
"Nduk...siapa tadi? Ibu perhatikan seru sekali percakapannya..." ucap Arini.
"Ah, Bu. Selalu saja membuat Laila terkejut" ucap Laila.
Tangannya langsung bergelayut pad lengan perempuan paruh baya yang selau tersenyum itu.
"Siapa tadi...?" tanya Arini sekali lagi.
Laila tersenyum. Tiada jawaban yang keluar dari bibir tipisnya.
"Attar atau....Barraq?" ucap Arini bernada menggoda.
"Kak Attar, Bu..."
"Oo...ibu kira tuan Oemar Barraq El Khasif " ucap Arini lagi bernada menggoda.
"Ibu...." ucap Laila bernada manja
Gadis yang tengah menunggu proses pembedahan itu langsung memeluk Arini. Ada semu merah di wajahnya.
"Ibu tahu untuk siapa hati mu sebenarnya. Semoga keputusan mu menerima Attar, tidak menjadi bumerang dalam hidup mu kelak..." batin Arini.
Tangan Arini mendekap erat tubuh putri kesayangannya itu. Sesekali ia menghadiahinya dengan kecupan lembut pada pucuk kepala Laila.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, di waktu yang sama pada tempat yang berbeda...
Barraq duduk dengan tenang. Walau sesungguhnya ia tengah gelisah. Seorang laki-laki berseragam, bertubuh tinggi tegap berdiri membelakanginya. Laki-laki itu menatap ke jendela yang bertirai putih. Fikirannya tengah menelaah segala yang telah diceritakan Barraq.
"Jadi...kau benar-benar tidak tahu, jika Laila masih hidup?" tanya Wijoyo Hadiningrat.
"Benar. Karena sepengetahuan saya arwah Laila telah berpamitan untuk pergi selamanya tepat di dekapan saya"
"Apa kau punya bukti atau saksi?"
"Ada. Dokter Maleq dan dokter Dara dari El Khasif Hospital. Dan Attar Pramudya Wibisono, perwira di sini"
"Attar. Tapi Attar tidak mengatakan apa pun tentang hal tersebut "
"Penyebabnya saya tidak tahu. Mungkin bapak bisa menanyakannya langsung kepada Attar..."
"Lalu apa maksud tuan Oemar Barraq menemui saya?"
"Saya ingin meminta izin untuk menemui Laila"
"Kau mencari dukungan ku? Atau kau tengah mencari tameng untuk membenarkan segala ceritamu tentang kepergian Laila...?" ucap Wijoyo bernada sedikit meninggi.
"Tidak keduanya. Saya hanya ingin bapak tahu bahwa saya menemui putri bapak. Dan ketidakhadiran saya selama ini...."
"Bukan salah mu? Begitu....?" potong Wijoyo.
"Bukan demikian. Maksud saya ketidak hadiran saya selama ini telah menjadi penyesalan beberapa waktu terakhir ini"
__ADS_1
"Syukurlah jika kau menyesalinya. Jika tidak, maka peluru ini sudah melubangi kepala mu itu..."
"Tidak masalah jika itu dapat membayar ketidakhadiran ku delapan bulan terakhir ini" ucap Barraq.
Matanya menatap lekat Wijoyo. Dan hal itu membuat Wijoyo tertegun. Laki-laki yang merupakan perwira tertinggi itu merasakan ketulusan dan keberanian dalam diri Barraq.
"Mata mu telah berbicara bahwa kau berkata jujur dan tulus. Karena aku tidak menemukan sedikit pun kedustaan di sana. Kau laki-laki baik, Barraq. Wajar jika Laila begitu menaruh hati pada mu..." batin Wijoyo.
"Baiklah. Aku akan memberi mu izin menemui putri ku. Datanglah saat makam malam nanti..." ucap Wijoyo.
"Terima kasih, Pak..." ucap Barraq.
Hati laki-laki tampan itu bersorak, walau tak tampak reaksi apa pun di wajahnya. Tak lama kemudian, Barraq pun meninggalkan ruangan orang nomor dua di pusat badan intelejen negara itu. Langkahnya terasa begitu ringan. Mungkin karena ia telah mengantongi izin sekaligus undangan untuk menemui Laila.
Sementara itu, tanpa sengaja seorang laki-laki melihat kehadiran Barraq. Sontak ia menyembunyikan kehadirannya di balik dinding.
