
"Sstt...diam. Jangan membuat tingkah yang mencurigakan" ucap Alex.
Jari Alex mengisyaratkan agar Karna ataupun Bryan lebih berhati-hati.
"Hah... "Keluh lesu Bryan.
"Ya. Aku akan diam..." ucap Karna manyun.
"Sebenarnya aku menaruh kekesalan pada pekerjaan ini. Di sisi lain tangan si bos bersih, tapi disisi lain tangan kita yang kotor saat menuruti perintah si bos."
"Jika menurutku bak buah si malakama..."
"Semua ada resikonya, Karna..." ucap Alex.
Sementara itu, di sudut ruangan yang sedikit gelap duduk seorang laki-laki. Sosoknya benar-benar tak dapat dikenali karena pencahayaan yang begitu kurang. Dan laki-laki itu baru saja menutup panggilan teleponnya. Matanya menatap lekat wajah ketiga orang kepercayaannya dan juga Barraq yang duduk membelakangi secara bergantian.
"Mengapa Barraq ada di pub ini? Apa kepentingannya? Ah, sial. Keberadaannya telah menghambat aktifitas ku di sini" ucap laki-laki itu.
Tak lama laki-laki itu pun pergi meninggalkan pub. Kepergiannya benar-benar senyap, tanpa diketahui seorang pun baik ketiga orang kepercayaannya atau pun Barraq yang ia sebut sebagai mata-mata. Pun demikian, tidak sama dengan Laila dan Berry. Keduanya tahu jika Ethan baru saja meninggalkan tempat itu. Namun keduanya memilih diam. Mereka tidak memberitahukannya kepada Barraq tentang kehadiran kakak laki-lakinya itu.
"Sayang sekali malam ini tidak terbongkar siapa Bos yang sering mereka sebut dalam setiap percakapan. Padahal jika terbongkar malam ini, tentu pencarian Laila tak akan lama..." ucap Barraq
Jelas di wajahnya terlukis rasa kecewa, namun cepat-cepat ia sembunyikan rasa itu. Ia khawatir Laila akan menemukannya dan makin membuatnya semakin khawatir.
"Kemana....?" tanya Laila saat Barraq berdiri dari kursinya.
"Mengikuti mereka..." gumam Barraq.
Tangan Barraq membetulkan jaket dan topi hitamnha. Matanya menilik sesat sekitar untuk kemudian barulah ia melangkah meninggalkan pub. Langkah panjangnya dengan mudah diikuti Laila dan Berry.
Tak lama kemudian, Barraq telah melajukan kembali mobil sport berwarna silver. Kali ini tujuannya adalah mengikuti ketiga orang yang disinyalir sebagai tersangka.
Mobil melaju cepat, sedikit memberi jarak dengan ketiga tersangka.
WUSH....!
Hawa dingin menerpa tubuh Barraq beberapa saat. Hal tersebut bersamaan dengan kehadiran Laila yang langsung duduk di sebelah Barraq. Aroma wangi pun semerbak sebentar lalu. Dan hal itu tentu saja disadari Barraq sebagai pertanda.
"Em, sudah memiliki cara datang yang lebih elegan ya?" ucap Barraq.
"Hehe...ya, kak. Terasa ya, kak...?"
"Ya, hawanya dingin dan wangi" ucap Barraq sambil tersenyum walau tipis-tipis saja.
Deg.
.
.
.
Laila tertegun. Matanya menilik senyum tipis yang baru saja ia tangkap.
"Duh...ganteng juga nih cowok" batin Laila.
"Temen mu yang seram itu kemana?"
"Em, tadi ada keperluan..."
"Hantu juga ada keperluan? Haha.... ada-ada saja" ucap Barraq di akhiri dengan tawanya.
"Kak, mereka berhenti di rumah itu..." ucap Laila.
Tangannya menunjuk ke sebuah rumah berpagar tinggi berwarna hitam.
"Kau yakin...?"
"Aku yakin, Kak..."
Deg.
.
.
.
Barraq tertegun. Ia memarkir mobilnya sedikit tersembunyi. Ada gelisah yang menyelimuti hatinya.
