
saat lidya menuruni panggung kapalanya terasa berat hingga dia menggandeng suaminya dengan erat
sampai ahirnya ketika berjalan menuju ruang tunggu tubuh lidya terjatuh, tapi dengan sigap mirza mengkapnya..
"sayang.. sayang bangun sayang, kamu kenapa?" ucap mirza panik kemudian mirza menggendongnya dibawa ke ruang tunggu tadi
lidya tidak sadarkan diri
kemudian sam langsung menghubungi dokter probadi tuan mirza untuk segera datang
semua orang disana panik dan langsung melihat situasi
"ada apa?"
"kenapa?..blablabla" semua orang bertanya tanya
kemudian diruang itu hanya ada beberapa orang husus saja untuk memastikan keadaan
lidya ditidurkan ditempat tidur yang memang sudah ada disana
"sayang bangun," mirza mulai memerah matanya karena menahan tangis
"tuan tenang dulu, kalau saya lihat sepertinya nona sedang hamil" ucap ayu dengan pelan agar tidak terdengar orang lain
"bagaimana kamu tau? terus kenapa dia pingsan hah?" tanya mirza yang terus menggenggam tangan istrinya
"itu sudah wajar dialami setiap wanita hamil tuan"ucap ayu "tuan tenang saja"
"aku tidak bisa tenang, mana dokter kenapa lama sekali hah?" tanya mirza pada sam dengan nada tinggi
"dokter sedang menuju kesini tuan" ucap sam
tidak lama kemudian lidya tersadar dari pingsannya
"sayang" ucap lidya lirih
"lidya. sayang kamu siuman" mirza
"aku dimana? kenapa kamu nangis?"
belum sempat menjawab. dokter sudah sampai
"tolong yang lain keluar dulu" ucap dokter kepada yang lain
"dokter cepat periksa istri saya" pinta mirza
"iya tuan saya akan memeriksanya"
dokter mulai memeriksa tangan sampai bagian rahim lidya
"baik" dokter tersenyum lebar
"kenapa dokter? istri saya kenapa?" tanya mirza
kemudian dokter duduk disofa di sertai mirza
"tuan menurut pemeriksaan saya ternyata nona sedang hamil, selamat tuan" ucap dokter
"apa itu benar dokter?'" tanya mirza
"iya tuan"
sam terlihat bahagia begitupun ayu walau senyumnya terhalang cadar
kemudian mirza memeluk istrinya yang masih terbaring dan mengecup keningnya "terimakasih sayang" ucap mirza
lidya terlihat bahagia walau badannya lemas
"kita akan punya anak sayang?"
"iya" sam membelai lembut perut istrinya itu
kemudian dokter pamit pulang
dan diluar orang orang penasaran dengan apa yang terjadi pada nona lidya
__ADS_1
"sam kita pulang. kamu siap sipa jaga kita" perintah mirza pada sam
"baik tuan, kamu siap ayu?"
"siap tuan"
kemudian mirza menggendong lidya dan berjalan menuju keluar dikawal oleh sam dan ayu
diluar sudah ada penjaga juga yang siap mengawal
dan benar saja para wartawan sudah berkerumun di halaman dan mulai mengambil foto dam bertanya tanya pada mirza, namun mirza tidak bergeming
mereka menerobos para wartawan dan masuk ke dalam mobil
"huuuh" mirza menarik nafas sedangkan lidya masih dalam pangkuannya
"sayang" ucap mirza
"hmm" lidya
"kita sudah aman," ucap mirza disertai anggukan lidya
"sam ayo kita pergi" ajak mirza
"baik tuan"
sam mulai melaju mobilnya meninggalkan gedung itu
ayu sudah duduk disamping sam
"bagaimana makan malamnya tuan?" tanya sam
"aku tanya istriku dulu"
"sayang ibu sudah menunggu di restoran untuk makan malam. apa kita batalkan saja?" tanya mirza pada lidya
"jangan sayang aku mau ketemu ibu"
"kamu kuat emangnya?"
"oke. kita beri kejutan pada ibu"
"iya"
"kepalanya masih pusing?"
"nggak" lidya menggelengkan kepala
"yaudah aku gendong kamu sampai kesana ya"
"iya"
"sam kita rayakan makan malam ini"
"baik tuan"
jam sudah menunjukan pukul 20:30
sam melaju dengan fokus menuju restoran yang telah dipesannya
sampai dihalaman restoran mobil diparkirkan
kemudian mereka turun dari mobil
dan lidya masih digendong oleh mirza
"sam bawa yang tadi aku pesan" ucap mirza
"baik tuan"
sam kemudian membawa barang tersebut dari bagasi mobil
kemudian mereka masuk ke dalam rertoran tersebut
sam dan ayu mengawal dari belakang
__ADS_1
"ayu nanti didalam ada tuan dan nyonya kamu bisa menyapanya" ucap sam agak pelan
"baik tuan"
sampailah mereka ditempat yang dituju disana sudah ada orang tua mirza dan juga amanda
"ayah ibu" mirza memanggil dari kejauhan
"hei anak ibu" orang tua mirza bangkit dari duduknya begitupun amanda
kemudian lidya diturunkan dari pangkuan mirza dengan hati hati
"ibu aku kangen" lidya memeluk ibu mertuanyan
"ayah" mirza memeluk ayahnya
kemudian ayah memeluk kembali
amanda hanya tersenyum
"apa kabar kamu nak? bagaimana acaranya lancar?" tanya ayah
mereka menyudahi pelukannya
"sangat lancar yah" ucap mirza
"hei sam. siapa itu" ucap ayah menyapa sam dan menunjuk pada ayu
"selamat malam tuan, ini ayu penjaga sekaligus sopir pribadi nona lidya" ucap sam
ayu menunduk hormat
"oo iya sam" ucap ayah tersenyum
"oo ya aku punya kejutan untuk ayah dan ibu" sambung mirza
"apa?" tanya ibu dan ayah penasaran
mirza meraih tangan lidya dan merangkul bahunya
"istriku hamil ayah" ucap mirza dengan tersenyum bahagia
"benar itu nak?" tanya ibu dengan raut wajah bahagia begitupun ayah dan amanda sangat bahagia
"iya ibu"
ibu kembali memeluk lidya "selamat ya nak ibu sangat senang"
"terimakasih ibu" lidya tersipu malu
"ahirnya aku akan punya keponakan" ucap amanda bahagia dan tersenyum
"ayo kita duduk" ucap ibu
kemudian mereka duduk
ibu disamping kiri ayah amanda disamping kiri ibu
sementara mirza dan lidya disebelahnya mereka berhadapan dengan ayah dan ibu
"sam kamu juga duduk kita makan makan. ayu juga ayo,," ucap ibu mirza
"terima kasih nona"
"ayo ayu" ajak sam
ayu ragu ragu. tapi ahirnya dia duduk disamping amanda
dan sam di depan amanda
"ekhemm" amanda memdehm dengan sengaja meledek sam dan tertawa renyah
"kamu kenapa amanda?" tanya ibu
"agak serak ibu,,hehe"
__ADS_1
bersambung