
Laila berdiri dekat Barraq yang masih terbaring. Matanya menilik setiap inci wajah tampan Barraq itu. Hatinya terenyuh saat mengetahui kepahitan hidup laki-laki yang terpaut dengannya itu. Suara bip bip salt Electrocardiogram (ECG) terdengar begitu merisaukan. Laila sampai berulang memperhatikan laju titik kecil pada monitor.
Kemudian Laila mendadak menelengkan kepalanya. Laila serasa mendengar suara bip bip lainnya. Begitu jelas di telinga. Laila begitu penasaran. Ia pun menilik kembali ruang perawatan VVIP itu. Bahkan hingga keluar ruanagn. Dan nihil. Laila tak menemukan apa pun.
"Aneh...aku baru saja mendengar suara bip bip dari alat Electrocardiogram (ECG). Tapi dimana...? Aku tak menemukan apa pun" ucap Laila.
Laila kembali ke sisi Barraq. Ia menatapi dua luka di tubuh Barraq. Tiada sadar tangan Laila mengusap lembut wajah tampan Barraq. kemudian perhatiannya beralih pada wajah laki-laki yang tengah ia usap lembut itu.
"Jika saja dunia kita sama, maka tentu saja dapat dengan mudah kita bersama. Tapi sayangnya dunia kita sudah berbeda. Semoga kau akan menemukan gadis yang baik, Kak..." ucap Laila.
"Akh..." keluh Laila.
Mata Laila menilik sebelah tangannya yang tampak bergetar. Laila membolak-balik tangannya. Ia penasaran mengapa hal tersebut bisa terjadi. Kemudian, wajah pasi Laila terlihat gusar saat tangannya mulai menjadi samar untuk kemudian menghilang.
Laila mulai panik. Ia melangkah ke tempat yang minim cahaya untuk menaksir hal yang menimpanya. Laila kian panik saat menyadari sebagian tubuhnya pun mengalami hal yang sama. Timbul tenggelam keberadaan Laila. Sebentar nyata, sebentar menghilang.
"Berry....!!" ucap Laila.
*WUSH....!!
SAPH*...!!
Secepat kilat Berry langsung muncul bersamaan dengan hembusan angin berhawa dingin.
"Ya, ampun Laila. Yei ngapain manggil-manggil? Eyke lagi mendong. Nieh sabun masih nempel..." ucap Berry dengan gaya gemulainya.
"Heei...kambuh lagi, Kak? Ga suka..." ucap Laila sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Berry.
"Oh, begitu ya. Ehem...Ehem" ucap Berry berdehem untuk kemudian menghilang dari pandangan Laila.
Laila manyun. Ia kurang suka dengan gaya gemulai yang kembali ditunjukkan Berry. Laila masih berdiri dalam keremangan. Ia kian khawatir akan kondisinya kini.
"Itu hal yang wajar. Kau baru saja menggunakan hampir seluruh energi mu..." ucap Berry yang sudah kembali.
Berry berdiri di hadapan Laila. Laki-laki tampan bak artis Korea itu telah kembali dengan sempurna. Hilang sudah gaya gemulai yang sebentar lalu ia tampilkan. Kini pembawaannya lebih tenang dan berkharisma bak karakter yang sering bermunculan pada film-film dari negeri ginseng.
"Tapi sebelumnya belum pernah terjadi hal seperti ini. Paling aku harus beristirahat. Apa ini berkaitan dengan waktu tersisa yang ku miliki?" ucap Laila.
"Kemungkinan itu ada. Terlebih kasus mu juga sudah terpecahkan..."
"Benar. Kalau begitu aku harus segera mempertemukan ayah dan kak Barraq. Dengan begitu keduanya dapat saling membantu. Aku pun ingin kehidupan kak Barraq akan jauh menjadi lebih baik nantinya" ucap Laila sambil menatap Barraq.
"Mengapa kau berharap demikian? Apa kau mencintainya?"
"Lebih dari perasaan yang kurasa. Karena ia telah banyak membantuku..."
"Tapi...bukankah karena kau ingin membantunya, kau kehilangan nyawa mu?"
"Jauh sebelum itu, ia telah membantu ku, Kak. Dia benar-benar penyelamat hidup ku. Dia adalah kesatria berkuda putih yang Mak Itin maksud itu..."
"Kisah apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Laila?"
__ADS_1
"Saat itu aku masih semester dua. Aku kuliah manajemen bisnis di El Khasif University...." ucap Laila memulai ceritanya.
Laila Flashback On
"Jangan...! Aku mohon, hentikan semua ini. Biarkan aku pergi" ucap Laila ditengah rundungan beberapa orang laki-laki berjaket hitam.
"Cukup...!" ucap seorang perempuan.
Perempuan itu baru saja keluar dari mobil mewah berwarna merah. Ia melenggok menghampiri kerumunan. Melihat kehadiran perempuan cantik itu, beberapa laki-laki berjaket hitam itu langsung terdiam. Mereka menjura takzim.
Laila mendongak. Ia menatap perempuan cantik di hadapannya. Jika ditilik, mungkin usianya hanya terpaut dua atau tiga tahun di atas Laila.
"Hei, gadis tukang pamer. Aku ingin kau keluar dari kampus. Sejak kedatangan mu, aku sangat terganggu"
"Ap-apa salah ku?"
"Hah...! Kau mulai populer dikalangan mahasiswa. Bukan karena prestasi mu tapi karena kecantikan mu. Dan itu sangat mengganggu ku...!"
"Tapi aku tidak bermaksud demikian..."
