
Barraq berlari meninggalkan Mobil mewahnya begitu saja. Ada amarah yang tengah menguasainya. Langkahnya pun begitu cepat hingga di dalam rumah, tepatnya pada sebuah ruangan. Ruangan luas yang biasa digunakan untuk berkumpul. Mata Barraq menilik sekitar dengan tajam. Tangannya pun mengepal hebat.
"Mang Nurdin....!!" teriak Barraq dengan suara tenornya.
Bukan hanya sekali, namun Berulangkali ia memanggil Nurdin. Hatinya benar-benar diamuk amarah. Saat Barraq bersungut-sungut, mbok Jum melintasinya. Dan hal tersebut tentu tak disia-siakan Barraq.
"Panggilkan tuan Ethan. Katakan Barraq ingin menemuinya...!"
"Tuan..." ucap Jum.
Sebuah kata singkat sebagai ungkapan rasa penuh heran. Tentu saja karena selama ini Barraq tak biasanya melakukan hal seperti itu, mengumbar amarah yang berlebihan.
Melihat Jum asisten rumah tangga nya tak melaksanakan perintahnya, Barraq kian tersulut amarah. Ia meraih vas bunga yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Barraq melemparnya sembarang. Suara gaduh pun langsung mengisi udara membuat terkejut siapa saja, terlebih Jum.
"Maaf, Tuan. Mbok akan panggilan tuan Ethan..." ucap Jum dengan tubuh sedikit gemetar.
Langkah Jum langsung cepat menyusuri anak tangga yang mengular. Namun baru separuh perjalanan, langkah Jum terhenti. Di hadapannya tengah berdiri Ethan.
"Tuan, tuan Barraq...." kata Jum terhenti. Matanya menatap wajah Ethan yang begitu dingin.
"Pergilah, mbok..." ucap Ethan kemudian.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Jum meninggalkan Ethan dengan mendahului langkahnya Seperti yang diperintahkan anak laki-laki tuan besarnya itu.
Dan bersamaan dengan itu Nurdin pun sudah berdiri tak jauh dari Barraq. Laki-laki putra kedua Emran El Khasif itu masih berdiri. Amarahnya kian mencapai ubun-ubun. Kehadiran Nurdin pun diikuti oleh beberapa asisten rumah tangga yang terbangun.
"Kau tahu ini jam berapa, Barraq? Apa etika mu benar-benar sudah hilang...?! Kau waras kan kan? Tidak sedang mabuk kan?" ucap Ethan.
"Aku tak butuh perhatian mu yang palsu itu, Ethan.."
"Lancang....! Aku kakak mu...! Berani sekali kau menyebut nama ku"
"Tentu saja aku berani. Jika perlu aku akan menyebutnya berulang kali. Ethan... Ethan...Ethan...Ethan. Puas kau...!"
"Cukup...! Apa mau mu?!"
"Kejujuran mu...! Nurdin, buka pakaian mu"
"Buka, Tuan...?" ucap Nurdin.
Tubuhnya mendadak gemetar. Terlebih saat melihat wajah Barraq yang merah padam karena amarah.
"Kau tidak dengar...!'
Nurdin langsung membuka pakaian atasnya. Walau awalnya ragu, namun kemudian akhirnya Nurdin meneguhkan hati. Ia berfikir, mungkin sudah waktunya ia mengungkap segala niat jahat Ethan terhadap Barraq.
Barraq dan beberapa asisten rumah tangga yang ada tercekat. Katanya jadi mandul. Hal tersebut saat melihat luka lebam di beberapa bagian tubuh selain di wajah. Barraq mendekati Nurdin. Matanya menilik setiap lebam yang ada. Kemudian Barraq menatap Ethan, sementara jari telunjuk kanannya menuding Nurdin.
"Katakan Nurdin, siapa yang melakukannya..." ucap Barraq.
__ADS_1
Bukan sekali, tapi dua bahkan tiga kali Barraq menanyakan hal yang sama tentang asal muasal lebam di tubuh Nurdin.
"Sa-saya...saya...." ucap Nurdin. Matanya tak sanggup menatap wajah Barraq ataupun Ethan.
Nurdin bungkam. Katanya tercekat. Hatinya beriak. Begitu cemas akan nasib keluarganya.
"Baik jika kau tidak mampu mengatakannya, maka saya yang akan melakukannya" ucap Barraq.
"Kau...! Kau Ethan. Kau pelakunya. Setiap Nurdin gagal membuat ku mabuk, maka kau akan melampiaskannya kepada Nurdin. Satu pertanyaan ku, mengapa kau ingin hidup ku hancur? Jawab Ethan...!"
"Bukan hanya itu, setiap kau dirundung masalah baik di rumah ataupun kantor maka kau pun akan melampiaskannya kepada Nurdin. Itulah sebab mengapa Nurdin selalu mempunyai lebam di tubuhnya" ucap Barraq berapi-api.
"Haaah..." ucap para asisten rumah tangga yang ada.
Semua terkejut. Tatapan mereka bergantian menatap Ethan, Barraq dan Nurdin. Tak jarang diantaranya ada yang sampai menutup mulut. Khawatir reaksi yang keluar berlebihan. Bagaimana pun juga Ethan adalah putra pertama kelurga El Khasif yang amat sangat ditakuti.
Bisik-bisik antar asisten rumah tangga pun tak dapat dihindari. Dan hal itu membuat suasana sedikit riuh.
