingga masalah keinginannya untuk bersama Laila.


Attar kembali mengernyitkan dahi. Bagi Attar semua keinginan Barraq akan dengan mudah dikabulkan, tapi keinginan untuk bersama Laila itu adalah masalah yang serius.


Melihat reaksi Attar, Barraq menghela nafas. Ia tahu bahwa keinginan untuk bersama Laila adalah suatu kemustahilan. Tapi tidak adakah cara terbaik yang dapat diambil sehingga ia dapat bersama dengan Laila.


"Ini kegilaan, Bro. Jika situasi kalian masih tetap sama. Kecuali...." ucap Attar.


Kata Attar terhenti. Matanya menatap lekat wajah tampan sahabatnya itu.


"Kecuali aku mati. Begitu...?"

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak menyarankan hal seperti itu. Hubungan kalian menjadi sebuah kegilaan kecuali ada keajaiban"


"Ah, ku kira apa. Jika hal itu, maka itulah yang tengah aku harapkan"


Tengah asyik berbincang, ponsel Attar berpendar. Sebuah pesan mendarat mulus di layar ponsel. Pesan yang menyatakan bahwa Nurdin telah siap di ruang kunjungan. Mendapati pesan itu, Attar pun langsung berisyarat pada Barraq untuk mengikutinya.


Barraq pun mengerti. Barraq segera mengekori langkah Attar. Hanya beberapa langkah keduanya langsung dihadapkan pada sebuah ruangan. Barraq memutar gagang pintu dan membukanya.


KREEEK....!


Pintu berderit. Suaranya bak menyayat hati. berdiri Barraq di ambang pintu ketika pintu terbuka. Dan saat itu nampak lah seorang laki-laki yang duduk di kursi dengan tangan diborgol. Barraq melangkahkan kaki panjangnya ke dalam ruangan.


Melihat kehadiran Barraq, Nurdin langsung berdiri. Matanya berkaca-kaca dikerubuti bulir bening. Nurdin tak menyangka jika kunjungan untuknya adalah dari orang yang hampir sepuluh tahun ini ia ikuti. Sekaligus orang yang hampir mati di ujung senapannya.


"Mas baik-baik saja...?" ucap Nurdin.


"Seperti yang kau lihat. Rupanya Tuhan belum mau menerima nyawaku..." ucap Barraq sambil duduk dengan hati-hati.


"Apakah itu sakit?"


"Sangat...."


"Maafkan saya, Mas..."


"Sudah ku maafkan. Karena aku tahu itu bukan kehendak mu..."


"Mas...." ucap Nurdin lirih.


Matanya telah basah oleh bulir bening yang beberapa saat lalu mulai terjun bebas. Nurdin terus berucap meminta maaf, walau Barraq telah mengatakan bahwa ia telah memaafkan. Kini Nurdin telah menyembunyikan wajahnya pada lipatan kedua tangan di atas meja. Dan Barraq membiarkan Nurdin dalam isaknya untuk sesaat.


Di sudut hati Barraq, sesungguhnya ia pun memiliki penyesalan. Ya, penyesalan tentang ketidaktahuannya akan kondisi yang sebenarnya Nurdin dan keluarganya.


"Apakah kak Ethan yang menyuruh mu melakukannya? Jujurlah..." ucap Barraq.


Nadanya begitu datar. Berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam hatinya yang beriak bak ada badai yang berkecamuk.


Nurdin diam. Ia tak kuasa berucap. Mengangkat wajah pun ia tak kuasa. Ternyata besarnya rasa bersalahnya telah menahan kepala dan katanya.


"Aku sudah tahu siapa dalang di balik penembakan ku. Tapi aku butuh pengakuan mu. Bantulah aku mendapat keadilan"


"Tapi mas..."


"Apa kau mengkhawatirkan keluarga mu?"


Mendapat pertanyaan itu, akhirnya Nurdin memberanikan diri mendongakkan kepalanya. Nurdin menatap wajah laki-laki yang nyawanya hampir saja hilang karena ulahnya itu.


"Jika aku menjamin keamanan keluarga mu, apa kau bersedia memberi pernyataan tentang siapa dalang yang sebenarnya?"


Nurdin masih menatap Barraq. Hatinya beriak. Rasa bersalah yang telah menduduki hatinya beberapa waktu terakhir, kini mulai mengiyakan setiap ucapan Barraq. Dan hal tersebut tentu saja bak angin surga yang dikirim Tuhan.


Kemudian Nurdin mengangguk perlahan. Itu adalah isyarat kesiapan untuk memberi pernyataan yang sebenarnya. Melihat itu, Barraq menghela nafas lega. Barraq mengumbar senyum walau tipis saja. Sontak tangan Barraq menggenggam tangan Nurdin.

__ADS_1


"Terima kasih. Ku pastikan keluarga mu akan baik-baik saja. Begitu pun dengan mu"


__ADS_2