"Aku tahu. Karena itu aku ingin kau hengkang dari kampus. Jika tidak, maka wajah mu itu akan ku hancurkan..." ancam Luna, putri pertama salah satu Mentri di negeri ini.
"Aku tidak mungkin melakukan itu..." ucap Laila hampir menangis.
"Cih....! Kalau begitu kau siap menerima keburukan wajah mu" ucap Luna sambil memberi isyarat kepada beberapa laki-laki yang sejak tadi sudah bersiap.
Tak membutuhkan isyarat kedua kalinya, beberapa laki-laki yang ternyata adalah para bodyguard yang menjaga Luna itu merangsek mendekati Laila. Dua orang mulai mencencang tangan Laila yang terus memberontak untuk kemudian diikat tangan dan kakinya. Mulutnya pun dibungkam dengan lakban.
Wajah bengisnya sukses membuat Laila terdiam sesaat. Untuk kemudian kembali meronta. Laila berusaha melepaskan diri. Namun seperti kata pepatah bak menjaring angin, semua menjadi sia-sia.
Laila terkesiap saat sebilah pisau dikeluarkan oleh seorang diantaranya. Laila kian panik. Terlebih saat laki-laki itu mulai mendekat dan bersiap beraksi. Ketika pisau mulai terayun dan hampir ditorehkan pada wajah Laila, seorang laki-laki tiba-tiba berteriak. Suara khasnya sukses menghentikan niat tersebut. Terlambat sepersekian detik saja, maka wajah Laila akan mengalami kerusakan.
"Cukup....!!" ucap laki-laki itu.
Seorang laki-laki tampan. Bertubuh tinggi, tegap dan terlihat bugar berdiri di depan sebuah mobil sport berwarna silver. Matanya tajam bak elang mengintai mangsa.
Kecut Luna saat mengetahui siapa laki-laki itu. Wajahnya yang cantik mendadak pasi. Begitu pun dengan para bodyguard yang ada. Siapa yang tidak mengenalinya? Bocah berumur lima tahun saja pasti mengenalinya. Ya, dia adalah Oemar Barraq El Khasif. Pangeran kedua di keluarga terpandang El Khasif yang memiliki usaha yang menggurita pada seluruh segmen pasar di negeri ini.
Sementara itu melihat kehadiran Barraq, Laila berontak. Ia berisyarat berusaha meminta pertolongan.
"Kau anak seorang Menteri negeri ini, bukan?"
"Ya, Kak..." ucap Luna bernada angkuh.
Ia sedikit bangga karena dikenali oleh seseorang seperti Barraq.
"Tapi perilaku mu sungguh tak bermoral"
Deg.
.
__ADS_1
.
.
"Mengapa Tuan menghakimi saya? Tuan tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya" ucap Luna.
"Jika rekaman ini aku sebarkan ke media, maka citra keluarga mu akan buruk. Dan bisa jadi papa mu akan langsung dilengserkan dari kedudukannya saat Ini"
Luna terkejut. Matanya langsung berpusat pada ponsel yang ditimang-timang di tangan Barraq.
"Rekaman...?"
"Ya. Rekaman saat kau mengancam tadi"
GLEKK...!
Luna menelan salivanya dengan susah. Bersamaan dengan itu, terbayang sudah bagaimana situasi kini dan nanti di pelupuk mata. Pun demikian, Luna sepertinya sudah gelap mata. Dan ia memberi isyarat kepada bodyguard nya untuk merebut rekaman tersebut.
Melihat isyarat Luna, mau tak mau lima bodyguard itu langsung berhamburan menyerang Barraq yang terlihat santai saja. Tiada respon berlebihan atas penyerangan tersebut. Barraq begitu tenang meladeni setiap jurus bertubi dari kelima bodyguard tersebut.
Walau Barraq adalah pangeran kedua di keluarga El Khasif, namun ia tak pernah mau dikintili oleh para bodyguard Seperti halnya keluarga terpandang lainnya. Barraq lebih nyaman bepergian yang hanya ditemani seorang asisten pribadinya atau pun sopirnya saja.
Selalu ada kesempatan di setiap pergulatan. Dan kini tersisa dua orang yang masih bertahan, itu pun bak mati segan hidup tak mau. Barraq bersimbah peluh. Kemejanya telah kuyup. Hingga di suatu kesempatan, Barraq melancarkan serangan jitunya.
DUK....!
BUK...!
DUAK...!
Barraq menyudahi olah jurus saat itu. Barraq mengakhirinya dengan gerakan tendangan tanpa bayangan. Hal tersebut tentu saja membuat lawannya jatuh tak sadarkan diri.
Melihat situasi yang tidak menguntungkan, Luna langsung pergi dengan melajukan mobil mewahnya yang berwarna merah itu.
Barraq menggeleng perlahan. Senyum tipisnya langsung menghiasi wajahnya. Auto meningkatlah ketampanannya.
"Eem...Eem..." ucap Laila sambil terus meronta.
Laila berusaha menarik perhatian Barraq untuk segera dibebaskan. Kemudian Barraq melangkah mendekati Laila.
Deg.
Deg.
Deg.
Degup jantung Laila berdegup hebat. Iramanya serasa berloncatan tak menentu. Terlebih saat Barraq mengurai ikatan pada tangan dan kakinya.
"Mang Nurdin tolong antarkan nona ini sampai ke rumahnya..." ucap Barraq sesaat sebelum berlalu.
"Waaah...." gumam kagum Laila.
__ADS_1
Laila Flashback Off