LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)

LAILA (Gadis Yang Mencari Keadilan)
Episode 36. Kepergian Laila


__ADS_3

Matahari sudah hampir kembali ke peraduan. Perjalanannya meninggalkan semburat kemerahan di kaki langit barat. Sementara itu, kawanan burung mulai kembali pulang menuju sarang. Mereka tahu bahwa sebentar lagi malam akan menjemput siang. Dan langit tentu akan berubah kelam.


Laila duduk gelisah di sudut ruangan. Tepatnya dekat brankar dimana Barraq berada. Matanya menilik kondisi Barraq saat ini. Ada sesak yang melanda hatinya saat matanya menatap aliran darah pada selang transfusi. Dan rasa itu kian membuncah saat mengingat kebersamaannya dengan Barraq tersisa beberapa jam saja.


Laila terdiam dalam perenungannya. Gadis cantik itu telah memutar otak. Ia berusaha menemukan cara agar dapat meninggalkan Barraq tanpa sedih. Namun sampai dengan detik ini, cara itu tak kunjung ia temukan.


"Aku harus apa...?" batin Laila.


Kemudian mata Laila menilik kesibukan di sekitaran rumah keluarga El Khasif. Ia menilik dari jendela besar bertirai putih itu. Laila tertegun. Terlebih saat beberapa peralatan medis mulai berdatangan. Ternyata tak butuh waktu lama untuk mendatangkannya. Cukup menjentikkan jari, maka segala keperluan operasi Barraq pun berdatangan.


Kesibukan lainnya adalah aktivitas sejumlah bodyguard yang berusaha menghalangi paparazi. Para pemburu berita itu berusaha merangsek masuk ke dalam rumah. Mereka menjadi tak sabar untuk mendapat berita yang super sensasional. Bagaimana tidak, jika berita itu berkenaan dengan keluarga El Khasif. Keluarga yang terkenal tajir melintir karena usahanya yang menggurita. Dan karena peristiwa tersebut tentu akan membuat paparazi semakin berlomba untuk mendapatkan berita eksklusif keluarga El Khasif.


KLONTANG...!


Mendadak nampan berisi peralatan operasi terjatuh. Dara lah yang tanpa sengaja menjatuhkannya. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Ternyata gadis cantik itu melihat perwujudan Laila. Jatuhnya peralatan tersebut membuat Laila dan Barraq terkejut, seperti halnya Dara. Keduanya langsung mengalihkan perhatian kepada Dara yang tengah rikuh merapihkan kembali peralatan ke dalam nampan.


"Maaf...Maaf...." ucap Dara tanpa melihat Dara ataupun Barraq.


Tak hanya itu Maleq, Attar dan Faaz pun berlarian ke dalam ruangan yang akan di jadikan ruang operasi dadakan itu. Ketiganya khawatir jika telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan dalam ruangan. Mengingat situasi yang baru saja dialami Barraq.


Sesampainya di dalam ruangan, ketiganya merasa lega. Hal tersebut karena situasi saat itu tidaklah seperti yang dibayangkan sebelumnya. Karenanya, kekhawatiran pun seketika menguap begitu saja.


"Fiuh...." desah lega ketiganya.


"Apakah dia Laila...?" ucap Dara saat Attar membantunya.


Sepintas Attar menatap ke arah yang dimaksud dokter muda itu. Hal tersebut sekedar memastikan saja. Dan setelah memastikan, barulah Attar mengangguk mantap. Tanda pembenaran atas apa yang Dara utarakan.


"Cantik, Kak. Tapi sayang sekali nasibnya tak mujur..." ucap Laila tanpa menatap Laila lagi.


"Mengapa wajahnya tak asing? Aku...seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?" batin Dara.


Attar tersenyum. Tangannya meletakkan peralatan terakhir yang terserak ke dalam nampan.


"Terima kasih, Kak..." ucap Dara


"Bagaimana, sudah siap?" ucap Maleq.


"Siap dokter..." ucap Dara.


"Good. Bagaimana diagnosa hasil analisis korban? Apakah membahayakan?"


"Berdasarkan pada ciri luka, maka dapat dipastikan bahwa tuan Barraq mendapat dua luka. Satu luka tembak jarak jauh (distant) pada lengan dan satu luka tembak jarak dekat (intermediate) pada paha..." jelas Faaz.