Ethan bertepuk tangan. Bibirnya menyunggingkan senyuman. Senyum yang terasa aneh. Sontak suasana mendadak sunyi. Semua perhatian tertuju pada Ethan. Laki-laki tinggi berwajah tampan itu menghampiri Barraq.
"Sudah cukup menebar fitnah nya?"
"Fitnah? Kau fikir semua yang ku katakan adalah fitnah. Kau sungguh terlalu..."
"Kau yang terlalu. Kau lebih percaya dengan teman hantu mu itu ketimbang kakak mu sendiri"
"Cukup....! Apa tidak malu menjadi tontonan di rumah mu sendiri..!!" ucap Emran yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ujung anak tangga.
"Lancang....!!"
PLAKK...!!
Sebuah tamparan telak menyasar wajah Barraq. Dan hal tersebut tentu membuat Barraq terkesiap. Ia benar-benar tidak menyangka jika laki-laki yang ia hormati itu tega melakukannya. Mata Emran membulat sempurna. Manik matanya jelas mengarah pada Barraq.
"Pa....!!"
"Aku salah telah membesarkan mu, Barraq. Mestinya ku biarkan saja kau saat hendak dimangsa seigala waktu itu jika aku tahu pada akhirnya kau akan membuat ku malu"
"Aku tidak minta untuk dilahirkan, Pa..."
"Lancang...!"
PLAKK...!!
Tamparan keras kembali menghampiri wajah Barraq. Dan kali ini kemarahan Emran benar-benar mencapai ubun-ubun.
"Wow...tak ku kira akhirnya akan seperti ini. Begitu cepat dan aku tak perlu bersusah payah lagi untuk menyingkirkan Barraq. Si anak miskin tak tahu diri itu. Hahaha....!" batin Ethan.
"Pergi...Pergi dari rumah ini....!!"
__ADS_1
"Tuan..." ucap hampir semua asisten rumah tangga.
Mereka amat tidak setuju dengan keputusan yang diambil tuan besar mereka.
"Jika karena bukan mama mu yang merengek untuk memberi mu pengampunan, mungkin aku sudah mengusir mu sejak lama..!!"
"Baik. Jika itu kehendak papa. Aku akan melukiskannya..." ucap Barraq.
Kaki panjangnya melangkah dengan cepat. Barraq menyusuri anak tangga tanpa mempedulikan tatapan dari banyak asisten rumah tangga di sana.
Tak perlu menghabiskan separuh dupa, Barraq telah kembali dengan membawa sebuah tas kulit berwarna hitam. Ia berdiri menatap Emran dengan beraninya.
"Aku pergi, Pa. Suatu saat papa akan menyesal telah memelihara ular berbisa di rumah ini..." ucap Barraq.
"Lancang...!" ucap Ethan.
Tubuhnya merangsek mendekati Barraq. Jika saja Emran tak mencegahnya, tentu akan terjadi pergulatan sengit diantara kedua putranya itu.
Barraq melangkah meninggalkan ruangan. Tiada cegahan atau ucapan selamat jalan. Karena sebanarnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih mengharapkan cegahn dari Emran ataupun dekapan erat laki-laki yang penuh kharisma itu. Namun harapan tinggal lah harapan. Bak kata pepatah jauh panggang dari api, akhirnya Barraq bertekad kuat meninggalkan rumah mewah yang hampir tiga puluh tahun ia tinggali itu.
Barraq melajukan mobilnya. Satu tujuannya kini adalah sebuah rumah di pinggiran kota. Rumah yang tiada diketahui sedikit pun oleh keluarga El Khasif lainnya. Rumah yang ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri. Saat itu ia masih menjadi seorang pengusaha tanpa embel-embel nama besar Emran El Khasif.
Barraq melaju dengan kecepatan tinggi. Deru mesinnya memecah kesunyian hampir di penghujung malam. Hanya sekitar satu jam perjalanan, akhirnya Barraq pada tujuannya. Sebuah rumah bergaya minimalis modern kini ada di hafalannya.
Barraq segera memasuki rumah itu. Seorang laki-laki paruh baya tampak tergopoh menyambut Barraq. Ia adalah Mang Dikin. Satu-satunya asisten rumah tangga di rumah tersebut.
"Selamat datang mas Barraq..." ucap Dikin sumringah.
"Apa kabar, Mang...?'
"Baik, Mas. Wah...mamang kira, Mas sudah lupa dengan rumah ini. Hehe...." ucap Dikin.
Tangan Dikin langsung .eraih tas kulit berwarna hitam yang di bawa Barraq.
"Ah, mamang bisa saja. Maaf ya, mang...jam segini menghubungi mamang"
"Ah, mas Barraq pinter buat mamang malu"
"Malu...?"
"Ya, mas Barraq pake minta maaf segala loh..."
"Owalaaah... Oya, Mang. Tolong buat kan mie rebus. Laper Mang..."
"Baik, Mas. Lima belas menit lagi mamang antar ke kamar" ucap Dikin sambil meletakkan tas kulit itu di atas tempat tidur.
"Ok, Mang. Terima kasih ya..."
Dikin mengengguk mantap sambil tersenyum. Matanya tampak berbinar, sebab tuan kesayangannya itu telah kembali. Sementara itu, Barraq berdiri menatap jauh. Tatapannya menerobos melewari bingkai jendela yang baru saja ia buka.
__ADS_1
"Laila...." gumam Barraq.
"Bagaimana aku bisa menolong mu...?" gumam Barraq lagi.