"Ini kan rumah milik kak Ethan. Ia pernah mengajak ku sekali ke rumah ini. Jangan bilang jika 'Bos' itu adalah kak Ethan" batin Barraq.
"Aku akan melihat situasi di dalam. Kira-kira apa tengah mereka bincangkan" ucap Laila tanpa menunggu jawaban dari Barraq.
WUSH...!!
Hawa dingin kembali menyergap. Dibarengi aroma wangi bunga.
"Ah, dasar hantu. Baru mau jawab, sudah hilang saja" gerutu Barraq.
Sementara itu, Laila tengah berada di ruangan dimana ketiga orang itu tersangka. Dan kehadiran Laila sempat dirasakan oleh Karna saat hawa dingin dan aroma wangi bunga menyentuh hidungnya. Pun demikian, Karna berusaha untuk mengesampingkan segala fikiran negatifnya.
__ADS_1
"Sayang sekali, bos tidak datang. Seandainya datang, tentu tugas kita selesai dengan diberikannya flashdisk ini" ucap Alex sambil menimang-nimang sebuah benda berwarna merah muda.
"Flashdisk..." batin singkat Laila.
"Itu flashdisk yang diambil dari gadis bernama Laila itu kah?" tanya Bryan.
"Yuph...Dan aku jadi penasaran apa isi dari flashdisk ini" ucap Alex.
"Ow, jadi itu flashdisk milik ku. Mengapa flashdisk itu menjadi begitu penting? Apa sebenarnya isi flashdisk itu? Gara-gara flashdisk itu nyawaku melayang..." batin Laila.
Kening Alex merengut. Matanya menilik lekat flashdisk. Rupanya ada tanya besar tengah mendiami hatinya. Kemudian tiba-tiba Alex berdiri dari duduknya. Matanya menilik setiap sudut ruangan. Lalu manik matanya terpaku pada sebuah komputer di sudut ruangan. Alex pun langsung melangkah cepat menuju komputer tersebut berada.
"Lex, mau apa?" ucap Bryan penasaran.
"Aku ingin tahu apa isi dari flashdisk ini" ucap Alex sambil menekan tombol on di sisi kanan komputer.
"Gila kau, Lex. Kalau bos tahu bagaimana?"
"Ah, Tidak mungkin. Dan lagi aku hanya ingin melihatnya, bukan menghapusnya..."
"Tapi ini sepertinya bersifat rahasia, Lex. Bos saja ingin mengambilnya langsung, tanpa perantara. Jika bukan hal penting, mana mungkin bos berlaku demikian..."
Mendengar ucapan Bryan, Alex gamang. Tampak ia berfikir sejenak. Ditatapnya Bryan dan Karna bergantian. Jelas ada ragu. Melihat keraguan itu, Laila tentu tak tinggal diam. Karena ia berfikir jika flashdisk dan situasi saat ini akan membuka tabir tentang penyebab kematiannya.
"Wuusshh..."
Laila menghembuskan nafasnya di tengkuk Alex. Hawa dinginnya sempat membuat Alex bergidik dan termangu sesaat.
"Cepatlah kau buka flashdisk itu, Alex..."Tunggu apalagi. Cepatlah buka" bisik Laila kemudian.
"Lex, jangan...." cegah Karna.
"Ah, cukup. Diamlah...!" ucap Alax.
Bak tersihir, Alex pun langsung memasukkan flashdisk yang dimaksud. Dan hoopla....Semua mata tertuju pada monitor komputer yang sudah menampilkan isi flashdisk.
Alangkah terkejutnya, ketiga orang tersebut ketika menilik isi ulang flashdisk. Begitu pun dengan Laila. Ia mulai gamang. Fikirannya tak mau diam. Laila terus mencari motif atas penghilangan nyawanya.
"Apa ini? Hanya ini? Apa karena deretan lagu nostalgia ini yang menjadi penyebab kematian ku? Astaga, Tuhaaan...Apa sebenarnya yang terjadi?" batin Laila kesal.
"Apa ini? Apa bos tidak salah?" ucap Alex dengan wajah terkejut.
"Apa istimewanya lagu-lagu ini..." ucap Bryan.
Tangannya kini mulai turut aktif membuka satu persatu dari dua file berisi deretan lagu-lagu nostalgia itu.
