Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
hari ke dua diapartmen


__ADS_3

seharian lidya menghabiskan waktu di kamar. Tiduran, nonton tv, main hp, makan, begitu begitu saja. sesekali memberikan kabar pada tuan mirza.


Lidya menatap keluar dari balik jendela, melihat pemandangan dari lantai dua apartmen. Halaman yang sangat luas dengan tataan rapih bunga dan pohon menghiasi taman itu. Lidya larut dalam lamunannya, mengingat kepergian orangtuanya. Bahkan teman temannya tidak ada yang peduli. menyedihkan..


tuktuktuk. pintu diketuk


Lidya terperanjat bangun dari lamunannya


"masuk"


"maaf nona, pegawai salon sudah datang. nona akan mendapatkan perawatan sampai hari pernikahan" pelayan menjelaskan


haah ko tidak diberitahukan dari awal?


lidya dalam hati


"oh iya mba,, bawa ke sini ya"


"baik nona"


Lidya melakukan perawatan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki


 


Sementara mirza kembali sibuk dikantornya, banyak yang harus dikerjakan sebelum hari pernikahannya


"tuan sebaiknya tuan istirahat saja, siapkan diri untuk hari pernikahan nanti, biar pekerjaan saya yang selesaikan" saran sam


"tidak sam, kamu sudah bekerja keras sejauh ini" jawab mirza


"baik tuan"


 


Setelah selesai perawatan, pegawai salon sudah pulang. Lidya merasa nyaman dan menikmati perawatannya.


Kemudian memeriksa hp nya


tidak ada pesan masuk.


Lidya memutuskan untuk tidur siang saja.


Sore hari, lidya terbangun dari tidurnya aku tertidur lama sekali, huaamm.. sudah sore ternyata. lidya pergi ke kamar mandi membersihkan diri


selesai mandi, tidak sengaja lidya melihat kalender di meja riasnya


apaa,? besok adalah hari ke satu tahun ayah meninggal.. lidya menangis tersedu sedu. aku ingin ke makam ayah dan ibu.


Lidya menelpon mirza untuk meminta ijin berziarah ke makam orang tuanya


"hallo..sayang" lidya menelpon mirza. menahan tangis


"hallo..ada apa sayang? kamu kangen ya??" mirza hendak berjalan ke suatu ruangan untuk meeting

__ADS_1


"emm iyya..hehe..aku boleh minta ijin?


aku ingin berziarah ke makam ayah dan ibu.."hikk hikk


"kapan sayang? biar aku antar"


"besok hari ke satu tahun ayah meninggal.. gapapa aku sendiri saja, kamu mungkin lagi sibuk" hikk hikk


"lhoo gapapa sayang.. besok siang kita berangkat yaa.. kamu jangan nangis ya udah ya nangisnya"


"iyaa.. makasih sayang"


"iyaa aku tutup dulu telponnya ya.. muahh"


"iya" senyum lidya


tutt tutt .telpon ditutup


dia lagi sibuk. lidya


hingga malam hari, lidya tertidur nyenyak terbuai dalam mimpi indahnya.


 


Keesokan harinya


Hari ke tiga di apartmen.


Seperti biasa lidya melakukan perawatan. Kemudian lidya membersihkan diri berdandan cantik karena akan pergi ke makam orangtuanya.Sampai datang waktu makan siang


Lidya berjalan menuju ruang makan.


Langkahnya terhenti ketika mendengan dua orang pelayannya sedang mengumpat


"eh may..aku dengar non lidya itu seorang ob tadinya di kantor tuan mirza. ko bisa ya si tuan mau sama dia? apa karena tampangnya?" pelayan 1


"hahaa.. bisa jadi non lidya memanfaatkan wajahnya yang cantik untuk mengambil hati si tuan dan ingin hartanya saja" pelayan 2 mengumpat


"iya ya" pelayan 1 dengan bibir meledek


"JAGA MULUT KALIAN YA" lidya datang dari belakang dengan suara kesal


"ma maaf nyonya.." pelayan 1 dan 2 gelagapan. mereka tidak sadar umpatannya di dengar non lidya


Lidya berlari sambil menangis. duduk diatas sofa ruang tengah.


"nona a ampun nona. maafkan kami" pelayan duduk dibawah merapatkan tangannya minta ampun


sementara lidya menangis tersedu sedu. tidak percaya dengan perlakuan pelayannya


"asal kalian tau!!! saya gak pernah mengharap kepada siapapun.. saya bukan pengemis.. saya punya harga diri. saya juga tau diri" lidya dengan nada marah..kembali menangis


Dibalik pintu tuan mirza ternyata mendengarkan

__ADS_1


krekk..pintu dibuka


sam dan tuan mirza masuk


" ada apa ini?? lidya kamu kenapa menagis?" mirza melihat lidya menangis langsung memeluknya


pelayan tersungkungkur menunduk dibawah


"a ampun tuan..maafkan kami" pelayan memohon


Sementara lidya menangis tersedu sedu tidak bicara.


sam mengepalkan tangannya siap menghajar. dengan raut wajah marah


"apa yang kalian lakukan pada lidya? jawab !!" mirza dengan nada sangat marah


"' ka kamii.." pelayan


"CEPAT JELASKAN!!!"


satu pelayan menjelaskan apa yang mereka katakan.


*Plakk plakk plakk plakk*.


tuan mirza melayangkan tangannya ke pipi para pelayan pengumpat itu.


pelayan tersungkur tidak berani bergerak atau bicara


"Berani beraninya kalian!!! " mirza sangat marah " sam bereskan mereka!!. aku tidak mau mengotori tanganku.." perintah mirza


"baik tuan" sam membawa pelayan tersebut dan menghukum mereka


" ampuun tuaaan"


*Bukk bukk bukk*.


entah apa yang dilakukan sam yang jelas dia sangat geram.


sementara mirza masih memeluk lidya yang sedang menagis. Sambil menenangkannya


"sudah sayang jangan menangis.. mereka memang tidak tahu diri.. biar sam urus mereka" mirza membelai lidya.


"aku tidak habis pikir pada mereka" lidya mulai tenang.


"sudah kamu jangan nangis. aku sayang sama kamu tulus. jangan pikirkan ucapan yang berengsek itu." mirza meyakinkan


"sekarang kita makan ya. setelah itu kita berangkat ke makam ayahmu" mirza membeli pipi lidya mengusap air matanya


"iya" lidya tersenyum


makan siang


**bersambung**

__ADS_1


 


__ADS_2