"Dan sejauh ini pasien dalam kondisi baik. Walau sempat mengalami pendarahan namun tidak terjadi patah tulang atau cidera hebat lainnya" lanjut Dara.


Percakapan itu berlangsung saat Maleq memeriksa kondisi Barraq. Matanya menatap wajah tampan kemenakannya itu.


"Well, Barraq. Sudah siap...?" tanya Maleq sambil mengurai senyum.


"Siap, Om..." ucap Barraq sambil tersenyum.


"Good. Kita mulai. Sesuai permintaan mu, dokter Faaz sudah melakukan anestesi lokal. Mungkin kau akan merasa nyeri, memar, sakit kepala dan atau pusing tapi kau akan tetap sadar. Setiap pasien mengalami efek yang berbeda" jelas Maleq.

__ADS_1


Mata Barraq mengedip lesu. Tanda bahwa ia mengerti segala penjelasan Maleq. Setelah itu, saat proses pembedahan di mulai Barraq menatap Laila lekat. Bibirnya menyunggingkan senyuman khasnya. Lirih sekali Barraq bertutur singkat. Tutur yang telah sering terucap.


"Terima kasih..." begitu ucap Barraq.


Dan kata itu pula yang selalu ditanggapi Laila dengan senyum. Juga bulir bening yang selalu mengerubuti mata indahnya.


"Jangan jauh dari ku..." ucap Barraq.


Dan kata dari Barraq itu membuat ketiga dokter itu saling berpadu pandang. Tak jarang Maleq memutar bola matanya menyaksikan polah kemenakannya itu.


"Aku disini, Kak..." ucap Laila.


"Kau baik-baik saja...?" ucap Barraq lagi.


"Tentu saja. Apa kakak tidak melihatnya..." ucap Laila.


Bibir tipis Laila menyunggingkan senyuman khasnya. Dan hal itu tentu saja membuat Barraq lega. Namun tanpa sepengetahuan Barraq atau lainnya, Laila tengah gusar. Bagaimana tidak, suara bib bib itu kembali hadir. Suara yang beberapa waktu ini begitu mengusik. Sekuat tenaga Laila menahannya, agar Barraq tidak perlu mengkhawatir kondisinya saat ini. Terlebih pada kondisi Barraq saat ini.


Laila memejamkan mata, saat suara itu kian menjadi. Suara yang mengisi kepalanya. Suara yang seakan sebuah panggilan. Entah darimana asalnya.Terlebih saat ini, Laila bak kehilangan energinya. Laila merasa begitu lemah.


"Apakah sudah waktunya aku pergi? Mengapa aku merasa demikian? Tuhan, berikan aku waktu sedikit lagi sebelum aku benar-benar menghadap mu. Aku mohon dengan sangat..." batin Laila.


"Mengapa aku merasa Laila begitu lesu? Apa yang tengah Laila rasakan saat ini? Apakah sudah waktunya? Oh, tidak...! Jangan dalam keadaan ku yang seperti ini, Tuhan. Aku mohon dengan sangat..." batin Barraq.


Hampir menitik bulir bening yang mulai mengerti kedua mata Laila. Sadar dengan situasi yang segera terjadi, Laila buru-buru menyembunyikannya. Laila memalingkan wajah. Kakinya pun surut dari pandangan mata Barraq.


"Kemana, Laila....?" tanya Barraq.


"Hantu bisa takut darah juga. Hehe... Uhuk, Uhuk!" ucap Barraq disela tawa.


Tawa itu pun terhenti saat batuk menderanya. Dan hal itu lagi-lagi membuat perhatian Maleq dan Attar. Sementara Dara tetap fokus pada tugasnya. Bukan tanpa sebab dokter muda itu melakukan hal tersebut. Dara begitu terganggu dengan kehadiran Laila. Walau cantik, namun bagi Dara hantu tetaplah hantu.


"Ow, jadi takut darah nih..?" ucap Maleq bernada menggoda sambil menutup luka Barraq dengan perban.


Namun godaan Maleq tersebut tak Laila respon. Laila tengah termangu. Gadis cantik itu tengah merasakan suara bib bib yang akhir-akhir ini kian kerap mengganggunya. Dan kali ini serangannya begitu kuat, hingga Laila tak mampu menahannya. Gadis cantik itu terkulai lesu pada lantai berwarna putih.


