
setelah selesai pertemuan lidya ke orang tua mirza. mereka pamit pulang.
di dalam mobil, sam mengemudi ke arah kontrakan lidya.
sam memang tidak banyak bicara. tapi hati dan otaknya berfikir terus. dia itu cerdas dan jenius..
"dya.. kita ke kontrakan kamu ya, mengambil barang barang kamu." mirza
"iya.. aku juga ingin melihat keadaan ka angga.. aku kawatir dia mencemaskanku.."
mirza tersenyum, sedikit cemburu dia
sampailah mereka disuatu tempat, jalan yang sempit dan berbelok belok.
dan terlihat dari kejauhan kontrakan yang ditinggali lidya.
mereka turun dari mobil
"haah..ahirnya sampai juga" lidya membuang nafas
"lidya kamu tinggal disini, tempat yang sempit daan..aku gak bisa bayangin bagaimana kamu menjalani hari harimu" mirza
"iya. aku betah ko,, karena sudah lama juga aku tinggal disini sebelum dan setelah ibu meninggal" lidya tersenyum menyembunyikan kesedihannya
"kamu jangan balik lagi kesini. ini gak layak buat kamu.." mirza sambil memandangi sekitar lingkungan
"wuss jangan bilang begitu, gimanapun juga ini menjadi saksi perjalanan hidupku..hehe" lidya mengusap air mata yg tidak menetes.
"kamu sekarang sudah ada disampingku, kamu jangan sedih lagi ya.." mirza meraih pipi lidya dengan tangannya
lidya mengangguk
*grekk*. pintu dibuka
ka angga keluar menemui lidya
"lidya..itu kamu kan?" ka angga menghampiri
melihat tuan mirza dan sekertaris sam, menundukan kepala menghormati
"ka anggaa.." lidya hampir memeluk angga.
__ADS_1
"ehh.. ka angga apa kabar? maaf kemarin aku gak pamitan"
"lidya kamu dari mana? kakak kuatir sama kamu" angga meraih tangan lidya
"jangan sentuh lidya.!! dia calon istriku" mirza mengibaskan tangan angga
"ma maaf tuan" angga menunduk
*benarkah lidya? ko bisa secepat itu*?. angga bertanya tanya
"saayang dia hanya kuatir sama aku." lidya menenangkan mirza
mirza terdiam menarik nafas.
"ka angga. aku sekarang tinggal diapartmen milik tuan mirza. aku dilamar dan akan menikah." lidya menatap angga
"benarkah lidya? kakak senang.. kakak senang sekali mendengarnya,, ahirnya akan ada yang menjaga kamu sepanjang waktu, semoga kamu bahagia lidya" angga dengan senyum bahagia
"iya kak,, kaka harus datang ya..jadilah saksi dipernikahanku nanti"
"boleh kan sayang?" lidya menatap mirza yang masih terdiam
mirza tersenyum "tentu saja".
"kak angga aku mau mengambil barang barangku." lidya membuka pintu kontrakannya
"iya iya lidya biar kakak bantu" angga tersenyum senang
"iya kak"
"sam kamu bantu lidya"
"baik tuan"
__ADS_1
sementara mirza menunggu diluar. melihat ke dalam ruangan yang kelihatannya sumpek. mirza menjadi enggan untuk masuk
sementara disekeliling warga mulai ada yang berkumpul. bertanya tanya itu siapa? ada apa?. dan pemilik kontrakan melihat dari kejauhan saja.
"lidya kamu jangan angkat angkat barang, biarkan sam dan angga yang bawa,!!!" perintah mirza
"iya iyaa" lidya tersenyum
"bawa yang penting penting saja lidya"
"iya.."
setelah beberapa saat. selesailah pekerjaan mereka, lidya pamit pada ibu kontrakan dan angga.
"sam kamu urus.. berikan mereka dengan layak" perintah mirza
"baik tuan"
sam memberikan imbalan kepada pemilik kontrakan dengan jumlah yang sangat banyak, begitupun untuk angga
"tidak tuan, saya iklas bantu lidya" tolak angga
"ini dari tuan mirza"
namun akhirnya angga menerimanya
" sampai ketemu lagi ka angga,, aku tunggu dihari pernikahanku" lidya pamitan
"siap lidya..kamu baik baik disana.."
"iya kak."
pada akhirnya mereka kembali pulang mengantar lidya ke apartmen.
masih diperjalan mereka mampir dulu disebuah lestoran dan mereka makan siang disana..
__ADS_1
bersambung