"Mungkin tersembunyi di dalam lagu-lagu nya. Atau ada video yang disembunyikan di setiap file itu" ucap Karna.
"Kalau begita kita buka satu persatu kedua file ini agar kita tidak mati penasaran..." ucap Alex.
"Jika bukan, maka nyawa bisa melayang ini. Ah, sial...!" batin Alex.
"Tapi aku yakin, Laila memasukkan flashdisk ini ke dalam tasnya sesaat sebelum ia lari menghindari sergapan kami" batin Alex lagi.
"Sial....!" ucap Karna tiba-tiba.
"Rasanya tidak mungkin jika hanya deretan lagu nostalgia ini saja yang diinginkan Bos. Jangan-jangan kita telah di kadali gadis itu...!" ucap Karna lagi dengan garam.
"Bodohnya kita, kita tidak mengecek ulang isi flashdisk ini" ucap Bryan.
"Jika benar demikian, maka matilah kita..!" ucap Alex.
Kecemasannya tak dapat ia sembunyikan lagi.
"Sial... benar-benar sial"
"Wait. Jika memang benar bukan itu, maka mari kita telusuri ulang saat kejadian"
"Okey...! Kita telusuri jejak gadis yang sudah mati itu" ucap Bryan.
"Pertama. Laila...meng-copy semua data ke flashdisk. Lalu memasukkan flashdisk berwarna merah muda itu kedalam tas. Karena perbuatannya diketahui, Laila berlari keluar ruangan. Dan...."
"Akh...Akh...!" keluar Laila.
Tangannya memegangi kepalanya saat kilasan peristiwa hari ini mulai bermunculan satu persatu di ingatannya.
Laila flashback On
"Aku harus segera pergi. Bukti penyelewengan ini jangan sampai hilang. Ada banyak orang yang akan di rugikan atas penyelewengan dana dan sabotase proyek. Mengapa Bos begitu tega. Padahal itu adalah proyek adiknya sendiri. Aku harus menghentikannya" batin Laila.
Langkah Laila kian cepat ketika ia menyadari bahwa perbuatannya telah diketahui. Laila panik, matanya menilik tiga orang laki-laki yang terus mengikuti langkahnya. Dalam langkah panjangnya, Laila meraih ponsel dari saku celananya. Dan menghubungi sebuah kontak yang tertera di sana.
"Yah, ternyata benar kecurigaan Laila selama ini. Bos perusahaan tempat Laila bekerja telah berlaku tidak adil. Dan Laila telah mengantongi semua bukti-buktinya" ucap Laila cepat setengah berbisik.
"Nak, apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya. Ayah khawatir atas keselamatan mu..." ucap laki-laki di ujung telepon yang tak lain adalah Edward. Salah seorang petinggi di badan intelijen negara. Ayah dari Laila.
"Tenang, ayah. Laila bisa menjaga diri" ucap Laila berusaha menyembunyikan getar di suaranya karena cemas.
"Ayah, dimana?" ucap Laila lagi.
"Kantor..." ucap Edward singkat.
__ADS_1
"Kalau begitu Laila menuju kantor ayah..."
"Baiklah, nak. Berhati-hatilah"
"Ya, ayah..." ucap Laila diakhir percakapan.
Mata Laila kembali menilik sekitar untuk kemudian kembali melangkah cepat meninggalkan gedung menjulang itu dengan menaiki scooter-nya.
Di tengah perjalanannya, Laila dikejutkan dengan suara laki-laki yang berada dalam mobil berwarna hitam. Hanya kepalanya saja yang sedikit menyembul di jendela.
"Berhenti...!!" ucap laki-laki itu.
"Apa mau kalian...!" ucap Laila ketus.
"Serahkan flashdisk itu! Cepat...!" ucap Alex.
"Tidak akan pernah...!!" ucap Laila sambil memacu scooter-nya.
Laila memasuki sebuah jalan sempit. Ia memarkir scooter-nya begitu saja untuk kemudian memilih berjalan kaki. Tubuhnya yang tinggi sampai memudahkannya untuk berlari dan bersembunyi.
"Aku harus berhasil lolos dari pengejaran mereka" gumam Laila.
