Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
ziarah


__ADS_3

Selesai makan siang, masih dimeja makan


Lidya menjadi tidak banyak bicara setelah kejadian itu, mirza yang melihatnya langsung menghiburnya


"kamu kenapa kok diam aja?"


"emm gapapa.." lidya menunduk


"jangan bohong,,ayo bicara sama aku, apa karena pelayan kurang ajar itu? kamu mau aku apakan mereka biar kamu puas??"


"ja jangan..kasian mereka, aku sudah tidak apa apa ko." lidya meraih tangan mirza meyakinkan


"apa?? kamu masih merasa kasihan setelah apa yg mereka perbuat padamu.." mirza menatap tajam lidya


"ya.. ya mereka kan sudah minta maaf"


"tidak segampang itu,, biar sam memasukan mereka ke kandang singa sekalian" mirza dengan nada kesal


"haah kejam banget siih,, udah ah knapa jadi bahas mereka si"


lidya menyenderkan tubuhnya ke kursi


"yaudah..katanya sudah gapapa.. cemberut gitu kamu tambah imut tau" mirza menggoda mencubit pipi lidya.


lidya tersenyum


"kita berangkat yu.. aku udah kangen sama ayah dan ibu.."


"iya kita tunggu sam dulu"


mereka menunggu sam diruang tengah sambil nonton tv


"tuan, maaf menunggu" sam muncul dari belakang


"dari mana sam"


"menertibkan para pelayan tuan"


"baguslah..kita berangkat sekarang"


mirza dan lidya bangun dari duduknya


"baik tuan"


diperjalanan..


lidya terlihat bahagia dari raut wajahnya.

__ADS_1


"kamu senang sayang?" mirza membelai rambut lidya


"aku udah gak sabar ingin bertemu ayah dan ibu..hehe"


lidya berusaha tidak sedih


mereka saling pandang..


sementara sam fokus mengemudi


"oh ya sekertaris sam. apa yang kamu lakukan pada pelayan tadi? kamu tidak memasukan mereka ke kandang singa kan?" tanya lidya penasaran pada sam


"hahahaa" mirza tertawa.


"aku serius sayang" menatap mirza yang masih tertawa


"tidak nyonya..saya pulangkan mereka. dan memastikan mereka tidak bisa bekerja di ibu kota" tukas sam menjelaskan


"apa??..sayang apa itu tidak berlebihan"


menatap mirza


"berlebihan? itu hanya hukuman kecil sayang.. dan sudah peraturannya seperti itu" tersenyum puas


"emm.." lidya merasa tidak enak


"tentu saja"


"haaah" lidya kaget


" aku akan menghukumu dikamar sampai puas"


"a apaa?" menghukum dikamar sampai puas?. lidya tidak faham


"iya" mirza senyum menyeringai


sementara sam senyum tipis mendengarkan mereka berdua.


saking asiknya mereka mengobrol, tidak terasa mereka sudah sampai disebuah tempat pemakaman umum


mereka turun dari mobil, menatap sekeliling. tampak ada beberapa orang lain juga berziarah di pemakaman itu


Lidya menarik nafas,memantapkan hati agar tetap kuat.


"sayang ko kamu tau orang tuaku dimakamkan disini?" tanya lidya penasaran


"aku gak tau. sam yang bawa kita kesini" mirza menaikan halisnya pada sam.

__ADS_1


"sekertaris sam anda tau dari mana orangtuaku dimakamkan disini?


sam hanya tersenyum


diakan jenius. Dia bisa tau bahkan jauh sebelum tuannya merencanakan


"sudah ayo..biarkan sam memang begitu" mirza dengan sedikit berbisik ditelinga lidya..


mereka berjalan menyusuri pemakaman, sampai ahirnya nampaklah makam orangtua lidya.


lidya keheranan makam tersebut sudah bersih bahkan ada tempat duduk disisinya. padahal baru kali ini dia berziarah lagi setelah sekian lama.


"sa sayang..siapa ya yang membersihkan tempat ini" lidya keheranan


"ini kerjaan sam sayang"


"apa? sekertaris sam membersihkan tempat ini?"


lidya melirik ke arah sam


"ya maksudnya sam menyuruh orang untuk membersihkan tempat ini, ya kan sam?"


" iya tuan"


sam menunduk hormat


"terimakasih sekertaris sam"


"sama sama nona"


setelah itu, lidya langsung tersimpuh mengingat kenangan bersama orang tuanya. mulailah ia meneteskan air mata, suasana menjadi haru.


"ayah ibu.. dya kangen sekali pada kalian. andai kalian masih hidup..hikk hikk.. ayah ibu lihatlah lidya sudah besar.. lidya nggak pacaran, lidya akan menikah. lidya sangat bersyukur.


terimakasih ayah ibu sudah mengajarkan lidya tegar, mandiri.."


lidya mencurahkan semua isi hatinya diatas makam ayah dan ibunya.


mirza terharu, tidak tega melihat lidya menangis..


sementara sam, sudah menyiapkan payung karena cuaca sangat terik kala itu.


setelah beberapa lama, mereka berdoa kemudian berpamitan


"ayah ibu.. dya pamit pulang..semoga kalian tenang dialam sana" lidya bangun dari duduknya


aku tidak akan membiarkanmu menangis setelah ini lidya. sam dalam hati

__ADS_1


kemudian mereka pergi dari pemakaman


__ADS_2