Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
maukah kamu terima lamaranku


__ADS_3

mobil sampai di depan salon


sam turun langsung menjemput nona lidya


"nona apakah sudah siap"


" oh iya..sudah tuan sam." lidya sedang menyantap makanannya segera menyudahinya


lidya terlihat cantik dan anggun


"mari nona.. tuan muda sudah menunggu di mobil"


degg.langkah lidya terhenti jantungnya langsung dagdigdug tidak beraturan.


tuan mirza??? sebenarnya mau apa ini


"mari nona"


"ii iya tuan"


sam dan lidya berjalan menuju mobil


sementara tuan mirza melirik lidya dari dalam mobil. dia terpesona dengan penampilan gadis itu.


"silahkan masuk nona" sam mebukakan pintu mobil


lidya ragu ragu. terlihan tuan mirza senyum hangat dari dalam


dagdigdug jantungku. lidya


wajahnya memerah tangannya gemetar


"silahkan masuk lidya" tuan mirza


lidya masuk duduk disamping tuan mirza. senyum manis menutupi ketegangannya. menggigit bibir atasnya karena bergetar


sam melaju mobilnya


sementara lidya menundukan pandangan tidak berani menatap mirza


"kenapa kamu menunduk lidya?.. tenang saja saya tidak akan ngapa ngapain kamu ko" mirza tersenyum


lidya menarik nafas kemudian menghembuskan sambil tersenyum menatap mirza.


"iya tuan"


gilla tuan mirza ganteng banggett


beberapa menit kemudia,, lidya mulai tenang dan memberanikan bertanya


"saya mau dibawa kemana tuan?"


"tidak tahu.. kita ikuti saja sam"


sampailah mereka disebuah restoran megah. namun disana tampak sepi


yaa karena sudah dipesan khusus untuk tuan mirza dan nona lidya.


hanya ada beberapa pelayan yang sudah siap disana. dekorasi dengan nuansa romantis.


sam menghentikan mobinya, membukakan pintu tuannya.


kemudian tuan mirza turun dan membukakan pintu dan mengulurkan tangan kepada lidya.


lidya ragu ragu


"mari turun lidya"


"ba baik tuan" ahirnya dia menerima tangan tuam mirza


"kamu jangan tegang begitu..rileks aja."


"iya tuan"

__ADS_1


hupp sebenarnya ada apa ini. lidya menggigit bibir atasnya


mirza tersenyum


sementara sam di depan mengarahkan tempat duduk


"silahkan tuan,nona" kemudian menyelipkan cincin di saku tuanya.


terimakasih sam. mirza dalam hati


kemudian sam pergi meninggalkan mereka berdua


lidya menunduk


hah apa ini maksudnya?


" lidya kita makan dulu ya,, nanti ada yang mau saya bicarakan denganmu" mirza


"jadii tuan mengajak saya makan malam maksudnya?"


"iyya lidya.. lebih dari itu" mirza sambil melihat menu


lidya tersenyum


kemudian mereka menyantap makanan yang telah di hidangkang..


bagaimana isi hati mirza. wah dia senang sekali, sambil menyiapkan kata kata.


makan pun selesaii.. para pelayan membereskan piring hidangannya.


tinggalah mereka berdua.


mirza mengepalkan tangannya yg terasa dingin karena canggum.


"lidya?" membuka pembicaraan


"iya tuan?"


"saya suka tuan..terima kasih"


" kamu sangat cantik lidya"


"te terima kasih pujiannya tuan.."


"lidya.. apa kamu ada hubungan dengan angga atau laki laki lain??"


"tidak ada tuan.. saya belum pernah pacaran, dan ka angga sudah punya pacar.. saya menganggap k angga sebagai kk saja"


" belum pernah pacaran?"


"belum tuan.." lidya menggeleng geleng kepala "ayah tidak mengijinkan."


"lidya apakah benar kamu hanya tinggal sendiri?"mirza menatap haru


"iya tuan,, ayah dan ibu saya sudah meninggal" degg lidya menahan air mata. memejamkan mata


mengingat kejadian yang telah lalu


"lidya jangan menangis" mirza ingin sekali memeluknya.


menggeser tempat duduk ke samping lidya. mirza membelai lembut kepala lidya


sam menoreh dari kejauhan. semoga berhasil tuan.


namun ahirnya lidya tidak dapat membendung air matanya


"lidya bicaralah apa yang ingin kamu ungkapkan. aku siap memdengarnya" mirza


kemudian lidya mencurahkan isi hatinya kepada mirza. ia mengatakan semua yang membelenggu di dalam hatinya.menunduk, dengan sesekali sesegukan


mirza mendengarkan. ia terharu menahan air mata


setelah beberapa lama..

__ADS_1


"maaf tuan..saya"


"tidak apa lidya. aku senang mendengarkanmu. bagaimana perasaanmu sekarang?."


"hmm merasa lebih baik tuan. trima kasih tuan mau mendengarkan" lidya menarik nafas dan mengusap air matanya..tersenyum


"lidya.. jika ada yang ingin melamarmu. apa kamu mau menerimanya?."


"tergantung orangnya tuan,, kalau dia baik dan punya niat baik, kenapa saya harus nolak.." lidya sambil menatap langit dengan tersenyum


"kalau saya, apakah saya baik dimatamu.?"


" tuan sangat baik..lihatlah semua yang tuan berikan untuk saya, gaun, riasan dan makan malam." menatap mirza


mirza merasa senang..tapii


" kalau begitu.. apa kamu mau menerima lamaranku?" mirza menyerahkan cincin


"a apa ??.apa tuan sedang becanda?"


"kenapa kamu berfikir begitu? aku serius lidya.. aku mau kamu jadi istriku."


lidya menatap penuh tanya, kemudian menunduk. tanpa berkata


"lidya?" mirza meraih tangan lidya


"apa kamu mau menjadi istriku?" dengan suara lembut


lidya sebenarnya merasakan kenyamanan berada disisi mirza


"eemm apa tuan yakin ingin saya menjadi istri tuan?"


"iya aku mau kamu jadi istriku"


"tapii.."


"lidya tatap aku. apa aku sedang berbohong?"


"ba baik tuan..akan saya coba"


apa?,aku menerimanya? lidya dalam hati


"benarkah lidya? aku pasangkan cincinnya ya"


lidya tersenyum


ohh tuhan benarkah ini? aku dilamar


ayah ibu andai kalian masih ada. lidya


sementara itu mirza memasangkan cincin dijari manis lidya


ingin sekali aku memelukmu lidya.


" sekarang kamu miliku. aku akan membahagiakanmu" mirza menyentuh pipi lidya


gadis itu tersipu malu


"terima kasih tuan"


"mulai sekarang jangan panggil aku tuan" mirza tersenyum


aku harus panggil apa??


"saaamm" mirza berteriak berlari menghampiri sam


Bruggg memeluk sam "aku diterima.. sam"


"saya ikut bahagia tuan muda" sam pun memeluk tuan mirza


mirza kembali duduk disamping lidya


bersambung

__ADS_1


__ADS_2