Langakhnya begitu panjang. Karena fikirannya tengah fokus pada cara meloloskan diri dari pengejaran ketiga orang tadi, maka Laila kurang memperhatikan sekitar. Dan...
BRUKK....!!
Laila menabrak seseorang. Tubuh Laila tersungkur. Tubuhnya benar-benar tak sanggup menjadi lawan kekarnya bertubuh laki-laki yang tengah terhuyung itu.
"Akh...!" teriak Laila.
Laila meringis kesakitan. Ada darah yang menitik dari luka di lutut dan sikunya.
"Kalau jalan hati-hati. Jangan sampai mengganggu keasyikan orang lain" ucap laki-laki itu.
Dari gaya dan nada bicaranya, jelas jika ia tengah teler berat. Namun bukan itu yang membuat Laila terkejut. Rasa terkejutnya mencuat lebih pada karena ia mengenal siapa laki-laki yang tengah berdiri tak sempurna di hadapannya itu.
"Tuan, Barraq....!!" ucap Laila.
Seketika itu, ada rasa syukur menyelinap di relung hatinya. Dan saat itu pula sebuah rencana terbersit.
"Apa aku berikan saja pada tuan Barraq flashdisk ini? Tapi bagaimana jika ia membuangnya? Bukankah ia tengah teler seperti itu. Hadeuh...Apa yang harus aku lakukan" batin Laila.
"Kemana kau gadis sialan...?!!" teriak Bryan.
Mendengar itu, Laila kian gusar. Manik matanya aktif bergerak, menilik sekitar. Dan ditengah kegusarannya, Laila akhirnya mengambil keputusan. Laila segera berdiri dan menatap laki-laki yang terduduk lesu itu. Laki-laki yang dikenal sebagai Barraq.
"Jaket...Ya, aku akan memasukkannya ke dalam jaketnya itu" ucap Laila.
Bersamaan dengan itu, Laila pun langsung bergerak dan mendekati Barraq. Ia mengambil flashdisk berwarna biru dari saku celananya. Laila langsung memasukkan flashdisk itu kedalam kantung jaket hitam milik Barraq.
Setelah itu, Laila kembali berlari menjauhi Barraq yang masih dalam keadaan teler itu.
"Ah, kasihan tuan Barraq" gumam Laila di sela langkah panjangnya.
Laila Flashback Off
"Ah, sial....!" ucap Alex geram.
Kata keras Alex telah mengembalikan kesadaran Laila. Arwah cantik yang bergentayangan untuk mencari keadilan itu tersenyum. Senyum yang pasti akan membuat bergidik siapa saja yang melihatnya. Senyum yang tak kan pernah mampu mengurangi pasi di wajahnya.
"Tuan Barraq....!" ucap Laila bak teringat sesuatu.
Seketika itu juga Laila menghilang. Ia pergi meninggalkan ketiga laki-laki yang tengah dilanda kecemasan itu.
"Kak...??" ucap Laila sesaat setelah muncul dengan tiba-tiba.
Dan kehadiran mendadak Laila itu, lagi-lagi membuat Barraq terkejut bukan kepalang.
"Astaga, Laila...!!" ucap Barraq.
"Maaf...Maaf. Em, sekarang Laila tahu mengapa Laila terpaut dengan kakak"
"Maksudnya...?"
"Yak. Selama ini selalu timbul pertanyaan. Mengapa hanya kakak yang bisa melihat Laila? Mengapa hanya kakak yang bisa menyentuh Laila?" ucap Laila.
Barraq menatap wajah pasi Laila. Wajah yang bagi Barraq tiada menakutkan lagi. Wajah yang telah memberi kesan tersendiri di hatinya.
"Sekarang terjawab, kak" ucap Laila sumringah.
Pun demikian, ada kerikuhan di ujung tatapan Laila.
Deg.
.
.
.
"Mengapa jantung ku seperti ini saat ditatap olehnya? Ya, Tuhan..." batin Laila.
__ADS_1
"Mengapa kau selalu terpaut dengan ku?" tanya Barraq dengan mata tak lepas dari wajah Laila.
"Itu Karena...." ucap Laila terhenti saat Barraq kian lekat menatapnya.