Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
rencana mengunjungi kampung ayu


__ADS_3

kemudian sam datang dengan ayu


"duduk sam, ayu" ucap mirza


aduh apa nih kaya mau duduk di pelaminan degdegan gak jelas, walau sebenarnya belum pernah ngerasain duduk dipelaminan,,ucap sam dalam hati


sementara ayu tampak biasa saja seolah dia tau apa yang akan terjadi makanya dia persiapkan diri sebelum menemui tuan mirza


kemudian ayu duduk di sebelah lidya


dan sam di kursi berhadapan dengan mereka


"sam ada yang mau kamu katakan?" tanya mirza


"iya tuan"


mirza mempersilahkan


mulailah sam bicara serius dengan ayu tanpa menghiraukan mirza dan lidya


"ayu apakah kamu siap menikah dengan saya?


"apa alasan tuan ingin menikahi saya?"


"saya ingin kamu menikah dengan saya"


"itu bukan jawaban yang saya harapkan" ucap ayu


sam mulai gelagapan


"saya ingin kamu menjadi ma'mum saya dan saya jadi imam kamu" ucap sam


ayu terdiam mengisyaratkan iya/oke


"apa mas kawin yang akan tuan berikan?"


"seluruh harta saya. kamu mau?"


"saya tidak mau itu, saya ingin apa yang ada di hatimu"


"maksudmu ayu?"


"cintai saya seujung kuku tuan. walaupun tuan memotongnya setiap hari tapi tetap tumbuh" ucap ayu "saya tidak butuh harta tuan, karena harta yang berharga adalah ketulusan hati" sambungnnya


ayu bisa bucin ternyata


"baiklah ayu," sam mulai tersenyum "bagaimana dengan saya? apa ayu mau mencintai saya"


"saya akan mencintai tuan ketika sudah sah"


"apa ayu siap menerima kekurangan saya?"


"tidak ada manusia sempurna tuan, begitupun saya. saya juga banyak kekurangan. suami istri harus saling melengkapi"


"jadi ayu bagaimana jika kita menikah dalam waktu dekat?" tanya sam


"saya.." ayu ragu "baik" sambungnya


"baiklah"


sam lega mendengarnya


"ada hal yang saya inginkan"


ucap ayu


"katakan ayu."

__ADS_1


"saya ingin terus bekerja pada nona lidya"


"tentu ayu, saya tidak akan melarangmu"


ayu tesenyum dibalik cadarnya


"bagaimana dengan keluargamu?" tanya sam


""tuan sudah tau. saya hanya ada kakak dikampung"


"iya ayu saya sudah tau" ucap sam


selesai


"sudah sam?" tanya mirza dengan senyum lebar


"sudah tuan"


"aku terharu sayang" ucap lidya dan tersenyum manis


"bagaimana perasaanmu sam? tanya mirza


"lega tuan"


"jadi kau tidak ragu pada ayu?"


"saya tidak ragu tuan"


"bagus" ucap mirza mengacungkan jempol "jadi kapan kau nikah?"


"saya ingin membereskan urusan kantor dulu tuan"


"kalau begitu satu minggu lagi kau menikah" ucap mirza


"apa?" sam terperanjat


"untuk persiapannya kau urus sendiri" sambung mirza bercanda


"sayang kok kejam banget si" ucap lidya


"hehee. becanda sayang"


"udah tenang sam nanti kau tau beres aja" ucap mirza


"baik tuan" sam masih belum percaya


apa bisa si tuan mempersiapkan semuanya sedangkan selama ini apa apa saya yang siapkan. ah sudahlah ditolak juga gak mungkin. gumam sam dalm hati


"maaf tuan, apa saya boleh izin untuk menemui kakak saya dulu di kampung?". ucap ayu


"biar saya antar ayu" ucap sam


"biar saya sendiri saja tuan, tidak mungkin kita satu mobil hanya berdua"


ucap ayu


sam berfikir ayu benar, dia sangat menjaga kehormatannya, tapi aku tidak mungkin biarkan dia pergi sendiri


"lalu bagaimana kamu mengenalkan saya pada kakakmu dan saudaramu?" tanya sam


ayu jadi bingung dan berfikir


tuan sam benar bagaimana jika nanti kakak menanyakan "siapa calon suamimu, kenapa tidak membawanya kemari". ucap ayu dalam hati


"sayang kita bisa mengantar mereka kan?" ucap lidya merayu mirza dan tersenyum manis


"tidak mungkin sayang, kamu lihat sedang hamil muda begitu, aku takut kenapa kenapa lagi di jalan" ucap mirza perhatian

__ADS_1


"ayolah sayang, aku mau antar ayu,, aku pasti baik baik saja di jalan, aku kuat kok" ucap lidya memohon


"tidak boleh sayang" mirz memeluk lidya


lidya mendongakkan kepala dan menatap mirza. matanya mulai berkaca kaca


"heii kenapa nangis begitu, aku sayang sama kamu, aku takut.." belum mirza menyelesaikan kata katanya dipotong lidya


"kamu jahat tau gak" ucap lidya mulai terisak


"tapi nona, ucapan tuan itu benar, nona harus banyak istirahat" ucap ayu


"huu huu.. aku mau ikut sayang" ucap lidya memohon dan menangis


"hei jangan nangis dong" mirza membelai lidya


"perasaan ibu hamil memang sensitif tuan" ucap ayu "maaf nona. karena saya nona jadi menangis" sambungnya


"yasudah. kamu nanti diperiksa dulu oleh dokter ya biar tau gimana kondisinya" ucap mirza pada lidya


ayu menjadi tidak enak begitupun sam


"jadi kita bisa antar mbak ayu?" ucap lidya mulai tersenyum


"iya. aku gak bisa lihat kamu menangis" ucap mirza dan menciumi mata lidya


"sam kamu lihat di internet gimana kondisi kampung ayu" sambungnya memerintahkan sam


"baik tuan"


sam meraih laptonya dan mulai mencari informasi tentang kondisi kampung ayu dan berhasil menemukannya


"ternyata kampung ayu cukup terkenal dengan destinasi wisata dan pemandangan alamnya juga bagus tuan" ucap sam menjelaskan


"itu benar tuan" ucap ayu


"sini lihat" pinta mirza


kemudian sam memutar laptopnya


mirza menganggukan kepala karena memang sangat bagus kampung ayu


lidya juga terpana melihat pemandangan dan destinasi wisatanya


"aku bisa ngiler kalo nggak berkunjung ke kampung mbak ayu" ucap lidya dengan mata yang tidak berkedip


"oke, kalau begitu kita ke dokter dulu," ucap mirza " ayo sam!" sambungnya


"sayang aku mau dirumah aja, biar dokter yang kesini" pinta ayu


"begitu? baiklah" mirza tersenyum


"sam panggil dokter kemari"


"aku mau istirahat dulu"


"ayo sanyang" mirza meraih tangan istrinya dan pergi ke kamar


"baik tuan"


"saya kebelakang dulu tuan" ucap ayu beranjak dari duduk


"iya ayu"


tidak terasa waktu sudah sore dan mereka mengobrol lama sekali


bersambung

__ADS_1


__ADS_2