"Laila...." ucap Barraq dan Maleq hampir bersamaan.


Ada khawatir di nada bicara keduanya.


"Kak....." ucap Laila.


Suara Laila begitu payah. Tangannya menggapai mencari pegangan. Melihat itu Barraq mengulurkan tangan. Laki-laki tampan itu bermaksud menggapai tangan Laila. Namun apa daya, kondisi diri tak memungkinkan.


"Kita harus apa, dok? Haruskah kita melakukan tindakan medis kepadanya" ucap Dara panik kepada Maleq.


"Tolong dekatkan aku pada kak Barraq. Tolonglah..." pinta Laila.


Mendengar itu Maleq langsung memenuhi permintaan Laila. Laki-laki tampan yang merupakan adik dari Emran El Khasif itu mengangkat tubuh Laila yang lemah itu.


Sementara Laila sendiri tengah berurai air mata. Ya...bulir bening yang sejak tadi ia tahan, kini telah terjun bebas.


"Aku takut, Kak..." ucap Laila di sela isaknya.

__ADS_1


"Kenapa takut? Ada aku, ada om Maleq...." ucap Barraq terhenti saat Dara potong kompas.


"Ad-ada Dara..." ucap Dara terbata.


"Kemarilah...." ucap Barraq lirih.


Tangan Barraq terentang. Bersiap mendekap tubuh gadis cantik berbaju putih dengan motif bunga kecil itu. Melihat isyarat itu Laila merebahkan kepala pada dada Barraq. Isak Laila tumpah. Segala rasa khawatir dan takut tumpah sudah.


"Kak, suara bib bib itu sangat mengganggu ku. Sepertinya suara itu adalah pertanda bagi ku. Tanda yang mengingatkan akan sisa waktu ku..."


Deg.


.


.


.


Barraq menahan pilu. Ada rasa bersalah yang mengganggu fikir nya. Barraq merasa, bahwa ia adalah penyebab hilangnya nyawa gadis cantik itu.


"Jika aku menghilang, apa yang akan kakak lakukan?" ucap Laila.


"Entahlah. Aku belum memikirkannya. Tapi yang aku inginkan adalah menjadi pasangan mu di kehidupan berikutnya..."


"Ya, Kak. Aku pun menginginkan itu. Jika kita tidak bisa bersama saat ini, maka aku akan meminta kepada Tuhan agar kita bersama di kehidupan berikutnya..."


"Aamiin...." ucap Maleq dan Dara.


Ada getar pada nada bicara keduanya. Bagaimana tidak, jika keduanya harus menyaksikan kisah pilu kasih tak sampai kali ini. Kisah ini bak kisah yang ditayangkan di sinema televisi. Atau film Bollywood besutan Shah Rukh Khan. Kedua dokter El Khasif Hospital itu bahkan sempat menghapus bulir bening yang menitik. Keduanya benar-benar larut dalam ketidakberdayaan kedua insan yang saling mencinta itu.


Sementara itu, berdiri Faaz di dekat Maleq. Faaz hanya terdiam menyaksikan adegan demi adegan memilukan itu sambil memasang mode bingung.


"Jika aku sudah pergi, aku mohon jangan lupakan aku. Paling tidak Kirimkanlah doa untuk ku..."


"Tentu aku akan berdoa. Berdoa kepada Tuhan agar kita tetap bersama..."


"Dingin, Kak. Langit juga mulai gelap..." ucap Laila.


Mendengar pengakuan Laila, Barraq kian gamang. Barraq benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian Barraq mengeratkan dekapannya pada tubuh gadis cantik itu.


Tiada terasa air mata pun mulai terjun bebas saat tubuh Laila perlahan mulai samar.


"No...No....No...!!" ucap Barraq sambil mengeratkan dekapannya.


"ingat janji kakak. Jangan lupakan aku...." ucap Laila.


Tubuh gadis cantik itu bak dikerubuti banyak bintang. Untuk kemudian pecah berderai. Tubuh Laila benar-benar menghilang dalam dekapan Barraq.


"Laila....!!!"


Barraq histeris. Tangannya menggapai kesana-kemari, mencari sosok Laila yang baru saj menghilang.


"Tidaaak....!!"

__ADS_1


__ADS_2