"Ada apa Barraq keluar dari ruangan komandan? Apa ada kaitannya dengan Laila? Atau ada hal lain?" gumam Attar yang terus mengawasi setiap langkah Barraq hingga menghilang di ujung lorong.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul tujuh lewat lima menit. Barraq telah berdiri di depan pintu berukir. Bel pun sudah ia tekan, penanda bahwa ada tamu di depan pintu. Tak lama seorang perempuan paruh baya membuka pintu. Mata indahnya membulat sempurna saat mendapati kehadiran Barraq. Seakan tak percaya, Arini menepuk pipinya.
"Selamat malam, Tante..." ucap Barraq sambil mengurai senyum.
"Tuan Barraq....?" ucap Arini.
"Barraq, Tante..." ucap Barraq sekali lagi.
"Siapa, Bu..." ucap Wijoyo yang tengah melangkah.
"Ow..Masuklah" ucap Wijoyo.
"Iya, masuklah..." ucap Arini yang masih terkesiap.
Mendengar ucapan Wijoyo yang bak perintah, Barraq pun langsung mengikuti langkah Arini dan Wijoyo. Sesekali mata Barraq mengitari setiap sudut ruangan. Terutama figura-figura berisi foto keluarga dan Laila tentunya.
Barraq sedikit terkejut saat langkahnya menaiki anak tangga yang cukup mengular itu. Ia yakin akhir dari tangga itu bukanlah ruang makan atau ruang keluarga. Karena kebanyak rumah, ruang di lantai atas digunakan sebagai area pribadi seperti kamar tidur atau ruang kerja. Barraq kian gamang saat melihat sebuah lukisan besar seorang gadis yang ia kenal di salah satu dinding ruangan.
"Laila...." batin Barraq.
"Sebelum kita santap malam, saya ingin kau menemui putri kami dahulu. Seperti yang sudah saya janjikan..." ucap Wijoyo.
Deg.
.
.
.
Degup jantung Barraq bertalu. Katanya mendadak hilang. Hanya tatapannya saja yang berbagi antara Arini, Wijoyo dan sebuah pintu di hadapannya.
"Masuklah. Itu bukan kamar tidur. Itu pintu menuju roof garden" ucap Wijoyo meyakinkan Barraq.
__ADS_1
Mendapat penjelasan itu, Barraq langsung memutar gagang pintu. Ia menjadi tak sabar untuk menemui sosok perempuan yang ada di balik pintu itu.
KREEEK....
Derit pintu terbuka. Suaranya begitu menggelitik. Barraq melangkah melewati ambang pintu. Benar saja aroma bunga dan pepohonan pun langsung menyapa ketika langkahnya kian jauh ke dalam taman.
Mata Barraq menilik sekitar taman. Bersamaan dengan itu telinganya langsung mendengar sayup percakapan. Barraq pun perlahan mendekati sumber suara. Ia penasaran.
Sedikit tersembunyi, Barraq mulai memperhatikan si empunya suara. Sadar dengan penglihatannya, Barraq terkesiap. Hatinya beriak. Di sudut taman, duduk Laila dengan Attar yang berjongkok di hadapannya. Matanya menatap Laila penuh perasaan.
Hati Barraq kian beriak. Ada marah yang terselip saat mendapati polah Attar, sahabatnya sendiri. Karena jelas gestur dan mimik wajah Attar menunjukkan bukan sekedar seorang teman atau sahabat, namun sebagai orang yang special. Barraq berpraduga.
"Hei, kangen akut nih. Bahaya kan kalau tidak diobati..." ucap Attar perlahan.
"Gombal..." ucap Laila.
"Menikah, yuk..."
"Kak, sudah ku katakan. Aku butuh waktu untuk itu. Aku ingin pembedahan ku berjalan dahulu, setelah itu barulah merencanakan pernikahan"
Deg.
.
.
.
Degup jantung Barraq serasa terhenti saat mendengar kata pernikahan. Kata yang baru saja meluncur dari bibir tipis Laila. Barraq mendadak lesu. Harapannya pupus.
PLOK...
Sebuah tepukan mampir di bahu Barraq. Laki-laki tampan yang tengah fokus pada percakapan Attar dan Laila terkejut. Ia pun langsung mengalihkan perhatian pada sosok perempuan yang berdiri di belakangnya.
"Tante...." ucap Barraq setengah terkejut.
"Jika yang diceritakan benar adanya, maka mengapa jadi ragu. Lanjutkan niatmu..." ucap Arini.
"Tante..." ucap Barraq haru.
"Jangan ragu..."
"Tapi mereka sudah merencanakan pernikahan..."
"Tante tahu bagaimana hati Laila..."
Deg.
.
.
.
__ADS_1
"Apa maksud Tante Arini? Mengapa ia seakan mendukung ku. Apakah ini berkaitan dengan perasaan Laila....?"